Ngetrip mendadak ke Labuan Bajo

20161120_082400

di Pulau Padar

Finally, ke Labuan Bajo juga.

Udah sejak 3 tahun ngebet pengen kesini. Pas jalan-jalan ke Jeju Island tahun 2013 kemarin, baru tau Jeju Island juga merupakan salah satu dari 7 the New Seven Wonders of Nature bersama Pulau Komodo. Yaelah mengagumi keindahan negeri orang tapi negeri sendiri belum. Tetiba timbul rasa malu, tapi ya dimaklumi berwisata negeri sendiri tidak mudah juga. Aksesnya gak banyak dan mahal terutama ke Labuan Bajo. Makin kesini sarana transportasi ke Labuan Bajo semakin beragam. Meski kalo datangnya pas long weekend semua komponen trip pada melonjak. Bersyukur dapat kesempatan langka, dapat dinas ke Bali hari Selasa. Jadi Sabtu-Senin bisa dimanfaatkan ke Labuan Bajo dulu.

Labuan bajo bisa dinikmati dalam 2 cara: Continue reading

Belajar gak manja

20161119_120023Bisa kan, kita beda pesawat ke Denpasar?,” tanya saya ke anak-anak, Aya dan Dede.

Mereka jawab iya, yang penting ke Labuan Bajonya bareng. Jadilah saya naik Garuda dan mereka naik Lion. Kebetulan jam berangkatnya sama. Bisa aja sih bareng, tapi mumpung mereka ok-ok saja dan kesempatan mereka belajar naik pesawat sendiri serta mereka belajar mengendalikan emosi (rasa takut dan kuatir) sendiri.

Saya ada acara presentasi di Bali mewakili kantor yang jadi finalis salah satu lomba internal yang diadakan kantor pusat. Wah kesempatan nih explore Bali secara acaranya hari Selasa malam. Ada waktu luang mulai Sabtu sampai Senin sebelum acara itu. Lalu saya berfikir ngapain habisin waktu di Bali, rasanya masih banyak kesempatan yang lain. Dan lagi, saya ngeces mau ke Labuan Bajo. Mumpung bisa ke Labuan Bajo tanpa perlu cuti dan setengah perjalanan ditanggung dinas. Hehehe. Teman ngajak pergi pas libur maulid desember nanti, tapi kayaknya ada kegiatan kantor tanggal segitu. Nyari teman untuk mendadak ngetrip gak mudah kan. Saya gak pengen juga jalan sendirian ke sana. Saya lalu nawarin ke anak anak, kalo mau ikut dengan beberapa syarat. Continue reading

Review: Hotel Rossi, Venice

20160515_074541

Di depan jalan masuk hotel Rossi. Jalan tempat  si Amel berdiri  adalah jalan utama

Gak banyak referensi tentang hotel ini. Gak banyak juga foto-fotonya di boo*ing.com . Penampakannya gak terlalu meyakinkan,  ratenya paling murah tapi menyentuh batas atas target kami untuk budget penginapan. Agak setengah hati bookingnya, niatnya sebagai lampiran dalam berkas pengajuan visa Schengen saja. Ntar jika visa Schengen sudah approved baru nyari serius penginapan di Venice. Sayangnya, saat hunting penginapan secara serius, penginapan di Venice banyak yang full booked. Ada event Vocalonga yaitu lomba dayung yang akan berlangsung sekitar minggu depannya. Hotel maupun hostel di Venice harganya gila-gilaan. Nyari di airbnb, dapat satu yang cocok dengan budget kami tapi urung kami booking. Untuk ke apartemen ini harus naik waterbus lagi dari Stasiun Kereta St Lucia di Venice dan saya perkirakan kami akan tiba sekitar tengah malam di Venice. Jadi mending nyari penginapan yang lokasinya tidak susah dan akhirnya kami memilih tetap di Hotel Rossi saja. Continue reading

Colmar Tropicale

20160905_100008

Sepi di dalam Colmar

Transit sehari di KL, kami manfaatkan ke Colmar dan Putrajaya sebelum diantar ke bandara kembali untuk melanjutkan penerbangan KL-Beijing. Beberapa referensi bilang Colmar itu keren buat foto-foto dan itu yang bikin kita akhirnya mutusin kesana. Saya lalu menyewa mobil van langganan kapasitas 8 orang plus driver, 550RM selama 8jam tujuan Colmar dan Putrajaya, dijemput di hotel dan diturunkan di bandara.

Drivernya bertanya, darimana tau Colmar Tropicale. Saya bilang banyak rujukan di internet. Colmar Tropicale gak asik lagi, katanya. Sudah banyak wahana yang tutup dan banyak orang kecewa setelah dari Colmar, lanjutnya lagi. Wah, wah, kami jadi seperti pasukan dengan gagah berani maju kemudian tiba-tiba diciutkan nyalinya. Saat singgah di SPBU, si driver menyarankan untuk membeli snack dan minuman di mini market disitu. Apa-apa mahal di Colmar, katanya.  Continue reading

Melihat Twin Tower dari Skybar Traders Hotel

Petronas Twin Tower gak ada matinya, selalu saja menarik untuk dipandangi terutama di malam hari. Dan menarik juga untuk mencari sudut pandang baru menikmati menara yang tahun 2004 disebut sebagai menara tertinggi di dunia sebelum Burj Khalifa di Dubai dan Taipei 101 mengalahkannya.

20160904_193801

awesome view from Skybar Traders Hotel

Continue reading

Review Menginap di Nu Hotel KL Sentral

Jadwal penerbangan kami berubah lagi. Gak tanggung-tanggung sampai 2x untuk tiket yang sama. Airasia gitu loh. Kayaknya tiap kali ngetrip dengan Airasia selalu saja kena perubahan. Tapi sampai 2x berubah, ini baru pertama kali terjadi. Saya beli tiket Makassar-KL untuk tanggal 04 September terbang jam 17.00, nginap semalam di KL kemudian terbang lagi ke Beijing tanggal 05 September jam 19.00 . Perubahan pertama, ada pemberitahuan bahwa jam terbang Makassar-KL mengalami perubahan jadi jam 11.30. Saya udah senang saja, kesempatan merubah tiket menjadi tanggal 05September biar langsung connect ke penerbangan Beijing tanpa perlu nginap di KL. Sudah dirubah, eh ada lagi pemberitahuan kedua bahwa jamnya kembali ke semula. Menyebalkan banget, itu berarti saya harus rubah tiket kembali seperti semula dan harus nginap di KL.

Kemudian ada pemberitahuan perubahan lagi tapi untuk tiket pulang KL-Makassar tanggal 11 September, jamnya berubah jadinya tidak connect dengan penerbangan Beijing-KL serta membuat kita harus nginap lagi di KL dan bikin kita gak bisa shalat Ied Adha karena proses check in di bandara. Tanggal 12 September itu pas hari Idul Adha. Tahun lalu kami juga gagal shalat Ied di Tokyo karena sesuatu dan lain hal. Saya lalu minta refund saja dan pulang lewat Jakarta, jadi beli tiket KL-Jakarta lalu Jakarta- Makassar. Gak papa deh rute agak njelimet, bayar tiket lebih mahal, tiba tengah malam trus lanjut masak ketupat sampai pagi dan yang penting bisa shalat ied di kompleks rumah.

Kali ini saya memilih hotel yang berada dekat KL Sentral. Biasanya suka menginap di daerah Bukit Bintang, namun sejak pembangunan MRT, kawasan tersebut jadi gak terlalu menarik. Dulu kita suka duduk sambil dengerin live music yang kebanyakan menyanyikan lagu populer Indonesia di sekitar hotel Capitol, tempat nongkrong dengan harga gak terlalu mahal. Trus seputaran Bukit Bintang yang ramai karena banyak mall dan ada wisata kuliner Jalan Alor. Selain itu suka nyoba-nyoba hotel sih biar makin banyak referensi. Kalo sekitar KL Sentral, ada Aloft KL Sentral yang berada di dalam KL Sentral, ada Myhotel dan yang paling baru ada Nu Hotel KL Sentral.

14248108_120300000090551909_57792811_o

bersama pak suami, 7-11 berada disebelah kedai gunting rambut. stasiun monorail, jalan ke nu mall/KL Sentral, kedai makan 24jam ada di samping hotel sebelah kanan.

Saya memilih Nu Hotel KL Sentral, reviewnya nyaris bagus semua. Mungkin karena hotel ini terbilang baru. Bisa jadi karena mudah ditemukan. Kalo nyari budget hotel, secara umum ekspektasinya pasti nyari yang bersih dan berlokasi strategis. Dari tempat pemberhentian bus dari airport di KL Sentral, naik eskalator/lift ke arah Nu Mall dan cari jalan menuju Monorail KL Sentral. Hotel ini berada dekat sekali dengan stasiun monorail dan berada persis di depan Hotel Sentral.

Continue reading