Explore Halong Bay

Saya pernah baca artikel judul 10 places to visit before you die, salah satunya Ha Long Bay. Inilah yang bikin penasaran. Masa iya sih, Indonesia kalah kecantikan alamnya. Indonesia ada Bali, Labuan Bajo, Raja Ampat, Sumba dan lain sebagainya.

20200223_140235

Baru kesampaian ke Ha Long Bay di awal tahun ini. Dari Hanoi jaraknya sekitar 172km dan dibutuhkan sekitar 3,5 jam untuk sampai sana termasuk berhenti di galery lukisan tangan dan tempat pembuatan patung dari marmer yang diwajibkan pemerintah. Supaya gak repot, saya memilih membeli paket open trip Ha Long Bay di Traveloka. Harganya sekitar 440ribu/orang trus diskon 40ribu, jadi cuma bayar 400ribu. Harga segitu sudah termasuk bus dari  hotel ke Halong Bay pp, air mineral selama di bus, makan siang cukup mewah di atas kapal, naik boat/main kano ke cave, kapal pesiar dan guide. Continue reading

Liburan tipis-tipis ke Hanoi

20200223_140152

Perjalanan ke Hanoi ini merupakan tabungan tiket terakhir di tahun ini. Bersyukur gak ada tabungan tiket yang lain karena bulan Feb 20 sudah memasuki masa pre pandemi Covid-19 yang bikin kita di rumah aja. Gak perlu pusing-pusing soal tiket yang perlu di refund atau di reschedule. Akhir tahun lalu itu nyaris beli tiket pesawat tujuan Saudi Arabia dan Mesir untuk keberangkatan bulan Maret. Umroh dulu habis itu melipir ke Mesir dan langsung pulang ke Jakarta. Harganya waktu itu cukup murah. Saya udah ngajak beberapa teman untuk siap-siap booking, tapi atas berbagai pertimbangan saya urungkan. 

Tiket pesawat ke Hanoi saya beli sekitar bulan Juli tahun lalu. Rutenya Makassar-Kualalumpur dan Kualalumpur-Hanoi pp dengan total harga 2,6juta/orang. Harga segitu udah fair enough mengingat tiket ke Hanoi jarang segitu. Awalnya beli buat berlima sekeluarga. Belakangan ada 2 teman yang pengen ikutan. Continue reading

Ke Ambon di masa Covid

20200724_085046

Penerbangan perdana di masa Covid adalah dinas ke Ambon. Ada technical meeting yang harus dihadiri soal renovasi gedung kantor. Di kantor, baru saya yang memulai untuk terbang melakukan perjalanan dinas. Udah pada disuruh dinas, tapi semuanya menghindar hehehe. Padahal 4 bulan sudah masa covid, saat itu sudah mulai diminta untuk adaptasi new normal. Masih deg degan sih untuk melakukan perjalanan, tapi bismillah saja.  Soalnya ini penting juga, gak bisa ditunda-tunda. Continue reading

Masih sempat ke Ora Beach

20200214_06570920200214_10372120200214_12021720200214_12534920200214_15191420200214_16135020200214_16383620200214_16424420200214_19380820200214_19503420200215_10380920200215_10413220200215_104151
Bersyukur tahun ini masih sempat jalan-jalan tenang sebelum covid-19 melanda. Januari ke Ora Beach dan Turki, Februari ke Mamuju dan ke Hanoi. Jalan-jalan domestik sebenarnya sekalian dinas. Bidang saya dan bidang lain kolabs mengadakan pertemuan teknis di Ambon dan setelahnya saya dan beberapa orang extend untuk ke Ora Beach. Di awal sebenarnya agak ragu, cukupkah waktunya berangkat Jumat pulang Minggu pagi ke Makassar. Namun bro Alias, kakacab di Ambon meyakinkan itu memungkinkan dan kami disupport kendaraan plus drivernya. Thank you bro. Continue reading

Menelusuri Kota Tua Luxembourg

Luxembourg City adalah kota transit terakhir dari perjalanan kami. Tadinya sempat galau di 2 malam tersisa apakah mau dihabiskan di Muenchen dan Luxembourg atau dihabiskan di Luxembourg dan Paris. Tertarik sih ke Muenchen tapi saya putuskan malam terakhir nginap di Paris saja. Lebih amannya gitu, karena kita bakal lebih awal berada di kota tempat kami akan terbang pulang ke Jakarta. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi seperti kendala di kendaraan, kendala di jalan dan sebagainya. Akomodasi tiba di Paris sampai Halstatt sudah saya booking saat di Indonesia sebelum berangkat. Yang 2 malam terakhir baru saya booking saat bermalam di Hallstatt setelah gak galau.

Continue reading

Hallstatt

Hallstatt dan Berlin yang menjadi highlight dalam perjalanan kami ke Eropa kali ini. Jadinya saya mengatur trip dengan rute memutar karena masuk dan keluarnya dari Paris. Dan jauh sebelum merencanakan trip ini, banyak postingan mengenai Hallstatt membuat saya berkata dalam hati, harus kesini untuk trip berikutnya.

Perjalanan ke Halsstatt tidaklah mulus. Kami nyasar sampai dua kali. GPS gak akurat membuat kami salah belok dan nyasar sampai ke jalan tanah yang kayaknya menuju hutan dan buntu. Malam-malam lagi. Duh, saya langsung berasa horror, membayangkan ada penjagal seperti di film Texas Chainsaw massacre. Kami mutar balik dan kembali ke jalan umum. Masih salah juga belokannya. Percobaan ketiga, kami memutuskan belok di belokan yang satunya. Jalannya bener tapi sepertinya jalan alternatif yang hanya muat satu mobil. Di sisi kanan dan kiri ada tumpukan salju setinggi mobil. Ini juga berasa serem, gimana kalo mobil kami ngadat di jalan dan gak ada rumah di sepanjang jalan itu. Sambil berdoa dan harap-harap cemas semoga jalan ini memang tembus ke Hallstatt. Sekitar 15menit melewati jalan tersebut, sampai kami di perumahan penduduk. Alhamdulillah, dari sini akhirnya kami bisa nyampe ke Hallstatt.

Continue reading

Pesona Ljubljana

IMG_2073

View of Ljubjana City from Ljubljana Castle

Dua jam berkendara dari Zagreb kami pun sampai di Ljubljana (baca: Liyubliana) ibukota negara Slovenia. Tujuan kami disini adalah old town Ljubljana. Sebagaimana negara yang lain, satu tujuan sudah bisa mencakup banyak place of interest yang ada di negara itu. Jarak dari tempat parkir paling cuma 50meter sudah sampai di pinggir sungai Ljubjanica. Old town Ljubljana terlihat tampak sangat menawan karena diapit Ljubljana Castle dan jalan pedestrian di tepi sungai Ljubljanica. Banyak pohon, banyak cafe outdoor di tepi sungai, dimana bisa duduk santai sambil memperhatikan orang yang lalu lalang.

Ljubljana sering disebut juga city of dragon. Naga merupakan binatang yang spesial yang menjadi simbol di negara ini sejak jaman dahulu kala.  Dari penggambaran awalnya sebagai monster, naga berubah menjadi pelindung simbolis kota, mewujudkan kekuatan, keberanian dan kebijaksanaan.

Di dalam kawasan old town terdapat banyak bangunan yang menjadi daya tarik antara lain Tromostovje atau The triple bridge, jembatan yang secara paralel yang melintas di atas sungai Ljubljanica. Kemudian ada Preseren Square, alun-alun di tengah kawasan old town yang juga sering dijadikan meeting point. Preseren Square dikelilingi beberapa bangunan bersejarah, antara lain gereja Fransiskan/Marijinega Franciskanska yang berwarna pink, juga berdekatan dengan Magistrat/Town Hall dan Ljubljana Cathedral. Continue reading

Sejenak di Prague dan Bratislava

456f7a01-cba4-4fb3-9228-fd75ac034fce

At Charles bridge

Bratislava merupakan kota selanjutnya yang akan menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slowakia yang memisahkan diri dari Cekoslowakia sejak tahun 1993.  Ini juga merupakan negara yang belum pernah saya kunjungi. Dari Berlin jaraknya kurang lebih 676 km. Kalo di Indonesia jarak segitu bisa menghabiskan 11-13jam, tapi disini hanya menghabiskan 6-7 jam karena nyaris semuanya melewati jalan tol. Kami bahkan masih sempat mampir di Prague, karena keluar tol dikit udah langsung masuk ke kota Prague. Setidaknya keluarga saya bisa punya memori tentang Charles Bridge dan Astronomical Clock yang ada di Old Town. Mungkin gak langsung ingat, saking banyaknya negara yang kita kunjungi hehe. Tapi bisa saja pada saat nonton film yang berlokasi di negara tersebut, biasanya saya ingatkan.

Menjelang perbatasan Jerman-Ceko, kami mampir untuk beli vignette. Vignette adalah tambahan pajak jalan toll. Vignette wajib dibeli pada saat memasuki negara-negara seperti Ceko, Slovakia, slovenia, Austria, Bulgaria, Hungaria, Moldova, Rumania dan Swiss. Jadi selain bayar toll berdasarkan jarak tempuh, wajib juga membeli vignette sebagai tambahan pajak yang berdasarkan periode waktu tertentu (7-14hari,1bulan, tahunan). Biasanya vignette dalam bentuk sticker yang wajib ditempel di kaca depan penumpang tapi dibeberapa negara sudah menerapkan e-vignette seperti Slovakia, Bulgaria, Hungaria dan Rumania. Continue reading

Menapaki jejak Tembok Berlin.

This slideshow requires JavaScript.

Berlin merupakan kota yang belum pernah saya kunjungi. Entah mengapa dua kali jalan-jalan ke Eropa, gak pernah minat ke Jerman. Eh sekalinya ke Berlin jadi nyesal kenapa cuman mengalokasikan waktu cuma semalam. Kotanya cantik dan auranya menyenangkan.

Begitu masuk di perbatasan Netherland-Jerman, sudah tidak ada penanda batas kecepatan. Artinya mobil bisa melaju sekencang-kencangnya. Wajar aja sih, Jerman terkenal dengan produksi mobilnya. Sampai ada 16 merk mobil yang diproduksi oleh negara ini diantaranya Porsche, BMW, Mercedes Benz, Audi, Opel, Volkswagen dan lain sebagainya. Jarak antara Amsterdam dengan Berlin sekitar 668 km tanpa terasa kami tempuh hanya 5jam 30 menit. Itupun sempat menghabiskan waktu mampir di Mcd di salah satu rest area. Mampir di Mcd paling beli kentang, fish fillet atau es krim. Yang lain gak berani. Juga sekalian pipis gratis. Di rest area kebanyakan toilet berbayar. Continue reading