Melipir ke Gunung Galunggung

Dalam perjalanan ke Pangandaran, tetiba suami nyinggung soal Gunung Galunggung. Jadilah kita melipir ke Gunung Galunggung.  Sebelum menapaki tangga kuning sebanyak 620 anak tangga, kami mampir di warung yang berada di dekat situ. Kami belum makan siang, daripada lemes mending kami ganjal dengan indomie goreng pake telur. Ada sih pilihan makanan lain seperti nasi liwet, tapi sepertinya indomie lebih menggoda dan lebih pasti. Hehehe. Kami beruntung karena kata ibu pemilik warung, Gunung Galunggung baru buka di hari itu setelah sempat tutup selama tahun baruan. Alhamdulillah, jadinya gak terlalu rame. Kami juga membeli snack untuk di makan sambil jalan di tangga atau di puncak gunung. Ternyata salah besar bawa snack ke atas. Di tangga bagian bawah sudah banyak monyet yang mengintai snack kami. Dan pada beringas. Mereka dekat banget dengan kami. Snack yang di pegang sama Dede diambil paksa, segera saya menyembunyikan snack yang lain di dalam baju karena gak bawa tas. Mereka masih mengintai dan mengikuti kami. Buang botol air mineral ke samping tangga tidak membuat mereka berpaling. Namun lama kelamaan karena udah gak liat ada makanan lagi yang terpegang mereka segera mencari mangsa lain. Jadi hati-hati dengan monyet yang ada di Gunung Galunggung.

Kerennnnn, begitu sampai di puncak kawah Gunung Galunggung.  Gunung ini merupakan gunung berapi yang memiliki ketinggian mencapai 2.167 meter di atas permukaan laut. Erupsi terakhir terjadi sekitar tahun 1982-1983 selama 9 bulan. Kami berjalan berkeliling sebentar saja, karena harus melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Pengennya naik dari tangga kuning turun dari tangga biru. Pak suami turun lewat tangga kuning, mengambil mobil dan menjemput kami di sekitar tangga biru. Namun urung setelah bertanya sama ibu penjual sosis bakar yang ada diatas. Katanya bisa tapi sudah tidak banyak lagi yang lewat situ. Dari pada nyasar, mending kembali lewat tangga kuning saja.

Tadinya juga kami mau mengexplore beberapa tempat menarik di Tasikmalaya. Saya sudah ngatur rute untuk 4 tujuan di google map. Namun setelah dipikir-pikir lebih baik tiba di Pangandaran sebelum Maghrib biar Ghazy masih bisa main di pantai. Tau gak, Ghazy dari rumah udah pake baju pelampung lho. Begitu tiba di Gunung Galunggung, dia ogah melepas baju itu. Hehehe. Dibujuk cukup lama dan akhirnya mau melepas.

Si pejuang Seleksi mandiri

Siapa disini yang lagi berjuang untuk dapat tempat di PTN?

Definitely not me, masanya udah lewat. Sekarang giliran anak saya si Aya. Gak berasa ya time flies, tau-tau anak udah mau kuliah aja.

Kesempatan pertama seleksi kuliah itu lewat jalur SNMPTN. Kalo dulu disebut jalur bebas tes atau jalur undangan. Dari 300 anak kelas XII yang dapat kesempatan itu hanya 100 orang termasuk Aya. Katanya proses seleksinya bukan berdasarkan rangking di kelas tapi nilai rata-rata rapor khusus 6 mata pelajaran inti. Nilai rapor Aya gak terlalu outstanding sih, tapi tetap menaruh harapan untuk bisa lulus dikesempatan pertama. Pilihan waktu itu Aktuaria Unpad dan Arsitektur Unhas.  Hasilnya, gak lolos. Kalo gak salah hanya sekitar 10% yang lulus SNMPTN dari sekolahnya Aya.

Kesempatan kedua lewat jalur SBMPTN. Dulu disebut Sipenmaru, UMPTN atau apa lagi. Dia juga minta dibantu milih jurusan. Dia request jurusan saintek saja tapi jangan kedokteran, psikologi, pertanian, perikanan, kehutanan. Dalam memilih jurusan, saya minta Aya realistis saja sesuai nilai rata-rata try out di bimbelnya saja. Bagi saya, yang penting selesai jenjang S1 dengan jurusan gak malu-maluin banget. Toh juga semakin banyak peluang kerja yang tidak spesifik menyebutkan latar belakang pendidikan alias menerima segala jurusan. Yah seperti sayalah lulus dari Teknik Sipil kerjanya di jaminan sosial. Akhirnya sepakat dengan pilihan Arsitektur UPI dan Aktuaria Unhas. Pilih UPI Bandung  biar kalo lulus bisa barengan tinggal sama saya yang udah hampir setahun domisili di Bandung. Saya gak pede buat milih Unpad apalagi ITB. Pilih Unhas karena Makassar adalah kampung halaman dan tempat Aya dibesarkan. Aya minta ujiannya di Makassar sekalian nyelesain bimbelnya. Jadilah dia pulang ke Makassar selama 2 bulan. Abis itu balik lagi di Bandung sambil tunggu pengumuman. Continue reading