Semua akan (P)Indah pada waktunya

Udah 3 bulan ini saya tinggal dan kerja di Bandung. Masuk ke lingkungan yang baru, kultur yang baru, teman yang baru, bahasa yang berbeda tentu saja membuat deg degan. Pertanyaan yang terlintas, bisa gak ya secara cepat bisa di terima di sini? 20 tahun saya menghabiskan hidup di Sulawesi. Sekolah sampai S2 di Makassar, penempatan kerja pertama di Makassar, lalu pindah Palu, pindah ke Manado, pindah ke Pare-pare, pindah ke Palopo, dan kembali ke Makassar lagi. Senang bisa balik ke pitstop lagi yaitu di Makassar, senang bisa tinggal di rumah sendiri lagi, senang bisa kumpul keluarga utuh setelah 11 tahun pisah-pisah, senang menghadiri berbagai acara keluarga/arisan.

Namun saya sadar, suatu saat harus pindah juga. Tidak selamanya kita akan berada dalam suatu tempat atau posisi. Cepat atau lambat pasti akan berputar juga. Namanya juga kuli kantor yang diawal sudah menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja. Saya juga typical orang yang bisa jenuh di suatu tempat kalo kelamaan. Selain saya yang butuh penyegaran, tim di kantor saya pun butuh juga penyegaran.  Dengan begitu semangat kerja bisa terbarukan kembali. Menurut saya siklus pindah yang ideal adalah sekitar 3 tahun sekali.

Saat di Palopo saya sudah jalan hampir 3 tahun trus ditawari bos masuk di Kantor Wilayah di Makassar. Ditawari begitu tentu saja senang meski belum tentu juga SK nya kesitu. Saya langsung aja mindahin sekolah anak-anak ke Makassar pas tahun ajaran baru. Pertimbangannya karena Aya waktu itu kelas 3SMP tidak bisa seketika pindah karena sudah mau ujian akhir SMP. Kebetulan adeknya baru masuk SMP. Sekalian aja di Makassar. Sendirian di Palopo dan banyak waktu buat packing, sedikit demi sedikit barang-barang pribadi mulai saya kirim kembali Makassar. Dan ternyata banyak banget, sampai akhirnya tersisa hanya sekoper dua koper. Selama sudah berpisah sama anak-anak, nyaris tiap Jumat malam saya pulang ke Makassar naik bus. Tiba Sabtu subuh. Jarak Palopo-Makassar 398km. Balik lagi ke Palopo hari Minggu malam tiba Senin Subuh dan langsung ngantor. Rutinitas itu berlangsung kurang lebih 5bulan. Tahun itu juga saya lagi hamil si Ghazy yang prediksinya akan lahir di bulan Desember. Trus cuti melahirkan sampai Maret. Pasnya lagi, sewa rumah dinas berakhir di bulan Maret dan saya waktu itu minta agar dicariin rumah dinas yang baru terlepas apakah nanti saya yang mengisi atau orang lain yang mengisi rumah dinas tersebut. Jadi sebelum cuti melahirkan, rumah dinas lama wajib kosong melompong.

Sampai hampir habis cuti melahirkan, SK mutasi saya belum nongol-nongol juga. Saya udah siap-siap aja balik sama si Ghazy ke Palopo. Eh seminggu sebelum saya masuk kantor kembali, SKnya sudah ada dan beneran masuk ke Kantor Wilayah. Saya udah terlanjur beli tiket pesawat ke Palopo buat bertiga sama suami sama baby Ghazy. Sekalian pamitan sama beberapa mitra kerja dan teman-teman dikantor. Sekitar seminggu saya di Palopo kemudian balik lagi di Makassar.

Saat tugas di Makassar pun sebenarnya masih betah-betah aja, baru lewat 2 tahunan sedikit, udah gitu di homebase pula. Sebenarnya masih banyak kolega saya yang lebih lama dari saya. Tapi saya yang digadang-gadang untuk pindah. Namun saat Bos nanya kesiapan pindah, ya saya jawab aja bahwa saya siap di mana saja tapi mohon pindahnya cukup dalam jangkauan 1x pesawat dari Makassar. Kalo sewaktu-waktu pulang ke Makassar bisa lebih mudah dan murah. Bayangin aja tuh kalo di Sumatra, harus 2x ganti pesawat, proses transit yang bisa jadi lama, tiket mahal dan harus ngambil cuti kalo mau pulang gak bisa memanfaatkan weekend saja. Ngarepnya kalo bisa jangan di Sumatra sana. Namanya keinginan ya disuarakan. Sebulan sebelum dapat SK udah dapat info dari teman bahwa sepertinya saya masuk di Bandung. Dapat info seperti itu aja udah senang meski sekali lagi belum tentu SKnya kesitu. Soalnya sebelumnya udah beberapa ada info bahwa saya kesini saya kesitu. Saya juga gak terlalu ambil pusing atau harus kasak kusuk saya akan kemana. Biar aja itu menjadi kejutan. Terlepas apakah itu kejutan yang menyenangkan atau tidak. Kejutan yang menyenangkan akan sangat disyukuri, kalo kejutannya kurang menyenangkan saatnya refleksi diri. Mungkin ada hal-hal yang harus saya perbaiki atau tingkatkan.

Bersama tim USDM Kanwil, Ki-Ka: Amal, Fiar, Putera, Dinda, Me, Tiara

Bandung itu bukan tempat yang asing bagi saya. Tiga kakak saya ada yang disini sejak SMP, SMA, kuliah sampai kerja. Jadi sering liburan kesini. Pappi (sebutan untuk bapak saya) meninggal tiba-tiba karena serangan jantung di Bandung pas saya lagi berlibur di sini dan masih kuliah waktu itu. Jenazahnya dibawa ke Makassar dan saya ikut mendampingi. Dua kakak saya menetap disini bersama keluarganya. Dulu saya sering bertanya-tanya kenapa Pappi memilih Bandung untuk tempat sekolah dan kuliah bagi hanya untuk anak laki-lakinya. Kenapa gak di Makassar atau di Yogya atau di daerah lainnya. Dan kenapa kami anak-anak perempuannya gak diarahkan juga untuk sekolah disana dan harus tetap di Makassar. Sampai sekarang belum tau jawabnya. Mungkin Pappi saya menganggap anak laki-lakinya harus belajar mandiri sejak dini. Anak perempuan biar jaga mamanya saja atau biar lebih mudah diawasi. Dan kenapa Bandung mungkin Pappi sependapat dengan pemeo ‘Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum’. Kota yang juga dijuluki Paris van Java, kota indah berudara sejuk.

Farewell party kantor wilayah
Dinas ke Kendari, malah dibikinin surprise acara ini.

Alhamdulillah, sejauh ini Bandung tetap menyenangkan. Mutasi ke Bandung ini sebenarnya level gradenya sama aja dengan saat di Makassar atau dengan kata lain ini mutasi penyegaran. Tapi yah dinikmati saja. Penerimaan dari kolega dan teman-teman kantor juga welcome banget. Bos disini juga typicalnya gak suka formal-formalan dan senang kumpul-kumpul. Sering ngajak kumpul rame-rame sekalian makan malam di rumah dinas. Jadi membuat saya lebih mudah beradaptasi disini. Yang paling nyenengin, bisa traveling kemana-mana. Bisa explore sepuasnya Bandung dan sekitarnya. Sekitarnya itu bisa sampai Jawa ke ujung sana atau ke Sumatra hehehe. 2 minggu di Bandung, saya melipir ke Semarang dan pas libur panjang kemarin saya roadtrip ke Sumatra.

Setiap pekerjaan dan tempat memiliki tantangan masing-masing. Ya kan. Namun yang terpenting mindset harus selalu positif. Adaptasi dengan hal baru bisa jadi lebih mudah, dan mutasi kerja pun bisa menjadi menyenangkan. Kita hanya harus keluar dari zona nyaman dan menuju zona nyaman berikutnya.

2 thoughts on “Semua akan (P)Indah pada waktunya

  1. Hallo Ibu Dewi..
    Salam kenal ya..
    saya dapat blog ibu di grup ibu2 kompleks 🙂
    Tapi sudah jadi mantan tetangga ya :)..Ibu Dewi sudah pindah ke Bandung. Saya sendiri baru setahun di Makassar. Saya pernah tinggal di Bandung. Tapi sudah lebih dari satu dekade lalu sebelum pindah ke Sumut.

    Semoga lancar pekerjaan dan kehidupan di Bandung.

    Salam

    Lisdha

    • halo ibu lisda, yang dimaksud grup ibu2 aroepala ya? belum jadi mantan sih karena masih punya rumah disitu hehehe. salam kenal ya. btw blok berapa bu?

Leave a Reply to lisdhabundaale Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s