MENUJU BROMO

Day-1 Sabtu, 10 Juli 2010

Pagi-pagi check out dari hotel jam 07.00 berangkat ke Terminal Bungurasih (was Terminal Purabaya or now), yah gak jadi deh mencicipi kolam renangnya Sheraton. But that’s okay, coz bromo lebih menggiurkan. Mending cepat2 jadi kalopun ada hambatan masih banyak waktu.

Saya janjian dengan adie, seorang teman di milis ibp di terminal ini untuk sama-sama ke bromo.

Naik bis jurusan Jember Banyuwangi, gak terlalu lama sih ngetemnya di terminal, karena rupanya trayek yang cukup rame. Rencana kami akan turun di Probolinggo.

Akhirnya saya melewati porong, timbunan lumpur lapindo, daerah yang selalu macet. Rencananya kalau cukup waktu pada saat pulangnya kami akan singgah untuk melihat lumpurnya. Perjalanan makan waktu 3 jam, jam 10.30 kami turun di depan terminal probolinggo. Untuk ke cemoro lawang ada bis bison yang mangkal di depan terminal. Sebenarnya sih, rute kami ingin ke air terjun Madakaripura dulu baru ke Bromo, karena berdasarkan info hasil browsing-browsing bagusnya ke sana dulu. Tapi setelah nanya sana sini di area ngetemnya bison ke bromo, mereka memberi saran untuk ke bromo aja, setelah itu baru nyari cara ke air terjun madakaripura. Ternyata agak susah mendapatkan transportasi ke air terjun tersebut, jadi liat gimana nanti deh.
Begitu kami naik bison, semua yang ada di bison tersebut pada senang banget, karena sisa nunggu 3 orang baru jalan. Ibu yang duduk di depan cerita bahwa dia udah ada di bison itu dari jam 8. Waduhhh. Beruntunglah kami karena tidak berapa lama akhirnya penuh dan bison pun jalan. Jumlah penumpang didalam mobil ada 20 orang, dan gak terhitung yang ada diatas mobil. Busettt. Perjalanan ke cemoro lawang 1.5 jam. Dan beruntung juga di bison itu, kami mendapatkan teman jalan 4 orang untuk sharing penginapan dan jeep. Tiba di cemoro lawang, kernet bison membantu mencarikan penginapan. Hampir semua penginapan penuh, terlambat sedikit kami tiba disana, full deh. Namun akhirnya dapat 2 kamar dengan harga 300rb. Kami segera mencari tau untuk sewa jeep menuju puncak pananjakan. Jeepnya masih tersedia. Karena bingung mau ngapain secara bromo itu dinikmati di kala malam menjelang subuh, kami memutuskan turun jalan-jalan iseng. Kata penghubung atau calo jeep, ada jalan pintas menuju lautan pasir. Yah dicoba deh, mumpung semua masih pada semangat jalan, padahal kalo diliat kayaknya imposible banget untuk sampai ke bromo. Jauhhhhh banget. Hanya semangat jalan dan rasa narsisisme (baca: gi-fo) yang membuat kami akhirnya sampai disana. Suhu belum menjadi masalah karena waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Dingin tapi belum menusuk. Energi sy pun hanya ditunjang oleh semangkok bakso pentolan. Nafas kami atur dengan berhenti sejenak. Ngapain? Take pictures lahhh.

Melewati jalan setapak turun menuju gunung bromo dari desa Cemoro Lawang

Melewati jalan setapak turun menuju gunung bromo dari desa Cemoro Lawang

Kami sampai ke patok-patok yang sengaja dibuat untuk memberi batasan agar kendaraan bermotor tidak masuk dan memberi kesempatan penjaja jasa kuda untuk mencari sesuap nasinya. Mobil hanya bisa parkir dan para pengunjung tetap harus berjalan kaki atau naik kuda sampai di kaki tangga menuju bromo.

bromo

Beberapa penjaja jasa kuda menawarkan kuda-kudanya seharga 50rb sampai dikaki tangga, tapi kami tetap keukeh untuk jalan kaki menyusuri lautan pasir. Mereka nawarin foto di atas kuda “gak perlu bayar” kata mereka, segera kami sadar kamera banget. Meski kata mereka ikhlas gak perlu bayar, kami tetap ngasih lah. Kakiku yang beralaskan sandal gunung penuh debu. Tapi no problem, sy menikmati waktu dan mensyukuri nikmat atas keindahan panorama bromo. Kami melewati pura tempat dimana masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Capek, tapi kami saling menyemangati. Belum tentu dalam kurun waktu 10 tahun kami kesini lagi. Ayo!!!!

Meniti tangga menuju bromo

Meniti tangga menuju bromo

Di puncak gunung Bromo, tampak asap belerang yang berbau cukup menyengat. Gunung Batok kelihatan sangat dekat. Cukup banyak penjaja makanan dan minuman disini.

bromo1

Rasanya ingin berlama-lama, tapi kami harus memperhitungkan waktu untuk sampai kembali ke penginapan secara kami untuk sampai ke puncak butuh waktu 3 ½ jam (tapi plus berfoto-foto). Kami turun, berjalan pelan dan sudah tidak berfoto-foto lagi. Kami berempat (sy, adie, ajeng n Belinda) cerita-cerita tentang travelling sepanjang jalan. Adie sudah cukup expert untuk urusan jalan-jalan, ajeng n Belinda adalah mahasiswi its jur teknik lingkungan sem 7, yang baru memulai hobi jalan-jalan mereka.

Kami melewati lautan pasir tapi tidak ingin melalui jalur yang sama menuju penginapan. Di dekat patok, ojek menawarkan jasanya. Iseng-iseng kami menawar dan mau dibayar 5rb/1ojek.

Sampai di penginapan, sy langsung mandi, gak tahan dengan debu meski dinginnya menusuk-nusuk tulang. Brrrrrrr. Dinginnya melebihi air di Malino atau di kampungnya K’Idrus. Aqua aja ditaruh di meja, tak berapa lama berembun dan dingin.

Ternyata jeep yang dijanjikan sudah deal dengan penumpang lain. Terpaksa kami sibuk mencari jeep yang lain. Cukup sulit, karena pengunjung bromo tumplek blek. Ini musim liburan anak sekolah. Ada yang Cuma bisa mengantar ke puncak Pananjakan-2 pake mobil biasa. Hanya jeep hardtop yang mampu merapat ke puncak pananjakan-1. Ada juga yang ngasih solusi diantar paling cepat ke puncak jam 2pagi, baliknya paling akhir sekitar jam 7pagi. Ogah apalagi minta bayaran 400rb/jeep. Ada juga nawarin ojek. Akhirnya iseng-iseng nanya ke tempat resmi penyewaan jeep, eh ternyata ada, dan malah sesuai harga karcis resmi lagi 275rb. Alhamdulillah.

Kami juga sekalian mencari tahu cara ke air terjun Madakaripura, tapi susah dan mahal. Ada yang nawarin 600rb/jeep. Oh no, no, no. Susah karena tidak ada transportasi umum yang kesana, harus carter mobil atau ojek.

Dengan menyewa jeep kita akan diantar ke Puncak Pananjakan tempat melihat view sunrise-nya bromo dan setelah selesai akan diantar ke kawah gunung bromo. Karena udah ke kawah gunung bromo tadi, so cukup ke puncak pananjakan saja.

Beruntunglah kami udah ke kawah, masih sepi pengunjung. Kalo besok pagi banyak orang akan tumpah ruah disana. Informasi dari supir jeep, jumlah hardtop yang melayani adalah sebanya 150 jeep, kalo ditambah dari pasuruan + probolinggo sekitar 100 jeep, total jenderal 250 jeep x 6 penumpang, akan ada sekitar 1500 pengunjung di bromo. Rame banget.

Setelah makan di Warung Tante Tolly, sy makan sate kambing+nasi goreng+hati ampla. Laparrr. Warung ini termasuk lengkap menunya dan gak terlalu mahal.

Didekatnya ada toko yang menawarkan perlengkapan menahan dingin seperti kaos tangan, kupluk, syal dan sebagainya. Sayang kupluk udah sy beli duluan di pedagang asongan seharga 15rb, sementara di toko itu untuk model yang sama hanya 8rb. Kaos tangan yang paling bagus Cuma 4rb sepasang. Mau beli baju kaos cap bromo juga tersedia disini.

Jam 8 sudah sampai di kamar, mau ngapain yah. Dingin banget, rasanya sudah tak mampu bergerak. Untuk tidur juga susah, terganggu sama dinginnya suhu di bromo. Padahal baju udah berlapis tiga dan celana berlapis dua.

Jam 3 kami bangun dan siap-siap. Jeep sudah menunggu. Sebelum turun, kami ditahan di loket, masih harus bayar tiket masuk seharga 6rb/orang. Tampak banyak orang berjalan, kata si supir jeep, mereka gak dapat jeep, jadi paling hanya sampai di kawah gunung bromo. Tampak pula berbagai gerombolan anak muda berkemah di padang pasir dan ada yang mencoba berjalan kaki menuju Puncak Pananjakan. Lebih baik gak usah dicoba, karena sampai puncak pastinya udah pagi. Itu kan jauh banget. Ada pula yang naik ojek sampai puncak. Segala cara dilakukan untuk mengejar sunrise bromo dengan penuh semangat.

suasana memburu sunrise di pananjakan bromo

suasana memburu sunrise di pananjakan bromo

Jam 4 kami sampai di puncak, pak supir bilang, usahakan jangan terlalu lama di puncak, karena kalo terlambat turun, akan terjadi kemacetan yang luarbiasa. Ok, diusahakan. Turun dari mobil, banyak penyewaan jaket super tebal seharga 10rb. Kami bertahan, gak ada yang menyewa meski super dingin. Ojek juga kami lewatkan, karena kata pak supir jeep, tempat parkir mobil kita udah gak jauh dari puncak. Disebelah kiri kanan, banyak warung yang menyediakan minuman hangat, mie rebus, jagung, serta souvenir khas bromo.

Banyak juga yang menginap di puncak. Hebatt. Kami segera mencari tempat paling depan, kami menyelinap di antara tripod-tripod yang dipasang khusus dan gak mau bergeser lagi takut tempat kami diambil yang lain.
Sayang, matahari dengan malu-malu bersinar dan bersembunyi di balik mendung. The view of the sunrise was not perfect. But that’s okay. Mungkin waktunya gak tepat. Pemandangan tampak cantik banget. Dari kejauhan tampak Gunung Semeru dibelakang Gunung Batok. Kerennn.

Advertisements

2 thoughts on “MENUJU BROMO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s