Baby Ghazi First Trip: India (2)

1 minggu sebelum berangkat, Aya dan dede terserang demam hingga beberapa hari dan badan mereka berbintik merah. Dede gak terlalu parah masih bisa beraktivitas sekolah Aya yang loyo banget dan badannnya penuh dengan bintik merah. sampai harus cepat pulang dan beberapa hari gak masuk sekolah. Saya cemas, segera bawa mereka ke dokter. Dede cepat sembuhnya, tapi Aya sampai berangkat ke Jakarta masih demam dan bintik merah baru berangsur hilang. Duh.

Sebelum terbang ke Jaipur, kami masih nginap semalam di Jakarta. Sengaja nginap di Mercure Ancol karena anak-anak jauh-jauh hari request ke Dufan. Saya masih tanya Aya, kuat gak main di Dufan. Kalo gak sangggup, kita batalin ke Dufan. Dia bilang masih kuat dan ternyata beneran dia langsung sehat dan main sampai puas. Hehehe. Semua wahana di coba bahkan yang extreme. Sebelum ke airport, kami juga masih menyempatkan diri sewa sepeda di Ecopark.

Lama penerbangan Jakarta-Jaipur jam dengan transit di KL. Agak was-was karena dari Jakarta sudah delay, transitnya jadi mepet banget. Stroller yang tadinya diminta untuk dibagasi saat masuk di pesawat, saya minta diambilkan kembali. Biar saya masukkan ke tas ransel dan masuk ke bagasi kabin saja. Setidaknya meminimalkan risiko ketinggalan pesawat, jadi begitu landing di KL bisa segera ngacir ke boarding gate KL-Jaipur. Bisa berabe kalo ketinggalan pesawat, soalnya pesawat Airasia ke Jaipur tidak setiap hari. Alhamdulillah, saat kita tiba di boarding gate, baru antri boarding. Boardingnya agak telat dikit, karena nunggu VIP person atau petinggi Airasia yang mau ke Jaipur. Entah ada seremoni apa, para petugas Airasia pada pake pakaian khas India.

28424039_10212177120205712_8283835904819171623_oMengenai barang bawaan, saya gak pengen terlalu rempong. Saya cuma bawa 2 koper ukuran kabin, 1 tas ransel dan 1 tas bayi selama seminggu perjalanan. Jadi gak perlu beli bagasi. 1 koper untuk pakaian saya dan papanya, 1 koper untuk pakaian 2 anak gadis, 1 tas bayi untuk keperluan baby Ghazy termasuk popok/carrier/baby wrap/selimut tidur, tas ransel isinya 4 jaket yang dipakai saat perlu saja dan beberapa cemilan. Di hotel tempat kita menginap, ada laundrynya dan murah. Jadi rencananya mau laundry aja pakaian yang terpakai selama 2 hari pertama. Saya juga bawa travel cooker. Fungsinya bertambah 1 lagi yaitu sebagai tempat untuk mensterilkan botol susu, selain untuk masak nasi dan masak air.

Selain stroller, saya juga bawa carrier, baby wrap dan selimut tidur. Saya juga sempat lama banget browsing cari referensi apa saja yang dibawa, apa perlu saya beli carrier baru yang lebih bagus kualitasnya. Akhirnya Baby wrap saya beli online merk Bobita. Sedang untuk carrier, saya bawa yang ada saja yaitu carrier hadiah aqiqahannya baby ghazi. Ini berfungsi ketika mengunjungi tempat yang tidak memungkinkan bawa stroller seperti tempat yang banyak tangganya atau cuman turun sebentar di satu tempat. Pada kenyataannya saya pakai baby wrap hanya sehari selama di sana, itupun Baby Ghazi merasa kurang nyaman. Padahal sebelum berangkat, saya rajin latihan pakai biar terbiasa.

Baby Ghazi masih Asi Ekslusif, sedapat mungkin disusui langsung. Saya juga bawa pompa ASI Elektrik. Pada saat dia tidur, saya juga pumping biar ada stok ASI. Jadi pada saat jalan-jalan dia juga bisa minum ASI di botol.

Alhamdulillah baby Ghazi anteng-anteng saja di semua penerbangan. Makassar-Jakarta, Jakarta-Jaipur via Kualalumpur memakan waktu 9jam diluar waktu tunggu di bandara. Tingkat kerewelan pun paling 10% di sepanjang trip, agak gelisah di malam pertama di Jaipur dan menjelang maghrib di hari kedua di New Delhi mungkin pengaruh penyesuaian cuaca juga, angin kencang dan dingin. Selebihnya aman dan terkendali.

Waktu sudah menunjukkan jam 22.30 saat tiba di Jaipur. Driver menjemput kami di bandara dan mengantarkan ke hotel Kalyan.

Advertisements

Baby Ghazi First Trip: India (1)

28337380_10212177166206862_6842220025394082860_o

Me and Taj Mahal

 

Cuti melahirkan baru separuh jalan, perasaan galau pengen traveling terus aja berkecamuk. Efek sudah lama gak traveling. Pengen traveling sendiri tapi gak tega ninggalin baby yang lagi Asi ekslusif. Baby Ghazi baru sebulan umurnya.

Kegalauan pertama, aman gak sih traveling dengan baby umur segitu. Umur segitu masih sangat rentan dengan virus. Kalo mengacu ke peraturan penerbangan berbagai airlines, rata-rata membolehkan bayi umur 9 hari untuk terbang.

Kegalauan kedua, rempong gak sih bawa baby jalan-jalan. Kakak-kakaknya baru mulai traveling di usia 2,5tahun. Saat mereka udah mulai pintar ngomong, udah lepas diapers, dan susu bisa jenis apa saja. Alhamdulillah Terkendali dan gak rempong bahkan jaman dulu saya keukeh gak pake stroller. Kalo nyari referensi di blog/milis dalam negeri, traveling umur segitu sangat tidak disarankan. Banyak paham lokal alias pamali. Nyari referensi dari artikel kesehatan, traveling boleh saja asal hati-hati. Nyari referensi blog/milis luar, fine-fine aja traveling. Justru umur segitu, baby lebih banyak tidur, gak perlu nyiapin makan, rewelnya paling pada saat pengen nyusu atau saat diaper harus diganti.

28337841_10212177080124710_5357067218400201572_o

Baby Ghazi di pesawat

Kegalauan ketiga, soal destinasi. Saya pengen ke maldives, tapi momentnya gak pas untuk mantai. Curah hujan cukup tinggi. Jadinya saya fokus nyari tiket ke negara yang tidak perlu urus visa manual dalam artian gak perlu ribet nyiapin berkas dan datang ke kedutaan. Pilihan mengerucut ke Turki dan India. Pilihan saya condong ke India, selain masuk budget buat pergi berlima, saya ingin ke Taj Mahal. Saya tuh  punya target pergi ke 7 keajaiban dunia versi jaman old. Sisa Taj Mahal dan Piramida Mesir yang belum.

Namun ini menimbulkan kegalauan berikutnya. Ke India? Negara yang katanya indah tapi jorok dan tidak aman. Kalo cuma sendiri, ya saya gak masalah pergi sana. Ini bawa baby. Public transport india sudah bagus, tapi stasiun katanya crowded banget dan jangan coba-coba menggunakan public toilet utamanya di dalam kereta. Pilihan lainnya, bisa menggunakan mobil rental untuk trip golden triangle. Jaipur-delhi-agra. Setelah dicek, biaya rentalnya masih masuk akal. Ok, fix rental mobil.

Saya gak langsung issued tiket, masih harus menghadap kepala sekolahnya Aya untuk minta ijin. Aya sudah kelas 3 smp, jangan sampai kena masalah kalo ninggalin sekolah 6hari. Alhamdulillah dikasih ijin.

Saya beli tiketnya 2 minggu sebelum berangkat, Jakarta-Jaipur pp. Paspornya baby Ghazi juga udah ready. Biar belum punya rencana fix buat traveling, sudah saya urus paspornya. Sekalian urus akte kelahiran dan penambahan di kartu keluarga. Mumpung saya masih cuti. Segala proses pengurusan lancar. Waktu urus paspor, saya dan baby ghazi jadi prioritas untuk verifikasi berkas. Berkasnya belum lengkap karena di kartu keluarga belum tercantum nama baby ghazi. Si petugas imigrasi mengarahkan ke dukcapil buat urus penambahan di kartu keluarga. Ke dukcapil, jadi prioritas lagi. Bahkan saya yang sekalian mau ganti ktp juga dibantu percepatan. Gak sampai semenit ktp saya sudah jadi, padahal antrinya minta ampun. Alhamdulillah, layanan instansi pemerintah udah semakin bagus dan ramah. Balik lagi ke kantor imigrasi, baby Ghazi digendong ama petugas imigrasi cewek. Langsung dibantu untuk proses foto. Gak sampe 5 menit, udah selesai prosesnya. Sisa diambil 3 hari kemudian. Paspornya jadi pas tepat baby Ghazi umur sebulan.

Visa india bisa apply online. Cuman harus pastikan apply visa di website yang benar https://indianvisaonline.gov.in/visa/index.html . Jangan sampai kena tipu. Banyak website abal-abal yang ternyata pihak ketiga alias calo dan mengenakan biaya pembuatan visa lumayan. Saya banyak terbantu dari blognya si omnduut. Prosesnya mudah saja. Cukup mengisi form online, upload foto dan paspor, dan bayar 51.25usd/orang. Baby Ghazi juga harus bayar. Hiks. Update: Sejak Juni 2018, visa India sudah gratis tapi tetap apply online.

Untuk penyedia jasa mobil rental, saya dapat referensi dari trip advisor. Saya pilih 3 kontak travel berdasarkan review dan peringkat. Semuanya merespons dengan cepat. Setelah nego harga, saya memilih Mr Tara. Paket rental termasuk pick up/drop off airport, jaipur tour, agra tour, delhi tour, biaya menginap dan makan supir, toll, parkir, air mineral dan snack.

Untuk pilihan tempat menginap, saya milih hotel melati saja untuk di Jaipur dan New Delhi, sedang di Agra milih hotel Radisson Blu Agra Taj East Gate, Agra. Kan cuma semalam dan lagi ada promo booking hotel di tra****ka harganya jadi 1,1jt/malam. Pilih kamar yang ada sofanya, jadi pas buat berlima tanpa perlu extra bed. Tapi saya sudah pasrah aja kalo misalnya pada saat check in, diminta untuk tambah extrabed.

Untuk review hotel n rental mobilnya di tulisan berikutnya ya.

Pilihan Akomodasi di LA, SF, dan Las Vegas

Untuk pilihan akomodasi di trip ini, yang booking adalah travelmate saya. Biasanya sih saya yang milih-milih, cuman berhubung saya waktu itu sibuk banget dan waktu keberangkatan makin dekat, jadinya saya sudah gak sempat mengobservasi pilihan tempat menginap. Pertimbangan untuk memilih penginapan kali ini adalah budget dan lokasi.

Berikut reviewnya:

  1. American Hotel, Los Angeles

Hotel ini dipilih karena dekat tempat kita naik bus Flixbus untuk ke San Francisco. Berada di Art District/LA Downtown. Kata driver Uber yang ngantar kita dari bandara ke hotel ini, jika mau nyari barang-barang nyeni tempatnya di sekitar hotel ini.  Dapat kamar dengan 1 tempat tidur queen dan 1 bunk bed, bisa untuk berempat. Kamar mandi berada di luar kamar. Kebersihan kamar dan kamar mandi bisa diacungi jempol. Di kamar, tersedia 4 air mineral sebagai compliment. Kami cuma semalam disini. Keesokan harinya pagi-pagi check out tapi masih nitip koper (gratis), jam 10 malam kami balik ambil koper dan jalan kaki menuju halte Flixbus yang letaknya di seberang Union Station. Lumayan juga jalan kaki sekitar 20menit. Harga per malam/orang 60.42USD Continue reading

Bantuka’ kodong

“Maaf bu, sudah closing,” kata si petugas saat mau check in di bandara. Waktu menunjukkan jam 05.00 sementara jadwal terbangnya jam 05.20.

“Aduh jangan begitu dong pak, tolonglah.” kata saya.

“Bicara sama manager saja bu di customer service”, kata si dia lagi.

Seketika saya agak reaktif (baca: panik). Di Customer Service belum ada orang yang tampak.

Saya balik lagi ke petugas yang tadi. “Pak, gak ada orang disana”.

Tak lama managernya keluar dan saya langsung minta tolong.

“Pak, bantuka kodong. Saya ini berlima.” Kata bantuka kodong trus saya ulang-ulang.

Si manager dengan baik hati langsung meminta petugas untuk melayani. Alhamdulillah. Ternyata masih rejeki. Saya hitung ada sekitar 5 orang lain yang juga ditolak check in. Yang pada akhirnya semuanya bisa berangkat.

Kodong itu bahasa makassar yang artinya kesian atau penekanan untuk gestur untuk memelas. Bantuka’ kodong berarti kasihan tolong saya atau bahasa lainnya i’m begging you plisss.

You know what, saya tuh sebenarnya paling anti kata kodong, mendengar orang lain menyebutkannya pun saya juga agak sebel. Karena kata saya sih, gak usah pake kata kodong juga kalo masih bisa dibantu ya akan dibantu.

Barusan kali ini saya seperti itu, demi menyelamatkan tiket pesawat 1 keluarga. Kami udah punya temu janji pengurusan visa Schengen sekaligus jalan jalan seputaran jakarta bandung.

Kalau ingat kejadian ini suka senyum senyum sendiri.

Lima Spot Menarik Di Los Angeles

Los Angeles merupakan salah satu destinasi wisata yang dapat memanjakan mata dan pikiran karena sarat dengan berbagai tempat dan kegiatan yang dapat menghibur. Selama hampir 3 hari ini ada beberapa yang kami kunjungi antara lain.

  1. Griffith Observatory
img_6331

Berat badan saya di Planet Jupiter

Observatorium ini merupakan wisata sains yang populer dengan view Hollywood Sign yang luar biasa yang dibuka tahun 1935. Sayang saat kita datang, hujan gerimis yang menyebabkan kabut tebal menyelimuti area ini. Di Observatorium ini ada pendulum Foucault, yang dirancang untuk menunjukkan rotasi Bumi. Kemudian ada teleskop pembiasan Zeiss 12 inci (305mm) dan ada teleskop surya. Observatorium terbagi 6 area: The Wilder Hall of the Eye, the Ahmanson Hall of the Sky, the W.M. Keck Foundation Central Rotunda, the Cosmic Connection, the Gunther Depths of Space Hall, and the Edge of Space Mezzanine.

Disini juga bisa kita menimbang berat badan ketika berada di planet lain selain bumi. Kayak di Jupiter berat badan kita 2x lebih berat dibanding di bumi. Hal itu disebabkan planet lain punya gravitasi yang berbeda dengan Bumi.

2. Santa Monica

Santa Monica adalah sebuah area di pesisir Los Angeles yang menjadi magnet wisatawan. Katanya sih National Geographic menobatkan Santa Monica sebagai salah satu dari 10 kota dengan pantai terbaik di dunia. Beragam aktivitas juga dapat dilakukan di sini, seperti bermain ditaman hiburan Pacific Park, nongkrong menikmati sunset, berenang, berselancar atau sekedar bermain voli pantai. Kami sengaja datang untuk menikmati sunset disini. Continue reading

Nyantai di Golden Gate Bridge

This slideshow requires JavaScript.

Dari Los Angeles, kami naik bus jam 10 malam dan tiba sekitar jam 5 pagi di San Francisco. Tetiba di hostel, kami numpang mandi, nitip koper kemudian ke Golden Gate Bridge yang menjadi icon kota San Francisco. Sama bapak Uber, kami diturunkan di spot maintstream untuk berfoto dengan latar belakang Golden Gate Bridge. Semua turis baik yang naik bus maupun naik mobil pribadi turunnya juga disini. Pagi itu belum terlalu ramai, masih sekitar jam 8 pagi. Jadi cukup banyak waktu untuk explore di area Golden Gate Bridge ini. Sebenarnya kami sangat pengen ke Alcatraz, sebuah pulau yang terletak di tengah Teluk San Francisco. Sayang saat mau beli online tiketnya sudah sold out padahal masih seminggu sebelum keberangkatan. Padahal udah membayangkan dapat view sempurna Golden Gate Bridge dari kapal yang mengantar ke pulau Alcatraz. Alcatraz ini  dahulu merupakan benteng pertahanan militer sejak 1850 dan kemudian dijadikan penjara keamanan-ketat pada tahun 1934, namun di tahun 1963 penjara itu ditutup selamanya dan dijadikan tempat wisata.

Kami lalu mengexplore view Golden Gate Bridge mulai dari atas kemudian pelan-pelan turun melalui jalan setapak sampai ke pinggir pantai. Dari situ kita jalan lagi sampai ke pier dimana banyak orang yang sedang memancing. Lalu kita jalan menuju Fort Point. Fort Point yaitu benteng yang dibangun untuk mempertahankan Teluk San Francisco dari kapal perang musuh. Benteng ini sudah ada sebelum Golden Gate dibangun. Fort Point ini bebas biaya masuk. Baru setengah jalan menuju sana, kami berubah pikiran. Pengen explore di area jembatannya, so balik arah untuk naik kembali menuju jembatan. Niatnya pengen jalan kaki menuju seberang jembatan.

Beberapa fakta mengenai Golden Gate Bridge:

  • Panjang Jembatan 1966m dengan lebar jalan 27 m
  • Dibangun di tahun 1933 dan selesai 4 tahun kemudian
  • Nama Golden Gate tidak merujuk ke warna jembatan, Tapi merupakan penamaan dari pintu masuk Teluk San Francisco dari Lautan Pasifik yaitu Golden Gate Strait.
  • Diameter kabel utama adalah 0,92m terdiri dari 27572 kawat yang katanya nih panjangnya bisa mengelilingi bumi sampai lebih dari 3kali.
  • Sekarang Golden Gate Bridge (1280m) bukanlah jembatan dengan bentang terpanjang. Ada Jembatan akashi Kaykiyo di Jepang yaitu 1991m

Fisherman Wharf & Pier 39

Tempat ketiga yang menarik selain Golden Gate Bridge dan Alcatraz adalah Pier 39. Pier 39 kebanyakan isinya toko souvenir, cafe/restaurant dan street performance. Hard Rock Cafe, Madame Tussaud museum dan beberapa museum lainnya ada disini. Pier 39 juga terkenal dengan singa laut juga disini. Ada dermaga dimana beberapa kapal sedang bersandar dan kita bisa melihat pulau Alcatraz lebih jelas dibanding dari Golden Gate.

Souvenir di Fisherman Wharf/Pier 39 menurut kami masih lumayan mahal. Dapat info ada toko souvenir di China Town yang lebih murah. Jalan kaki dari sini ke China Town sekitar 15 menit. Namun kita gak nemu toko souvenir itu, hanya menemukan buah-buah seperti anggur, jeruk dengan harga murah. Dari China Town kami putuskan lagi jalan kaki sampai hostel. Soalnya masih sore, sambil berjalan santai kami masih bisa singgah di beberapa tempat seperti taman depan Grace cathedral dan Union Square. Toh besoknya sudah tidak ada kegiatan selain ke bandara. Cukup waktu untuk mengistirahatkan kaki.

Tour 1 Dollar ke Hollywood Sign

img_3656

Pas kita nginap di Walk of Fame Hostel di Los Angeles ada tawaran untuk ikut tour ke Hollywood Sign yang sayang  untuk dilewatkan. Kami langsung menuliskan nama pada form yang ada di papan pengumuman dekat resepsionis.  Tour tersebut gratis, tapi kita wajib menyiapkan 1 dollar buat ongkos bus pulang pergi ke halte terakhir dekat Hollywood Sign.   Tiap hari hostel tersebut menyiapkan berbagai kegiatan menarik yang berbeda-beda untuk para penghuninya. Kami cuman semalam disana, besoknya sudah check out dan proses kembali ke tanah air. Di hari checkout kami memang sudah tidak ada rencana kemana-mana. Paling explore sekitar Hollywood sambil menunggu tiba waktu ke bandara.

img_7267

Pengarahan sebelum berangkat

Pagi hari kami langsung checkout dan titip barang di hostel itu. Kemudian bergabung dengan para peserta tour. Bagi yang gak punya uang kecil, mereka bantu menukarkan. Setelah siap semua, barulah kami berjalan menuju halte bus. Tour di pandu 1 orang, orangnya cukup sabar. Dia memastikan gak ada yang ketinggalan dan jalannya cukup moderat, gak terlalu cepat tapi juga gak slow. Kita naik bus sekitar 20 menit, dan turun di perumahan di kawasan Hollywood Hills. Dan mulailah kita jalan menanjak kurang lebih sekitar 30 menit.

 

img_7289

Jalan menanjak menuju Hollywood Sign

 

 

Tulisan Hollywood yang berwarna putih mempunyai tinggi 14 meter dan lebar 110 meter. Tulisan Hollywood itu ada sejak tahun 1923, awalnya bertuliskan HOLLYWOODLAND untuk mempromosikan perumahan disekitar situ. Namun di tahun 1949, Tulisan LAND dilepas oleh pemerintah untuk mencerminkan Distrik Hollywood dan bukan lagi perumahan.

 

mail (1)

Hollywood sign dari Hollywood Mall

Kami sampai di tanah lapang dekat taman, dimana tulisan Hollywood ini sangat jelas keliatan. Kalo mau hiking sampai persis di tulisan juga bisa, saya cek di google ada 3 hiking trail untuk ke Hollywood sign. Di hari pertama di Los Angeles, kami ke Griffith Observatory untuk melihat Hollywood sign. Sayangnya cuaca lagi gak mendukung. Gerimis dan berkabut sehingga menutupi Mount Lee tempat Hollywood sign berada. Setelah itu kami langsung ke mall Hollywood & Highland, tempat termudah untuk melihat tulisan Hollywood. Tapi cuman keliatan dari jauh.

img_7319

Foto rame-rame dengan peserta tur