Menilik Terracotta Warriors & Horses

14889993_10208221970049430_1319304051860081289_o

Tujuan utama kami ke Xián adalah ke Terracotta Warriors and Horses atau biasa disebut juga Terracotta Army. Dari hostel, kita dikasih potongan kertas kecil berisi petunjuk ke Terracotta Warrior lengkap dengan tulisan cinanya. Naik bus menuju Xián Railway Station. Diluar stasiun kereta ada bus 5/306 yang langsung menuju Terracotta Warrior. Bus juga mampir di mausoleum Qin Shi Huang, tapi beberapa referensi bilang mending langsung ke museumnya saja. Tiket masuk ke Museum 150 yuan setara 300ribu rupiah. Jalan dari halte bus ke tempat beli tiket cukup lumayan jauh. Agak bingung juga pada awalnya karena dari halte bus gak langsung keliatan Museum. Kita ikut arah bule yang satu bus dengan kita. Dari tempat beli tiket ke museum jalan sekitar 15 menit. Continue reading

Advertisements

Xian, Kota yang Cantik

14882400_10208222023650770_3868607675565458840_o

Bell Tower (take picture from the Drum Tower)

Kalo saja saya jadi mengurungkan niat ke Xian, tentu saya akan menyesal tidak melihat kota yang cantik ini. 2 minggu sebelum berangkat, saya sempat tawarkan saran ke teman-teman agar tidak usah ke Xian dan menghabiskan saja  waktu selama 5 hari di kota Beijing. Pertimbangannya biaya transportasinya saja cukup mahal sekitar 2.5juta Beijing-Xian pp, pergi dengan kereta cepat dan balik ke Beijing pake pesawat. Sementara waktu yang akan dihabiskan cuma 2 hari disana. Salah juga saya gak beli tiket one way trip. Baiknya beli tiket KL-Beijing dan Xian-KL jadi gak perlu balik ke Beijing dan bisa menghemat biaya kan. Teman-teman tetap memilih untuk ke Xian. Memang sudah terlanjur saya promosi soal Xian ke mereka, tentang kereta cepat, tentang the terracotta warrior, tentang mayoritas penduduknya muslim, tentang makanan muslim yang banyak disana. Continue reading

Rumah Pohon Urongo

 

wp-1487297224049.jpg

View of Tondano Lake from Urongo treehouse

Yogya punya Kalibiru, Sulawesi Utara punya Urongo. View berlatar Danau Tondano ini tidak kalah spektakuler. Emang sih, belum apple to apple. Kalibiru sudah well organized, Rumah Pohon Urongo masih self organized sama penduduk sana. Belum ada tiket masuk, hanya donasi seikhlasnya kecuali titian flying fox 20ribu perorang. Material rumah pohon/view pointnya juga seadanya, dari kayu yang berasal dari pohon sekitar. Meski begitu, tetap cakep dan bolehlah jadi wisata kekinian yang ada di Manado dan sekitarnya.

Continue reading

Gudeg

Gudeg merupakan salah satu makanan favorit saya sekaligus makanan yang paling saya cari jika bepergian. Paling dicari karena merupakan salah satu makanan yang tidak mampu saya bikin. Ribeut bikinnya, gudeg harus dari nangka pilihan, dimasak berjam-jam dengan api kecil, pake daun jati supaya berwarna coklat gelap, bikinnya harus sekalian banyak. Itu baru satu lauk, belum lagi proses pembuatan sambal krecek, telur, ayam. Lauk pelengkap Gudeg yang paling saya suka adalah sambal goreng krecek dan ati amplela. Di Palopo, gak ada yang jualan. Di Makassar, ada 1 tapi semakin kesini semakin kurang pakem dan kurang maknyus. Ada tempat makan gudeg yang baru di Makassar, belum kesempatan mengunjungi atau order online secara Sabtu Minggu malah tempatnya tutup. Belum berjodoh.  Continue reading

Welcoming 2017

15741213_10206462172507882_8104966500689692119_n

Welcoming 2017. New start, recharge energy & fresh again

Ada yang berbeda dengan tahun baru kali ini. Biasanya momen tahun baru dilewatkan di kantor atau di perjalanan. Seingat saya gak pernah dengan sengaja merencanakan pergi bertahun baru di tempat lain. Jika flashback 6 tahun ke belakang; 2011 tahun baru di perjalanan Makassar-Palu sewaktu tugas di Palu, 2012-2013 tahun baru di kantor Manado tanpa ditemani anak-anak karena mereka sekolah di Makassar), 2014 tahun baru di rujab Gubernur Sulut launching perubahan nama kantor setelah itu ke bandara meninggalkan Manado untuk pindah tugas ke Pare-pare, 2015 tahun baru di kantor Palopo, 2016 tahun baru di perjalanan Palopo-Makassar. Pokoknya gak jauh-jauh dari urusan tutup buku kantor. Risiko pekerjaan. Tutup buku dulu, baru pulang dengan pikiran tenang. Pikiran jauh dari rencana cuti atau old&new di hotel. Bahkan saya sudah menset bahwa kalo mau ambil cuti maksimal sampai bulan September. Setelahnya harus fokus menyelesaikan target-target kantor. Continue reading

Matahari terbit di Lolai

Lolai lagi.

Konsekuensi tinggal di dekat tempat yang lagi happening, harus siap menemani tamu kantor yang ingin kesana.  Bos saya datang dan ingin pulang lewat Toraja sekaligus mampir di Lolai.

Sayangnya, jalan yang biasa dilalui dan rute tercepat hanya 30 menit menuju Lolai sedang dalam perbaikan sebagai persiapan Pak JK datang ke Lolai. Kami harus mengambil jalan memutar dan membutuhkan waktu 1 jam 30menit sampai di Lolai. Pake acara kesasar lagi di pagi buta. Udah setengah hati karena sudah hampir pagi saat kami tiba.

Tapi gak rugi bersusah payah sampai di Lolai. Masih dapat sunrise yang keren banget. Awannya juga penuh. Nyaris tak terlihat kota Rantepao di bawah sana.

img-20170118-wa00001

Menadah matahari

Continue reading