Bajawa: Edisi Jelajah Flores (2)

IMG_8332

Kampung Bena

IMG_8243

Kampung Luba

Kegiatan kantor  di Labuan Bajo selesai hari Jumat. Namun saya minta tiket pulang dibookingkan sampai Minggu. Kemudian saya beli tiket sendiri Ende-Labuan Bajo seharga 500ribu. Niatnya sih Jumat pagi saya melakukan perjalanan ke Waerebo dan nginap disana. Waerebo adalah perkampungan adat unik yang ada di Flores. Untuk kesana panjang prosesnya kalo naik transport umum. Dari Labuan Bajo naik bus trus nyambung ojek trus nyambung jalan kaki kurang lebih 2.5jam. Selesai dari Waerebo saya mau naik bis ke Moni, desa di kaki Gunung Kelimutu. Menikmati sunrise di Kelimutu abis itu ke Ende untuk naik pesawat ke Labuan Bajo. Sayang rencana sebagian tidak terealisasi. Jumat pagi masih ada acara rekreasi bersama dengan para pejabat tinggi. Gak bisa kabur hehehe. Wajib Main paddling di sekitar private beach Ayana Resort.

Saya pun mengubah rencana. Plan B, saya cek masih ada pesawat Labuan Bajo-Bajawa jam 12siang naik Wings Air harga 350ribu. Saya mau ke Kampung Bena yang ada disana, trus lanjut naik bis ke Moni. Plan C, saya masih nginap di Labuan Bajo. Saya akan beli tiket Labuan Bajo-Ende hari Sabtu pagi dan trus ke Moni. Yang terealisasi adalah Plan B. Jam 11.30 rombongan paddling sebagian ada yang harus persiapan ke bandara untuk terbang jam 14.00. Momen itu Saya manfaatkan untuk ikut pamit dan berharap bisa beli tiket goshow ke Bajawa. Jam 11.45 nyampe bandara, alhamdulillah pesawat belum datang dan masih dibolehkan beli tiket seharga 465ribu dan langsung check in. 

Tiba di bandara Bajawa, saya duduk nyantai di ruang kedatangan. 2petugas datang menghampiri ibu yang duduk di sebelah saya untuk minta mengisi survey online. Saya menawarkan diri untuk mengisi survey terse but. Biar saya juga sambil nanyain sama petugas beberapa informasi. Berapa harga ojek ke ke kota, berapa harga naik mobil ke kota dan lain sebagainya. Dia bilang ojek 50 ribu, dan mobil 60ribu. Setelah itu Saya kelar menghampiri supir mobil, harganya memang dipatok 60ribu/orang. Ada keluarga bule juga yang sudah naik ke mobil, tapi turun lagi. Sopir bilang tidak cocok harga. Padahal si bule itu ditawari 200ribu untuk empat orang. Kami pun berangkat. Si Sopir nawarin mobilnya untuk berkeliling kota Bajawa. 400ribu saja untuk ke 3 tempat, katanya. Saya tawar 300ribu dia gak mau. Lagian saya juga malas naik mobil apalagi sendiri. Naik motor lebih bebas dan penyakitnya driver mobil kadang-kadang banyak alasannya kalo kita minta singgah atau ada tujuan tertentu. Sesampainya di homestay, saya menghubungi nomor ojek yang saya dapat infonya di internet. Pak Laurensius namanya. Saya mengiyakan penawarannya 150ribu untuk berkeliling kota Bajawa, walau di internet infonya 100ribu. Kami janjian jam 15.00 untuk jalan. 

Sunset di Wolotobo

Saya booking Queen Homestay Bajawa di Tr****oka saat mau terbang ke Bajawa. Ada Kamar single yang ditawarkan seharga 100ribu. Saya ambil kamar yang itu sajt, toh cuma numpang nginap. Saat tiba di homestay, penjaganya nanya kita booking harga berapa? Saya bilang 100ribu. Segera dia mengajak saya ke belakang dan menunjukkan kamarnya. Kamarnya sempit, hanya ada 1 tempat tidur single dan meja kecil. Kamar mandi diluar kamar dan harus turun tangga. You pay what you got, hehehe. Enaknya tersedia air minum dan teh/gula/kopi sepanjang hari. Bisa nyiram popmie kalo gak dapat tempat makan. Kamar mandinya meski kurang bersih di area wastafelnya, tapi disediakan tissu dan ada air panas. Air panas itu suatu kemewahan karena airnya dingin banget.

Pak Laurensius mengajak ke Kampung Luba, kampung adat selain Kampung Bena di Bajawa. Dia menemani dan memberikan info terkait kampung tersebut serta dengan senang hati membantu menfotokan. Dan foto-fotonya juara, dia pintar ngambil foto tanpa perlu diarahin. Dia juga yang menginfokan berapa donasi yang harus disiapkan. Di Kampung Luba saat registrasi ngasih 10ribu. Di Kampung Bena 20ribu. Di Manulalu 10ribu, di Wolotobo 4ribu.

Kampung Luba:  Salah satu perkampungan adat di Bajawa.

Kampung Bena: Perkampungan adat yang menjadi icon di Bajawa

IMG_8367

Kampung Bena

Manulalu: Area selfie buatan dengan memanfaatkan latar belakang Gunung Inerie.

Wolotobo: Ini tempat persinggahan terakhir dan kita datang persis mau sunset. Matahari tenggelam dengan anggunnya di sekitar pemandangan gunung Inerie.

Pak Laurensius juga sebagai guide untuk naik gunung Inerie, katanya kurang lebih 4jam naik ke puncak dan besok ada bule Jerman yang mau naik gunung itu bersama dia. Lain kali pak, kalo ada kesempatannya.

Saya masih meminta untuk dicarikan mobil ke Moni besok pagi. Kami lalu ke terminal, ada 1 bus 3/4 tujuan Larantuka yang melewati Moni. Saya bakal dijemput jam 07pagi. Selesai urusan bus, sy mengajak Pak Laurensius makan malam sebelum kami berpisah.

IMG_8472IMG_8487IMG_8513

Manulalu

Advertisements

Labuan Bajo: Jelajah Flores (1)

FB6B8F9D-2243-4132-9089-7FC5E0DFAE7C

Gili Padar

6ADF8821-534E-4A97-BC05-5A48497EF207

Bukit Sylvia

Tiba pagi banget di Labuan Bajo dan belum bisa check in hotel membuat saya mencari aktivitas yang bisa killing time sampai tiba waktu jam 14.00 untuk check in. Titip ransel di hotel trus jalan kaki keluar ke jalan besar. Tanya security hotel mengenai info penyewaan motor, dia juga gak tau. Saya ke bengkel motor yang ada di jalan besar dan cari informasi sama orang bengkel dimana ada penyewaan motor atau ojek atau informasi mengenai transportasi umum ke gua batu cermin. Udah ada beberapa alternatif sih, tetiba ada motor yang mampir di bengkel. Si adek tukang bengkelnya nanya pake bahasa daerah ke bapak itu, trus ngomong ke saya bahwa si bapak itu mau bantu antar ke gua batu cermin tapi setelah selesai urusannya. Ya udah ikut saja. Hehehe. Pak Zul namanya, dia pengepul kepiting bakau dan penjual madu di Labuan Bajo. Kebetulan Pak Zul itu pernah kuliah dan kerja di Makassar, jadi ceritanya cukup nyambung. Setelah mengantar kepiting pesanan orang, saya diantar ke bukit Sylvia. Pemandangan di atas bukit ini keren banget. Dari situ, kita ke gua Batu Cermin. Konon katanya Gua ini berada di bawah laut, yang bergeser ke atas permukaan laut akibat gempa bumi. Untuk masuk ke dalam gua kita harus menggunakan helm untuk menghindari benturan stalaktif yang berada diatas kita. Dan harus jalan membungkuk untuk beberapa area. Dinamai batu cermin karena di area utama jika kita berdiri di lorong atau celah tebing tersebut, sinar matahari yang berasal dari celah batuan di atas bisa langsung masuk ke area tersebut. Jadi tanpa bantuan pencahayaan pun, ruangan tersebut terlihat terang akibat pantulan sinar matahari. Sayang pas kita datang cuaca lagi agak mendung. Gak ada sinar matahari yang masuk ke dalam gua tersebut. Yang menarik, Jokowi yang datang keesokan harinya juga menyempatkan ke gua ini. Saya sempat ditawari buat ke gua yang satunya lagi, gua Rangko. Tapi saya tolak karena untuk ke gua ini harus naik perahu karena letaknya disisi laut. Malas. Saya minta dia buat nyariin info mobil ke Waerebo dan dapat nomor kontak mobil, nanti sisa kontak si driver jika betulan jadi ke Waerebo begitu selesai acara dinas. Saya belum berani mastiin soalnya kuatir ada perintah bos yang bisa jadi bikin batal kesana. Selesai makan, si Bapak masih ngajak mampir ke pantai. Pantainya emang nyenengin sih, kita bisa duduk di pinggir pantai tanpa takut hitam karena pantainya teduh dan adem. Angin sepoi-sepoi bikin ngantuk jadinya. Saya diantar balik ke hotel. Pak Zul sempat saya tanya apa saya boleh ngasih uang pengganti bensin, tapi dia bilang gak usah. Terimakasih banyak ya pak. Udah keliling-keliling tempat yang indah di Labuan Bajo. Sore itu rencananya mau saya ajak teman kantor buat menikmati panorama sunset di Unique Rooftop Bar Ayana Komodo Resort. Ternyata banyak yang kepikiran sama. Jadinya kita disiapin mobil sama panitia acara untuk ke Ayana. Tanpa perlu nginap disana, kita sudah bisa nongki-nongki dan foto-foto cantik.

IMG_7728

Bukit Sylvia

Hari kedua di Labuan Bajo, full di dalam kelas bahkan sampai jam 11.30 malam.

Hari ketiga, kita melakukan aktivitas di luar ruangan yang nama kerennya Experiential Learning Activities alias jalan-jalan. Rutenya ke Gili Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Manta point, Pink Beach, Pulau Taka Makassar dan Pulau Kanawa. Ambisius sekali rutenya. Padahal dulu waktu kesini sama anak-anak, saya bagi trip ke dalam 2 hari. Pulau Rinca setengah hari dan sisanya seharian full. Itu pun gak ke Manta Point.

Meski sudah pernah ke Gili Padar, saya tetap semangat untuk sampai keatas. Pengen dapat foto yang lebih ciamik dibanding kemarin. Hehehe.

Kapal kita ngadat di Gili Padar. Nakhoda bilang, mesinnya mati. Pantesan kapalnya kita tunggu merapat ke pinggir Gili, gak datang-datang. 3 kapal carteran yang lain udah pergi dari tadi. Akhirnya malah kita naik perahu kecil ke kapal tersebut. Suasana sempat gaduh dan panik. Sebenarnya kapal masih bisa jalan tapi pelan dengan kondisi 1 mesin. Tapi hampir semua minta diganti kapalnya. Jadinya kita nunggu kapal pengganti baru jalan. Kalo saya masih bisa calm down, bulan lalu udah merasakan terombang ambing di laut dengan menggunakan kapal tradisional. Ini masih mending pake speed boat dan laut masih tenang. Setelah kapal pengganti datang, kami masih sempat mampir ke Pulau Komodo, tapi udah gak ngikut jalur trekking. Potong kompas ke arah berlawanan karena dapat info komodo lagi ada disana. Sempat mampir ke Manta Point, Pulau Taka Makassar dan Pulau Kanawa tapi cuman sebentar dan cuzz pulang ke Labuan Bajo. Pengen banget nyebur di Manta Point, tapi teman yang lain gak pada berminat. Ya sudahlah kesempatan untuk melihat Pari Manta tertunda dulu.

Malamnya, kita gala dinner di Atlantis. Driver mobil ke Waerebo minta kepastian berangkat dan saya jawab bahwa gak jadi kesana karena fix masih ada kegiatan besok pagi yaitu olahraga bersama Stand Up Paddle di Ayana Resort.

7250690B-67EF-4E9E-A6C5-D465EF87C3F0

Ayana Resort

55f86f83-8cb9-4436-a9c8-25e0faa162df

Unique Rooftop at Ayana Resort

IMG_7880

Ayana Resort 

IMG_7889

Ayana Resort

IMG_7913

Ayana Resort

IMG_7976

We stay at this hotel, Jayakarta Hotel

IMG_8066

Gili Padar

IMG_8103

Me and the komodo

IMG_7925

Sunset at Ayana

IMG_8186

Sunset view from the boat

fullsizeoutput_1ec4

Sunset view from the boat

Sombori

Kami keluar untuk melihat sunrise di dekat mercusuar diarea belakang pulau. Sayang mataharinya seperti malu-malu menampakan sinar sempurna, meski pemandangan dan warna langit juga tetap cakep.

Pagi itu kami akan diajak ke Kepulauan Sombori yang sudah berada di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Ini masih paketan sama Labengki. Cerita tentang Labengki baca disini ya.

Cukup banyak spot yang kita kunjungi seperti : Continue reading

Labengki, destinasi keren dari Sulawesi

IMG_6946

Di teluk cinta

Sambil menyelam minum air. Saat dinas selesai, kita lanjut jalan jalan. Mumpung tiket pesawatnya sudah gratis. Saya ada satu event tahunan yang harus dilaksanakan untuk personil se regional. Usulan tempatnya Manado atau Kendari. Pilih di Manado karena dari sana bisa terbangmurah. ke Sorong trus lanjut Raja Ampat. Hanya biaya perjalanannya masih sangat besar. Masih harus mengeluarkan biaya transport udara dan biaya sewa kapal yang cukup besar. Sementara kalau acaranya di Kendari bisa lanjut ke Labengki yang disebut sebagai mini Raja Ampat. Biayanya pun lebih murah. Jadilah acaranya di Kendari saja. Acaranya berlangsung selama 2 hari, Rabu dan Kamis. Jumat masih terhitung dinas sebagai hari perjalanan pulang.

Yang minat ikut trip ke Labengki ternyata gak banyak. Saya ngarepnya yang ikut sebagian besar dari peserta temu teknis yang jumlahnya 39 orang. Dimaklumi sih karena mereka ada yang panjang perjalanannya dimana penerbangan juga terbatas. Ada yang dari Ternate. Ambon, Manado, Gorontalo dan beberapa kota di Sulawesi. Beberapa dari mereka juga perantau yang keluarganya ada di Makassar. Dan semua penerbangan pasti melalui makassar. Jadi weekend dimanfaatkan untuk kembali bertemu dengan keluarga sebelum kembali bertugas.
Paket trip Labengki-Sombori cukup bervariasi disesuaikan dengan budget dan waktu. Ada paket 2H1M (2hari1Malam), 3H2M, 4H3M dan harga tergantung dari jenis penginapan yang dipilih. Ada paket Balai Desa, Homestay, Villa dan Resort. Saya milih paket Homestay 3H2M. Sesuai dengan prinsip traveling saya, gak usah paket yang mahal-mahal biar bisa sering-sering liburan. Paket ini sudah termasuk transportasi dari/ke Kendari, hopping island, menginap dan makan 3x/hari, air mineral selama perjalanan, dokumentasi dan peralatan snorkling.
Jam 07 pagi mobil kantor mengantar kami yang mau ke Labengki ke pelabuhan.
Gelombang ombak mengayun kami di perahu cukup membuat kami sedikit mual. Beruntung saya sudah mengantisipasinya dengan obat anti mabuk, begitu sampai perahu langsung mengambil posisi tidur. Lumayan bisa 2 jam perjalanan dipakai tidur, 1 jam tersisa dipakai menikmati pemandangan. Kami sampai di Pulau Labengki Kecil tempat kami menginap. Homestaynya diluar perkiraan saya. Saya membayangkan nginap di rumah panggung dengan kondisi seadanya. Ternyata kami nginap di rumah batu yang berkamar 5 dan dengan 4 kamar mandi Kata Adi guide kami selama disana, ini memang salah satu homestay terbaik disini dan paling dekat dengan pantai. Katanya gampang mengenali homestay di Labengki kecil ini, rumah-rumah yang dijadikan homestay ditandai dengan warna catnya yaitu orange. Ada beberapa yang rumah batu dan beberapa rumah panggung.

9cb4d8c1-c5ee-4928-805f-751d57f4580aSetelah makan siang barulah kami mulai explore Labengki dimulai dari Puncak Kimaboe. Puncak Kimaboe ini terletak dekat Nirwana Resort, satu-satunya Resort yang ada di Labengki. Dari Puncak Kimaboe, di sisi sebelah kiri kelihatan Resort Nirwana dibawah dan disisi sebelah kanan kelihatan Teluk Cinta (Teluk yang membentuk hati). Harus extra hati-hati untuk menapaki batu karang untuk mendapatkan spot foto terbaik. Disarankan untuk bawa sepatu yang ujungnya tertutup. Habis itu lanjut ke Blue Lagoon, sebuah laguna cantik yang tersembunyi di balik karang-karang cadas. Warna airnya hijau cantik. Disini lebih extra hati-hati lagi untuk melewati batu karang, susah cari pijakan. Begitu sampai disini sudah mager kemana-mana. Pas kita nyemplung, airnya dingin banget. Tambah mager karena Blue Lagoon kedatangan rombongan yang hampirnya semua berbikini dan bikin sesi pemotretan disini. Memberikan kesempatan teman-teman saya yang cowok menikmati kecantikan Blue Lagoon yang semakin semarak dengan kehadiran mereka. Bahkan saya request untuk diambilin Paddle buat dipakai main disini. Dengan penuh semangat Adi (082298669866), guide kita yang baik hati itu membantu memompakan paddle di perahu lalu membawakannya. Maka semakin lamalah kita disini. Agenda ke Pantai pasir Panjang pun lewat. Dapat info, salah satu dari rombongan itu ternyata selebgram yang namanya Ayla Dimitri. 

0887efce-5bd5-42f7-af26-b59de2027822

Makan malam kami cukup mewah. Ibu pemilik homestay menghidangkan lobster dan ikan tenggiri bakar dengan sambal mentah. Nikmat banget. Yang punya homestay merupakan pengepul ikan utamanya ikan tenggiri yang katanya dijual lagi di pengepul di Kendari selanjutnya di ekspor ke Singapura dan negara lainnya. Tiap hari ada transaksi jual beli ikan di depan homestay. Homestay jadinya hanya usaha sampingan.

 

Eurotrip 2019

Pilih ke Paris atau Turki? Saya melempar pilihan ke Pak Suami, Aya n Dede. Mereka mbulet milih Paris. Saya sendiri pengennya ke Turki. Saya belum pernah ke Turki, tiketnya lebih murah, visanya pun cuma apply online dan murah. Tapi demi menyenangkan mereka semua, jadilah saya mengissued tiket buat 5 orang ke Paris buat bulan Februari 2019. Maskapai Royal Jordanian lagi promo tiket 6.6juta KL-Paris pp. Saya beli tiketnya sekitar 6bulan sebelum berangkat. 

Sementara tiket Jakarta-KL saya beli dengan menukarkan Garuda Miles, kebetulan lagi ada promo akhir tahun diskon 70% tukar Garuda Miles. Yang biasanya tiket Jakarta-KL bisa ditukar dengan 21000Miles+tax, karena promo itu saya hanya menukarkan 3750Miles+tax untuk 1 tiket Jakarta-KL. Miles saya cuma cukup untuk beli 8 tiket. 2 tiket lagi bayar penuh. Jadi untuk 10 tiket termasuk infant Jakarta-KL pulang pergi saya hanya bayar total 3.5juta.  

Ini Euro trip yang ketigakalinya buat saya, sementara mereka baru pertama kali. Eurotrip pertama dan kedua menggunakan transport umum (bus/train/flight) untuk antar negaranya. Saya harus mempertimbangkan kenyamanan baby Ghazy yang baru berumur 15 bulan. Eropa di bulan Februari masih dingin banget. Pernah ke UK di bulan Maret dinginnya masih tidak tertahankan padahal baju sudah dobel dobel. Mau naik bus antar negara seperti Flixbus harus bawa carseat. Naik Uber harus request car seat dan kena charge 10Euro/1xjalan. Kalo naik kereta atau pesawat antar negara di sana, harus naik transport umum ke stasiun kereta atau bandara. Belum lagi transport di dalam Kota dengan metro/trem. Baby Ghazy akan banyak terpapar udara dingin saat menuju stasiun, dari stasiun ke tempat-tempat sightseeing ataupun dari stasiun ke hotel. Jadi untuk kali ini rasanya nyewa mobil pilihan yang paling pas.

Untuk rute negara tujuan, saya pengen ke Hallstatt, Austria. Selain itu targetnya juga ke beberapa negara yang belum saya kunjungi seperti Jerman, Slovakia, Slovenia, Croatia dan Luxembourg. Rugi dong kalo harus mengulang negara yang sama. Setelah ngecek google map, rutenya memungkinkan tapi harus tiap hari pindah negara. Jadilah saya memilih rute Paris-Brussel-Amsterdam-Berlin-Prague, Bratislava-Wina-Zagreb-Lljubljana-Halsstatt-Luxembourg-Paris. Nyewa mobil dari Bandara Charles de Gaulle, baliknya juga di bandara tersebut. 

Car Seat (Roadtrip di Eropa)

Berhubung ke Eropa bawa baby dan sewa mobil selama disana, maka baby selama di mobil wajib menggunakan car seat. Di negara maju hukumnya wajib. Bayi baru lahir belum boleh pulang dari Rumah Sakit kalo tidak punya car seat. Ada negara yang mewajibkan penggunaan car seat sampai anak tingginya 135 cm. Ada juga negara mewajibkan penggunaan car seat sampai umur tertentu, seperti Florida negara bagian AS sampai batas usia 5 tahun tapi negara bagian Virginia wajib sampai anak usia 8 tahun. Tiap negara beda regulasi. Negara seperti Kanada, pembelian car seat wajib ada sticker approvalnya, pembelian carseat di luar Kanada untuk dipakai dinegara tersebut termasuk illegal, dendanya bisa lebih mahal dari ngebut.

Sebelumnya saya tidak pernah sama sekali menggunakan carseat jika bepergian  bawa balita menggunakan mobil. Tahun lalu ke India dan sewa mobil (plus driver) selama disana, gak perlu pakai car seat. Penggunaan car seat di Indonesia masih pro-kontra mungkin karena regulasi lalu lintas kita juga belum mewajibkan penggunaan car seat atau pemahaman soal pentingnya car seat sangat minim di Indonesia. Makanya menggunakan car seat itu masih tergantung pertimbangan masing-masing orang tua. Continue reading

Baby Ghazi First Trip: India (2)

1 minggu sebelum berangkat, Aya dan dede terserang demam hingga beberapa hari dan badan mereka berbintik merah. Dede gak terlalu parah masih bisa beraktivitas sekolah Aya yang loyo banget dan badannnya penuh dengan bintik merah. sampai harus cepat pulang dan beberapa hari gak masuk sekolah. Saya cemas, segera bawa mereka ke dokter. Dede cepat sembuhnya, tapi Aya sampai berangkat ke Jakarta masih demam dan bintik merah baru berangsur hilang. Duh.

Sebelum terbang ke Jaipur, kami masih nginap semalam di Jakarta. Sengaja nginap di Mercure Ancol karena anak-anak jauh-jauh hari request ke Dufan. Saya masih tanya Aya, kuat gak main di Dufan. Kalo gak sangggup, kita batalin ke Dufan. Dia bilang masih kuat dan ternyata beneran dia langsung sehat dan main sampai puas. Hehehe. Semua wahana di coba bahkan yang extreme. Sebelum ke airport, kami juga masih menyempatkan diri sewa sepeda di Ecopark.

Lama penerbangan Jakarta-Jaipur jam dengan transit di KL. Agak was-was karena dari Jakarta sudah delay, transitnya jadi mepet banget. Stroller yang tadinya diminta untuk dibagasi saat masuk di pesawat, saya minta diambilkan kembali. Biar saya masukkan ke tas ransel dan masuk ke bagasi kabin saja. Setidaknya meminimalkan risiko ketinggalan pesawat, jadi begitu landing di KL bisa segera ngacir ke boarding gate KL-Jaipur. Bisa berabe kalo ketinggalan pesawat, soalnya pesawat Airasia ke Jaipur tidak setiap hari. Alhamdulillah, saat kita tiba di boarding gate, baru antri boarding. Boardingnya agak telat dikit, karena nunggu VIP person atau petinggi Airasia yang mau ke Jaipur. Entah ada seremoni apa, para petugas Airasia pada pake pakaian khas India.

28424039_10212177120205712_8283835904819171623_oMengenai barang bawaan, saya gak pengen terlalu rempong. Saya cuma bawa 2 koper ukuran kabin, 1 tas ransel dan 1 tas bayi selama seminggu perjalanan. Jadi gak perlu beli bagasi. 1 koper untuk pakaian saya dan papanya, 1 koper untuk pakaian 2 anak gadis, 1 tas bayi untuk keperluan baby Ghazy termasuk popok/carrier/baby wrap/selimut tidur, tas ransel isinya 4 jaket yang dipakai saat perlu saja dan beberapa cemilan. Di hotel tempat kita menginap, ada laundrynya dan murah. Jadi rencananya mau laundry aja pakaian yang terpakai selama 2 hari pertama. Saya juga bawa travel cooker. Fungsinya bertambah 1 lagi yaitu sebagai tempat untuk mensterilkan botol susu, selain untuk masak nasi dan masak air.

Selain stroller, saya juga bawa carrier, baby wrap dan selimut tidur. Saya juga sempat lama banget browsing cari referensi apa saja yang dibawa, apa perlu saya beli carrier baru yang lebih bagus kualitasnya. Akhirnya Baby wrap saya beli online merk Bobita. Sedang untuk carrier, saya bawa yang ada saja yaitu carrier hadiah aqiqahannya baby ghazi. Ini berfungsi ketika mengunjungi tempat yang tidak memungkinkan bawa stroller seperti tempat yang banyak tangganya atau cuman turun sebentar di satu tempat. Pada kenyataannya saya pakai baby wrap hanya sehari selama di sana, itupun Baby Ghazi merasa kurang nyaman. Padahal sebelum berangkat, saya rajin latihan pakai biar terbiasa.

Baby Ghazi masih Asi Ekslusif, sedapat mungkin disusui langsung. Saya juga bawa pompa ASI Elektrik. Pada saat dia tidur, saya juga pumping biar ada stok ASI. Jadi pada saat jalan-jalan dia juga bisa minum ASI di botol.

Alhamdulillah baby Ghazi anteng-anteng saja di semua penerbangan. Makassar-Jakarta, Jakarta-Jaipur via Kualalumpur memakan waktu 9jam diluar waktu tunggu di bandara. Tingkat kerewelan pun paling 10% di sepanjang trip, agak gelisah di malam pertama di Jaipur dan menjelang maghrib di hari kedua di New Delhi mungkin pengaruh penyesuaian cuaca juga, angin kencang dan dingin. Selebihnya aman dan terkendali.

Waktu sudah menunjukkan jam 22.30 saat tiba di Jaipur. Driver menjemput kami di bandara dan mengantarkan ke hotel Kalyan.