Transit di Colombo

Perjalanan kami menuju Kathmandu dengan SriLankan Airlines, maskapai nasional Sri Lanka, yang menawarkan rute Kuala Lumpur – Colombo – Kathmandu. Tiketnya saya dapat dengan harga promo, jadi lumayan terjangkau, meski konsekuensinya harus transit semalam di Colombo. Biar satu kali jalan dapat 2 negara baru yang dikunjungi, Srilanka dan Nepal.  Bagasi sudah kami check-in langsung ke Kathmandu, jadi kami hanya membawa 1 ransel berisi pakaian ganti untuk semalam saja.

Kami tiba di Bandaranaike International Airport sekitar pukul 12 siang. Di bagian imigrasi, petugas sempat heran kenapa kami memesan hotel di pusat kota, padahal penerbangan berikutnya pukul 8 pagi. Saya jawab saja, “Kami ingin jalan-jalan sebentar, lihat kota Colombo.” Si Bapak seperti tidak rela tapi akhirnya memberi cap paspor juga.

Saya menukar USD 50 dan mendapatkan 19.425 Sri Lankan Rupee (LKR) — kursnya sekitar 1 LKR = Rp55. Cukup untuk makan dan transport lokal selama sehari. Setelah itu, saya membeli kartu SIM lokal yang bisa berlaku 15hari supaya tetap bisa online selama di kota. Jadi begitu transit pulang kami masih bisa menggunakannya.

Dari bandara ke pusat kota berjarak sekitar 35 km. Kami naik shuttle bus ke Colombo, yang katanya akan berhenti di halte  yang dari situ sekitar 10 menit jalan kaki menuju hotel. Busnya juga lucu sih, satu baris itu formasinya 2-1, tapi diantaranya ada kursi cadangannya, dan bus ini penuh. Jadi kalo ada penumpang dari belakang turun, semua yang duduk di kursi cadangan harus berdiri dan melipir dulu memberikan kesempatan penumpang turun. Agak rempong ya. Dan ternyata bus berhenti di titik yang masih lumayan jauh. Akhirnya saya memesan bajaj lewat aplikasi Uber. Praktis, cepat, dan harganya jauh lebih murah dibanding taksi. Tiga orang muat dengan nyaman, jadi selama di Colombo kami pun kemana-mana naik bajaj.

Kami memilih menginap di The Ocean Colombo Hotel, yang berlokasi dekat pantai. Harganya sekitar Rp1,1 juta per malam untuk satu kamar bertiga. Kamarnya luas, bersih, dan punya pemandangan laut langsung dari jendela. Dari sana juga bisa terlihat kereta api lokal yang melintas di tepi pantai.

Untuk makan siang, kami mencari restoran halal dengan ulasan bagus dan pilihan jatuh pada Curry Pot Restaurant. Kami sempat ditawari menu prasmanan, tapi saya memilih pesan langsung dari menu supaya makanannya panas dan segar. Seperti biasa, saya tidak bisa melewatkan menu favorit setiap mampir ke restoran India: Butter Chicken. Rasanya gurih, lembut, dan pas dengan naan hangat.

Kami sempat berkeliling kota, mengunjungi Galle Face Green, ruang publik terbuka di tepi laut yang jadi ikon kota Colombo. Tempat ini seperti alun-alun besar di pinggir Samudera Hindia. Menjelang sore, suasananya ramai oleh warga lokal yang jalan santai, bermain layang-layang, atau sekadar duduk menikmati angin laut. Lanjut lagi ke Gangaramaya Temple (walau akhirnya tidak masuk), dan malah lebih tertarik pada kuil kecil di pinggir danau di dekat situ. Sore menjelang malam kami mampir ke Colombo Lotus Tower yang megah, lalu ke Masjid Jami Al-Utar.. Sebelum magrib, kami sudah kembali ke hotel dan menikmati sunset dari rooftop dengan pemandangan laut.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5 pagi, kami sudah berangkat ke bandara naik taksi. Sopir taksi sempat heran karena tarif di aplikasi hanya 275 LKR. Saya bilang tidak tahu, tapi sudah menyiapkan 3.500 SLR, malam sebelumnya saya cek biaya taxi ke bandara sekitar segitu, jadi bayar sesuai kewajaran saja. Ternyata di imigrasi saya bertemu lagi dengan petugas yang kemarin; dia tersenyum dan bertanya apakah saya masih mengingatnya. Ya iyalah pak, soalnya bapak seperti gak percaya kami akan balik lagi.

Saat perjalanan pulang, kami transit lagi di Colombo dan kali ini menginap di Airport City Hotel, sekitar 15 menit jalan kaki dari bandara. Hotelnya sederhana tapi bersih, cukup untuk istirahat semalam dengan harga Rp500 ribu per kamar bertiga. Sebenarnya kita pengen bayar dengan USD30, tapi resepsionis menolak meminta dibayar tunai 9000LKR. Saya cuma punya duit sisa 1700LKR. Jadi terpaksa ngambil duit di ATM bawah. Ngambil 8000LKR plus fee atm 1000LKR. Sebenarnya SriLankan Airlines menyediakan akomodasi gratis untuk transit, tapi hanya bagi tiket dengan harga tertentu. Karena tiket kami promo, fasilitas itu tidak berlaku, tapi tak masalah.

Dari kunjungan singkat ini, saya mendapat kesan bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, jauh lebih maju dibanding Colombo. Mulai dari infrastruktur, transportasi publik, hingga pelayanan bandara terasa lebih tertata. Melihat kereta api lokal di Colombo, dengan pintu terbuka dan penumpang berdiri di tepinya, membuat saya teringat masa-masa sebelum era pembenahan KAI oleh Jonan dulu. Transit singkat di Colombo ini jadi pengingat kecil betapa pentingnya kemajuan dan keteraturan yang kadang kita anggap biasa.

Penerbangan kami dengan SriLankan Airlines juga punya banyak cerita, dari yang menyenangkan sampai yang bikin geleng-geleng kepala. Rutenya Kuala Lumpur – Colombo – Kathmandu, dengan formasi kursi 3-3, pesawat jarak menengah yang cukup nyaman dan bersih. Secara keseluruhan pengalaman terbang dengan SriLankan Airlines cukup baik.

Begitu naik pesawat dari Kuala Lumpur, saya langsung sadar ada hal berbeda: sekitar 90% penumpangnya laki-laki. Entah rombongan pekerja atau pelancong, tapi suasananya terasa cukup “maskulin”. Tatapan-tatapan dari beberapa arah terasa jelas, bukan tatapan jahat sih, tapi membuat kami kikuk ingin cepat duduk dan menunduk.

Sistem inflight entertainment-nya bagus dan sudah bisa digunakan bahkan sebelum take off, dengan banyak film baru dari Hollywood dan Bollywood. Tapi ada hal kecil yang bikin kurang nyaman: headset dibagikan terlambat dan diambil lagi terlalu cepat sebelum mendarat. Jadilah sebagian film saya tonton tanpa suara, hanya membaca subtitle sambil menebak-nebak ekspresi pemainnya.

Untuk urusan makanan, SriLankan Airlines cukup memuaskan. Menunya halal, rasanya enak, dan penyajiannya rapi. Yoghurtnya hanya tersedia satu rasa, tapi air putih sering ditawarkan, jadi penumpang tidak kekurangan minum.

Ada momen kecil yang membuat saya heran: karena ada makanan yang tidak tersentuh, saya berniat membawa makanan untuk dimakan nanti. Diliat sama pramugarinya dan dia bilang, “Ma’am, you cannot take that, it’s airline property.”Saya sempat bingung — kemasannya saja dari aluminium foil sekali pakai, bukan piring pesawat. Biasanya di maskapai lain tidak masalah, kecuali memang peraturan negara tujuan seperti Australia yang melarang membawa makanan dari pesawat. Akhirnya saya akali: makanannya saya pindahkan saja ke kotak bekal pribadi yang saya bawa.

Selimut hanya diberikan jika diminta. Saya sempat meminta satu dan langsung diberikan dengan senyum ramah. Secara pelayanan, awak kabinnya sopan dan profesional, meski terlihat cukup sibuk menghadapi berbagai perilaku penumpang.

Saat pesawat mulai proses landing, salah satu penumpang di dekat saya malah berdiri dan berjalan menuju toilet, padahal pesawat sudah sebentar lagi mau mendarat.  Pramugari dengan cepat menegurnya, setelah kembali duduk, dia tidak memakai sabuk pengaman. Kejadian cuek dengan sabuk pengaman ini tidak cuma dalam 1 penerbangan saja.

Yang cukup mengganggu adalah kejadian saya tidak boleh menurunkan sandaran kursi. Dua kali terjadi di dua penerbangan berbeda. Awalnya saya maklum. Tapi di penerbangan berikutnya, saya agak ngeyel, ditegur sambil dorong kursi saya tetap cuek lalu penumpang di belakang mengadu ke pramugara. Pramugara datang, tanpa banyak bicara, langsung menegakkan kursi saya. Mau marah tapi ya sudahlah.

Meski singkat, transit semalam di Colombo memberi cerita tersendiri sebelum akhirnya terbang menuju Kathmandu, awal dari petualangan baru di Nepal.

 



Leave a comment