Rumah Pohon Urongo

 

wp-1487297224049.jpg

View of Tondano Lake from Urongo treehouse

Yogya punya Kalibiru, Sulawesi Utara punya Urongo. View berlatar Danau Tondano ini tidak kalah spektakuler. Emang sih, belum apple to apple. Kalibiru sudah well organized, Rumah Pohon Urongo masih self organized sama penduduk sana. Belum ada tiket masuk, hanya donasi seikhlasnya kecuali titian flying fox 20ribu perorang. Material rumah pohon/view pointnya juga seadanya, dari kayu yang berasal dari pohon sekitar. Meski begitu, tetap cakep dan bolehlah jadi wisata kekinian yang ada di Manado dan sekitarnya.

Continue reading

Advertisements

Gudeg

Gudeg merupakan salah satu makanan favorit saya sekaligus makanan yang paling saya cari jika bepergian. Paling dicari karena merupakan salah satu makanan yang tidak mampu saya bikin. Ribeut bikinnya, gudeg harus dari nangka pilihan, dimasak berjam-jam dengan api kecil, pake daun jati supaya berwarna coklat gelap, bikinnya harus sekalian banyak. Itu baru satu lauk, belum lagi proses pembuatan sambal krecek, telur, ayam. Lauk pelengkap Gudeg yang paling saya suka adalah sambal goreng krecek dan ati amplela. Di Palopo, gak ada yang jualan. Di Makassar, ada 1 tapi semakin kesini semakin kurang pakem dan kurang maknyus. Ada tempat makan gudeg yang baru di Makassar, belum kesempatan mengunjungi atau order online secara Sabtu Minggu malah tempatnya tutup. Belum berjodoh.  Continue reading

Welcoming 2017

15741213_10206462172507882_8104966500689692119_n

Welcoming 2017. New start, recharge energy & fresh again

Ada yang berbeda dengan tahun baru kali ini. Biasanya momen tahun baru dilewatkan di kantor atau di perjalanan. Seingat saya gak pernah dengan sengaja merencanakan pergi bertahun baru di tempat lain. Jika flashback 6 tahun ke belakang; 2011 tahun baru di perjalanan Makassar-Palu sewaktu tugas di Palu, 2012-2013 tahun baru di kantor Manado tanpa ditemani anak-anak karena mereka sekolah di Makassar), 2014 tahun baru di rujab Gubernur Sulut launching perubahan nama kantor setelah itu ke bandara meninggalkan Manado untuk pindah tugas ke Pare-pare, 2015 tahun baru di kantor Palopo, 2016 tahun baru di perjalanan Palopo-Makassar. Pokoknya gak jauh-jauh dari urusan tutup buku kantor. Risiko pekerjaan. Tutup buku dulu, baru pulang dengan pikiran tenang. Pikiran jauh dari rencana cuti atau old&new di hotel. Bahkan saya sudah menset bahwa kalo mau ambil cuti maksimal sampai bulan September. Setelahnya harus fokus menyelesaikan target-target kantor. Continue reading

Matahari terbit di Lolai

Lolai lagi.

Konsekuensi tinggal di dekat tempat yang lagi happening, harus siap menemani tamu kantor yang ingin kesana.  Bos saya datang dan ingin pulang lewat Toraja sekaligus mampir di Lolai.

Sayangnya, jalan yang biasa dilalui dan rute tercepat hanya 30 menit menuju Lolai sedang dalam perbaikan sebagai persiapan Pak JK datang ke Lolai. Kami harus mengambil jalan memutar dan membutuhkan waktu 1 jam 30menit sampai di Lolai. Pake acara kesasar lagi di pagi buta. Udah setengah hati karena sudah hampir pagi saat kami tiba.

Tapi gak rugi bersusah payah sampai di Lolai. Masih dapat sunrise yang keren banget. Awannya juga penuh. Nyaris tak terlihat kota Rantepao di bawah sana.

img-20170118-wa00001

Menadah matahari

Continue reading

Beda Pulau Rinca dan Pulau Komodo

20161119_161406

Island where the love is

Pak Ibrahim, bapak yang kami kontak untuk sewa perahu 2 hari, menyarankan agar Pulau Komodo diskip saja. Abis waktu, katanya. Harus bayar 80ribu lagi untuk tiket masuk dan belum tentu liat komodo. Ogah. Kan udah deal mengenai itinerary dan sudah bayar mahal buat sewa perahu kesana. Saya pengen punya gambaran langsung dari ke dua pulau yang menjadi tempat hunian Komodo tersebut. Tiap tempat punya keunikan tersendiri pastinya. Jadi di hari pertama kami ke Pulau Rinca dulu. Pulau ini yang paling dekat ke Labuan Bajo. Tidak heran lebih banyak orang yang memilih berkunjung ke Pulau Rinca. Lebih dekat efeknya ke biaya sewa perahu dan sudah bisa berfoto dengan Komodo. Luas Pulau Rinca hanya setengah kali Pulau Komodo, jadi lebih kecil. Kontur geografis Pulau Rinca lebih banyak berupa padang Savana. Area yang lebih kecil dan banyak padang savana membuat Komodo lebih mudah ditemukan di Pulau Rinca. Untuk foto-foto harus diakui lebih cakep di Pulau Rinca. Karena hari sudah semakin sore, kami disarankan untuk mengambil short track saja berkeliling di Pulau Rinca. Kata Ranger yang menemani, jalur yang kita ambil termasuk panoramic view yang keren diatas padang savana.  Saat kita datang ketemu 4 komodo dibawah kolong rumah. Saat trekking, cuma ketemu 1 komodo kecil. Saat turun dan nungguin Aya pipis, ketemu lagi Komodo yang lagi mau jalan keluar dari kolong rumah. Moment ini yang segera dimanfaatkan untuk berfoto. Minta tolong difotokan sama ranger, karena mereka tau trick foto komodo biar fotonya keren. Continue reading