Kereta cepat Afrosiyob tiba jam 10pagi di Samarqand. Tiket kereta beli di web https://e-ticket.railway.uz/en/home . Awalnya tidak mudah membeli tiket ini di web ini, kurang user friendly, pas bayar sering gagal. Sekalinya berhasil, semua tiket saya salah tanggal. Saking seringnya mengulang proses pembelian tiket, jadinya saya tidak fokus. Paniklah saya, apalagi saya tidak langsung menemukan informasi reschedule/cara batal. Saya mengirim email untuk meminta reschedule. Email direspons dan prosesnya harus dibatalkan dulu baru pesan ulang. Untungnya fee pembatalan tidak terlalu besar.

Kali ini kami tidak menginap dihotel, tapi di sebuah rumah namanya Guest House Chehra. Semua bagian rumah kami sewa, pemilik tinggal di rumah depan rumah ini. Ada 4 kamar, namun cuman 3 kamar kami tempati. Ada dapur dan mesin cuci.. Lokasinya cukup strategis. Meski guest house ini berada di jalan kecil, tapi dekat kemana-mana.

Kami segera menyusun rute jalan kaki. Dari penginapan, kami berjalan ke arah University Boulevard. Tak lama, di tengah taman kota yang rindang, tampak patung besar Amir Temur berdiri gagah di atas kuda.

Dari taman Amir Temur, kami berjalan menyusuri jalan utama menuju Gur-e-Amir Mausoleum. Tak jauh dari sana, tampak sebuah kompleks kecil dengan taman tenang dan bangunan bata tua berkubah sederhana — inilah Ruhabad Mausoleum, atau disebut juga Rukhabad, salah satu situs peninggalan abad ke-14. Di sampingnya berdiri Rukhabad Mosque, masjid kecil yang masih aktif digunakan warga sekitar. Kami pun mampir sejenak untuk shalat dan beristirahat, menikmati ketenangan di tengah taman rindang.

Tak jauh dari kompleks Rukhabad, hanya sekitar lima menit berjalan kaki, kami tiba di Gur-e-Amir Mausoleum — makam megah Amir Timur (Tamerlane), sang pendiri Kekaisaran Timurid. Dari kejauhan, kubah birunya sudah terlihat berkilau di bawah cahaya matahari pagi.

Begitu masuk ke dalam kompleks, rasanya seperti melangkah ke masa lampau. Dinding-dinding penuh dengan mozaik biru turquoise, kaligrafi halus, dan ukiran geometris yang memukau.

Setelah puas menikmati kemegahan Gur-e-Amir, kami melanjutkan perjalanan kaki menuju Registan Square, ikon utama kota Samarkand. Begitu sampai di Registan, rasanya seperti berdiri di tengah panggung sejarah dunia. Tiga madrasah besar — Ulugh Beg Madrasah, Sher-Dor Madrasah, dan Tilya-Kori Madrasah — berdiri megah saling berhadapan, dindingnya berhiaskan ubin biru dan emas yang berkilau di bawah cahaya matahari.
Kami duduk di tangga batu menghadap lapangan, hanya diam memandangi keindahan yang seolah tak lekang waktu.

Dari sini, kami naik taxi melanjutkan perjalanan singkat ke kompleks makam Imam Al-Bukhari, salah satu ulama hadis paling berpengaruh dalam Islam. Sayangnya, sedang renovasi. Padahal tempat ini cukup jauh dari kota. Kami sempat agak kesulitan mencari taxi. Tujuan kami berikutnya adalah makan di Karimbek restaurant. Restaurantnya cukup besar, kami diarahkan ke meja yang disediakan. Tapi ada ruang tengah dari restaurant ini yang menarik perhatian. Sangat terang dengan dekor yang mewah. Kami minta duduk di dalam ruangan tersebut. Awalnya ditolak karena katanya disini sangat ribut. Saya tanya apakah harganya berbeda? Katanya tidak. Hanya saja ini ruang dimana orang bisa menari diiringi dengan musik setelah atau sebelum makan. Kami bilang kami ingin di dalam ruangan ini dan pada akhirnya diperbolehkan. Seru sih disini, beberapa dari kami berbaur dengan pengunjung lain untuk bergoyang bersama sambil menunggu makanan datang.

Kami menutup hari dengan mampir ke Siab Market (Siyob Bazaar) yang berada tidak jauh dari Bibi-Khanym Mosque. Sudah hampir maghrib, pedagang sudah mulai menutup dagangannya. Kami sempat  membeli pashmina dan souvenir disini.

Leave a comment

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect