Traveler Kebanyakan Gaya

IMG-20170324-WA0051

Area sekitar Liverpool one

Entah mengapa dalam persiapan trip ke UK ini saya merasa berubah jadi kebanyakan gaya. Mungkin karena pengaruh pergi di bulan Maret, masih musim dingin. Pengen bawa jaket dan sweater yang banyak. Saya bahkan hunting jaket saat mengurus visa UK di Jakarta dan beli 1 coat dan 1 jaket wool. Rencananya bawa lagi 1 jaket yang sudah ada. Saya juga beli 4 buah sweater, jenis pakaian yang nyaris gak pernah punya. Kalo ngetrip, saya lebih suka pakai kaos atau kemeja katun tipis.  Dan biasanya kalo ngetrip hanya bawa jaket 1 dan kemeja katun tipis yang nantinya dilapis dengan manset. Dua kali ke Eropa cuma kayak gitu aja gayanya. Saya bahkan bawa hand bag, biasanya praktis pake ransel saja. Continue reading

Advertisements

Welcoming 2017

15741213_10206462172507882_8104966500689692119_n

Welcoming 2017. New start, recharge energy & fresh again

Ada yang berbeda dengan tahun baru kali ini. Biasanya momen tahun baru dilewatkan di kantor atau di perjalanan. Seingat saya gak pernah dengan sengaja merencanakan pergi bertahun baru di tempat lain. Jika flashback 6 tahun ke belakang; 2011 tahun baru di perjalanan Makassar-Palu sewaktu tugas di Palu, 2012-2013 tahun baru di kantor Manado tanpa ditemani anak-anak karena mereka sekolah di Makassar), 2014 tahun baru di rujab Gubernur Sulut launching perubahan nama kantor setelah itu ke bandara meninggalkan Manado untuk pindah tugas ke Pare-pare, 2015 tahun baru di kantor Palopo, 2016 tahun baru di perjalanan Palopo-Makassar. Pokoknya gak jauh-jauh dari urusan tutup buku kantor. Risiko pekerjaan. Tutup buku dulu, baru pulang dengan pikiran tenang. Pikiran jauh dari rencana cuti atau old&new di hotel. Bahkan saya sudah menset bahwa kalo mau ambil cuti maksimal sampai bulan September. Setelahnya harus fokus menyelesaikan target-target kantor. Continue reading

Evaluasi resolusi

Setahun kayaknya gak cukup untuk mewujudkan semua realistic resolution tahun kemarin. Beberapa ada yang sukses selesai, beberapa ada yang berjalan tapi hasilnya belum optimal dan ada yang belum tercapai sehingga butuh perpanjangan waktu. Penyebabnya ya ada yang dari faktor eksternal tapi lebih banyak dari internal diri. Penyebab utama dari internal adalah kurang disiplin dan niat yang kurang kuat. Sorry to myself.

Tesis selesai sebelum bulan Maret. Continue reading

Belajar gak manja

20161119_120023Bisa kan, kita beda pesawat ke Denpasar?,” tanya saya ke anak-anak, Aya dan Dede.

Mereka jawab iya, yang penting ke Labuan Bajonya bareng. Jadilah saya naik Garuda dan mereka naik Lion. Kebetulan jam berangkatnya sama. Bisa aja sih bareng, tapi mumpung mereka ok-ok saja dan kesempatan mereka belajar naik pesawat sendiri serta mereka belajar mengendalikan emosi (rasa takut dan kuatir) sendiri.

Saya ada acara presentasi di Bali mewakili kantor yang jadi finalis salah satu lomba internal yang diadakan kantor pusat. Wah kesempatan nih explore Bali secara acaranya hari Selasa malam. Ada waktu luang mulai Sabtu sampai Senin sebelum acara itu. Lalu saya berfikir ngapain habisin waktu di Bali, rasanya masih banyak kesempatan yang lain. Dan lagi, saya ngeces mau ke Labuan Bajo. Mumpung bisa ke Labuan Bajo tanpa perlu cuti dan setengah perjalanan ditanggung dinas. Hehehe. Teman ngajak pergi pas libur maulid desember nanti, tapi kayaknya ada kegiatan kantor tanggal segitu. Nyari teman untuk mendadak ngetrip gak mudah kan. Saya gak pengen juga jalan sendirian ke sana. Saya lalu nawarin ke anak anak, kalo mau ikut dengan beberapa syarat. Continue reading

Ketika Salah Bawa Travel Cooker

20160907_120656

great wall of China

Salah satu barang yang wajib dibawa ketika bepergian ke luar negeri adalah travel cooker buat masak nasi, masak air untuk bikin kopi/teh, bikin indomie, rebus telur, dan lain sebagainya. Biasanya sarapan diproduksi sendiri, jadi begitu keluar pagi gak abis waktu buat nyari sarapan. Dan gak keluar duit buat sarapan. Selain itu, entah mengapa gak makan nasi di negara yang gak pentingin nasi sebagai makanan sehari-hari rasanya nelangsa banget.

Saya sudah beberapa kali bermasalah dengan travel cooker. Terakhir di Tiongkok, saya salah bawa travel cooker. Yang saya bawa travel cooker yang rusak di Madinah. Salah saya sih, 3 travel cooker ditaruh berdekatan dan gak ditest dulu sebelum berangkat. Yang rusak pertama setelah 5 tahunan dipakai sudah saya buang kompornya tapi pancinya masih disimpan, yang rusak kedua kompornya masih saya simpan dengan harapan jika ada waktu akan diperbaiki, yang ketiga yang masih baik terakhir di pakai ke Eropa. Kalo pergi berempat (sekeluarga) saya biasanya bawa kompornya 1, pancinya 2. Continue reading