Kena Scam di Beijing

Kami disambut beberapa pedagang souvenir saat turun dari mobil yang kami rental di sekitar Summer Palace. Malaysia, malaysia, seru mereka. Hadeuh, Kenapa sih negara itu lebih dikenal dibanding negara kita secara populasi kita lebih banyak. No, indonesian, kataku. Topi, topi, sahut mereka. Kebetulan suamiku butuh topi. Dia gak bisa kena panas terik, berefek ke sakit kepala, bad mood dan bakal jadi sedikit reseh. Hehehe. Jadi saya menawar 1 topi koboy. Deal 10 yuan atau sekitar 20ribu rupiah. Saat saya bayar pake duit 100yuan, pedagang itu lalu mengembalikan 90yuan. Aman. Tapi tak berapa lama, pedagang itu datang sambil menunjukkan uang sobek. Dia minta uang itu ditukar karena sobek. Agak heran saya secara uangnya masih baru dan hasil tukaran money changer di Makassar, tapi saya turuti dengan memberikan uang yang lain. Pedagang yang lain datang mendekat, memberikan isyarat agar saya mau menukar uang 100yuan saya dengan 2 lembar 50 yuan. Tidak saya tanggapi. Secara bersamaan, pedagang yang menjual topi ke saya datang lagi sambil menunjukkan uang sobek, kali ini sobeknya di ujung. Wah ada yang gak beres nih. Saya memperhatikan seksama uang di dompet saya dan membandingkan dengan uang yang perempuan itu perlihatkan. Sekilas gak keliatan perbedaannya, sama-sama yuan, sama-sama merah tapi ternyata uangnya beda sedikit di ukuran dan uang saya ada nuansa biru di gambarnya.

Saya langsung membentak dengan suara keras,

“Kembalikan uang saya. Ini tidak sama. “

Perempuan itu mengeluarkan uang 100yuan tapi gak sama dengan uang saya.

Bukan yang itu, cepat kembalikan, kata saya. Akhirnya dia mengeluarkan uang yang benar. Saya lalu mengembalikan topi dan uang 90yuan. Saya pun berlalu dari situ. Pikir saya sudah aman, tapi ternyata saya gak sadar kalo saya 2x mengeluarkan uang 100yuan. Shit, masih tertinggal 1 lembar uang yuan milik perempuan itu. Continue reading