SNORKLING @ BUNAKEN

Ini kali kedua snorkling at Bunaken selama kurang lebih 9 bulan di Manado. Beberapa kali ke Bunaken hanya menemani tamu keliling-keliling tapi gak snorkling. Padahal keindahan Bunaken adanya yah di taman lautnya. Pulaunya sih biasa-biasa aja dan pemandangan laut dimana saja sama.

Dulu tuh, sewaktu masih di Palu sering snorkling di Tanjung Karang. Akses ke sana mudah dan hemat ongkos. Lama perjalanan darat 30 menit ke Tanjung Karang, sewa tikar dan tenda 20rb buat taruh barang dan istirahat, abis itu siap-siap nyebur snorkling. Area snorkling terletak dekat pantai. Bisa dibilang minimal 1 bulan sekali kesana.

Bunaken hanya dijangkau dengan transportasi laut. Itupun harus charter 750rb-1jt per kapal kapasitas 15 orang. Transportasi umum ada, tapi infonya hanya sekali sehari ngegabung dengan penduduk lokal Bunaken yang datang belanja di Manado. Pelabuhan tempat menuju Bunaken persis di sebelah pasar terbesar di Manado yaitu Pasar Bersehati.

Faktor mahalnya snorkling di Bunakenlah yang membuat saya jadi susah punya kesempatan untuk snorkling disana. Mending duit sewanya buat tiket terbang ke Makassar bertemu keluargaku. Saya sih pengen mencoba sendiri transportasi umum, jadi biar tau pasti kondisinya. Tidak hanya sekedar kata orang. Cuman malas kalo sendirian. Solo backpacking isn’t my style.

Kesempatan untuk snorkling datang melalui couchsurfing. Mbak Fani, seorang couchsurfers dari Jakarta mencari tempat menginap. Dia datang ke manado untuk dinas sekaligus pengen snorkling di bunaken di akhir minggu. Dia gak secara langsung request ke saya melainkan request kesemua couchsurfers di manado. Setelah mencari tau sedikit tentang dia lewat om google. Dari mbah google sy tau kalau dia seorang dokter yang pernah ptt di wakatobi dan ikut milis jejak kaki.

Dia baru di couchsurfing dan belum punya referensi, makanya sy cari tau ke mbah google tentang dia. saya harus punya info tambahan sebelum menawarkan couch ke seseorang.

Hari minggu pagi sekitar jam 06.00, sy menjemput di hotel Peninsula tempatnya menginap lalu membawanya ke kosan untuk menaruh barang. Kami kemudian menuju ke hotel Celebes tempat janjian sama Pak Opo, pemilik kapal yang kita mau sewa. Motor kami parkir di depan hotel Celebes.

Setelah bertemu, kami menuju tempat perahunya. Harus melewati pasar dan di tepi kanal tempat perahu tertambat, tampak orang sedang membakar anjing. Tujuannya untuk merontokkan bulunya anjing. Oh god, bulunya beterbangan deh di sekitar kita.

bakar anjing di belakang pasar bersehati manado

bakar anjing di belakang pasar bersehati manado

Kapalnya jenis katamaran, perahu tradisional berukuran sedang yang punya sayap kiri kanan dengan kapasitas kurang lebih 8 orang. Berbeda kalo kita menyewa di pelabuhan bersehati, kapasitas kapal bisa muat sampai 20 orang. Harganya lebih murah, mbak fani deal di harga Rp 600,000.

Lama perjalanan sekitar 45 menit ke Bunaken. Kami berganti baju di rumahnya Pak Opo. Pak Opo  juga menyewakan peralatan snorkling mulai dari baju, kamera, fin dan masker. Tapi kami membawa alat snorkling sendiri.

with mbak fani

with mbak fani

Kami menuju titik snorkling yang pertama, di sisi bunaken arah ke pulau siladen. Kemudian titik snorkling yang kedua, di depan pulau siladen. Titik yang pertama lebih bagus dan cantik. Yang di depan pulau Siladen, terumbu karangnya sudah banyak yang rusak. Pak Opo juga ikut menemani kita snorkling.

Titik yang ketiga mencari kura-kura dan ikan napoleon. Ketemu sama kura-kura berukuran besar. Ikan napoleon keliatan samar-samar, karena masih agak jauh didalam laut. Titik yang terakhir, kami snorkling di area tebing laut. Tampak dibawah kami, sedang ada yang diving. Senang rasanya dititik ini karena ikannya lebih bervariasi dan mereka makan biskuit yang sengaja kita bawa.

Tanpa terasa sudah jam 14.00, saatnya naik membilas diri di rumah Pak Opo. Lalu balik ke Manado.

Setelah makan siang yang kesorean, kami melanjutkan perjalanan ke arah Tomohon. Fani kepengen ke danau Linow. Tentu saja tidak dengan naik motor, bisa gempor dijalan secara perjalanan kesana sekitar 1 setengah jam berkelok-kelok dan sy belum pernah jalan sendiri kesana. Minjam mobil kantor, sayangnya sampai disana Danau Linow sudah tutup. Waktu sudah menunjukkan 17.50. Danau Linow adalah danau berbau khas belerang yang warnanya bisa berubah-ubah. Mirip Kawah Ciwidey.

Mampir ke Merciful Building beli oleh-oleh, kemudian pulang. Fani balik ke Jakarta keesokan harinya.

 

 

 

Advertisements

COUCHSURFING IN WARSAW

Pada mulanya Warsaw tidak ada dalam itinerary untuk pengajuan Visa Schengen. Itu sebabnya saya belum memesan penginapan sampai h-7. Lalu timbul keinginan saya untuk mencoba me request couchsurfing di Warsaw. Jujur aja agak sedikit parno untuk mencoba, takut kenapa-kenapa. Tapi tidak dicoba ya bakalan tidak tahu rasanya.

Sebelumnya saya sudah pernah ngehost couchsurfing di Palu. Pengalaman itu saya tuliskan disini

Setelah itu ada beberapa yang request, rata-rata yang request adalah cowok, jadi sangat tidak mungkin menerimanya. Di Manado, saya juga agak sulit untuk menerima tamu CouchSurfing secara saya ngekos kamar. Jadi saya hanya memasang status di Couchsurfing “Not Right Now (but I can hang out)”. Seandainya saya tinggal di Makassar, saya akan membuka rumah saya buat couchsurfer max 2 orang dan perempuan.

Saya juga mencari host di Amsterdam. Dari 3 orang yang saya request, sayangnya tidak ada yang bisa menerima, mungkin karena Amsterdam negara yang cukup populer sehingga tingkat couchsurfer mencari host juga tinggi.

Saya mengirim pesan kepada 3 calon host di Warsaw dan sharing pesan ke seluruh couchsurfer yang ada di Warsawa. Sebenarnya ini hanya iseng, kalo diterima nginap ya syukur. Dalam memilih host, hal yang saya utamakan adalah perempuan, profilenya harus menarik, ada foto, banyak yang mereferensikan secara positive, tidak punya hewan peliharaan serta memilih berdasarkan feeling.

Hanya 1 orang yang saya kirimkan pesan yang membalas, itupun nanti setelah saya sudah di Warsaw. Katanya lupa mereply, sebenarnya mau diterima.

Our host, Magda n Mariuz

Our host, Magda n Mariuz

Magda n Mariusz, host kami di Warsaw, mereka mengundang kami berdasarkan sharing pesan saya. Kesempatan ini tidak kami lewatkan meskipun rumahnya jauh, sedikit di luar kota Warsawa. Profil Couchsurfing Magda n Mariusz sangat mengesankan dan detail sekali. Mereka sudah membuat jadwal kegiatan termasuk keliling dunia sampai usia pensiun. Terkesan bahwa mereka senang berada di komunitas Couchsurfing ini.

Dilihat dari peta, bandara dan rumah mereka berlawanan arah. “Ujung pukul ujung” istilah kami. Mereka memberi petunjuk cukup jelas, starting dari city centre, jadi kami mencari transportasi ke Centrum, city centre Warsawa. Naik bis no 175, beli tiket di mesin.

Kami terlalu cepat turun dari bus di daerah Centrum, harusnya 1 halte lagi. Hal ini membuat kami disorientasi arah sebelum akhirnya menemukan arah yang benar.

Kami naik Metro, lalu naik bus khusus ke suburb Lomianki.

Sampai di tempat yang ditentukan, saya menghubungi untuk di jemput. Jarak tempat jemputan dengan rumah gak terlalu jauh palingan 200 meter. Cuman gak sembarang orang bisa masuk ke perumahan tersebut, ada satpam dan pintu pagar otomatis. Hanya orang yang tinggal disitu yang diperbolehkan masuk.

Rumahnya asik meskipun kecil, homey banget. Ruang tengah dibuat nyaman untuk berkumpul keluarga dan tempat bermain anak. Ada taman kecil dibelakang. Mereka punya 2 anak balita, Max n Martha.

the room

the room

Semua kamar ada dilantai atas. Kami di diberikan space di ruang kerjanya. Ada sofa tempat tidur disitu, juga ada PC yang bisa kami gunakan sepuasnya untuk internetan. Ada peta dunia yang tergantung di dinding kamar itu. Pentul-pentul warna-warni bertebaran dipeta itu. Setelah saya tanyakan pentul itu penanda bahwa kota itu telah dikunjungi sekitar 260 kota di seluruh Negara. Warna-warninya menandakan transportasi apa yang digunakan ke kota tersebut. Ada yang lewat cara hitchhiking, bawa mobil sendiri, naik kereta, pesawat dan jenis transportasi lainnya.

Kami dipersilakan untuk ‘feel free’ di rumahnya, termasuk melayani diri sendiri. Mariusz cerita bahwa Magda istrinya sudah terlalu sibuk untuk mengurus kedua buah hati mereka jadi gak ada waktu untuk masak. Kami sih ok-ok saja, tidak ingin merepotkan terlalu banyak. Kami menggunakan dapurnya untuk masak nasi di travel cooker dan bikin scrambled egg, lalu tidur.

Kunci rumah diberikan untuk jaga-jaga apabila kami lebih duluan pulang kerumah setelah pulang jalan-jalan besok. Magda baru ada dirumah setelah jam 16.00, Mariusz sudah bilang akan pulang larut malam. Magda ibu rumah tangga sibuk mengurusi kegiatan sekolah anaknya tapi mempunyai freelance job yang bisa dikerjakan dirumah, Mariusz sales distributor petrochemical kebetulan lagi ada pameran di pusat kota Warsaw sehingga tiap pagi harus ke pameran tersebut.

Jujur, saya gak tau banyak mengenai tempat menarik di Warsaw. Gak focus untuk googling informasi Warsaw. Yang bikin saya pengen kesini adalah karena Warsaw merupakan tuan rumah Euro 2012. Pada saat saya datang, perhelatan Euro 2012 masih 2 minggu lagi. Tapi gak apa-apa, minimal saya udah tau seperti apa kota yang menjadi tuan rumah Euro 2012.

Ada 1 blog mengenai kehidupan Polandia yang ditulis secara menarik oleh wanita Indonesia yang sedang tinggal disana, http://polandesia.wordpress.com/ , sayangnya pas berangkat lupa baca lagi. Seputar Euro 2012 juga ada disitu, sampai tempat untuk membeli kaos original Euro2012. Sayang saya pas di Warsaw, malah lupa untuk mencatat tempat membeli kaos Euro tersebut. Suami saya sudah saya janjikan buat beli kaos.

Day 9

Kami surprise bahwa di mana-mana ada hot spot wifi, termasuk di tempat kami di drop Mariusz. Multimedia Fountain Park (Multimedialny Park Fontann) sebuah taman air mancur yang terletak di dekat Old Town, baru selesai dibangun May 2011, asri dan luas. Hanya di malam sabtu dan malam minggu, pertunjukan air mancur disertai dengan laser dan music.

page4

Cuaca panas tapi anginnya dingin berhembus kencang, bikin saya kedinginan.

Tampak sekali Warsaw sedang berbenah mempersiapkan diri jadi tuan rumah. Mereka banyak menempatkan pot-pot bunga yang sedang mekar berwarna warni di berbagai sudut kota. Taman-taman di percantik, namun belum banyak kelihatan logo Euro 2012.

Menyusuri Warsaw Old Town

Menyusuri Warsaw Old Town

Di bandara kami diberikan buku petunjuk mengelilingi kota Warsaw dengan berjalan kaki. Startnya dari Warsaw Old Town (Polish: Stare Miasto). Kami mengikuti daftar tempat wisata yang ditunjuk secara berurutan. St Anna Church, Market Square (sayang kami lupa notice syrenka/patung putri duyung yang ada disini), the Barbican, Museum Marie Curie (ilmuwan asal Polandia yang menemukan unsure kimia Polonium dan Radium yang membuatnya memenangkan nobel sampai 2x), the St. John’s Cathedral, Royal Castle, Castle Square (plac Zamkowy). Old town Square dibangun pada abad ke-13, pernah hancur pada saat Perang Dunia II. Tahun 1950 dibangun kembali dan sekarang termasuk daftar UNESCO World Heritage Site.

page6

IMG_4820

banyak ketemu dengan rombongan anak tk yang sedang belajar sejarah..imut-imut…

page1

Warsaw stadium view from Old Town.

Warsaw stadium view from Old Town. You can imagine how far we walk to the stadium

Selesai Old town, giliran kami mengelilingi kota Warsaw berdasarkan petunjuk buku itu. Berurutan supaya efektif dan efisien.

Kami mampir di taman Saxon (Polish: Ogród Saski) yang berhadapan dengan Pilsudski Square. Merupakan taman umum tertua dengan 15.5 ha. Duduk-duduk dan makan bekal sambil menikmati pesona air mancur yang ada ditaman itu. Disinipun sedang ada pekerja taman yang bertugas menambah bunga-bungaan yang ada di taman tersebut.

page5

Pildsudski Square merupakan alun-alun terbesar di Warsaw City Centre. Nama alun-alun ini berasal dari nama Marshal Józef Piłsudski yang telah berjasa melakukan perbaikan pembangunan pasca Perang Dunia I.

Di tempat keramaian juga tersedia beberapa titik bangku Chopin, kita duduk dibangku itu sambil mendengarkan musik klasik karya Chopin. Ada juga sedikit penjelasan mengenai kisah hidup Chopin.

Kami mencoba bertanya dengan seseorang di halte bus, apakah ada bus yang melewati Stadion National Warsaw. Si cewek itu bilang ada sambil menyebutkan no bus yang harus kami naiki. Sayangnya bus menolak kami untuk naik karena belum membeli karcis di mesin. Mesin tiket adanya di halte-halte ramai. Di dekat situ mesinnya rusak. Terpaksa kami jalan menuju Stadium itu melewati jembatan diatas Sungai Vistula. Stadium terletak di pinggir Sungai Vistula, pas lewat banyak sekali orang sedang berjemur di pinggir sungai. Gak ada pantai, sungai pun jadi. Memang cuaca panas tapi angin dinginnya gak kuat bagi saya.

Stadium National (Stadion Narodowy) berkapasitas 58,500orang mulai dibangun sejak tahun 2008 dan selesai November 2011. Secara resmi stadium ini dibuka 19 Januari 2012. Stadium ini akan menjadi tuan rumah Euro 2012 pada pembukaan, perempat final dan semifinal.

Waktu kami datang, stadium ini masih sepi. Kelihatannya booth penjualan merchandise belum buka, hanya ada accreditation centre yaitu tempat untuk menukar voucher menjadi tiket nonton bola.

Kami berdua berdoa semoga kami menemukan mesin tiket supaya kami bisa pulang naik tram, kalo tidak harus jalan kaki pulang. Gosh. Alhamdulillah doa kami terkabul, malah ada 2 mesin tiket. Kami masih ada 1 kunjungan lagi sebelum pulang ke rumah Mariusz. Sebenarnya bisa jadi penumpang gelap, selama saya turun naik bis/tram gak ada tuh pemeriksaan. Dan saya lihat gak ada orang local mempunyai tiket atau kartu. Tapi kami gak mau mencobanya, takut apes. Hanya karena menghemat sedikit malah kehilangan lebih besar. Meski tiket yang kami beli juga sebenarnya salah. Di mesin ada pilihan Full Fare dan Reduced 50%, tentu saja saya memilih yang termurah. Ternyata Reduced 50% hanya untuk penumpang anak-anak, orang tua diatas >60, orang cacat, student. Hal ini baru saya ketahui pada saat membeli tiket museum Uprising Warsaw, saya dijelaskan syarat dan ketentuan full fare ataupun reduced. Sudah terlanjur beli tiketnya dan itu berlaku sampai jam yang sama keesokan harinya untuk tram/metro/bus. Yahh, setidaknya kami bukan penumpang gelap.

Senangnya mengetahui bahwa tram yang kami naiki melewati di depan Museum Uprising Warsaw. Tadinya kami dijelaskan harus nyambung tram lagi untuk sampai kesana. Udah capek banget. Muzeum Powstania Warszawskiego atau the Warsaw Uprising Museum merupakan museum yang didedikasikan tentang kebangkitan Warsawa pada tahun 1944, dipersembahkan bagi para rakyat yang telah berjuang mati-matian demi kemerdekaan Polandia. Disini dapat dilihat foto-foto perjuangan, alat komunikasi yang digunakan, alat cetak, surat menyurat, sampai helicopter pada waktu itu.

Muzeum Powstania Warszawskiego sangat direkomendasikan oleh Mariusz, itu sebabnya kami mengunjungi museum ini hanya untuk menghargai Mariusz. Biasanya kami mencoret museum dari daftar kunjungan kami. Pas pulang cerita, ternyata mereka sekeluarga malah belum pernah masuk museum ini. Huhu, capek deh.

Tak ada kaos bola, kaos Hard Rock café pun jadi. Biar suamiku terhibur, kami menyempatkan mencari tempat tersebut. Gak jauh dari Centrum, tempat ambil Metro menuju pulang ke Lomianki suburb.

Ajakan Mariusz untuk dinner bersama komunitas Couchsurfing di sebuah restoran India di city centre, kami tolak. Kami sudah kehabisan energy, ini mungkin jalan kaki terlama dan terjauh yang kami lakoni selama kami berada Eropa.

Saya sempat bertanya Mariusz apakah ada pengalaman buruk selama mengenal Couchsurfing. Mariusz bilang, tidak ada. Yang terpenting katanya, bahwa untuk memilih seseorang untuk menjadi host/surfer harus melihat seberapa positive referensi dari teman-teman yang pernah menginap di rumah host tersebut dan profilnya harus mengesankan suatu kejujuran dan kepercayaan. Trust is the key word of Couchsurfing.

Day 10

Tadinya kami akan didrop di Centrum kembali oleh Mariusz, namun mengingat waktu jadinya kami di drop di Stasiun Metro yang terdekat dengan kindergarten anaknya. Hari ini tugas Mariusz untuk mengantar Max ke sekolahnya dengan terlebih dahulu menjemput temannya Max. No problem, tiket day pass kami masih berlaku. Dari situ kami ke stasiun Centrum dan lanjut naik bis ke bandara Chopin. Next destinations, Rome.

BERTEMU DENGAN SI PEMILIK KOPER DI BUDAPEST

Day 6

Dari Jakarta, kami dititipi sebuah koper untuk dibawa ke Budapest. Koper itu berisi barang-barang pameran yang akan diselenggarakan di KBRI Hungaria tanggal 23 Mei. Kebanyakan batik kuno, berbagai macam sepatu batik dan sebagainya. Sebenarnya ada 2 koper yang dititipi, tapi karena peristiwa ketinggalan pesawat, jadinya hanya 1 koper yang bisa Amel bawa. Bagus juga sih hanya 1 koper titipan dan tidak terlalu besar, memudahkan kami mobile, secara Budapest akan menjadi kota ketiga yang kami kunjungi setelah Amsterdam dan Prague. Kami tidak perlu menitipkan di penitipan bagasi yang ada di airport ataupun stasiun kereta, cukup dibawa ke hostel.

Saya sendiri belum pernah bertemu muka sama Mbak Shifa, si pemilik koper. Kami hanya terhubung lewat jalur pertemanan di milis. Secara kebetulan Mbak Shifa mencari teman milis yang mau ke Eropa Barat dan rute saya cocok dengan kebutuhannya. Dan gantian Mbak Shifa menawari untuk tinggal di apartemennya selama di Budapest. Kebetulan saya belum memastikan penginapan di Budapest. Pernah booking hostel di Budapest tapi hanya untuk pengajuan visa dan udah dibatalin. Jadi tawarannya gak mungkin dilewatkan.

Amel pas saya kasih tau bahwa kita akan bawa barang titipan langsung bingung. Katanya apa gak beresiko membawakan barang orang yang gak pernah dikenal sebelumnya? Bagaimana kalau barang itu ternyata membawa masalah? Memang sangat riskan, saya pun hanya mau dititipin kalo orang tersebut bisa dipercaya. Kalau yang ini Insya Allah tidak apa-apa karena Mbak Shifa termasuk yang aktif di milis dan blogger aktif. Dan Mbak Shifa minta kita memeriksa koper tersebut sebelum dibawa.

Di stasiun kereta Hlavni Nadrazi, Prague kami bertemu dengan ibu-ibu yang juga bersaudara. Kebetulan kami akan naik kereta yang sama. Mereka juga sedang menikmati liburan keliling Eropa. Mereka sudah berumur lho, Ibu Helen kurang lebih sekitar 60 tahun dan adiknya Ibu Rossy sekitar 45 tahun tapi kuat jalan. Dan ini bukan trip pertamakalinya ke Eropa buat mereka, tapi setiap kali pergi selalu mengambil rute yang berbeda. Kali ini tujuan mereka adalah Prague, Budapest, Berlin, St Petersburg (Rusia) dan Abu Dhabi. Yah kalau dibandingkan dengan trip kami, mereka adalah traveller versi koper dan kami adalah travelller versi ransel alias traveller paket hemat. Trip mereka sifatnya pendalaman/pemantapan terhadap sebuah negara/kota, trip kami sifatnya pengenalan terhadap sebuah negara/kota. Mereka masih punya sisa uang Czech Koruna kurang lebih 2000CZK disaat akan meninggalkan Prague, kami hanya punya sisa 235CZK. Itupun modal biaya hidup kami selama di Prague hanya sekitar 1700CZK. Sangat beda kelas. Mereka masing-masing bawa 2 koper gede banget, menghabiskan waktu lebih lama di tiap kota rata-rata 5 hari, tinggal di hotel berbintang 4 dan menikmati waktu dengan bersantai. Meski beda kelas dengan kami, yang saya suka adalah semangat jalannya yang luar biasa dan senang mendengar pengalaman mereka.

IMG_4386

travellers ala koper

Kalau saya sih berprinsip mumpung masih muda dan masih kuat manggul ransel, saya pengen melakukannya dengan cara backpacker dulu. Akan banyak banget pengetahuan baru, pengalaman seru, banyak tempat yang bisa dikunjungi dengan mengatur biaya perjalanan sesedikit mungkin. Sesuatu yang tidak bakal didapatkan jika ikut tur ataupun traveller ala koper. Meski kadang-kadang banyak kejadian di luar dugaan kita yang menyebabkan kita harus mengeluarkan biaya tambahan. Tapi itulah hikmahnya, next time be better

Saya nyaris ketinggalan kereta lagi. Hampir tiba waktunya akan berangkat, saya ditanyain ama ibu Helen nomor kursi di kereta nanti. Tiket kami beli online dari Indonesia dan dalam bahasa Czech jadi kurang ngerti mana nomor kursinya. Segera saya kembali ke informasi, saya ditunjukin nomor gerbong dan nomor kursinya. Tapi rupanya tiket yang saya bawa hanya tiket untuk 1 orang, padahal saya beli tiket untuk 2 orang. Saya tidak mengerti kenapa printoutnya hanya satu, harusnya ada 2 lembar, satu atas namaku dan satunya lagi atas nama Amel. Yang ada hanya nama Amel. Dan mereka gak mau tahu dan gak mau membantu mengecek daftar nama penumpang yang beli online. Tahunya hanya menyuruh membeli tiket baru. Oh seandainya saya tahu kejadiannya kayak gini dari tadi, saya pasti masih sempat cari internet untuk buka email tiket online tersebut secara kurang lebih kami sudah berada selama 2 jam di stasiun kereta tersebut. Karena terdesak waktu, terpaksa beli tiket susulan seharga 1512Czk, padahal beli online waktu itu hanya 555Czk. Huhuhuhu.

Meski di tiket ada nomor kursi, tapi kami duduk di kursi yang kosong saja, daripada repot kesana kemari nyari kursi sementara keretanya udah mau jalan.
Ternyata di kereta itu saat pemeriksaaan tiket ada beberapa orang yang mengalami kejadian yang sama. Mereka membeli tiket untuk 2 orang tapi hanya tercetak 1 lembar saja dan untuk 1 orang. Terpaksa mereka beli tiket lagi di dalam kereta.

Perjalanan kurang lebih sekitar 7 jam, tiba di stasiun Keleti PU, mbak shifa sudah menunggu bersama teman-temannya Mbak Adit dan Kak Husna. Koperpun beralih tangan. K Husna orang Makassar yang sudah 13 tahun tinggal di sana ikut suami. Setelah dirunut, ternyata masih punya hubungan keluarga dari Soppeng dan senior Sipil 86. Hehehe. Mbak Adit baru sekitar 2 tahunan ikut suami, Kalo Mbak Shifa awalnya ke Budapest karena dapat beasiswa belajar bahasa, setelah selesai malah keenakan tinggal di sana.

Jarak dari stasiun Keleti ke apartemennya sebenarnya dekat saja, namun oleh Kak Husna diajak keliling-keliling dulu melihat tipikal kota Budapest.Ke Hero Square, kemudian melewati jembatan yang melintas di Danube River.

Alhamdulillah, sejauh ini berjalan lancar minimal amanahnya tiba dengan selamat.

NGE-HOST COUCHSURFING FRIENDS FOR THE FIRST TIME

Bulan kemarin, saya ngehost 1 teman cs pertama kalinya. Martina dari Hamburg Jerman. Baru pertama kali datang ke Indonesia dan memilih Sulawesi sebagai tujuannya. Bagi saya agak aneh, biasanya orang luar hanya kenal sama Bali dan Bali akan jadi destinasi utama mereka. Ketika saya tanyakan alasannya, dia sangat tertarik dengan Toraja n Togean Islands, gak suka tempat yang turistik dan pengen nyantai aja. Padahal waktunya cukup banyak untuk travelling sekitar 30 hari.

Saya tersanjung ternyata orang luar lebih respek dan ingin menikmati alam Sulawesi, kalo yang kata saya sebagai orang yang besar n lahir di Makassar, biasa-biasa saja dan sy masih lebih tertarik ke tempat lain . Nah ini yang harus mulai sy rubah dari diriku sendiri. Malu dong, orang luar ternyata banyak tau daripada kita. Jadi dia memilih pesawat dari Hamburg tujuan Jakarta dan langsung nyambung pesawat ke Makassar. Rute perjalanannya Makassar-Toraja-Tentena (Bada Valley)-Togean Islands-Palu-Jakarta-Hamburg. Setelah di Togean Islands 10 hari, di hari ke 25 perjalanannya dia menuju Palu dan tinggal di kos-an ku selama 3 hari. Karena kebetulan sy dan teman-teman udah berencana ke Danau Lindu, sekalian aja ngajak dia kesana. Lucu juga saat pertama bertemu, ternyata sy ama dia udah ketemu duluan di jalan. Martina merequest saat masih di Ampana (sekitar 8jam dari Palu) kemudian sy meresponse tapi gak dibalas. So, karena ada tamu kantor yang sy temani jalan-jalan ke Tanjung Karang (1 jam dari Palu), diperjalanan pergi sy melihat cewek bule wara wiri dengan ojek. Diperjalanan pulang, papasan lagi di warung makan. Ada feeling sih, tapi sy gak negur. Setelah sampai di Palu baru ada smsnya masuk, so janjian ketemuan di kantorku. Hehehe ternyata benar Martina dengan ransel gedenya.

Ini komentar manis dari martina di profile cs-ku:

For Dewi Mulya Sari Palu, Indonesia Dec 19, 2010

Positive

Dewi was my sunshine in cloudy Palu. She invited me very spontaneously to stay with her and her family for 3 days and treated me like a VIP guest, feeding me great food, introduced me to her nice friends, took me on an off-road motorbike tour to Lore Lindu National park and even drove me to the airport at 5 ! in the morning. Thanks so much for that wonderful experience !

Dan sy balas komentarnya as below: From Dewi Mulya Sari Palu, Indonesia Dec 29, 2010

Positive

this is my first time to host n hosting martina was a pleasure. she is humble, very polite, easy going n communicative. i’m glad that she enjoyed the food that i had cooked n stayed at my small n full house..haha. also enjoy the trip to lindu lake eventhough it’s a very unsafety trip. she’ve sent me some pics about her family n things in hamburg (great thanks). i hope someday we can meet again.

Alasan sy bergabung di couchsurfing, pengen dapat teman baru, dapat alternative akomodasi di mana saja (sekalian berhemat ongkos penginapan), dapat berinteraksi langsung dengan kebiasaan/budaya penduduk setempat dengan begitu bisa lebih menghargai dan menghormati perbedaan budaya tersebut, dan yang paling penting, kalo dengan bule bisa practice speaking-speaking. Tentu saja, sy masih sedikit punya parno dengan jaringan silahturahmi online ini. Masih ada rasa was-was, namanya saja online, kita tidak terlalu tau bahwa kita berhubungan dengan siapa, apakah orang tersebut maksud lain-lain (negative things) selain tujuan luhur jaringan silahturahmi ini. Jadi tetap harus hati-hati. Saya yakin masih banyak orang baik di dunia ini dan sebagian besar ada di jaringan silahturahmi ini.