Menapaki jejak Tembok Berlin.

This slideshow requires JavaScript.

Berlin merupakan kota yang belum pernah saya kunjungi. Entah mengapa dua kali jalan-jalan ke Eropa, gak pernah minat ke Jerman. Eh sekalinya ke Berlin jadi nyesal kenapa cuman mengalokasikan waktu cuma semalam. Kotanya cantik dan auranya menyenangkan.

Begitu masuk di perbatasan Netherland-Jerman, sudah tidak ada penanda batas kecepatan. Artinya mobil bisa melaju sekencang-kencangnya. Wajar aja sih, Jerman terkenal dengan produksi mobilnya. Sampai ada 16 merk mobil yang diproduksi oleh negara ini diantaranya Porsche, BMW, Mercedes Benz, Audi, Opel, Volkswagen dan lain sebagainya. Jarak antara Amsterdam dengan Berlin sekitar 668 km tanpa terasa kami tempuh hanya 5jam 30 menit. Itupun sempat menghabiskan waktu mampir di Mcd di salah satu rest area. Mampir di Mcd paling beli kentang, fish fillet atau es krim. Yang lain gak berani. Juga sekalian pipis gratis. Di rest area kebanyakan toilet berbayar. Continue reading

I amSterdam

IMG_1653 (1)

Perjalanan Paris-Amsterdam sejauh 530km. Perjalanan mulus saja namun menjelang masuk kota Amsterdam, kami sempat salah belok 2x sehingga mutarnya juga cukup jauh.  Kami belum terlalu memahami petunjuk google maps di layar handphone. Apalagi kalo sinyal internet timbul tenggelam, kadang sudah waktunya belok tapi karena sinyal hilang kita masih lurus terus.  Kesel sih, tapi dimaklumi saja.  Namanya juga lagi beradaptasi. Ada sekitar sejam waktu yang dihabiskan untuk mutar sana dan mutar sini. Pada saat inilah kami baru menyadari bahwa mobil rental kami ada fasilitas gpsnya. Setelah itu barulah kami kembali ke jalan yang benar. Dan gak perlu tergantung sama sinyal. Sampai di hotel Double Tree by Hilton NDSM Wharf udah jam 8 malam. Masuk parkir bingung sendiri, gak ada tempat ambil struk parkir. Setelah diperhatikan, ada beberapa tombol di dekat palang dan salah satunya hotel Double Tree. Setelah dipencet barulah palang terbuka. Oalah. Kami parking di tempat parkir gabungan berbagai company yang ada di sekitar pelabuhan, namun masing-masing company udah menandai area tempat parkirnya masing-masing. Continue reading

Jalan-jalan di seputaran Eiffel

 

IMG_1258 (1)

Setelah menyelesaikan urusan pengambilan mobil di Europcar bandara Charles de Gaulle, kami menuju kota Paris. Ini pertama kalinya suami bawa mobil setir kiri, dia agak kagok dan saya pun sebagai navigator juga nervous. Biasalah masih penyesuaian dan masih salah jalan. Harusnya lurus saja, tapi malah belok lagi dan kembali ke tempat pengambilan mobil sewa yang tadi. Tapi kita jadi tau dimana arah jika akan kembalikan mobil nanti. Setelah itu kami mengandalkan google maps hingga sampai ke hotel. Perjalanan lancar saja, petunjuk arah pun jelas. Nanti mulai bingung lagi saat mendekati hotel mencari dimana jalan masuk ke tempat parkirnya. Setelah dapat arah yang benar kami kebingungan lagi dimana mengambil karcis parkir dan bagaimana agar pintu ke parkiran terbuka. Yang ada hanya pagar kawat, ternyata setelah mengambil karcis parkir, pintu pagar kawat pun terbuka. Oalah, hehehe.

Sebelumnya udah saya browsing dimana tempat paling murah untuk parkir mobil disekitar kami nginap. Parkir di Novotel 29Euro/hari. Tempat lain hanya sedikit lebih murah yaitu berkisar 20-25Euro. Akhirnya tetap parkir di Novotel aja, duh 500 ribu. Kita di Indonesia kalo nginap di hotel otomatis free parking kan. Di Paris, kalo mau lebih menghemat lagi, parkir di jalan setelah jam 19.00. Diatas jam 7malam sampai jam 9pagi dan sepanjang hari Minggu, parkirnya gratis. Cuman yah keamanan tidak terjamin.

Kami memilih menginap di Novotel Paris Centre Tour Eiffel karena hotel ini yang terbilang paling murah untuk hotel yang berada di dekat dengan Eiffel Tower meski tetap mahal di kantong kami. Harganya 2,4juta trus dapat diskon 20% di Ti***.com. Tanpa Sarapan. Ke Eiffel sisa jalan kaki sekitar 800meter dan dari depan hotel, Eiffel sudah keliatan. Sengaja milih hotel ini biar jadi pengalaman yang menyenangkan bagi suami dan anak-anak. Continue reading

Bikin SIM Internasional

IMG_0941Salah satu persiapan nyetir di luar negeri adalah bikin SIM Internasional. Meski di beberapa negara, tanpa SIM Internasional pun bisa  seperti di Australia, Negara ASEAN seperti Malaysia, Singapore, Thailand  dan  lain sebagainya. Tahun 2014 di Perth, kami nyewa mobil cukup nunjukin SIM Indonesia saja. Hanya saja tiap negara beda-beda jangka waktu yang diperbolehkan bagi SIM dari luarnegeri, ada yang hanya maksimal sebulan tapi ada juga yang sampai 12 bulan. Lebih dari itu harus apply SIM negara setempat. Jadi sebaiknya pastikan syarat dan ketentuannya jika ada rencana nyetir di negara tertentu.

Untuk lebih amannya, baiknya bikin SIM Internasional sih. Di awal tahun lalu, karena mau keliling beberapa negara Eropa, saya bikin SIM itu. Saya bikinnya beberapa bulan sebelum terbang ke Paris. Sementara pak suami bikin SIM Internasional pas jeda transit di Jakarta alias beberapa jam sebelum terbang ke Paris. Sebenarnya pak Suami yang akan nyetir selama di Eropa, tapi kesempatan untuk bikinnya pas sekalian ke Jakarta untuk proses terbang ke Paris. Kalo ada hal tak terduga yang menghambat, ada saya yang udah siap jadi driver selama di Eropa. Alhamdulillah prosesnya mudah dan cepat. Berangkat dari Makassar jam 06pagi tiba di bandara Soekarno Hatta jam 07pagi waktu sana. Anak-anak saya tinggal di bandara bersama koper-koper. Bersama Pak Suami dan Ghazy menuju Korlantas Polri di MT Haryono.

Dokumen yang harus disiapkan adalah: Continue reading

Pengalaman ikut Lomba Marathon Stand Up Paddle

kayak-marathon-tirto-mico-7_ratio-16x9

Sumber foto: dari sini

Tetiba ada email konfirmasi keikutsertaan Belitong Geopark International Stand Up Paddle & Kayak Marathon 2019 (BGISKM) yang masuk di email. Rupanya PIC Stand Up Paddle (SUP) di Kantor Pusat yang mendaftarkan. Dalam lomba tersebut ada tiga kategori yang dilombakan, Stand Up Paddle (terbagi lagi subkategori Marathon dan Race), Kayak Marathon, Traditional Canoe. Saya di daftar di 2 subkategori Stand Up Paddl: Marathon dan Race. Pengalaman main paddle baru seiprit udah didaftarin lomba. Hehehe. Anggap saja ini kehormatan ditugaskan sebagai peserta lomba. Lomba ini sudah memasuki tahun kedua dan masih dipusatkan di Tanjung Kelayang Belitong.

Lomba SUP Marathon hari minggu, kami datang sejak hari Kamis sore. Hari Jumat pagi, latihan sekalian mengecek rute marathon. Rute Kayak Marathon start dermaga tanjung Kelayang, Pos 1 Batu Haji, Pos 2 Pulau Babi Kecil, Pos 3 Batu Berlayar dan kembali ke dermaga Tanjung Kelayang dengan jarak 8km. Medannya cukup berat, di pagi itu angin cukup kencang dan di beberapa area ada yang dangkal tapi penuh dengan terumbu karang. Lumayan capeknya dan kita selesai latihan sekitar tengah hari. Sorenya kita ikut pembukaan BGISKM secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Babel. Continue reading

Jalan-jalan di Muscat, Oman

This slideshow requires JavaScript.

Sepulang dari Moscow, pesawat kami bakal transit lama di Muscat, Oman. Tiba jam 6 pagi di Muscat Airport dan bakal terbang lagi lepas tengah malam. Jadi waktu transit bakal kami manfaatin buat jalan-jalan di kota Muscat. Saya memilih untuk sewa mobil selama 1 harian. Maksudnya biar nyantai dan ada tempat buat ngadem secara Muscat saat itu panasnya luar biasa. Bisa mencapai 40 derajat Celcius.  Tadinya saya jauh-jauh hari udah booking mobil sewa di Rentalcars.com seharga 1.7juta/hari untuk jenis mobil Pajero dan sejenisnya. Eh beberapa hari sebelum hari H, ada penawaran dari Europcar untuk jenis mobil yang sama seharga 1.1juta/hari. Itu udah termasuk sewa car seat untuk baby Ghazy. Jadinya kami batalkan Rentalcars trus booking lagi. Lumayan menghemat.  Kami total bertujuh makanya sewa mobil yang sesuai dengan banyaknya penumpang. Mbak Ajeng, seorang kenalan di milis Backpackerdunia pengen gabung karena kita pulangnya pake pesawat yang sama. Jika cuma bereempat, nyewa mobil kecil kayak Yaris cukup murah.

Begitu tiba di Muscat Airport, kami menuju Imigrasi. Sempat ada kekuatiran mengingat E-visa kami tidak ada hard copynya karena apply saat transit di  bandara Muscat sewaktu menuju Moscow. Ternyata E-visa Oman cukup ditunjukkan aja melalui hp. Counter Europcar dan counter rental mobil lainnya ada setelah imigrasi. Proses ambil kunci cepat saja dan kami diarahkan untuk mengambil mobilnya di parkir mobil bandara. Kami diberi mobil Fortuner setir kiri. Sebenarnya saya sendiri belum punya pengalaman setir kiri cuma ngeliat aja selama pak suami nyetir mobil di Eropa awal tahun ini. Mbak Ajeng yang jadi navigator. Dia sebenarnya juga barusan keliling swiss dengan nyewa mobil dan nyetir sendiri. Cuma berhubung saya yang booking makanya saya yang jadi driver. Bisa nambah driver cadangan tapi nambah biaya lagi. Prinsip saya kalo gak dicoba ya gak tau rasanya. Dan setelah dicoba, diawal memang agak kagok dan setelah itu biasa. Saya juga masih punya pe-er saat melewati roundabout alias bundaran, masih suka melaju padahal kendaraan yang udah masuk duluan di bundaran harus diberi jalan lebih dahulu. Alhasil menuai klakson, hehehe. Continue reading

Transit di bandara Muscat, Oman

IMG_5206

Transit di Bandara Muscat

Tergiur dengan promo Oman Air, jadilah saya mengissued tiket Jakarta-Moscow buat berempat minus pak suami. Tadinya kepikiran dengan lamanya transit di Muscat, perginya transit 18jam di Muscat, pulangnya transit 19 jam di Muscat pula. Namun menimbang dan memperhatikan referensi teman-teman traveler, yah coba dinikmati saja transitnya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali jalan, bisa dapat 2 negara yaitu Oman dan Rusia. Muscat itu ibukota Oman, negara kaya di teluk Arab. Oman Air memang lagi promo terus-terusan utamanya ke Eropa tapi hampir semua rute dengan transit yang panjang waktunya. Harga tiket Jakarta-Moscow pulang pergi sekitar 6,3juta yang diissued sekitar 3 bulan sebelum berangkat. Teman lain malah ada yang dapat lebih murah.

Dari Makassar kami terbang dengan pesawat yang pagi banget ke Jakarta. Masih banyak jeda waktu dengan pesawat ke Muscat, tiba di Jakarta sekitar jam 07.00 sementara pesawat ke Muscat terjadwal jam 14.50 . Tapi lebih baik cepat, ketimbang mepet-mepet tiba di Jakarta kan. Berbahagialah kalian yang tinggal di Jakarta, gak banyak effort untuk jalan ke luar negeri.

Pesawat yang ke Muscat adalah jenis Dreamliner 787 dengan formasi 2-4-2, sepertinya minjam pesawat Srilanka Air karena layar Inflight Entertainment menampilkan logo Srilanka Air meski semua property seperti selimut, alas sandaran kepala, majalah dan sebagainya berlogo Oman Air. Tampak banyak sekali jamaah umrah yang naik pesawat ini. Agak crowded saat naik pesawat karena mereka sibuk saling menukar kursi agar dapat duduk bersama orang terdekatnya. Saya yang dapat kursi paling depan di zona bagian belakang sedikit terganggu dengan cukup banyak yang lalu lalang didepan kami. Continue reading