HADEUH, SALAH BOOKING

20160505_223759

I am (in front of Rijks Museum)

 

20160505_220726

In front of  Hotel Leidsplein

Dengan santainya saya menyodorkan selembar email bookingan hostel StayOkay Stadsdoelen ke resepsionisnya dan ternyata dia bilang gini, “I think we have a problem with your booking, this booking was for yesterday”. Alamak. Saya balik meneliti bookingan itu. Dodol, itu check in nya tanggal 4 Mei. Tanggal itu sih saya masih otw ke Kuala Lumpur. Lemes deh. Lalu saya minta solusi. Sayangnya hari itu mereka full, 2 hostel Stayokay lainnya juga nyaris full. Hanya Stayokay Vondelpark available 3orang. Gak bisa juga karena kami berdelapan. Sama petugasnya dibantu telponin hostel lain, tapi full juga. Saya juga minta ijin pakai wifi disitu, nyari penginapan lain di booking.com. Pilihannya terbatas sekali untuk hotel disekitar situ. Saya gak pengen nyari hotel yang jauh dari pusat kota. Menurut info si resepsionis, Amsterdam emang lagi ramai terus. Tanggal 4-5 Mei adalah hari libur disana. Untungnya si resepsionis sangat membantu. Ketika saya minta referensi tentang hostel yang menurut saya murah dan strategis di booking.com, dia menawarkan hotel yang berdekatan dengan hostel itu dan menunjukkan letak hotel itu di peta. Saya lalu minta di telponin hotel itu, untuk konfirmasi harga. Mau bandingin harga online dengan harga per telpon. Beda tipis saja, beli online masih bayar lagi city tax saat check in sementara harga per telpon sudah all in 550Euro untuk berdelapan. Omg, mahalnya, hostel Stayokay  yang salah booking ini hanya 220Euro. Apa boleh buat. Si resepsionis juga menawarkan untuk memesankan 1 taxi jumbo untuk kami semua biar gak usah susah-susah nyari hotel itu. Cuma pada akhirnya juga taxi itu tetap gak bisa turunin kita persis di depan hotel karena daerah itu terlarang untuk mobil. Kita diturunkan di jalan tempat hotel ini berlokasi tapi masih sekitar 200m dari hotel itu. Continue reading

Advertisements

MENENTUKAN ITINERARY EURO TRIP

13115936_10206972540134463_4382560149698035411_o

Negara di Eropa jumlahnya 56 negara terdiri dari 50 negara berdaulat penuh, 4 negara dengan kedaulatan terbatas (hanya beberapa negara lain mengakui negara tersebut) dan 2 negara tidak diakui (tapi dapat disebut negara). Dari 56 negara tersebut, sebanyak 26 negara menandatangani Perjanjian Schengen di tahun 1985 dengan tujuan menghapus batas internal antar negara dan tidak membatasi pergerakan orang, barang, jasa dan modal serta bersama-sama memperkuat sistem peradilan umum dan kerjasama kepolisian. Siapa saja bebas beraktivitas dalam negara yang termasuk zona Schengen. Diperbatasan darat antar negara, laut maupun udara sudah tidak ada lagi  pemeriksaan imigrasi kecuali dalam kondisi khusus/darurat. Pemeriksaan imigrasi hanya dilakukan pada saat pertama kali masuk ke Schengen Area dan pada saat keluar dari Schengen Area.

Terbang antar negara Schengen sudah berasa kayak terbang dari Jakarta ke Makassar saja. Pemegang paspor Indonesia cukup mengajukan aplikasi visa Schengen di salah satu kedutaan negara yang akan paling lama dikunjungi. Sayang Inggris belum mau join Perjanjian Schengen ini, jadi terpaksa harus mengajukan visa sendiri. Bagi saya yang domisilinya di luar Jakarta jadi ribeut jika mau ke Schengen Area plus ke Inggris. Ke Jakarta harus 2x, urus visa Schengen dulu setelah beres datang lagi untuk urus visa Inggris. Jadi saya memutuskan nanti saja ke Inggris, biar menjadi episode travelling tersendiri dan lebih puas disana. Berharap ada tiket promo ke Inggris buat tahun depan. Amin. Continue reading