Mudahnya mengurus Visa Taiwan

IMG_9871Mungkin ini visa yang paling cepat saya urus hanya dalam hitungan detik. Kaget juga saya tau-tau sudah approved dan siap untuk dicetak. Tapi jangan salah, kemudahan ini berlaku bagi yang udah punya visa USA, Schengen, UK, Canada, Australia, New Zealand dan Jepang. Per 1 Agustus 2019, pemegang Visa Australia, New Zealand dan Jepang yang mau mengajukan ROC Travel Authorization Certificate, visanya harus masih berlaku. Khusus pemegang visa Jepang, wajib melampirkan histori travel ke Jepang. Jika gak punya visa yang disebutkan diatas, maka harus mengajukan visa manual dan berbayar ke Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei di Jakarta. Untuk informasi lebih lengkapnya cek disini.

Sebagai persiapan mengajukan permohonan Travel Authorization Certificate ini dan biar isi formnya lancar adalah kamu sudah punya data paspor dan masa berlakunya, kamu punya data nomor fllight ke Taipei, kamu sudah punya alamat tujuan di Taipei dan kamu harus siapkan nomor visa (salah satu visa diatas). Masuk disini kemudian, pilih bahasa dan mulai mengajukan. Cuman isi formulir selembar, pilih next dan approved. 

Yes semudah itu.

Advertisements

Baby Ghazi First Trip: India (1)

28337380_10212177166206862_6842220025394082860_o

Me and Taj Mahal

 

Cuti melahirkan baru separuh jalan, perasaan galau pengen traveling terus aja berkecamuk. Efek sudah lama gak traveling. Pengen traveling sendiri tapi gak tega ninggalin baby yang lagi Asi ekslusif. Baby Ghazi baru sebulan umurnya.

Kegalauan pertama, aman gak sih traveling dengan baby umur segitu. Umur segitu masih sangat rentan dengan virus. Kalo mengacu ke peraturan penerbangan berbagai airlines, rata-rata membolehkan bayi umur 9 hari untuk terbang.

Kegalauan kedua, rempong gak sih bawa baby jalan-jalan. Kakak-kakaknya baru mulai traveling di usia 2,5tahun. Saat mereka udah mulai pintar ngomong, udah lepas diapers, dan susu bisa jenis apa saja. Alhamdulillah Terkendali dan gak rempong bahkan jaman dulu saya keukeh gak pake stroller. Kalo nyari referensi di blog/milis dalam negeri, traveling umur segitu sangat tidak disarankan. Banyak paham lokal alias pamali. Nyari referensi dari artikel kesehatan, traveling boleh saja asal hati-hati. Nyari referensi blog/milis luar, fine-fine aja traveling. Justru umur segitu, baby lebih banyak tidur, gak perlu nyiapin makan, rewelnya paling pada saat pengen nyusu atau saat diaper harus diganti.

28337841_10212177080124710_5357067218400201572_o

Baby Ghazi di pesawat

Kegalauan ketiga, soal destinasi. Saya pengen ke maldives, tapi momentnya gak pas untuk mantai. Curah hujan cukup tinggi. Jadinya saya fokus nyari tiket ke negara yang tidak perlu urus visa manual dalam artian gak perlu ribet nyiapin berkas dan datang ke kedutaan. Pilihan mengerucut ke Turki dan India. Pilihan saya condong ke India, selain masuk budget buat pergi berlima, saya ingin ke Taj Mahal. Saya tuh  punya target pergi ke 7 keajaiban dunia versi jaman old. Sisa Taj Mahal dan Piramida Mesir yang belum.

Namun ini menimbulkan kegalauan berikutnya. Ke India? Negara yang katanya indah tapi jorok dan tidak aman. Kalo cuma sendiri, ya saya gak masalah pergi sana. Ini bawa baby. Public transport india sudah bagus, tapi stasiun katanya crowded banget dan jangan coba-coba menggunakan public toilet utamanya di dalam kereta. Pilihan lainnya, bisa menggunakan mobil rental untuk trip golden triangle. Jaipur-delhi-agra. Setelah dicek, biaya rentalnya masih masuk akal. Ok, fix rental mobil.

Saya gak langsung issued tiket, masih harus menghadap kepala sekolahnya Aya untuk minta ijin. Aya sudah kelas 3 smp, jangan sampai kena masalah kalo ninggalin sekolah 6hari. Alhamdulillah dikasih ijin.

Saya beli tiketnya 2 minggu sebelum berangkat, Jakarta-Jaipur pp. Paspornya baby Ghazi juga udah ready. Biar belum punya rencana fix buat traveling, sudah saya urus paspornya. Sekalian urus akte kelahiran dan penambahan di kartu keluarga. Mumpung saya masih cuti. Segala proses pengurusan lancar. Waktu urus paspor, saya dan baby ghazi jadi prioritas untuk verifikasi berkas. Berkasnya belum lengkap karena di kartu keluarga belum tercantum nama baby ghazi. Si petugas imigrasi mengarahkan ke dukcapil buat urus penambahan di kartu keluarga. Ke dukcapil, jadi prioritas lagi. Bahkan saya yang sekalian mau ganti ktp juga dibantu percepatan. Gak sampai semenit ktp saya sudah jadi, padahal antrinya minta ampun. Alhamdulillah, layanan instansi pemerintah udah semakin bagus dan ramah. Balik lagi ke kantor imigrasi, baby Ghazi digendong ama petugas imigrasi cewek. Langsung dibantu untuk proses foto. Gak sampe 5 menit, udah selesai prosesnya. Sisa diambil 3 hari kemudian. Paspornya jadi pas tepat baby Ghazi umur sebulan.

Visa india bisa apply online. Cuman harus pastikan apply visa di website yang benar https://indianvisaonline.gov.in/visa/index.html . Jangan sampai kena tipu. Banyak website abal-abal yang ternyata pihak ketiga alias calo dan mengenakan biaya pembuatan visa lumayan. Saya banyak terbantu dari blognya si omnduut. Prosesnya mudah saja. Cukup mengisi form online, upload foto dan paspor, dan bayar 51.25usd/orang. Baby Ghazi juga harus bayar. Hiks. Update: Sejak Juni 2018, visa India sudah gratis tapi tetap apply online.

Untuk penyedia jasa mobil rental, saya dapat referensi dari trip advisor. Saya pilih 3 kontak travel berdasarkan review dan peringkat. Semuanya merespons dengan cepat. Setelah nego harga, saya memilih Mr Tara. Paket rental termasuk pick up/drop off airport, jaipur tour, agra tour, delhi tour, biaya menginap dan makan supir, toll, parkir, air mineral dan snack.

Untuk pilihan tempat menginap, saya milih hotel melati saja untuk di Jaipur dan New Delhi, sedang di Agra milih hotel Radisson Blu Agra Taj East Gate, Agra. Kan cuma semalam dan lagi ada promo booking hotel di tra****ka harganya jadi 1,1jt/malam. Pilih kamar yang ada sofanya, jadi pas buat berlima tanpa perlu extra bed. Tapi saya sudah pasrah aja kalo misalnya pada saat check in, diminta untuk tambah extrabed.

Untuk review hotel n rental mobilnya di tulisan berikutnya ya.

Mengurus Visa UK/Inggris

Sejak nonton London has Fallen tahun lalu udah kepikiran pengen ke Inggris. Apalagi dapat berita Big ben mau direnovasi dan akan ditutup untuk umum sampai 3 tahun, membuat Inggris jadi top of mind. 2x ke Eropa belum tertarik kesini, sayang juga kan kalo digabung secara gak bisa lama kalo traveling. Dan ngurus visanya itu loh, harus 2x ngurus Visa Schengen dan Visa UK. Ngurusnya harus di Jakarta pula, habis energi, habis waktu, dan habis duit buat beli tiket pesawat ke Jakarta bolak balik. Jadilah saya fokus nyari tiket ke Inggris, tiap ada penawaran tiket nyari-nyari tanggal yang kira-kira pas. Akhirnya dapat promo Malaysia Airlines di tra*e*oka, Jakarta-London pp harga 7.2juta dapat diskon kartu kredit jadi bayarnya sisa 6.2juta. Trus dicicil 0% pula selama 6 bulan, hehehe. Issued sekitar bulan Oktober 2016, berangkatnya Maret 2017. Setelah itu masih banyak sekali promo bertebaran. Maskapai kayak Qatar, Thai Airways, bahkan Malaysia Airlines sempat jual tiket oneway KL-London 1,1juta. Atau promo redeem miles Garuda yang cepat banget tertutup di akhir tahun kemarin. Continue reading

Mengurus Visa Amerika

Tinggal di luar Jakarta membuat saya tidak leluasa untuk mengurus visa. Harus punya planning.

Dalam tahun ini, saya sudah 2x ngurus visa. Visa Schengen dan Visa China. Visa China bisa diwakilkan, titip sama teman yang tinggal di Jakarta yang juga ikut dalam trip ke China. Visa Schengen gak bisa diwakilkan, harus datang sendiri dan harus sudah buat janji kapan ke kedutaan Belanda untuk sidik jari dan wawancara.

Nah, kebeneran pas lagi di Xian dapat email surat perintah untuk menghadiri diskusi kantor di Jakarta untuk minggu depannya. Liat jadwalnya kayaknya pas nih jika sekalian ngurus visa US. Acaranya hari Senin dan cuma sehari. Bisa memanfaatkan waktu untuk urus visa di hari Selasa pagi sebelum pulang ke Makassar. Gak perlu extend hari harus cuti dan nambah biaya nginap. Biasanya kalo ada dinas di Jakarta, suka berakhir di weekend. Jadinya pilihannya mesti nambah cuti sehari dan mesti cari tempat menginap. Continue reading

Mengurus Visa China

whatsapp-image-2016-09-16-at-15-12-56

Kalau diliat dari persyaratannya,  mengurus Visa China keliatannya sangat gampang. Gak perlu surat keterangan kerja, gak perlu rekening yang terjaga kesehatannya, gak perlu SPT. Tapi ternyata yang gampang kalo gak diseriusi malah agak ribeut juga. Dari 12 berkas yang diajukan cuma 7 aja yang diterima, sisanya dibalikin, masih harus ada yang dilengkapi. Ada yang fotonya dianggap tidak sesuai, ada yang ditolak karena tidak melampirkan paspor lama (paspor yang baru masih kosong melompong). Suami saya ditolak berkasnya karena ktpnya sudah expired dan tidak tanda tangan di paspor barunya. Anak-anak saya ditolak berkasnya karena tidak ada surat keterangan membawa anak dari orang tua. Paspor suami harus dikirim kembali ke Makassar supaya suami bisa tandatangan setelah itu dikirim kembali ke Jakarta. Pikiran untuk memalsukan tandatangan saya urungkan, masa untuk identitas sepenting paspor tandatangannya palsu sih. Berkas jadi bolak balik kayak setrikaan.

Pengurusan visa sedikit mepet sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan, pasalnya baru sadar kalo ada 3 paspor (termasuk paspor suami dan anakku) yang berlakunya kurang 6 bulan, jadi harus mengurus dulu paspor. Ngurusnya via jalur cepat saja, cukup datang ke rumah pegawai imigrasi dan memberikan berkas lebih dahulu, ntar siangnya sudah bisa foto. 3 hari kemudian sudah bisa diambil di rumah si pegawai imigrasi tadi. Harap dimaklumi, kami tinggal di kota yang belum ada kantor imigrasinya. Kantor imigrasi terdekat di Pare-pare jaraknya 250km. Anakku cuman minta ijin sehari buat foto paspor, jadi terpaksa jalur cepat yang ditempuh.

Persyaratannya sederhana:

  • Formulir Pengajuan Visa, formulir ini bisa diunduh disini kemudian ditulis tangan dengan huruf balok. Untuk bagian dalam formulir yang kita tidak perlu isi jangan dibiarkan kosong tapi tulis N/A. Bisa juga diisi online lalu dicetak. Keuntungan isi online, kita dipandu secara detil sehingga gak terlalu bingung mengisi dan jadi tau kalo salah dalam pengisian karena gak bisa lanjut ke bagian berikutnya jika salah mengisi.
  • Paspor Asli yang masih berlaku minimal 6 bulan sebelum keberangkatan.
  • Copy KTP dan copy Kartu Keluarga
  • Foto 4×6 1 lembar (ditempel di formulir)
  • Bookingan Tiket (tiket dari Indonesia sampai balik lagi ke Indonesia)
  • Bookingan Hotel
  • Itinerary disertai daftar travelmates

Berkas pengajuan visa dan pengambilannya bisa diwakilkan ke 1 orang tanpa surat kuasa, asal orang itu juga ikut dalam trip tersebut.  Biaya visa 540ribu/orang untuk 1x entry dan prosesnya regular atau normal (4hari selesai). Kalo untuk multiple entry atau pengen express harganya beda lagi. Biaya dapat dilihat disini.

Alhamdulillah semuanya happy ending. Visa approved

 

 

 

MENGURUS VISA SCHENGEN DI KEDUTAAN BESAR BELANDA

Proses bikin janji untuk datang ke kedutaan besar Belanda.

Karena kami berdelapan, awalnya di bulan Februari saya mencoba membuat appointment untuk grup. Tapi habis register, tak lama kemudian masuk notifikasi di email bahwa pendaftarannya tidak valid, appointment dibatalkan. Beberapa kali mencoba, saya nyerah dan kemudian mendaftar individual. Appointment untuk individual mulai dari jam 08.00-10.30, sedangkan appointment untuk grup mulai dari jam 14.00-16.00. Daftar individual lancar-lancar saja. Namun per 1 Ip address hanya dibatasi 4 orang, jadi yang 4 orang lain saya daftar via laptop yang ada di rumah.  Saya memilih slot jam 10.30 ( 1 slot kuotanya 20 orang). Pertimbangannya, saya berencana terbang  dari Makassar ke Jakarta pada hari yang sama jam 06.30 dan dari bandara langsung ke kedutaan. Maklum saya cuman minta cuti 1 hari saja. Berencana pengen di tanggal 28 Maret tapi rupanya kedutaan masih libur tanggal segitu, Jadi milih tanggal 24 Maret 2015 biar selesai pengajuan aplikasi visa, langsung cuss ke Bandung buat reuni ama teman-teman angkatan di long weekend. Sambil menyelam minum air, gak perlu buang duit tiket pesawat khusus buat ngurus visa. Continue reading

U-Be-Pe 2016

20160114_014322

di ruang tunggu bandara KLIA2

Salah satu permohonan doa saat berumrah di tahun 2014 adalah keinginan untuk kembali dan diberikan kesempatan mengunjungi Baitullah bersama suami dan anak-anak. Waktu itu janjian sama Mbak Afi, panjang umur bisa berumrah bersama 2 tahun kemudian dan bawa anak-anak. Alhamdulillah, diberi kesempatan itu, dapat tiket promo Airasia Makassar-KL-Jeddah pp di bulan Januari 2015 untuk keberangkatan Januari 2016 dengan harga 6,5juta. Teman yang saya sempat tawari agak ragu-ragu dan sempat berujar, “Gak takut naik Airasia? Waktu itu, lagi marak pemberitaan kecelakaan pesawat Airasia yang terjadi sebulan sebelumnya. Yaelah, Bismillaahi tawakkaltu sajalah. Ajal gak tergantung sama merek pesawat, tapi terjadi dengan ketentuan dan ketetapan Allah, baik kapan maupun dimananya. Ke Perth, ke Yangon dan ke Osaka/Tokyo tahun lalu semuanya menggunakan pesawat Airasia. Total rombongan umrah backpacker (U-Be-Pe) kali ini sampai last minute mau berangkat berjumlah 27orang dengan Mbak Afi sebagai tour leadernya.

Continue reading