Time to set (MBM 2019)

Ada tantangan baru nih.

Saya daftar Maybank Bali Marathon 2019 kategori Half Marathon (HM) yang akan berlangsung tanggal 8 September 2019. Ini nekad sebenarnya, mengingat saya belum pernah ikut lomba lari sebelumnya. Namun berhubung kategori 10K slotnya udah abis, dengan mengucap bismilah saya memilih ikut dan bayar untuk kategori HM. Beberapa hari sebelumnya teman kantor ngasih info bahwa dia dan beberapa teman ikut MBM ini, makanya tertarik untuk ikut juga.

Sanggup gak ya? Saya udah lama banget gak jogging. Terakhir jogging bulan Januari kayaknya. Rekor lari tanpa putus cuma pernah sekali dengan jarak 5km. Selebihnya masih diselingi jalan cepat. Dan standar paling jauh sekitar 5-6km. Biasanya sih kalo sudah plan akan traveling ke luar negeri, saya pasti akan rajin jogging. Beberapa alasan kenapa harus jogging adalah persiapan biar kaki gak kaget kalo banyak jalan kaki dan persiapan biar badan sedikit ramping serta pipi gak terlalu tembem. Biar enak difoto hahaha. Cuma tahun ini udah 2x traveling ke Eropa dan Rusia, malas banget persiapan jogging. Mungkin karena perginya sama keluarga. Jadi gak terlalu ngotot jalan kesana kemari. Saya cuma target paling 3-4 tempat dikunjungi dalam sehari. Biar yang lain gak terlalu kecapekan.

Mari kita jalani dan set target. Waktu persiapan hanya tersisa 7 minggu lagi. Di hari saya daftar MBM, sorenya saya jalan kaki dari kantor (Jalan Bawakaraeng) ke Alaska (Jalan Pengayoman). Masih berpakaian kantor. Jaraknya sekitar 3.6km. Disana baru dijemput pak suami pulang ke rumah. Keesokan harinya, saya udah persiapan bawa baju olahraga, saya set target ke jalan Raya Pendidikan (UNM). Kebetulan anak saya lagi kerja kelompok di daerah sana. Jaraknya sekitar 5,2km. Lari pelan sekitar 2 km, selebihnya jalan kaki. Jemput anak, trus naik taksi online ke rumah. Keesokan harinya lagi, targetnya sampai rumah. Jaraknya sekitar 10km. Lari full 5km, selebihnya jalan kaki. Baru km 7, si kakak menelpon nanyain mau dijemput atau tidak. Saya pun tergoda dan minta dijemput di km 8. Lusanya, saya ke car free day, jogging dan zumba. Cuma gak lama di CFD, karena ada acara mappettuada (tunangan) yang harus dihadiri pagi itu.

Sempat kepikiran buat menggunakan jasa coach. Tapi setelah dipikir-pikir, biar usaha sendiri dulu. Saya gabung ke komunitas indorunners di fb. Saya juga nyari referensi yang banyak mengenai persiapan mengikuti HM, mengenai pengalaman newbie yang ikut HM, mengenai pengalaman ikut MBM tahun sebelumnya, mengenai sepatu yang bagus, mengenai metode latihan yang tepat, mengenai aplikasi lari yang bagus, mengenai pakaian lari, mengenai bagaimana meningkatkan pace dan sebagainya. Terinspirasi sama cerita Ligwina Hananto yang ikut Tokyo Marathon, terinspitasi sama mbak yang kerjanya di Mimika sono ikut MBM dan itu HM perdananya. Kebanyakan referensi menyatakan persiapan HM itu minimal 3-4bulan buat yang pertama kalinya. Di aplikasi NRC, latihan HM minimal 2 bulan. Tanggal 26 Juli saya mau set tanggal lomba, gak bisa tanggal 8September. Baru mau terset jika masukin tanggal minimal 20September. Latihan berarti harus konsisten, gak bisa malas. Saya pake aplikasi yang masih gratis saja dulu, katanya sih aplikasi yang recommended itu Strava, Endomondo, Runtastic. Semuanya berbayar.

Ada yang bilang ‘endurance first, speed will follow’. Tapi dari blog ini, latihannya harus paripurna agar efektif meningkatkan performa lari yaitu:

  • Latihan Otot Dasar; push up, sit up dan back up
  • Latihan nafas;
  • Latihan beban otot kaki
  • Latihan lari jarak jauh
  • Latihan kecepatan; tempo run, interval run, hill repeat
  • Latihan semi dehidrasi
  • Mengatur pola latihan dan istirahat yang cukup

Ternyata lari gak sesimple yang saya pikirkan sebelumnya. Ya kita jalani saja, toh ini buat kesehatan. Harapannya bisa finish happy tanpa injury dan berat badan bisa turun setelah menjalani latihan ini. 2 minggu latihan lari, dampak positif yang terasa adalah pakai baju jadi gak terlalu sesak. Biasanya dibagian lengan dan dada agak padat, kali ini sudah sangat nyaman.

Minggu lalu pas dinas ke Bogor, saya memanfaatkan waktu dengan easy run dari hotel ke Taman Sempur via Jalan Pajajaran. Lumayan udah full lari 8km walaupun kecepatan rata-rata masih 11menit/km. Taman Sempur tracknya udah asik, menggunakan karet sintetik dan baru selesai Oktober tahun lalu. Saya mampir makan bubur ayam di dekat situ. Selesai makan baru nyadar duit yang saya taruh di arm band hilang. Saya tanya ke Pak kumis penjualnya apakah bisa bayar transfer ovo/gopay/bank. Pak kumis bilang gpp bu, lain kali bisa dibayar. Ah terharu. Jadinya saya pulang dulu ke hotel baru balik lagi ke situ bayar. Biar si Bapak bisa bantu orang yang kejadiannya mirip dengan saya.

Begitu juga saat di Tanjung Bira. Niat banget explore Tg Bira sambil lari. Niat untuk lari memanjang saya urungkan, soalnya tanjakan. Jadi saya berkeliling ke Pelabuhan Bira trus saya melihat ada plang Woywoy Sunrise, saya pun berbelok kesitu. Woywoy Sunrise akomodasi yang cukup menarik di Tg Bira dengan harga yang cukup terjangkau. Eh kok jadi promosi. Soalnya niat mau nginap disini gak kesampaian keburu full dan jadinya nginap di tempat lain. Mampir di Woywoy, matahari baru akan terbit. Alhamdulillah bisa menikmati sunrise. Dan selesai lari sejauh 7.5km.

Kemarin, latihan easy run di Belitung. Dari hotel Santika ke Pantai Tanjung Tinggi. Lumayan ada progress pace yang tadinya 11 jadi 10. Dengan kondisi begini, 21km bisa finish 3,5 jam. Cumah ya harus mengantisipasi faktor lain-lain.

Yuk. Mari kita lari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s