Salah satu negara yang akan saya kunjungi dalam trip kali ini adalah Moldova. Negara kecil di Eropa Timur yang mungkin belum terlalu populer di kalangan wisatawan Indonesia. Justru itu yang membuat saya penasaran.

Rencananya sederhana. Saya akan terbang dari Istanbul ke Chisinau, menginap satu malam, lalu melanjutkan perjalanan ke Riga, Latvia, keesokan harinya. Hanya satu malam saja. Tidak ada itinerary yang muluk-muluk. Saya hanya ingin merasakan vibe negaranya, berjalan-jalan di pusat kota, dan menambah satu negara baru dalam daftar perjalanan.

Trip kali ini juga merupakan bagian dari misi pribadi saya untuk mengunjungi sebanyak mungkin negara di Eropa yang belum pernah saya datangi. Kebetulan visa Schengen multiple saya masih berlaku sampai Juli 2026, jadi sayang rasanya kalau masa berlaku visa tersebut tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Rute perjalanan yang saya susun kali ini adalah:

Jakarta – Istanbul – Chisinau (Moldova) – Riga (Latvia) – Lithuania – Barcelona – Andorra – Valletta (Malta) – Athena – Jakarta.

Dari rute tersebut, saya berkesempatan menambah lima negara baru dalam daftar perjalanan saya, yaitu Moldova, Latvia, Lithuania, Andorra, dan Malta.

Awalnya saya sempat bercita-cita menyelesaikan seluruh negara Eropa yang tersisa dalam satu perjalanan. Namun setelah menghitung waktu cuti, budget, dan logistik perjalanan, ternyata belum memungkinkan.

Masih ada beberapa negara yang harus menunggu kesempatan berikutnya:

  • Portugal
  • Iceland
  • Belarus
  • Ukraina
  • Ireland
  • Cyprus

Belarus sebenarnya cukup menarik karena memiliki fasilitas bebas visa bagi beberapa kategori pengunjung yang masuk dan keluar melalui jalur udara. Namun harga tiket menuju ke sana masih tergolong mahal untuk ukuran budget perjalanan saya.

Ukraina juga sudah lama masuk wishlist. Sayangnya kondisi perang yang masih berlangsung membuat negara tersebut belum memungkinkan untuk saya kunjungi dalam waktu dekat.

Ternyata Tetap Harus Mengurus e-Visa

Awalnya saya cukup pede karena sudah memiliki visa Schengen multiple. Saya pikir dengan visa Schengen, masuk Moldova akan lebih mudah.

Ternyata saya salah.

Setelah mencari informasi lebih lanjut, saya baru tahu bahwa pemegang paspor Indonesia tetap harus mengajukan e-Visa Moldova. Bedanya, kalau sudah memiliki visa Schengen yang masih berlaku, kita tidak perlu lagi melampirkan invitation letter.

Lumayan lega sih, karena mengurus invitation biasanya menjadi salah satu bagian yang cukup merepotkan.

Jujur saja, setelah mengetahui bahwa Moldova tetap mensyaratkan e-Visa bagi WNI, saya sempat mempertimbangkan untuk menghapus Moldova dari itinerary.

Saya lalu mencoba mencari alternatif rute lain dari Istanbul menuju negara-negara Baltik tanpa harus mampir ke Chisinau.

Masalahnya, tidak mudah menemukan kombinasi yang pas.

Saya punya beberapa kriteria sederhana dalam memilih penerbangan antarnegara di Eropa:

  • harga tiket idealnya di bawah Rp2 juta per penerbangan,
  • direct flight kalau memungkinkan,
  • kalau transit cukup satu kali transit,
  • tetap dalam satu maskapai,
  • tidak perlu pindah bandara,
  • dan durasi perjalanan masih masuk akal.

Setelah berkali-kali membuka mesin pencari tiket dan mencoba berbagai kombinasi rute, ternyata Moldova tetap menjadi pilihan yang paling cocok, baik dari sisi harga maupun konektivitas penerbangan.

Akhirnya saya memutuskan tetap lanjut mengajukan e-Visa dan berharap semuanya berjalan lancar.

Mulai Mengajukan e-Visa

Saya melengkapi dokumen dan submit aplikasi e-Visa pada tanggal 25 Mei 2026.

Biaya pengajuan visanya sebesar 40 Euro. Secara nominal memang tidak terlalu mahal dibanding biaya visa negara-negara Eropa lainnya, tetapi tetap saja rasanya sayang kalau sampai ditolak.

Dokumen yang saya submit sebagai data pendukung cukup banyak:

  • Paspor
  • Visa Schengen yang masih berlaku
  • Bukti akomodasi di Chisinau
  • Bukti keuangan
  • Tiket pesawat masuk dan keluar Moldova
  • Pas foto

Semuanya saya scan dan upload satu per satu.

Setelah tombol submit ditekan, tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu.

Harap-Harap Cemas

Bagian paling tidak enak dari mengurus visa sebenarnya bukan menyiapkan dokumen.

Tapi menunggu hasilnya.

Apalagi ketika tiket pesawat sudah terlanjur dibeli.

Selama menunggu, pikiran mulai ke mana-mana.

Bagaimana kalau e-Visa tidak disetujui?

Bagaimana kalau ada dokumen yang kurang?

Bagaimana kalau ternyata ditolak?

Untuk penerbangan Istanbul–Chisinau, saya masih agak tenang karena sengaja mengambil opsi free refund dengan tambahan biaya sekitar 5 Euro. Jadi kalau terjadi sesuatu, setidaknya masih ada jalan keluar.

Yang membuat saya lebih waswas justru tiket Chisinau–Riga.

Maskapai yang saya pilih tidak menyediakan opsi refund fleksibel. Dan yang bikin tambah sedih, harga tiketnya juga tidak murah. Kalau visa tidak keluar, tiket itu berpotensi hangus.

Yang membuat saya semakin deg-degan, estimasi penyelesaian e-Visa adalah tanggal 4 Juni 2026. Padahal tanggal tersebut tinggal H-8 sebelum keberangkatan saya dari Jakarta. Hiks.

Bagi sebagian orang mungkin delapan hari masih cukup lama. Tapi buat saya yang sedang menyusun perjalanan lintas beberapa negara, delapan hari itu terasa sangat mepet. Apalagi Moldova berada di tengah itinerary. Kalau visa tidak keluar, ada kemungkinan saya harus mengubah sebagian rencana perjalanan yang sudah disusun.

Akibatnya, saya juga tidak berani terlalu jauh membuat itinerary lanjutan. Memang tiket masuk dan keluar Moldova sudah saya pegang, tetapi untuk detail perjalanan setelahnya saya masih menahan diri. Rasanya sayang kalau sudah booking ini-itu, lalu ternyata harus dibatalkan.

Jadi setiap hari rutinitas saya bertambah satu: buka email, cek status aplikasi, lalu berharap ada kabar baik 😅

Negara yang Tidak Masuk Banyak Bucket List

Kalau dipikir-pikir, mungkin banyak orang akan bertanya:

“Kenapa sih repot-repot ke Moldova?”

Pertanyaan yang valid.

Moldova memang bukan destinasi impian kebanyakan wisatawan. Tidak punya menara ikonik seperti Paris, tidak punya Colosseum seperti Roma, dan tidak punya aurora seperti negara-negara Nordik.

Tapi justru itu yang membuat saya penasaran.

Saya selalu menikmati pengalaman mengunjungi negara yang jarang masuk itinerary wisatawan Indonesia. Kadang yang dicari bukan objek wisatanya, melainkan suasananya. Melihat bagaimana kehidupan berjalan di negara yang selama ini hanya saya lihat di peta.

Lagi pula, saya hanya akan menghabiskan satu malam di Chisinau. Mungkin tidak cukup untuk mengenal Moldova secara mendalam, tetapi setidaknya cukup untuk mendapatkan kesan pertama tentang negara yang jarang terdengar ini.

Karena itulah saya rela mengurus e-Visa, membeli tiket tambahan, dan menyisipkan satu malam di Chisinau di tengah itinerary yang sudah cukup padat.

Sekarang tinggal menunggu hasilnya.

Semoga email persetujuan e-Visa segera masuk ke inbox dan saya bisa berangkat ke Moldova tanpa drama tambahan.

Kalau approved, Moldova akan menjadi satu negara baru lagi yang berhasil saya kunjungi.

Kalau belum approved?

Saya belum mau memikirkan skenario itu dulu 😆

Karena ternyata perjalanan ke Moldova sudah dimulai sejak saya menekan tombol “Submit Application”, bukan saat pesawat lepas landas dari Jakarta. Dan kalau visa ini akhirnya approved, mungkin satu malam di Chisinau akan menjadi salah satu malam yang paling berkesan dalam perjalanan ini—bukan karena lamanya tinggal, tetapi karena proses menunggunya yang bikin deg-degan setiap hari. ✈️😊

catatan: ini bikinnya saat degdegan menanti email visa, tapi baru diposting sekarang

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading