Warung Ijo Ubud

Bertemu dengan teman lama memang harus di niatin. Kalo gak kayak gitu, bakal tertunda terus dan gak jadi prioritas. Beberapa kali ke Bali, gak pernah sempat meet up dengan 3 temen SMP yang tinggal di Bali. Mereka pendatang di Bali asal Makassar, Arti ikut suaminya, Jamil buka usaha rumah makan di Ubud dan Arfan yang gak jelas kerjanya tapi keluar negeri terus. Arti malah pernah tetanggaan saat ngekos rumah petak di Palu hampir 4 tahunan. Jamil gak pernah ketemu lagi sekitar 14 tahun. Arfan masih ketemu sekali-kali di Makasar, karena dia sering pulang. Cuma terkoneksi dengan grup WA. Mumpung ke Bali murni liburan dan kita gak punya itin yang padat, maka disempatin untuk janjian. Biar rasa itu nyambung lagi. Ciee.

Saya janjian sama Arti di parkiran Joger, tadinya mau di hotel cuman kita udah nunggu cukup lama dan makan waktu untuk muter jauh dari Pantai Kuta ke arah Joger. Mobil rental kita titip di parkiran dan ikut di mobilnya Arti. Bebas dari google map deh. Tujuan kita ke Ubud ke rumah makannya Jamil yang bernama Warung Ijo Ubud. Sempat mampir ke Tegalalang, sawah terasering salah satu icon Ubud. 

Warung Ijo ini terletak di pusat Ubud, sebelah kiri ada Breadlife dan satu tempat dengan money changer yang pusatnya ada di Makassar tempat biasa saya nuker duit. Money changer itu milik bosnya Jamil, nyewa tempat disitu dan masih ada space yang bisa dimanfaatkan untuk rumah makan. Maka ditawarilah temanku itu buat joint usaha rumah makan. Jamil mau saja asal sistemnya joint, gak pengen digaji lagi sebagai manager. Dulunya dia manager di resto bosnya di Makassar.

WhatsApp Image 2017-09-08 at 18.32.39

With Arty dan Jamil

Sepintas rumah makannya tidak terlalu menarik perhatian dan tidak mudah cari parkiran. Sesuai dengan namanya seluruh dindingnya di cat ijo. Sebagian model lesehan sebagian lagi meja makan standar.  Gak ada yang istimewa soal dekor dengan lampu agak temaram. Tapi yang istimewa adalah makanannya. Saat kita datang, tempat itu nyaris penuh. Menunya cukup banyak, ada aneka pilihan prasmanan dan ada menu made to order. Misua pas datang langsung ambil piring memilih sendiri makanan prasmanan. Dia juga bilang enak, secara dia pemilih makanan. Saya yang gak terlalu doyan menu prasmanan pesan nasi goreng seafood, enak pake banget. Dan porsinya banyak sekali.  Harga terjangkau dan pastinya halal. Bilang enak bukan karena ini warung milik teman lho atau dapat gratisan. Sebenarnya dia nolak dibayar, tapi saya maksa. Gak tega digratisin karena kita datangnya bertujuh. Kalo gratis, berikutnya saya jadi gak enak mampir lagi. Biar sama-sama nyaman lah. Referensi tentang Warung Ijo ini sudah cukup banyak di internet. Trip advisor yang kebanyakan reviewnya positif dan dari beberapa blogger.

warung_ijo_ubud

Honest review from tripadvisor

Jamil cerita,  warungnya itu saat pertama buka 3 tahun lalu awalnya agak seret, cuman jual makanan prasmanan. Masih mencari-cari pola 6 bulan pertama, sampai akhirnya dia nambah menu made to order seperti nasi goreng, kweatiau goreng, ayam saus asam manis, sate  dan lain sebagainya. Dan warungnya mulai ramai dikunjungi. Dia dan istrinya awalnya bertindak sebagai koki, namun sekarang sisa mengontrol kualitas rasanya saja. Banyak suka dukanya juga. Kayak kejadian pas kita kesana, ada turis Prancis (tapi bukan bule) awalnya pesan beberapa menu made to order. Trus ngeliat misua saya ngambil makanan sesuka hati, dia pun ikutan. Begitu dikasih beberapa lembar kupon harga bayar (price tag), dia komplain karena dia pikir gratis. Hehehe. Kemudian sering datang turis Cina yang cuma sekedar numpang pipis, tau sendiri kebiasaan turis Cina yang agak gimana gitu. Sehingga toilet yang awalnya gratis dikasih harga 15ribu sekali masuk. Mahal tapi lumayan buat mengurangi tamu yang nyari toilet gratis. Katanya lumayan banyak  yang datang berulang-ulang utamanya turis yang tinggal agak lama di Ubud. Yang Jamil keluhkan sih berkaitan dengan pelayanannya kurang maksimal, susah nyari karyawan yang betah kerja apalagi karyawan lokal, jadinya untuk karyawan pun dibawa dari Jawa dari kampung istrinya.

Jadi kalo ke Ubud pengen makan enak, halal dan terjangkau jangan lupa cobain makan di Warung Ijo Ubud ini ya.

Advertisements

4 thoughts on “Warung Ijo Ubud

  1. dulu awal2 di kerja di Bali lumayan sering kesini, karena bingung kalo jam makan siang mau makan dimana. tapi lama2 tekor juga soalna mehong mbak hihihii. akhirna lama2 nemu banyak warung yang murah.

    kalo urusan pelayanan, khususna pelayan dari warga lokal, menurut saya sebagian besar disini memang kurang banget. kalo yang dateng bule…dibaik-baikin banget. tapi kalo orang indonesia yang dateng,, seringna mereka suka acuh. Itu yang saya kurang suka. But overal, warung ijo lumayan terjangkau hargana tapi untuk ukuran wisatawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s