Kami berenam berangkat pukul 06.00 pagi dari Guest House Chehra, menggunakan taksi online via aplikasi Yandex dengan biaya sekitar Rp120.000. Perjalanan menuju perbatasan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan jarak sekitar 50 km. Murah kan, dibanding kalo naik taxi di Indonesia.
Sesampainya di border, ada beberapa orang yang menawarkan jasa penukaran uang Som Tajikistan dengan kurs 50 USD = 520 Som. Setelah saya cek, kurs di internet sekitar 1 USD = 11 Som, jadi seharusnya 50 USD ≈ 550 Som. Selisihnya tidak terlalu jauh, jadi kami memutuskan untuk menukar di sana.
Proses passport control Uzbekistan berjalan lancar tanpa perlu menunjukkan Uzbekistan Registration. Namun sebenarnya kami sudah menyiapkannya karena pihak guest house telah mengirimkan bukti registrasi sebagai visitor di Uzbekistan. Setelah itu, kami berjalan kaki menuju passport control Tajikistan, dan prosesnya juga berjalan mulus.
Begitu keluar, kami langsung dikerubungi sopir taksi yang menawarkan perjalanan ke Panjakent Bazaar. Mereka menawarkan dua mobil dengan total harga 100 Som, tetapi saya menawar satu mobil untuk enam orang seharga 60 Somoni. Tidak lama kemudian, datang seorang sopir dengan mobil Innova yang sesuai dengan harga yang kami inginkan. Perjalanan ke pasar sekitar 20 menit.
Tujuan utama kami ke Tajikistan adalah day trip ke 7 Lakes (Haft Kul). Kota Dushanbe sebagai ibu kota masih berjarak sekitar 5 jam dari border, jadi tidak masuk rencana. Setibanya di pasar, kami mencari SIM card lokal. Operator Ucell menawarkan paket termurah sekitar 100 Som, namun kami menemukan operator lain yang menyediakan paket data 10 GB seharga 40 Som, jelas lebih hemat. Kami cuma beli 1, untuk jaga-jaga saja jika sewaktu butuh internet.
Selanjutnya, kami mencari mobil sewa menuju Haft Kul. Prosesnya cukup menantang, kami berjalan sambil menyebut “Haft Kul” dan kembali dikerubungi banyak orang. Komunikasi dilakukan dengan bantuan Google Translate (teks dan voice Indonesia–Rusia). Hal yang saya pastikan adalah sopir sudah berpengalaman ke sana, durasi sewa sekitar 7–8 jam, dan harga di kisaran 90 USD (900 Som), sesuai dengan estimasi awal saya di 100–150 USD.
Sopir pertama yang kami temui terlihat ragu karena belum pernah ke sana, bahkan sempat khawatir soal kondisi jalan bersalju. Tak lama kemudian, datang perantara lain yang bisa berbahasa Inggris dan mengaku mantan sopir tur ke Haft Kul. Ia menawarkan mobil milik kerabatnya. Kami sepakat di harga 900 Som (90 USD) untuk mobil Hyundai 10-seater yang kondisinya sangat baik. Sempat terjadi sedikit adu argumen antar perantara, tapi kami lanjut saja.
Alhamdulillah, padahal dalam hati sebenarnya saya kuatir karena minimnya informasi. Saya juga udah berniat kalo gak jelas mending balik arah kembali ke Samarqand. Keraguan ini saya simpan sendiri.
Perjalanan sekitar 1,5 jam menuju danau pertama di kawasan Pegunungan Fann. Di tengah perjalanan, ada pemeriksaan paspor di sebuah pos. Sopir mengumpulkan paspor kami, lalu setelah proses selesai dikembalikan satu per satu.
Jarak dari danau pertama hingga danau ketujuh sekitar 15 km. Danau pertama hingga keenam relatif mudah dijangkau, cukup turun dari mobil. Namun, untuk danau ketujuh perlu trekking tambahan. Jalanannya sempit, berkelok, dan cukup menantang jika berpapasan dengan kendaraan lain.
Perjalanan berjalan lancar hingga danau kelima. Di sini kami dikerubungi anak-anak lokal, dan kami berbagi snack seadanya. Mereka terlihat sangat senang.
Menuju danau keenam, mobil sudah tidak kuat menanjak karena jalan licin. Sopir menyarankan kami berjalan sekitar 100 meter. Namun, kami tidak sanggup menghadapi dingin dan angin yang cukup kencang. Di danau 1–5 saja kami hanya turun 5–15 menit karena cuaca. Akhirnya, kami memutuskan untuk putar balik. Proses putar balik cukup menegangkan karena kondisi jalan menurun dan berkelok, tapi alhamdulillah semuanya aman. Sekitar pukul 14.00 kami sudah kembali ke Panjakent.
Kami kemudian menegosiasikan tambahan perjalanan ke Café Bora-Bora untuk makan siang, membeli souvenir, dan diantar kembali ke border dengan tambahan biaya 10 USD.
Alhamdulillah perjalanan lancar, saya selama diperjalanan juga masih was-was. Soalnya suasananya seperti berada di daerah antah berantah. Sepi, kami tidak banyak papasan dengan mobil lain dijalan.
Sisa uang Som Tajikistan kami tukarkan kembali ke Som Uzbekistan setelah melewati passport control Uzbekistan. Lalu kami naik dolmush (angkutan bersama kapasitas 6–8 orang) dengan tarif 150.000 Som menuju guest house. Ini juga mengandung scam. Kami mau naik dolmush karena deal 150.000, harganya lebih mahal dari taxi online saat pergi tapi gak apa-apa sekalian membantu mereka juga. Begitu tiba di rumah, sopirnya minta tambahan biaya. Saya sempat ngomel-ngomel lalu masuk rumah tanpa menghiraukan atau membayar biaya tambahan.
Sedikit catatan soal toilet, ini mungkin bagian paling berkesan dari perjalanan di kawasan ini. Di Tajikistan, semua toilet yang saya gunakan adalah toilet jongkok dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Di area border, toiletnya sudah penuh dengan tumpukan BAB dan tidak ada air, tapi karena terpaksa tetap digunakan. Di perjalanan menuju 7 Lakes, hanya tersedia bilik sederhana dengan lubang tanah tanpa air. Di café, kondisinya lebih baik, tapi tetap ada yang tidak menyiram.
Pengalaman serupa juga kami temui di Kazakhstan dan perbatasan Kyrgyzstan–Kazakhstan: toilet tanpa air, tanpa pintu, bahkan hanya berupa lubang dengan kondisi lingkungan yang kurang bersih. Akhirnya kami selalu menyiapkan botol kosong untuk diisi air sebagai antisipasi. Bahkan kami sempat mengurangi minum agar tidak sering ke toilet, meski pada akhirnya tetap tidak terhindarkan.
Saya sudah pernah ke beberapa tempat di China dan India, tapi pengalaman soal toilet di perjalanan kali ini benar-benar paling membekas.


Leave a comment