Sombori

[

Kami keluar untuk melihat sunrise di dekat mercusuar diarea belakang pulau. Sayang mataharinya seperti malu-malu menampakan sinar sempurna, meski pemandangan dan warna langit juga tetap cakep.

Pagi itu kami akan diajak ke Kepulauan Sombori yang sudah berada di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Ini masih paketan sama Labengki. Cerita tentang Labengki baca disini ya.

Cukup banyak spot yang kita kunjungi seperti : Continue reading

Labengki, destinasi keren dari Sulawesi

IMG_6946

Di teluk cinta

Sambil menyelam minum air. Saat dinas selesai, kita lanjut jalan jalan. Mumpung tiket pesawatnya sudah gratis. Saya ada satu event tahunan yang harus dilaksanakan untuk personil se regional. Usulan tempatnya Manado atau Kendari. Pilih di Manado karena dari sana bisa terbangmurah. ke Sorong trus lanjut Raja Ampat. Hanya biaya perjalanannya masih sangat besar. Masih harus mengeluarkan biaya transport udara dan biaya sewa kapal yang cukup besar. Sementara kalau acaranya di Kendari bisa lanjut ke Labengki yang disebut sebagai mini Raja Ampat. Biayanya pun lebih murah. Jadilah acaranya di Kendari saja. Acaranya berlangsung selama 2 hari, Rabu dan Kamis. Jumat masih terhitung dinas sebagai hari perjalanan pulang.

Yang minat ikut trip ke Labengki ternyata gak banyak. Saya ngarepnya yang ikut sebagian besar dari peserta temu teknis yang jumlahnya 39 orang. Dimaklumi sih karena mereka ada yang panjang perjalanannya dimana penerbangan juga terbatas. Ada yang dari Ternate. Ambon, Manado, Gorontalo dan beberapa kota di Sulawesi. Beberapa dari mereka juga perantau yang keluarganya ada di Makassar. Dan semua penerbangan pasti melalui makassar. Jadi weekend dimanfaatkan untuk kembali bertemu dengan keluarga sebelum kembali bertugas.
Paket trip Labengki-Sombori cukup bervariasi disesuaikan dengan budget dan waktu. Ada paket 2H1M (2hari1Malam), 3H2M, 4H3M dan harga tergantung dari jenis penginapan yang dipilih. Ada paket Balai Desa, Homestay, Villa dan Resort. Saya milih paket Homestay 3H2M. Sesuai dengan prinsip traveling saya, gak usah paket yang mahal-mahal biar bisa sering-sering liburan. Paket ini sudah termasuk transportasi dari/ke Kendari, hopping island, menginap dan makan 3x/hari, air mineral selama perjalanan, dokumentasi dan peralatan snorkling.
Jam 07 pagi mobil kantor mengantar kami yang mau ke Labengki ke pelabuhan.
Gelombang ombak mengayun kami di perahu cukup membuat kami sedikit mual. Beruntung saya sudah mengantisipasinya dengan obat anti mabuk, begitu sampai perahu langsung mengambil posisi tidur. Lumayan bisa 2 jam perjalanan dipakai tidur, 1 jam tersisa dipakai menikmati pemandangan. Kami sampai di Pulau Labengki Kecil tempat kami menginap. Homestaynya diluar perkiraan saya. Saya membayangkan nginap di rumah panggung dengan kondisi seadanya. Ternyata kami nginap di rumah batu yang berkamar 5 dan dengan 4 kamar mandi Kata Adi guide kami selama disana, ini memang salah satu homestay terbaik disini dan paling dekat dengan pantai. Katanya gampang mengenali homestay di Labengki kecil ini, rumah-rumah yang dijadikan homestay ditandai dengan warna catnya yaitu orange. Ada beberapa yang rumah batu dan beberapa rumah panggung.

Continue reading

Warung Ijo Ubud

Bertemu dengan teman lama memang harus di niatin. Kalo gak kayak gitu, bakal tertunda terus dan gak jadi prioritas. Beberapa kali ke Bali, gak pernah sempat meet up dengan 3 temen SMP yang tinggal di Bali. Mereka pendatang di Bali asal Makassar, Arti ikut suaminya, Jamil buka usaha rumah makan di Ubud dan Arfan yang gak jelas kerjanya tapi keluar negeri terus. Arti malah pernah tetanggaan saat ngekos rumah petak di Palu hampir 4 tahunan. Jamil gak pernah ketemu lagi sekitar 14 tahun. Arfan masih ketemu sekali-kali di Makasar, karena dia sering pulang. Cuma terkoneksi dengan grup WA. Mumpung ke Bali murni liburan dan kita gak punya itin yang padat, maka disempatin untuk janjian. Biar rasa itu nyambung lagi. Ciee.

Saya janjian sama Arti di parkiran Joger, tadinya mau di hotel cuman kita udah nunggu cukup lama dan makan waktu untuk muter jauh dari Pantai Kuta ke arah Joger. Mobil rental kita titip di parkiran dan ikut di mobilnya Arti. Bebas dari google map deh. Tujuan kita ke Ubud ke rumah makannya Jamil yang bernama Warung Ijo Ubud. Sempat mampir ke Tegalalang, sawah terasering salah satu icon Ubud.  Continue reading

RockBar dan WooBar

Jalan-jalan ke Bali, rasanya gak kekinian kalo gak nyamperin beberapa Beach Club yang semakin menjamur. 4 tahun yang lalu Rock Bar udah masuk itinerary jalan di Bali, tapi waktu itu urung udah nanggung mau kesana, udah sore banget. Jadi sekarang mau dibela-belain kesana. Pokoknya nyampe dulu di Ayana Resort tempat Rockbar berada. Ntar liat sikon, jadi masuk atau tidak. Dari Pucuk Selfie di daerah Bedugul lumayan banget jaraknya, ujung pukul ujung. Sampai di Ayana Resort udah jam 17.00. Rockbar baru available untuk kami jam 18.30. Jika ingin menunggu diberi nomor antrian dan dipersilakan di waiting area sambil menikmati sunset. Banyak juga yang memilih menunggu. Padahal kita datangnya bukan pas weekend. Saat menuju ke tempat antrian Rockbar, viewnya udah keren-keren. Melewati kolam renang Ayana Resort, melewati area shopping dan bar yang ada di area terbuka berumput hijau. Jadi bisa aja, puas-puasin foto disini lalu ngacir pulang. Saya masih penasaran dengan inclinator atau lift terbuka menuju Rockbar, jadi tetap sabar menanti. Tidak banyak tersedia kursi di waiting area tersebut, kebanyakan nyebar ada yang berdiri sambil foto-foto, ada yang duduk di rumput, ada yang nyari tumpuan buat duduk. Kita tadinya berdiri aja, cuman lama kelamaan pegal juga. Jadi pas ada tempat duduk kosong, kita langsung ngisi. Pesan minum cuman 1 aja buat berempat, sambil ngasih alasan sama waitressnya ntar pesan yang banyak pas di bawah saja. Hihihi. 1 gelas minuman Cacktus Citrus yaitu kombinasi jus kiwi, jus nenas, jeruk nipis plus syrup kaktus dibandrol 99ribu trus dikasih compliment kripik kentang. Continue reading

Selebrasi

20170907_130622

Sarang tawon di Pucuk Selfie Danau Buyan

Setelah wisuda selesai, kami buru-buru ke sekolahnya Aya menjemput sekalian minta ijin gak masuk sekolah 3hari sama gurunya. Kalo si adek sudah aman ijin dari sekolahnya sejak kemarin. Mampir rumah cuman ambil koper, jemput si adek langsung cuss bandara. Sore itu kami akan ke Bali. Trip dadakan sih, wisudanya kena hari Rabu. Mau ambil cuti 1 hari trus balik lagi Palopo, rasanya rempong banget. Akhirnya ambil cuti 3 hari yang rasanya sayang untuk dihabiskan di Makassar.  Sekalian selebrasi, hehehe. Anak-anak juga dari kemarin minta liburan. Tahun ini emang belum jalan-jalan sama anak-anak. Memilih ke Bali karena secara hitung-hitungan budget paling murah kesini dibanding destinasi lokal lainnya. Ngecek Derawan, Belitung, Karimun Jawa, Semarang. Tiket pesawat lebih mahal dan rata-rata transit. Makan waktu. Kepikiran juga destinasi luar yang gak bervisa seperti Turki, Hanoi, New Delhi, Chiang Mai, Male. Yang paling murah cuman ke Hanoi, lagi ada promo tiket pesawat. Tapi tetap jatuhnya mahal ongkosnya buat berempat, 2x lipat dari biaya liburan ke Bali. Jadi akhirnya mutusin ke Bali saja. Continue reading

Dinascation ke Bali

IMG-20170820-WA0006

Pool at Hard Rock Hotel

Bude kok bisa ketinggalan pesawat? Biasanya bude yang paling bagus manajemen waktunya,   tanya teman dari kanwil. Dan nyaris semua bertanya begitu. Ketinggalan pesawat saat mau rapat se kanwil sulawesi maluku rasanya sesuatu banget. Lagi apes banget. Pesawat jam 6.30pagi  ke Bali. Saya tiba di counter check in jam 6.15pagi. Sebenarnya sisa ambil boarding pas karena saya titip teman untuk minta dicetakkan boarding pass. Sebelumnya sudah web check in, tapi gak sempat nyetak boarding pass. Ini 90% salah saya sih, mepet banget tiba di bandara.  10% sisanya, salah petugas Garuda yang gak mau ngasih boarding pass itu. Pas tiba di counter, sedang ada pengumuman panggilan nama saya. Si Mbaknya gak mau begitu saja ngasih boarding pass, konfirmasi lewat telpon dulu ke petugas boarding dan itu cukup makan waktu. Seandainya langsung ngasih saya bisa ngacir ke atas. Setelah ditolak, saya tetap minta boarding pass tapi bagian kecil untuk petugas sudah diambil. Saat berjalan keatas, kembali ada pengumuman atas nama saya. Tapi begitu nyampe, tetap mereka keukeh bilang saya telat. Mereka bilang jangan patokan ke pengumuman panggilan tersebut. Duh, teganya mereka. Continue reading

Sharing trip Siem Reap

20170423_070623

Sunrise at Angkor Wat

Sebulan setelah trip UK, saya ke Siem Reap memanfaatkan libur long weekend. Tiketnya lumayan murah KL-Siem Reap hanya 750ribu tapi belinya persis 1 tahun yang lalu. Jauh sebelum pemerintah mengeluarkan edaran libur nasional dan cuti bersama, saya udah hunting tiket di tanggal yang memungkinkan saya bisa liburan atau ambil cuti. Rencananya hanya bertiga, tetapi semakin mendekati hari H bertambah lagi 4orang. Jadinya reuni SD kecil-kecilan karena semuanya berasal dari SD Mangkura angkatan yang sama, plus ada 1 teman yang bawa ibunya.  Meeting point di KLIA2, ada yang start dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makassar.

Penerbangan KL-Siem Reap jam 06.30 pagi. Kita udah tiba malam sebelumnya. Sebagian besar dari kami hanya nongkrong di KLIA2 sampai tiba waktu terbang. Ada yang di kursi di depan pintu kedatangan, kalo saya memilih begadang ngerjain tugas kantor (internet lancar jaya). Habis trip ini saya harus ikut program upgrading kantor di Bogor dan ada tugas yang harus diupload sebelum masuk program itu. Saya kira tugasnya kayak tahun lalu cuman diminta baca materi pre-reading, eh ternyata tugasnya banyak. Bikin summary 4 artikel berbahasa Inggris plus bikin paper. Baca emailnya baru pada sudah di KLIA2 sih, padahal udah 2 hari ada di email, hehehe. Untung bawa laptop. Saat otak tak bisa lagi diajak berfikir, saya ke mushalla meluruskan badan di area keberangkatan. Gak bisa lama-lama di mushalla karena gak tahan dinginnya. Ketemu sama teman-teman menjelang check in saja. Continue reading

Menilik Terracotta Warriors & Horses

14889993_10208221970049430_1319304051860081289_o

Tujuan utama kami ke Xián adalah ke Terracotta Warriors and Horses atau biasa disebut juga Terracotta Army. Dari hostel, kita dikasih potongan kertas kecil berisi petunjuk ke Terracotta Warrior lengkap dengan tulisan cinanya. Naik bus menuju Xián Railway Station. Diluar stasiun kereta ada bus 5/306 yang langsung menuju Terracotta Warrior. Bus juga mampir di mausoleum Qin Shi Huang, tapi beberapa referensi bilang mending langsung ke museumnya saja. Tiket masuk ke Museum 150 yuan setara 300ribu rupiah. Jalan dari halte bus ke tempat beli tiket cukup lumayan jauh. Agak bingung juga pada awalnya karena dari halte bus gak langsung keliatan Museum. Kita ikut arah bule yang satu bus dengan kita. Dari tempat beli tiket ke museum jalan sekitar 15 menit. Continue reading

Xian, Kota yang Cantik

14882400_10208222023650770_3868607675565458840_o

Bell Tower (take picture from the Drum Tower)

Kalo saja saya jadi mengurungkan niat ke Xian, tentu saya akan menyesal tidak melihat kota yang cantik ini. 2 minggu sebelum berangkat, saya sempat tawarkan saran ke teman-teman agar tidak usah ke Xian dan menghabiskan saja  waktu selama 5 hari di kota Beijing. Pertimbangannya biaya transportasinya saja cukup mahal sekitar 2.5juta Beijing-Xian pp, pergi dengan kereta cepat dan balik ke Beijing pake pesawat. Sementara waktu yang akan dihabiskan cuma 2 hari disana. Salah juga saya gak beli tiket one way trip. Baiknya beli tiket KL-Beijing dan Xian-KL jadi gak perlu balik ke Beijing dan bisa menghemat biaya kan. Teman-teman tetap memilih untuk ke Xian. Memang sudah terlanjur saya promosi soal Xian ke mereka, tentang kereta cepat, tentang the terracotta warrior, tentang mayoritas penduduknya muslim, tentang makanan muslim yang banyak disana. Continue reading

Rumah Pohon Urongo

 

wp-1487297224049.jpg

View of Tondano Lake from Urongo treehouse

Yogya punya Kalibiru, Sulawesi Utara punya Urongo. View berlatar Danau Tondano ini tidak kalah spektakuler. Emang sih, belum apple to apple. Kalibiru sudah well organized, Rumah Pohon Urongo masih self organized sama penduduk sana. Belum ada tiket masuk, hanya donasi seikhlasnya kecuali titian flying fox 20ribu perorang. Material rumah pohon/view pointnya juga seadanya, dari kayu yang berasal dari pohon sekitar. Meski begitu, tetap cakep dan bolehlah jadi wisata kekinian yang ada di Manado dan sekitarnya.

Continue reading