Liburan ke Hanoi, enaknya kemana aja?

20200224_090538

Temple of Literature

Hanoi adalah kota kedua di Vietnam yang saya kunjungi. Ho Chi Minh pernah saya kunjungi 10 tahun lalu. Baca disini. Waktu itu ngetrip bersama teman-teman satu angkatan masuk kantor yaitu Delta 2000 merayakan 10 tahun kami bergabung di kantor ini. Masih banyak kota-kota di Vietnam yang menarik hati seperti Da Nang, Nha Trang, Sapa, Hoi An dan lain sebagainya. Mengingat ijin untuk cuti terbatas, jadinya yah dicicil dulu.

Enaknya kemana aja di Hanoi selama 3 hari? Saya nyusun itinerary sebagai berikut:

  • Hari Pertama Tiba pagi di Hanoi, Explore Hanoi City
  • Hari Kedua Explore Ha Long Bay (one day trip)
  • Hari Ketiga Explore Hanoi City sampai siang dan sorenya terbang ke KL

20200222_11182020200222_112137

Mausoleum Ho Chi Minh, Presidential Palace dan Museum Ho Chi Minh berada dalam 1 kawasan. Kami kesini sekitar jam 10.30. Untuk masuk ke Mausoleum semua barang harus dititip, yang tersisa hanya dompet dan hp. Mausoleum adalah tempat yang sangat di hormati, banyak tentara berjaga di sepanjang jalan menuju Mausoleum. Kita gak boleh makan minum, berbicara dengan suara keras, jalan mencla mencle ataupun berfoto di area yang dijaga tentara. Petugas yang berjaga dengan dingin dan tegas akan mengingatkan kalo terjadi hal tersebut. Suasana masuk ke dalam mausoleum lebih horor lagi. Dingin dan agak-agak seram gitu. Ho Chi Minh merupakan presiden pertama Vietnam dan merupakan bapak bangsa. Meninggal tahun 1969, pemerintah Vietnam sampai mendatangkan tim dari Rusia yang mengawetkan Lenin. Tahun 1975, barulah dibuatkan mausoleum yang resmi. Katanya, setiap tahun jenazah Uncle Ho dibawa ke Rusia untuk perawatan rutin sekitar bulan Oktober/November untuk perawatan selama 2 bulan. Perhatikan juga hari berkunjung karena Mausoleum tutup setiap hari Senin dan Jumat ya.

Di Presidential Palace, merupakan kediaman resmi Presiden. Gedungnya berwarna kuning cerah lambang kebesaran, kejayaan dan kemakmuran. Namun Presiden Ho lebih memilih membangun rumah sederhana sekitar 100meter dari istana, di tengah taman dan kolam yang luas. Rumah itu benar-benar memberi gambaran nyata kesederhanaan beliau.  Di sini juga dipajang mobil, kamar dan perabotan rumah yang dimiliki Paman Ho semasa hidupnya. Semuanya dipajang utuh di balik kaca yang mengelilingi kamar-kamar di rumah tersebut.

20200222_11381620200222_113653

Museum Ho Chi Minh, kita gak masuk, cukup berfoto-foto di depannya saja.

Sorenya lanjut lagi jalan kaki  dari hotel ke pasar di dekat hotel mau nyari souvenir kecil-kecil. Abis itu ke cafe the note. Cafe unik dengan menu andalan egg coffee. Cafenya kecil saja, di seluruh dinding tertempel note berisi catatan traveler yang pernah mengunjungi cafe tersebut. Instagrammable banget, meski begitu dilihat secara langsung sudah agak kumuh cafenya. Egg coffeenya gak enak menurut saya, tapi minuman yang lain lumayan.

20200222_164651

Kami melewati Danau Hoan Kiem Lake dan singgah berfoto sebentar.

Kami lanjut ke toserba buat nyari kopi untuk oleh-oleh yaitu Trung Nguyen Legend Coffee. Sebenarnya pengen cari  cafe Trung Nguyen ini tapi gak nemu, jadilah beli di toserba saja. Trung Nguyen Coffee ini tersedia dalam berbagai varian, cappucino, hazelnut, original dan lain sebagainya. Kami beli sekedarnya saja sesuai kemampuan koper, karena kami tidak beli bagasi Airasia. Pemeriksaan bagasi kabin cukup ketat sehingga harus ngepasin 7kg. Selain Trung Nguyen, yang enak juga adalah kopi instan G20. Mampir juga ke setarbak buat beli tumbler bertuliskan Hanoi.

20200222_174911Kami melewati St Joseph Cathedral yang instagrammable banget kemudian berjalan pulang sambil mencari tempat makan. Ternyata kami juga nemu cafe  Trung Nguyen di perjalanan pulang ke hotel. Capek tapi senang.

 

Di hari terakhir, saya nyari tempat-tempat yang instagrammable saja seperti: 

20200224_082621Tran Quoc Pagoda, pagoda tertua yang ada di Hanoi.

Temple of Literature, diyakini sebagai universtas pertama di Hanoi yang dibangun tahun 1070.

Lenin Park, menuju Citadel dari Temple of Literature dengan berjalan kaki pasti akan melewati taman yang terdapat Patung Lenin. Patung ini merupakan hadiah dari pemerintah Rusia dalam rangka memperingati 110 tahun Lenin di tahun 1980. 

Imperial citadel of Than Long, sisa-sisa kompleks kekaisaran jaman dulu. Terdapat benteng dan bunker dari era Perang Vietnam.

20200224_080815

20200224_100431

20200224_094537

 

Bencana Palu

Lagi ngecek-ngecek draft tulisan yang jumlahnya 30 draft, ceritanya pengen bersih-bersih. Menghapus draft yang sudah gak update ataupun cerita nanggung. Eh nemu tulisan ini. Kenapa gak terposting ya waktu itu? Saya posting aja sebagai kenang-kenangan di masa itu. Posting apa adanya, gak ada yang ditambah ataupun di kurangi.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tiada yang tau rahasia Allah. Jumat, 28September terjadi bencana gempa, tsunami dan liquifaksi di Kota palu dan sekitarnya (sigi dan donggala).

Continue reading

Explore Halong Bay

Saya pernah baca artikel judul 10 places to visit before you die, salah satunya Ha Long Bay. Inilah yang bikin penasaran. Masa iya sih, Indonesia kalah kecantikan alamnya. Indonesia ada Bali, Labuan Bajo, Raja Ampat, Sumba dan lain sebagainya.

20200223_140235

Baru kesampaian ke Ha Long Bay di awal tahun ini. Dari Hanoi jaraknya sekitar 172km dan dibutuhkan sekitar 3,5 jam untuk sampai sana termasuk berhenti di galery lukisan tangan dan tempat pembuatan patung dari marmer yang diwajibkan pemerintah. Supaya gak repot, saya memilih membeli paket open trip Ha Long Bay di Traveloka. Harganya sekitar 440ribu/orang trus diskon 40ribu, jadi cuma bayar 400ribu. Harga segitu sudah termasuk bus dari  hotel ke Halong Bay pp, air mineral selama di bus, makan siang cukup mewah di atas kapal, naik boat/main kano ke cave, kapal pesiar dan guide. Continue reading

Liburan tipis-tipis ke Hanoi

20200223_140152

Perjalanan ke Hanoi ini merupakan tabungan tiket terakhir di tahun ini. Bersyukur gak ada tabungan tiket yang lain karena bulan Feb 20 sudah memasuki masa pre pandemi Covid-19 yang bikin kita di rumah aja. Gak perlu pusing-pusing soal tiket yang perlu di refund atau di reschedule. Akhir tahun lalu itu nyaris beli tiket pesawat tujuan Saudi Arabia dan Mesir untuk keberangkatan bulan Maret. Umroh dulu habis itu melipir ke Mesir dan langsung pulang ke Jakarta. Harganya waktu itu cukup murah. Saya udah ngajak beberapa teman untuk siap-siap booking, tapi atas berbagai pertimbangan saya urungkan. 

Tiket pesawat ke Hanoi saya beli sekitar bulan Juli tahun lalu. Rutenya Makassar-Kualalumpur dan Kualalumpur-Hanoi pp dengan total harga 2,6juta/orang. Harga segitu udah fair enough mengingat tiket ke Hanoi jarang segitu. Awalnya beli buat berlima sekeluarga. Belakangan ada 2 teman yang pengen ikutan. Continue reading

Ke Ambon di masa Covid

20200724_085046

Penerbangan perdana di masa Covid adalah dinas ke Ambon. Ada technical meeting yang harus dihadiri soal renovasi gedung kantor. Di kantor, baru saya yang memulai untuk terbang melakukan perjalanan dinas. Udah pada disuruh dinas, tapi semuanya menghindar hehehe. Padahal 4 bulan sudah masa covid, saat itu sudah mulai diminta untuk adaptasi new normal. Masih deg degan sih untuk melakukan perjalanan, tapi bismillah saja.  Soalnya ini penting juga, gak bisa ditunda-tunda. Continue reading

Masih sempat ke Ora Beach

20200214_06570920200214_10372120200214_12021720200214_12534920200214_15191420200214_16135020200214_16383620200214_16424420200214_19380820200214_19503420200215_10380920200215_10413220200215_104151
Bersyukur tahun ini masih sempat jalan-jalan tenang sebelum covid-19 melanda. Januari ke Ora Beach dan Turki, Februari ke Mamuju dan ke Hanoi. Jalan-jalan domestik sebenarnya sekalian dinas. Bidang saya dan bidang lain kolabs mengadakan pertemuan teknis di Ambon dan setelahnya saya dan beberapa orang extend untuk ke Ora Beach. Di awal sebenarnya agak ragu, cukupkah waktunya berangkat Jumat pulang Minggu pagi ke Makassar. Namun bro Alias, kakacab di Ambon meyakinkan itu memungkinkan dan kami disupport kendaraan plus drivernya. Thank you bro. Continue reading

Rujak Cingur di Bandung

Ini adalah salah satu makanan favorit saya dari dulu. Cuman di Makassar gak banyak tempat yang jual. Begitu pindah Bandung sejak sebulan lalu, yang saya hunting pertama kali adalah rujak cingur. Minimal sekali seminggu, wajib makan ini. Sering tuh, kalo saya bilang saya suka rujak cingur, ditanya balik tau gak cingur itu apa. Ya taulah congornya sapi alias mulut sapi. Emang kenapa? hehe. Cingur yang bagus itu adalah yang bersih dan putih. Rujak cingur merupakan makanan khas traditional Jawa Timur. Rujak cingur merupakan gabungan rujak buah (nanas, timun, mangga, bengkuang), sayur (kangkung, toge, tahu, tempe) dan irisan cingur kemudian dicampur dengan saus kacang plus petis.

Continue reading

Belanja Online

Udah ditulis lama tapi lupa diposting hihihi.

Salah satu belanjaan online tapi untuk baju koko couple ayah n anak.

Selama masa pandemi ini yang bikin harus dirumah aja dan gak boleh kemana-mana, saya jadi keranjingan belanja online. Mungkin karena banyak waktu kali ya buat ngutak ngatik, milih-milih yang mau di beli. Soalnya terkadang saya butuh waktu cukup banyak untuk mutusin. Bandingin harga barang yang sama di beberapa toko, liat review terutama yang ada fotonya, liat diskusinya, liat semua barang yang dijual di toko itu mana tau ada barang lain yang menarik. Mungkin juga keranjingannya karena provider toko online tempat saya beli ini ongkirnya murah cuma 8ribu untuk berat barang sampai dengan 1kg pengiriman dari Jakarta ke Makassar. Untuk dapat ongkir segitu, minimal pembelian 50ribu.

Continue reading

Menelusuri Kota Tua Luxembourg

Luxembourg City adalah kota transit terakhir dari perjalanan kami. Tadinya sempat galau di 2 malam tersisa apakah mau dihabiskan di Muenchen dan Luxembourg atau dihabiskan di Luxembourg dan Paris. Tertarik sih ke Muenchen tapi saya putuskan malam terakhir nginap di Paris saja. Lebih amannya gitu, karena kita bakal lebih awal berada di kota tempat kami akan terbang pulang ke Jakarta. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi seperti kendala di kendaraan, kendala di jalan dan sebagainya. Akomodasi tiba di Paris sampai Halstatt sudah saya booking saat di Indonesia sebelum berangkat. Yang 2 malam terakhir baru saya booking saat bermalam di Hallstatt setelah gak galau.

Continue reading

Hallstatt

Hallstatt dan Berlin yang menjadi highlight dalam perjalanan kami ke Eropa kali ini. Jadinya saya mengatur trip dengan rute memutar karena masuk dan keluarnya dari Paris. Dan jauh sebelum merencanakan trip ini, banyak postingan mengenai Hallstatt membuat saya berkata dalam hati, harus kesini untuk trip berikutnya.

Perjalanan ke Halsstatt tidaklah mulus. Kami nyasar sampai dua kali. GPS gak akurat membuat kami salah belok dan nyasar sampai ke jalan tanah yang kayaknya menuju hutan dan buntu. Malam-malam lagi. Duh, saya langsung berasa horror, membayangkan ada penjagal seperti di film Texas Chainsaw massacre. Kami mutar balik dan kembali ke jalan umum. Masih salah juga belokannya. Percobaan ketiga, kami memutuskan belok di belokan yang satunya. Jalannya bener tapi sepertinya jalan alternatif yang hanya muat satu mobil. Di sisi kanan dan kiri ada tumpukan salju setinggi mobil. Ini juga berasa serem, gimana kalo mobil kami ngadat di jalan dan gak ada rumah di sepanjang jalan itu. Sambil berdoa dan harap-harap cemas semoga jalan ini memang tembus ke Hallstatt. Sekitar 15menit melewati jalan tersebut, sampai kami di perumahan penduduk. Alhamdulillah, dari sini akhirnya kami bisa nyampe ke Hallstatt.

Continue reading