Pejuang Pulang Jumat, Kembali Ahad

Ada satu kasta istimewa di dunia perantauan tapi nyata eksistensinya: pejuang pulang Jumat, kembali Ahad. Yap, golongan ini rela menempuh ribuan kilometer, menembus kemacetan, naik turun kendaraan umum, demi satu hal: bertemu keluarga walau hanya satu hari sampai tiga hari.

Saya salah satunya yang saat ini menjalani, meski ini bukan hal yang baru buat saya sih. Sudah 2 tahun 3 bulan rutinitas ini berjalan, kerja di Jakarta dan rumah di Bandung. Nyaris tiap minggu pulang kecuali saya ada kegiatan kantor di weekend atau pun saya lagi traveling bersama teman-teman. Kalo saya yang gak bisa pulang ke Bandung, anak-anak yang saya minta ke Jakarta. Paling tidak bisa diupayakan bertemu tiap minggu. Apalagi saya masih punya anak kecil umur 7 tahun yang sebenarnya lagi butuh-butuhnya perhatian dan kasih sayang.

Saya jarang kembali Ahad. Seringnya kembali Senin langsung ngantor. Jadi masih bisa menikmati 3 malam di Bandung disetiap minggunya. Alhamdulillah segala sesuatunya disyukuri aja deh. Paling tidak bisa bolak balik dengan mudah dengan pilihan transportasi beragam tapi tanpa avtur.

My homemade food from my messy kitchen

Saya gak setia dengan satu jenis transportasi, menyesuaikan sikon saja. Kadang nyetir sendiri, naik whoosh, atau naik travel. Plus minusnya ada, gak ada yang ideal. Pertimbangan waktu, biaya dan fleksibilitas.

Nyetir sendiri:

(+) bebas kapan aja bisa jalan. Dari Jakarta senangnya jalan jam 05 sore biar masih dapat terang sebagian dalam perjalanan menuju Bandung. Dari Bandung paling telat harus jalan jam 5.45, biar bisa sampai kantor sebelum 7.30.

(-) potensi kena macet, jika ada perbaikan jalan tol, terjadi kecelakaan atau hujan deras.

(-) costnya lumayan tol+bbm bisa min 300ribu

(-) risiko tinggi. Transportasi kendaraan merupakan yang paling rawan kecelakaan. Saya pernah dalam suatu pagi perjalanan Bandung-Jakarta menyaksikan 2 tabrakan beruntun yang masih gress, satu di km 100 trus satunya lagi di tol MBZ. Belum lagi jalur km 100 ke km 90, yang sering banget terjadi kecelakaan.

Naik travel tujuan Jatiwaringin:

(+) banyak pilihan jam dan layanan travel (menggunakan mobil hiace). Ada Jackal, Go Shuttle, Pasteur trans, Daytrans. Berangkat juga tepat waktu.

(+) cost murah dan bervariasi, berkisar antara 44ribu (go shuttle) -120ribu (jackal) per trip. Bahkan pernah liat promo Baraya hanya 20ribu tapi berangkat jam 02pagi dari bandung ke Jakarta dengan type kendaraan: bus.

(+) berangkat tepat waktu.

(-) potensi kena macet

(-) risiko tinggi.

Tiap travel adalagi plus minusnya:

Jackal : ini yang paling nyaman karena captain seat, kapasitas 7orang. Harga 120ribu. Langsung ke jatiwaringin melalui tol MBZ. Cuman gak enaknya mobil ini akan berhenti di rest area sekitar 20menitan karena driver istirahat dan ngopi dulu. Saya gak suka terlalu lama berhenti karena berpotensi gak bisa sampai sebelum 7.45.

Go shuttle: barusan nyoba yang ini karena ada promo 44ribu, kapasitas 12orang. Langsung ke jatiwaringin melalui tol MBZ dan hanya singgah untuk isi BBM. Berangkat jam 4.45 udah nyampai 06.40 di Jatiwaringin

Pasteur trans: kapasitas 12 orang, harga sekitar 85ribu. Gak enaknya mobil ini banyak titik penjemputan (menjemput penumpang di pool Cimahi) dan titik turun (2 titik di Bekasi sebelum ke Jatiwaringin) . Jarang lewat tol MBZ.

Daytrans: kapasitas 12 orang, harga bervariasi 78ribu-99ribu tergantung pilihan tempat duduk. Yang termurah duduk di tengah dan di belakang. Ada beberapa titik turun tapi ngantar pertama ke pool jatiwaringin melalui tol MBZ dan hanya singgah untuk isi BBM.

Naik kereta:

Saya belum pernah nyoba naik kereta untuk rute Jakarta-Bandung atau sebaliknya. Pilihan jamnya terbatas dan harus pesan jauh-jauh hari paling telat h-3 kalo mau kebagian tiket kereta di weekend. Harga berkisar 45ribu-145ribu untuk kelas ekonomi. Sekali waktu pengen juga nyoba moda ini. Barusan ada yang share kalo mau murah, jangan beli kereta langsung Jakarta-Bandung. Beli tiket keretanya dibagi 2, Jakarta-Purwakarta, Purwakarta-Bandung menghemat 50ribu. Lama perjalanan berkisar 2-3jam.

Atau kalo mau ngirit banget bisa naik kereta local. Tapi cocok bagi yang punya banyak waktu. Beli tiket Kiaracondong-Purwakarta, lanjut tiket Purwakarta-Cikarang, lanjut KRL Cikarang ke dalam kota Jakarta. Total biaya sekitar 17ribu tapi waktu yang dibutuhkan sekitar 7jam. Buset yah. Anak-anak yang sudah pernah saya suruh nyoba, biar banyak wawasan aja. Hehehe.

Naik whoosh:

Ini kasta tertinggi dalam dunia perjalanan Jakarta-Bandung. Saya jarang naik Whoosh karena harganya yang lumayan dan harus prepare waktu yang cukup untuk standby di stasiun Kcic. Harganya bervariasi, jam-jam tertentu bisa dapat harga 275ribu, standarnya 300ribu-450ribu. Namun kemarin saya mencoba berlangganan dengan membeli Whoosh Frequent Card. Ada 2 pilihan: Jaban silver, harga 1,35juta bisa dipakai 6x trip dalam jangka 30hari dari tanggal pembelian dan Jaban Gold, harga 2juta bisa dipakai 10xtrip dalam jangka 60hari dari tanggal pembelian.

Saya beli Jaban Silver di counter Kcic dan bisa langsung dipakai saat itu juga, akan dipilihkan kereta yang terdekat jamnya

Plus minus kartu Whoosh Frequent Card:

(+) harga fix, Jaban silver 1.35juta dibagi 6 = 225ribu/trip, jaban gold 2juta dibagi 6= 200ribu. Bisa hemat

(+) Jam operasi jam 06.00-21.25, kereta berangkat setiap setengah jam.

(+) mudah redeemnya meski masih harus ke counter. Bisa go show trus langsung berangkat tergantung ketersediaan. Gak perlu kuatir ketinggalan kereta karena hectic kemacetan lalulintas di Jakarta.  Kecuali senin pagi untuk kereta pertama jangan coba-coba goshow karena full. Saya pernah nyoba h-1 untuk redeem sudah gak dapat kereta pertama, dapatnya kereta kedua. Masih bisa nyampe kantor jam 07.45 juga.

(+) waktu tiba bisa diperkirakan dengan tepat, gak bakal kena macet tol Cipularang

(+) aman, risiko kecelakaan rendah

(-) lama perjalanan tidak saya jadikan keunggulan dari moda ini. Karena harus dihitung juga dengan waktu tunggu sampai proses boarding kereta dan juga waktu untuk naik kereta feedernya. Proses redeem sampai boarding sekitar 45menit, perjalanan kereta ke Padalarang 35menit, proses berganti dari whoosh ke feeder 5menit, naik feeder 20menit sehingga total 105menit. Dan tahapannya banyak.

Tapi semua itu dinikmati saja. Karena di ujung sana, ada rumah. Bisa kumpul lagi dengan anak-anak. Bisa masak-masak kesukaan anak-anak. Bisa belanja mingguan, jajan, jalan dan nonton bersama. Bisa main scrabble dan lain sebagainya.

Hidup merantau artinya berdamai dengan waktu yang terbatas dan pertemuan yang serba singkat.



Leave a comment