Hampir tengah malam, tiba-tiba muncul notifikasi email. Jantung langsung berdegup sedikit lebih cepat.

“Jangan-jangan ini email persetujuan e-Visa Moldova.”

Dengan penuh harap saya membuka email tersebut.

Beberapa detik kemudian…

Pupus sudah harapan mampir ke Moldova.

Pengajuan e-Visa saya ditolak.

Padahal sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah rutin mengecek email berkali-kali setiap hari. Bahkan karena estimasi penyelesaian visanya jatuh di H-8 sebelum keberangkatan dari Jakarta, rasanya setiap notifikasi email membuat saya berharap.

Sayangnya, yang datang justru kabar yang tidak ingin saya baca.

Di dalam email dijelaskan bahwa permohonan visa saya tidak dapat diproses lebih lanjut.

Ada dua alasan yang disebutkan.

Alasan pertama, dokumen dan informasi yang saya lampirkan dianggap tidak sesuai dengan jenis visa yang saya ajukan, yaitu visa turis.

Jujur, bagian ini saya masih agak bingung.

Karena saya sudah melampirkan tiket masuk dan keluar Moldova, bukti hotel, bukti keuangan, visa Schengen, hingga itinerary perjalanan.

Alasan kedua lebih jelas.

Travel insurance yang saya gunakan ternyata tidak mencakup wilayah Moldova. Oh iya, saya membeli travel insurance dari OTA untuk wilayah Schengen. Ini kesalahan saya, saya tidak sadar bahwa yang saya beli itu travel insurance khusus untuk schengen. Soalnya waktu itu saya masukkan negara-negara yang akan saya kunjungi, saya masukkan juga Moldova dan gak ada penolakan juga. Moldova bukan negara Schengen. Mengapa ini terjadi? Hadeuh. Padahal sewaktu ngetrip ke Balkan saya mengambil travel insurance yang tepat yaitu jenis worldwide insurance karena mencakup wilayah
Schengen dan non Schengen.

Di bagian akhir email juga disampaikan bahwa saya dapat mengajukan visa transit, dengan estimasi proses sekitar 10 hari kerja.

Masalahnya saya sudah tidak punya waktu. Saat email itu datang, keberangkatan saya dari Jakarta tinggal tujuh hari lagi.

Mustahil menunggu proses visa baru selesai.

Ya sudah. Mau bagaimana lagi. Harus ikhlas.

Padahal saya cuma ingin menghabiskan satu malam di Chisinau.

Tidak ada itinerary yang muluk-muluk. Saya hanya ingin berjalan-jalan di pusat kota, merasakan suasana Moldova, lalu keesokan harinya terbang ke Riga. Ternyata memang belum berjodoh.

Yang sedikit menghibur, tiket penerbangan Istanbul–Chisinau masih bisa saya batalkan karena sebelumnya saya membeli opsi free refund dengan tambahan biaya sekitar 5 Euro.

Akomodasi juga masih bisa dibatalkan tanpa biaya.

Tapi tetap saja ada kerugian yang tidak bisa dihindari.

  • Biaya e-Visa Moldova: 40 Euro
  • Tiket pesawat Chisinau–Riga: sekitar Rp2,7 juta, hangus.

Kalau ditotal, kerugian saya sekitar Rp3,5 juta. Lumayan.

Kecewa? Jelas.

Apalagi saya termasuk tipe yang cukup hati-hati menyusun itinerary dan membeli tiket.

Tapi ya namanya traveling.

Kadang memang ada biaya belajar yang harus dibayar.

Saatnya Putar Otak

Karena kesibukan saya baru mulai menyusun itinerary dua hari kemudian.

Target saya dari awal tetap sama.

Harus ada lima negara baru dalam perjalanan kali ini.

Kalau Moldova batal, berarti saya harus mencari penggantinya.

Saya mulai membuka peta Eropa, mengecek rute penerbangan, membandingkan harga tiket, menghitung koneksi, sampai mengecek lagi aturan visa setiap negara.

Akhirnya pilihan jatuh ke Northern Cyprus.

Kenapa?

Karena rutenya masih memungkinkan, harga tiket masih masuk budget, dan yang paling penting saya tetap bisa menambah satu negara baru dalam daftar perjalanan.

Memang sedikit memutar arah, tapi masih sangat memungkinkan.

Yang bikin perjalanan ini semakin seru adalah semua perubahan itinerary baru benar-benar selesai sekitar H-5 sebelum keberangkatan.

Saya harus memesan ulang tiket pesawat. Memesan akomodasi. Mengatur ulang jadwal penerbangan. Menghitung ulang waktu transit. Memastikan semuanya tetap nyambung. Untungnya saya memang cukup menikmati proses menyusun itinerary.

Akhirnya itinerary berubah menjadi:

Jakarta → Istanbul → Lefkoşa (Northern Cyprus) → Ankara → Barcelona → Andorra → Vilnius → Riga → Valletta → Athens → Jakarta.

Itinerary ini cukup riskan, ada bagian yang cukup kritis yaitu Jakarta-Lefkosa dalam 1 hari 3x naik pesawat. Andorra sampai ke Valletta dalam 30jam dengan 2x naik bus dan 2x naik pesawat. Saya memutuskan mengambil risiko ini, sambil banyak berdoa. Waktunya ngepas sangat. Ini sangat membutuhkan ketepatan waktu dan tidak boleh ada kesalahan.

Kalau dipikir-pikir, justru perubahan ini membuat perjalanan saya semakin unik.

Pengalaman ini kembali mengingatkan saya bahwa traveling itu bukan hanya soal destinasi.

Tetapi juga soal kemampuan beradaptasi.

Kadang kita sudah menyusun itinerary, sudah menghitung budget sampai ribuan rupiah, eh ada saja halangan.

Daripada meratapi kerugian mending segera bangkit mencari solusi.

Karena meskipun kehilangan sekitar Rp3,5 juta memang menyakitkan, membatalkan seluruh perjalanan tentu akan jauh lebih menyakitkan. Saya sudah dikasih ijin cuti dan  Saya udah punya visa Schengen yang bikin saya berkesempatan untuk menambah pengalaman di negara baru.

Moldova mungkin belum berjodoh tahun ini. Tidak apa-apa. Saya percaya setiap negara punya waktunya sendiri untuk dikunjungi.

Itinerary boleh berubah. Tiket boleh hangus. Visa boleh ditolak. Tapi semangat untuk menjelajah dunia jangan ikut hilang.

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading