Eurotrip 2019

Pilih ke Paris atau Turki? Saya melempar pilihan ke Pak Suami, Aya n Dede. Mereka mbulet milih Paris. Saya sendiri pengennya ke Turki. Saya belum pernah ke Turki, tiketnya lebih murah, visanya pun cuma apply online dan murah. Tapi demi menyenangkan mereka semua, jadilah saya mengissued tiket buat 5 orang ke Paris buat bulan Februari 2019. Maskapai Royal Jordanian lagi promo tiket 6.6juta KL-Paris pp. Saya beli tiketnya sekitar 6bulan sebelum berangkat. 

Sementara tiket Jakarta-KL saya beli dengan menukarkan Garuda Miles, kebetulan lagi ada promo akhir tahun diskon 70% tukar Garuda Miles. Yang biasanya tiket Jakarta-KL bisa ditukar dengan 21000Miles+tax, karena promo itu saya hanya menukarkan 3750Miles+tax untuk 1 tiket Jakarta-KL. Miles saya cuma cukup untuk beli 8 tiket. 2 tiket lagi bayar penuh. Jadi untuk 10 tiket termasuk infant Jakarta-KL pulang pergi saya hanya bayar total 3.5juta.  

Ini Euro trip yang ketigakalinya buat saya, sementara mereka baru pertama kali. Eurotrip pertama dan kedua menggunakan transport umum (bus/train/flight) untuk antar negaranya. Saya harus mempertimbangkan kenyamanan baby Ghazy yang baru berumur 15 bulan. Eropa di bulan Februari masih dingin banget. Pernah ke UK di bulan Maret dinginnya masih tidak tertahankan padahal baju sudah dobel dobel. Mau naik bus antar negara seperti Flixbus harus bawa carseat. Naik Uber harus request car seat dan kena charge 10Euro/1xjalan. Kalo naik kereta atau pesawat antar negara di sana, harus naik transport umum ke stasiun kereta atau bandara. Belum lagi transport di dalam Kota dengan metro/trem. Baby Ghazy akan banyak terpapar udara dingin saat menuju stasiun, dari stasiun ke tempat-tempat sightseeing ataupun dari stasiun ke hotel. Jadi untuk kali ini rasanya nyewa mobil pilihan yang paling pas.

Untuk rute negara tujuan, saya pengen ke Hallstatt, Austria. Selain itu targetnya juga ke beberapa negara yang belum saya kunjungi seperti Jerman, Slovakia, Slovenia, Croatia dan Luxembourg. Rugi dong kalo harus mengulang negara yang sama. Setelah ngecek google map, rutenya memungkinkan tapi harus tiap hari pindah negara. Jadilah saya memilih rute Paris-Brussel-Amsterdam-Berlin-Prague, Bratislava-Wina-Zagreb-Lljubljana-Halsstatt-Luxembourg-Paris. Nyewa mobil dari Bandara Charles de Gaulle, baliknya juga di bandara tersebut. 

Advertisements

Car Seat (Roadtrip di Eropa)

Berhubung ke Eropa bawa baby dan sewa mobil selama disana, maka baby selama di mobil wajib menggunakan car seat. Di negara maju hukumnya wajib. Bayi baru lahir belum boleh pulang dari Rumah Sakit kalo tidak punya car seat. Ada negara yang mewajibkan penggunaan car seat sampai anak tingginya 135 cm. Ada juga negara mewajibkan penggunaan car seat sampai umur tertentu, seperti Florida negara bagian AS sampai batas usia 5 tahun tapi negara bagian Virginia wajib sampai anak usia 8 tahun. Tiap negara beda regulasi. Negara seperti Kanada, pembelian car seat wajib ada sticker approvalnya, pembelian carseat di luar Kanada untuk dipakai dinegara tersebut termasuk illegal, dendanya bisa lebih mahal dari ngebut.

Sebelumnya saya tidak pernah sama sekali menggunakan carseat jika bepergian  bawa balita menggunakan mobil. Tahun lalu ke India dan sewa mobil (plus driver) selama disana, gak perlu pakai car seat. Penggunaan car seat di Indonesia masih pro-kontra mungkin karena regulasi lalu lintas kita juga belum mewajibkan penggunaan car seat atau pemahaman soal pentingnya car seat sangat minim di Indonesia. Makanya menggunakan car seat itu masih tergantung pertimbangan masing-masing orang tua. Continue reading

Baby Ghazi First Trip: India (2)

1 minggu sebelum berangkat, Aya dan dede terserang demam hingga beberapa hari dan badan mereka berbintik merah. Dede gak terlalu parah masih bisa beraktivitas sekolah Aya yang loyo banget dan badannnya penuh dengan bintik merah. sampai harus cepat pulang dan beberapa hari gak masuk sekolah. Saya cemas, segera bawa mereka ke dokter. Dede cepat sembuhnya, tapi Aya sampai berangkat ke Jakarta masih demam dan bintik merah baru berangsur hilang. Duh.

Sebelum terbang ke Jaipur, kami masih nginap semalam di Jakarta. Sengaja nginap di Mercure Ancol karena anak-anak jauh-jauh hari request ke Dufan. Saya masih tanya Aya, kuat gak main di Dufan. Kalo gak sangggup, kita batalin ke Dufan. Dia bilang masih kuat dan ternyata beneran dia langsung sehat dan main sampai puas. Hehehe. Semua wahana di coba bahkan yang extreme. Sebelum ke airport, kami juga masih menyempatkan diri sewa sepeda di Ecopark.

Lama penerbangan Jakarta-Jaipur jam dengan transit di KL. Agak was-was karena dari Jakarta sudah delay, transitnya jadi mepet banget. Stroller yang tadinya diminta untuk dibagasi saat masuk di pesawat, saya minta diambilkan kembali. Biar saya masukkan ke tas ransel dan masuk ke bagasi kabin saja. Setidaknya meminimalkan risiko ketinggalan pesawat, jadi begitu landing di KL bisa segera ngacir ke boarding gate KL-Jaipur. Bisa berabe kalo ketinggalan pesawat, soalnya pesawat Airasia ke Jaipur tidak setiap hari. Alhamdulillah, saat kita tiba di boarding gate, baru antri boarding. Boardingnya agak telat dikit, karena nunggu VIP person atau petinggi Airasia yang mau ke Jaipur. Entah ada seremoni apa, para petugas Airasia pada pake pakaian khas India.

28424039_10212177120205712_8283835904819171623_oMengenai barang bawaan, saya gak pengen terlalu rempong. Saya cuma bawa 2 koper ukuran kabin, 1 tas ransel dan 1 tas bayi selama seminggu perjalanan. Jadi gak perlu beli bagasi. 1 koper untuk pakaian saya dan papanya, 1 koper untuk pakaian 2 anak gadis, 1 tas bayi untuk keperluan baby Ghazy termasuk popok/carrier/baby wrap/selimut tidur, tas ransel isinya 4 jaket yang dipakai saat perlu saja dan beberapa cemilan. Di hotel tempat kita menginap, ada laundrynya dan murah. Jadi rencananya mau laundry aja pakaian yang terpakai selama 2 hari pertama. Saya juga bawa travel cooker. Fungsinya bertambah 1 lagi yaitu sebagai tempat untuk mensterilkan botol susu, selain untuk masak nasi dan masak air.

Selain stroller, saya juga bawa carrier, baby wrap dan selimut tidur. Saya juga sempat lama banget browsing cari referensi apa saja yang dibawa, apa perlu saya beli carrier baru yang lebih bagus kualitasnya. Akhirnya Baby wrap saya beli online merk Bobita. Sedang untuk carrier, saya bawa yang ada saja yaitu carrier hadiah aqiqahannya baby ghazi. Ini berfungsi ketika mengunjungi tempat yang tidak memungkinkan bawa stroller seperti tempat yang banyak tangganya atau cuman turun sebentar di satu tempat. Pada kenyataannya saya pakai baby wrap hanya sehari selama di sana, itupun Baby Ghazi merasa kurang nyaman. Padahal sebelum berangkat, saya rajin latihan pakai biar terbiasa.

Baby Ghazi masih Asi Ekslusif, sedapat mungkin disusui langsung. Saya juga bawa pompa ASI Elektrik. Pada saat dia tidur, saya juga pumping biar ada stok ASI. Jadi pada saat jalan-jalan dia juga bisa minum ASI di botol.

Alhamdulillah baby Ghazi anteng-anteng saja di semua penerbangan. Makassar-Jakarta, Jakarta-Jaipur via Kualalumpur memakan waktu 9jam diluar waktu tunggu di bandara. Tingkat kerewelan pun paling 10% di sepanjang trip, agak gelisah di malam pertama di Jaipur dan menjelang maghrib di hari kedua di New Delhi mungkin pengaruh penyesuaian cuaca juga, angin kencang dan dingin. Selebihnya aman dan terkendali.

Waktu sudah menunjukkan jam 22.30 saat tiba di Jaipur. Driver menjemput kami di bandara dan mengantarkan ke hotel Kalyan.

Pilihan Akomodasi di LA, SF, dan Las Vegas

Untuk pilihan akomodasi di trip ini, yang booking adalah travelmate saya. Biasanya sih saya yang milih-milih, cuman berhubung saya waktu itu sibuk banget dan waktu keberangkatan makin dekat, jadinya saya sudah gak sempat mengobservasi pilihan tempat menginap. Pertimbangan untuk memilih penginapan kali ini adalah budget dan lokasi.

Berikut reviewnya:

  1. American Hotel, Los Angeles

Hotel ini dipilih karena dekat tempat kita naik bus Flixbus untuk ke San Francisco. Berada di Art District/LA Downtown. Kata driver Uber yang ngantar kita dari bandara ke hotel ini, jika mau nyari barang-barang nyeni tempatnya di sekitar hotel ini.  Dapat kamar dengan 1 tempat tidur queen dan 1 bunk bed, bisa untuk berempat. Kamar mandi berada di luar kamar. Kebersihan kamar dan kamar mandi bisa diacungi jempol. Di kamar, tersedia 4 air mineral sebagai compliment. Kami cuma semalam disini. Keesokan harinya pagi-pagi check out tapi masih nitip koper (gratis), jam 10 malam kami balik ambil koper dan jalan kaki menuju halte Flixbus yang letaknya di seberang Union Station. Lumayan juga jalan kaki sekitar 20menit. Harga per malam/orang 60.42USD Continue reading

Lima Spot Menarik Di Los Angeles

Los Angeles merupakan salah satu destinasi wisata yang dapat memanjakan mata dan pikiran karena sarat dengan berbagai tempat dan kegiatan yang dapat menghibur. Selama hampir 3 hari ini ada beberapa yang kami kunjungi antara lain.

  1. Griffith Observatory
img_6331

Berat badan saya di Planet Jupiter

Observatorium ini merupakan wisata sains yang populer dengan view Hollywood Sign yang luar biasa yang dibuka tahun 1935. Sayang saat kita datang, hujan gerimis yang menyebabkan kabut tebal menyelimuti area ini. Di Observatorium ini ada pendulum Foucault, yang dirancang untuk menunjukkan rotasi Bumi. Kemudian ada teleskop pembiasan Zeiss 12 inci (305mm) dan ada teleskop surya. Observatorium terbagi 6 area: The Wilder Hall of the Eye, the Ahmanson Hall of the Sky, the W.M. Keck Foundation Central Rotunda, the Cosmic Connection, the Gunther Depths of Space Hall, and the Edge of Space Mezzanine.

Disini juga bisa kita menimbang berat badan ketika berada di planet lain selain bumi. Kayak di Jupiter berat badan kita 2x lebih berat dibanding di bumi. Hal itu disebabkan planet lain punya gravitasi yang berbeda dengan Bumi.

2. Santa Monica

Santa Monica adalah sebuah area di pesisir Los Angeles yang menjadi magnet wisatawan. Katanya sih National Geographic menobatkan Santa Monica sebagai salah satu dari 10 kota dengan pantai terbaik di dunia. Beragam aktivitas juga dapat dilakukan di sini, seperti bermain ditaman hiburan Pacific Park, nongkrong menikmati sunset, berenang, berselancar atau sekedar bermain voli pantai. Kami sengaja datang untuk menikmati sunset disini. Continue reading

Nyantai di Golden Gate Bridge

This slideshow requires JavaScript.

Dari Los Angeles, kami naik bus jam 10 malam dan tiba sekitar jam 5 pagi di San Francisco. Tetiba di hostel, kami numpang mandi, nitip koper kemudian ke Golden Gate Bridge yang menjadi icon kota San Francisco. Sama bapak Uber, kami diturunkan di spot maintstream untuk berfoto dengan latar belakang Golden Gate Bridge. Semua turis baik yang naik bus maupun naik mobil pribadi turunnya juga disini. Pagi itu belum terlalu ramai, masih sekitar jam 8 pagi. Jadi cukup banyak waktu untuk explore di area Golden Gate Bridge ini. Sebenarnya kami sangat pengen ke Alcatraz, sebuah pulau yang terletak di tengah Teluk San Francisco. Sayang saat mau beli online tiketnya sudah sold out padahal masih seminggu sebelum keberangkatan. Padahal udah membayangkan dapat view sempurna Golden Gate Bridge dari kapal yang mengantar ke pulau Alcatraz. Alcatraz ini  dahulu merupakan benteng pertahanan militer sejak 1850 dan kemudian dijadikan penjara keamanan-ketat pada tahun 1934, namun di tahun 1963 penjara itu ditutup selamanya dan dijadikan tempat wisata.

Kami lalu mengexplore view Golden Gate Bridge mulai dari atas kemudian pelan-pelan turun melalui jalan setapak sampai ke pinggir pantai. Dari situ kita jalan lagi sampai ke pier dimana banyak orang yang sedang memancing. Lalu kita jalan menuju Fort Point. Fort Point yaitu benteng yang dibangun untuk mempertahankan Teluk San Francisco dari kapal perang musuh. Benteng ini sudah ada sebelum Golden Gate dibangun. Fort Point ini bebas biaya masuk. Baru setengah jalan menuju sana, kami berubah pikiran. Pengen explore di area jembatannya, so balik arah untuk naik kembali menuju jembatan. Niatnya pengen jalan kaki menuju seberang jembatan.

Beberapa fakta mengenai Golden Gate Bridge:

  • Panjang Jembatan 1966m dengan lebar jalan 27 m
  • Dibangun di tahun 1933 dan selesai 4 tahun kemudian
  • Nama Golden Gate tidak merujuk ke warna jembatan, Tapi merupakan penamaan dari pintu masuk Teluk San Francisco dari Lautan Pasifik yaitu Golden Gate Strait.
  • Diameter kabel utama adalah 0,92m terdiri dari 27572 kawat yang katanya nih panjangnya bisa mengelilingi bumi sampai lebih dari 3kali.
  • Sekarang Golden Gate Bridge (1280m) bukanlah jembatan dengan bentang terpanjang. Ada Jembatan akashi Kaykiyo di Jepang yaitu 1991m

Fisherman Wharf & Pier 39

Tempat ketiga yang menarik selain Golden Gate Bridge dan Alcatraz adalah Pier 39. Pier 39 kebanyakan isinya toko souvenir, cafe/restaurant dan street performance. Hard Rock Cafe, Madame Tussaud museum dan beberapa museum lainnya ada disini. Pier 39 juga terkenal dengan singa laut juga disini. Ada dermaga dimana beberapa kapal sedang bersandar dan kita bisa melihat pulau Alcatraz lebih jelas dibanding dari Golden Gate.

Souvenir di Fisherman Wharf/Pier 39 menurut kami masih lumayan mahal. Dapat info ada toko souvenir di China Town yang lebih murah. Jalan kaki dari sini ke China Town sekitar 15 menit. Namun kita gak nemu toko souvenir itu, hanya menemukan buah-buah seperti anggur, jeruk dengan harga murah. Dari China Town kami putuskan lagi jalan kaki sampai hostel. Soalnya masih sore, sambil berjalan santai kami masih bisa singgah di beberapa tempat seperti taman depan Grace cathedral dan Union Square. Toh besoknya sudah tidak ada kegiatan selain ke bandara. Cukup waktu untuk mengistirahatkan kaki.

Tour 1 Dollar ke Hollywood Sign

img_3656

Pas kita nginap di Walk of Fame Hostel di Los Angeles ada tawaran untuk ikut tour ke Hollywood Sign yang sayang  untuk dilewatkan. Kami langsung menuliskan nama pada form yang ada di papan pengumuman dekat resepsionis.  Tour tersebut gratis, tapi kita wajib menyiapkan 1 dollar buat ongkos bus pulang pergi ke halte terakhir dekat Hollywood Sign.   Tiap hari hostel tersebut menyiapkan berbagai kegiatan menarik yang berbeda-beda untuk para penghuninya. Kami cuman semalam disana, besoknya sudah check out dan proses kembali ke tanah air. Di hari checkout kami memang sudah tidak ada rencana kemana-mana. Paling explore sekitar Hollywood sambil menunggu tiba waktu ke bandara.

img_7267

Pengarahan sebelum berangkat

Pagi hari kami langsung checkout dan titip barang di hostel itu. Kemudian bergabung dengan para peserta tour. Bagi yang gak punya uang kecil, mereka bantu menukarkan. Setelah siap semua, barulah kami berjalan menuju halte bus. Tour di pandu 1 orang, orangnya cukup sabar. Dia memastikan gak ada yang ketinggalan dan jalannya cukup moderat, gak terlalu cepat tapi juga gak slow. Kita naik bus sekitar 20 menit, dan turun di perumahan di kawasan Hollywood Hills. Dan mulailah kita jalan menanjak kurang lebih sekitar 30 menit.

 

img_7289

Jalan menanjak menuju Hollywood Sign

 

 

Tulisan Hollywood yang berwarna putih mempunyai tinggi 14 meter dan lebar 110 meter. Tulisan Hollywood itu ada sejak tahun 1923, awalnya bertuliskan HOLLYWOODLAND untuk mempromosikan perumahan disekitar situ. Namun di tahun 1949, Tulisan LAND dilepas oleh pemerintah untuk mencerminkan Distrik Hollywood dan bukan lagi perumahan.

 

mail (1)

Hollywood sign dari Hollywood Mall

Kami sampai di tanah lapang dekat taman, dimana tulisan Hollywood ini sangat jelas keliatan. Kalo mau hiking sampai persis di tulisan juga bisa, saya cek di google ada 3 hiking trail untuk ke Hollywood sign. Di hari pertama di Los Angeles, kami ke Griffith Observatory untuk melihat Hollywood sign. Sayangnya cuaca lagi gak mendukung. Gerimis dan berkabut sehingga menutupi Mount Lee tempat Hollywood sign berada. Setelah itu kami langsung ke mall Hollywood & Highland, tempat termudah untuk melihat tulisan Hollywood. Tapi cuman keliatan dari jauh.

img_7319

Foto rame-rame dengan peserta tur