Warung Ijo Ubud

Bertemu dengan teman lama memang harus di niatin. Kalo gak kayak gitu, bakal tertunda terus dan gak jadi prioritas. Beberapa kali ke Bali, gak pernah sempat meet up dengan 3 temen SMP yang tinggal di Bali. Mereka pendatang di Bali asal Makassar, Arti ikut suaminya, Jamil buka usaha rumah makan di Ubud dan Arfan yang gak jelas kerjanya tapi keluar negeri terus. Arti malah pernah tetanggaan saat ngekos rumah petak di Palu hampir 4 tahunan. Jamil gak pernah ketemu lagi sekitar 14 tahun. Arfan masih ketemu sekali-kali di Makasar, karena dia sering pulang. Cuma terkoneksi dengan grup WA. Mumpung ke Bali murni liburan dan kita gak punya itin yang padat, maka disempatin untuk janjian. Biar rasa itu nyambung lagi. Ciee.

Saya janjian sama Arti di parkiran Joger, tadinya mau di hotel cuman kita udah nunggu cukup lama dan makan waktu untuk muter jauh dari Pantai Kuta ke arah Joger. Mobil rental kita titip di parkiran dan ikut di mobilnya Arti. Bebas dari google map deh. Tujuan kita ke Ubud ke rumah makannya Jamil yang bernama Warung Ijo Ubud. Sempat mampir ke Tegalalang, sawah terasering salah satu icon Ubud.  Continue reading

Advertisements

Dinascation ke Bali

IMG-20170820-WA0006

Pool at Hard Rock Hotel

Bude kok bisa ketinggalan pesawat? Biasanya bude yang paling bagus manajemen waktunya,   tanya teman dari kanwil. Dan nyaris semua bertanya begitu. Ketinggalan pesawat saat mau rapat se kanwil sulawesi maluku rasanya sesuatu banget. Lagi apes banget. Pesawat jam 6.30pagi  ke Bali. Saya tiba di counter check in jam 6.15pagi. Sebenarnya sisa ambil boarding pas karena saya titip teman untuk minta dicetakkan boarding pass. Sebelumnya sudah web check in, tapi gak sempat nyetak boarding pass. Ini 90% salah saya sih, mepet banget tiba di bandara.  10% sisanya, salah petugas Garuda yang gak mau ngasih boarding pass itu. Pas tiba di counter, sedang ada pengumuman panggilan nama saya. Si Mbaknya gak mau begitu saja ngasih boarding pass, konfirmasi lewat telpon dulu ke petugas boarding dan itu cukup makan waktu. Seandainya langsung ngasih saya bisa ngacir ke atas. Setelah ditolak, saya tetap minta boarding pass tapi bagian kecil untuk petugas sudah diambil. Saat berjalan keatas, kembali ada pengumuman atas nama saya. Tapi begitu nyampe, tetap mereka keukeh bilang saya telat. Mereka bilang jangan patokan ke pengumuman panggilan tersebut. Duh, teganya mereka. Continue reading

Menilik Terracotta Warriors & Horses

14889993_10208221970049430_1319304051860081289_o

Tujuan utama kami ke Xián adalah ke Terracotta Warriors and Horses atau biasa disebut juga Terracotta Army. Dari hostel, kita dikasih potongan kertas kecil berisi petunjuk ke Terracotta Warrior lengkap dengan tulisan cinanya. Naik bus menuju Xián Railway Station. Diluar stasiun kereta ada bus 5/306 yang langsung menuju Terracotta Warrior. Bus juga mampir di mausoleum Qin Shi Huang, tapi beberapa referensi bilang mending langsung ke museumnya saja. Tiket masuk ke Museum 150 yuan setara 300ribu rupiah. Jalan dari halte bus ke tempat beli tiket cukup lumayan jauh. Agak bingung juga pada awalnya karena dari halte bus gak langsung keliatan Museum. Kita ikut arah bule yang satu bus dengan kita. Dari tempat beli tiket ke museum jalan sekitar 15 menit. Continue reading

Xian, Kota yang Cantik

14882400_10208222023650770_3868607675565458840_o

Bell Tower (take picture from the Drum Tower)

Kalo saja saya jadi mengurungkan niat ke Xian, tentu saya akan menyesal tidak melihat kota yang cantik ini. 2 minggu sebelum berangkat, saya sempat tawarkan saran ke teman-teman agar tidak usah ke Xian dan menghabiskan saja  waktu selama 5 hari di kota Beijing. Pertimbangannya biaya transportasinya saja cukup mahal sekitar 2.5juta Beijing-Xian pp, pergi dengan kereta cepat dan balik ke Beijing pake pesawat. Sementara waktu yang akan dihabiskan cuma 2 hari disana. Salah juga saya gak beli tiket one way trip. Baiknya beli tiket KL-Beijing dan Xian-KL jadi gak perlu balik ke Beijing dan bisa menghemat biaya kan. Teman-teman tetap memilih untuk ke Xian. Memang sudah terlanjur saya promosi soal Xian ke mereka, tentang kereta cepat, tentang the terracotta warrior, tentang mayoritas penduduknya muslim, tentang makanan muslim yang banyak disana. Continue reading

Beda Pulau Rinca dan Pulau Komodo

20161119_161406

Island where the love is

Pak Ibrahim, bapak yang kami kontak untuk sewa perahu 2 hari, menyarankan agar Pulau Komodo diskip saja. Abis waktu, katanya. Harus bayar 80ribu lagi untuk tiket masuk dan belum tentu liat komodo. Ogah. Kan udah deal mengenai itinerary dan sudah bayar mahal buat sewa perahu kesana. Saya pengen punya gambaran langsung dari ke dua pulau yang menjadi tempat hunian Komodo tersebut. Tiap tempat punya keunikan tersendiri pastinya. Jadi di hari pertama kami ke Pulau Rinca dulu. Pulau ini yang paling dekat ke Labuan Bajo. Tidak heran lebih banyak orang yang memilih berkunjung ke Pulau Rinca. Lebih dekat efeknya ke biaya sewa perahu dan sudah bisa berfoto dengan Komodo. Luas Pulau Rinca hanya setengah kali Pulau Komodo, jadi lebih kecil. Kontur geografis Pulau Rinca lebih banyak berupa padang Savana. Area yang lebih kecil dan banyak padang savana membuat Komodo lebih mudah ditemukan di Pulau Rinca. Untuk foto-foto harus diakui lebih cakep di Pulau Rinca. Karena hari sudah semakin sore, kami disarankan untuk mengambil short track saja berkeliling di Pulau Rinca. Kata Ranger yang menemani, jalur yang kita ambil termasuk panoramic view yang keren diatas padang savana.  Saat kita datang ketemu 4 komodo dibawah kolong rumah. Saat trekking, cuma ketemu 1 komodo kecil. Saat turun dan nungguin Aya pipis, ketemu lagi Komodo yang lagi mau jalan keluar dari kolong rumah. Moment ini yang segera dimanfaatkan untuk berfoto. Minta tolong difotokan sama ranger, karena mereka tau trick foto komodo biar fotonya keren. Continue reading

Ngetrip mendadak ke Labuan Bajo

20161120_082400

di Pulau Padar

Finally, ke Labuan Bajo juga.

Udah sejak 3 tahun ngebet pengen kesini. Pas jalan-jalan ke Jeju Island tahun 2013 kemarin, baru tau Jeju Island juga merupakan salah satu dari 7 the New Seven Wonders of Nature bersama Pulau Komodo. Yaelah mengagumi keindahan negeri orang tapi negeri sendiri belum. Tetiba timbul rasa malu, tapi ya dimaklumi berwisata negeri sendiri tidak mudah juga. Aksesnya gak banyak dan mahal terutama ke Labuan Bajo. Makin kesini sarana transportasi ke Labuan Bajo semakin beragam. Meski kalo datangnya pas long weekend semua komponen trip pada melonjak. Bersyukur dapat kesempatan langka, dapat dinas ke Bali hari Selasa. Jadi Sabtu-Senin bisa dimanfaatkan ke Labuan Bajo dulu.

Labuan bajo bisa dinikmati dalam 2 cara: Continue reading