Ada satu benda yang punya cerita panjang dalam hidup kami: emas. Sejak dulu, emas bukan sekadar perhiasan bagi mama saya, tapi penyelamat di saat butuh, penopang mimpi di masa sulit. Dulu, mama rela keluar masuk pegadaian demi bisa membiayai sekolah anak-anaknya. Dari situ saya belajar bahwa emas bukan hanya tentang nilai, tapi juga tentang perjuangan dan kepercayaan pada masa depan.

Kebiasaan itu ternyata menurun ke saya, meski dengan tujuan berbeda. Bukan lagi untuk biaya sekolah, tapi untuk mewujudkan impian lain yaitu membeli properti. Beberapa kali, emas menjadi penyambung langkah saya. Pernah satu ketika, saat membeli rumah di Bandung, uang muka (DP) yang saya bayarkan sebagian besar berasal dari hasil gadai emas.

Sebagian lagi dari DP rumah saya ambil lewat kredit payroll di bank. Saya pikir semuanya sudah beres, ternyata belum. Rumah itu pengen direnovasi, sementara dana sudah habis. Kesalahan saya waktu itu, tidak memperhitungkan biaya renovasi saat mengajukan kredit.

Akhirnya saya cari cara lain. Waktu itu di marketplace JD.Id (yang kini sudah tutup), ada fasilitas pembelian emas dengan kartu kredit dan cicilan 0%. Saya manfaatkan kesempatan itu. Saya beli emas, lalu saya gadaikan untuk mendapatkan uang tunai, buat beli bahan bangunan dan bayar tukang. Begitu terus, sampai tak terasa jumlah emas yang saya beli dan gadaikan mencapai 184 gram.

Saya memilih menggadai di BSI karena perhitungannya lebih ringan dibanding pegadaian. Prosesnya juga lebih fleksibel. Sampai akhirnya marketplace itu meniadakan opsi pembayaran menggunakan kartu kredit. Sejak itulah saya berhenti membeli emas. Tapi alhamdulillah, di saat yang sama, renovasi rumah pun selesai. Tidak ada lagi kebutuhan dana mendesak, dan emas kembali saya jadikan tabungan masa depan.

Oh ya, ada satu kejadian lucu yang bikin jantung hampir copot. Dari riwayat pemesanan, ada satu barang yang statusnya “sudah diterima,” padahal saya belum menerima apa pun. Paniklah saya! Setelah dicek, ternyata paket berisi emas itu ditaruh di atas kap mobil tetangga sebelah. Hadeuh… andai saja orang tahu isinya, bisa lain ceritanya. Untung semua berakhir aman.

Setahun berlalu, dan setelah berhitung matang, saya sadar kemungkinan besar saya tidak akan bisa melunasi gadai yang ini dalam 2–3 tahun. Ada prioritas yang lain. Prinsip saya, menggadai gak boleh lama-lama, nanti nilainya habis oleh bunganya. Akhirnya saya memilih untuk menjual emas yang digadaikan untuk keperluan renovasi tersebut. Daripada besar pasak daripada tiang, saya harus realistis. Proses jualnya tidak ribet, saya malah dibantu oleh petugas bank untuk mencarikan pembelinya dengan harga buyback yang fair. Pembeli itu yang menebus emas saya, dan saya menerima selisihnya.

Seandainya emas itu masih saya pertahankan, mungkin dengan harga emas yang sekarang melonjak tinggi, hasilnya akan lebih besar. Tapi ya sudahlah, hidup juga perlu keseimbangan antara idealisme dan realita. Alhamdulillah, sekarang semua yang saya gadai, termasuk untuk keperluan DP rumah, sudah beres. Ada yang dijual, ada juga yang masih saya pertahankan.

Lebaran lalu, ketika saya mudik ke Makassar untuk melunasi gadai emas, saya sempat ditawari oleh petugas bank untuk program cicil emas. Awalnya saya menolak, karena saya sudah tidak tinggal di Makassar, khawatir nanti repot kalau harus mengambil barang setelah lunas. Tapi setelah dibujuk dan menghitung ulang, ternyata ada program khusus cicil emas untuk karyawan dengan payroll di bank tersebut, dengan bunga yang cukup menarik. Akhirnya saya setuju. Dan sekarang, melihat harga emas yang terus naik, saya cuma bisa tersenyum, keputusan impulsif waktu itu ternyata jadi keputusan yang menyenangkan.

Dari semua pengalaman ini, saya semakin yakin: emas memang kecil bentuknya, tapi besar maknanya. Investasi sederhana tapi berdaya.  Bisa jadi penolong saat darurat, modal saat berjuang, dan tabungan saat masa tenang. Buat saya, emas bukan cuma logam mulia, tapi simbol strategi, keberanian, dan kebijaksanaan dalam mengatur hidup.

Baca juga cerita kehilangan emas: https://penyukajalanjalan.com/2014/09/19/move-on/

Leave a comment

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect