Xian, Kota yang Cantik

14882400_10208222023650770_3868607675565458840_o

Bell Tower (take picture from the Drum Tower)

Kalo saja saya jadi mengurungkan niat ke Xian, tentu saya akan menyesal tidak melihat kota yang cantik ini. 2 minggu sebelum berangkat, saya sempat tawarkan saran ke teman-teman agar tidak usah ke Xian dan menghabiskan saja  waktu selama 5 hari di kota Beijing. Pertimbangannya biaya transportasinya saja cukup mahal sekitar 2.5juta Beijing-Xian pp, pergi dengan kereta cepat dan balik ke Beijing pake pesawat. Sementara waktu yang akan dihabiskan cuma 2 hari disana. Salah juga saya gak beli tiket one way trip. Baiknya beli tiket KL-Beijing dan Xian-KL jadi gak perlu balik ke Beijing dan bisa menghemat biaya kan. Teman-teman tetap memilih untuk ke Xian. Memang sudah terlanjur saya promosi soal Xian ke mereka, tentang kereta cepat, tentang the terracotta warrior, tentang mayoritas penduduknya muslim, tentang makanan muslim yang banyak disana.

Stasiun kereta di Beijing  ada 4, Beijing, Beijing West, Beijing North, Beijing, South. Jadi pastikan stasiun kereta mana yang dituju.  Menuju Xian adalah dari Beijing West Railway Station. Tiket kereta saya beli online, kemudian begitu sampai disana kita tukar di loket khusus dengan tiket fisik. Stasiun keretanya besar ada sekitar 10 ruang tunggu, no 1-5 untuk kereta biasa dan no 6-10 untuk kereta cepat. Untuk mengetahui ruang tunggu bisa dilihat di papan monitor besar di main hall. Banyak tempat makan juga, seperti KFC, McDonald dan Starbucks.

Tiba di stasiun kereta Xian, kami membeli tiket di mesin untuk naik metro (subway) Line 2 menuju hostel Xián See Tang. Saat berada di permukaan, langsung berasa aura cantik kota ini. Kami tepat berada di bundaran kota menghadap ke City Wall yang bermandikan lampu-lampu. Sesuai petunjuk, kami harus melewati City Wall untuk sampai ke hostel. Jalanan bersih, ada beberapa pemusik jalan yang kita temui yang memainkan musik indah banget.

Dari luar hostel Xián See Tang nampak kecil, tapi ternyata luas dan banyak kamarnya. Kamarnya gede-gede dan bersih. Artistik didominasi warna putih, berdinding kaca dan ada taman kecil disekitar kamar kami. Rata-rata saya memesan sekamar berdua dan bertiga. Kamar bertiga untuk kami sekeluarga terdiri dari 1 tempat tidur queen bed dan 2 tempat single ukuran 1.20m. Kamar mandinya juga luas. Ada ketel listrik dan disediakan handuk. Hostel ini berada dikawasan pusat seni khususnya kaligrafi. Banyak toko souvenir disini, lukisan-lukisan, kaligrafi, kipas, dan souvenir kecil lainnya.

Di dalam kota Xián, yang wajib dikunjungi Drum Tower, Bell Tower, City Wall dan Muslim Quarter. Hostel kita dekat dengan ke 4 tempat tersebut. Drum Tower, Bell Tower dan Muslim Quarter sekitar 900meter dari hostel. Perpaduan antara bangunan modern dan tradisional membuat kota ini semakin indah.

Drum tower dan Bell Tower

14608894_10208222010650445_5882018749456680600_o

The Drum Tower (take picture from the Bell Tower)

Sekembalinya dari Terracotta Army Museum, kami mampir disini. Drum tower dan Bell Tower lokasinya berdekatan. Tiketnya pun bisa beli 1 tiket untuk ke dua tempat dengan harga 50Yuan. Bisa dibilang disinilah pusat keramaian Xian, ada mall dan pusat jajanan (Muslim Quarter) didekat situ. Dari Drum Tower dan Bell Tower bisa melihat kota Xián dari ketinggian. Cakep. Dulunya Bell  di Bell Tower dibunyikan menandakan pagi hari dan drum di Drum Tower ditabuh menandakan sore hari.

Awalnya bingung gimana cara masuk ke Bell Tower. Rupanya melalui jalan bawah tanah/subway. Kota ini sangat rapi dan tertib, nyaris tak terlihat lagi orang-orang menyeberang seenaknya di jalanan. Semuanya menggunakan jalan bawah tanah dan tidak ada kesan jorok di mana-mana.

Bell tower, merupakan penanda dari titik tengah Xian sebagai ibukota Kekaisaran tempo dulu. Selama Dinasty Ming, Xián merupakan kota militer yang sangat penting  di Cina bagian barat laut. Bangunan kayu ini merupakan yang terbesar dan paling terpelihara di Cina yang tingginya sekitar 36meter dengan pondasi batu setinggi 36meter. Dibangun sekitar tahun 1384 sebagai cara untuk peringatan dini terhadap serangan. Berlantai dua, didalamnya ada tangga putar yang masih dipakai sampai sekarang.

img_8243

Sebenarnya Bell Tower awalnya berada di dekat Drum Tower, namun 200 tahun kemudian direlokasi sekitar 1km dari Drum Tower seiring dengan semakin bertambah besarnya kota yang menyebabkan titik tengah kota juga berpindah. Bangunan kayunya tetap menggunakan bangunan asli, hanya pondasi batu yang dibuat baru. Proses pemindahannya berlangsung cepat dan dengan biaya murah tapi tanpa terjadi kerusakan berarti. Sementara bell yang terpajang sekarang bukan versi aslinya. Yang aslinya berada di Forest of Stone Steles Museum.

The Drum Tower, drum-drum ini pada masa Cina kuno khususnya jaman Dinasty Yuan digunakan untuk memberi signal waktu dan alarm pada kondisi darurat. Dibangun di tahun 1380 dan sudah direnovasi 2x di tahun 1699 dan 1740, arsitekturnya merupakan perpaduan dari gaya Dinasty Tang dan Dinasti Qing. Satu hal yang unik adalah bangunannya sama sekali tidak menggunakan paku. Ada 24 drums di 2 sisi dari Drum Tower ini yang menandakan kalender cuaca Cina Kuno untuk memandu produksi pertanian (24 Solar Terms)

Muslim Quarter

Pusat Jajanan Muslim ini berada persis di dekat Drum Tower. Beraneka ragam jajanan halal ada disini. Kami cuma jajan-jajan disini, makan sate domba dengan potongan besar (kayak sate klatak pak pong Yogya), makan es krim dan lain-lain. Rencananya mau makan di tempat semalam, dipinggir jalan yang dekat dengan hostel (sudah cocok dengan rasanya). Kalau mau beli oleh-oleh disini banyak. Teman ada yang beli koper 20 inch seharga 275ribu, kualitas ya gitu deh yang penting jangan dibagasi. Souvenir kayak kipas, tas, dompet banyak disini. Tapi sempat dapat kipas jumbo hanya 5 yuan di dekat hostel, sementara disini sekitar 20Yuan.

14889881_10208222011770473_6003990807139004599_o

Disepanjang jalan dari Bell Tower menuju Drum Tower, jalannya bersih. Kemudian di sore hari banyak pemusik jalanan dengan alunan musik syahdu dan keren. Dijamin bakal betah lama-lama disini.

Giant Wild Goose Pagoda

Di hari terakhir, kami ke Goose Pagoda naik bus. Bus bisa bayar di tempat hanya 1 Yuan/orang. Air mancur yang ada disini merupakan musical fountain terbesar di Asia dan mempunyai taman patung yang juga terbesar di Asia. Jadwal musical fountain di hari kerja 2x sehari jam 12siang dan jam 20.30. Saat weekend dan hari libur, lebih banyak lagi mulai jam 12 siang dan setiap 2 jam sekali. Nonton di malam hari tentu lebih asyik karena disertai dengan laser warna-warni. Gratis kecuali kalo pengen duduk baru bayar. Gak lama juga pertunjukannya sekitar 30 menit. Patungnya juga banyak sekali ada yang di taman ada yang di pelataran pagoda. Saat kita datang, pagodanya tertutup, jadi kami hanya menikmati di sekitar pagoda sambil menunggu jam 12 saat musical fountain beraksi. Disini juga bisa berpakaian ala China, tapi di Terracotta kemarin sudah pada nyewa pakaian dan foto-foto ala princess Tiongkok.

City Wall

Yang tidak boleh dilewatkan juga adalah City Wall yang merupakan salah satu dari system pertahanan Cina kuno . Xián City Wall sepanjang 13.7 km ini mempunyai 18 pintu kota, tapi tidak semua dibuka untuk umum. Yang dibuka hanya sekitar 8 pintu kota termasuk South City Gate yang paling dekat dengan hostel dan City Gate yang paling menarik. Untuk masuk disini, tiketnya 54Yuan.

Sempat terjadi insiden kecil di hari terakhir, tumbler yang ada di tas tidak tertutup rapat, jadi airnya menumpahi 4 paspor kami sekeluarga. Sempat panik, sampai isi tas berhamburan di jalanan. Gak lucu kan kalo sampai kita gak bisa pulang gegara paspor rusak. Paspor itu saya balut dengan tissue di setiap lembarnya trus setelah itu diangin-anginkan. Untungnya masih aman, gak terlalu keliatan rusak. Yang rusak malah tumbler Starbucks Beijing gara-gara jatuh. Hehehe.

Kejadian kedua, saya menyepelekan waktu terbang dari Xian-Beijing. Entah mengapa malas banget melirik tiket yang saya taruh di tas untuk kepastian jam terbang. Saya kira terbangnya jam 6 sore. Ternyata jam 4sore sementara saat kita nyadar udah jam2 siang. Padahal kita cuma santai-santai saja menghabiskan waktu di sekitar hostel. Trus masih harus nunggu 2 teman yang masih berkeliaran. Untungnya gak lama datang. Dari hostel, kami disarankan untuk naik taxi ke shuttle airport bus terdekat. Tapi kami memilih untuk naik taxi langsung yang ternyata susah di dapat. Ada sekitar 30menitan baru dapat taxi semua (kami ber12 dibagi dalam 3 taxi). Dari jalan besar depan hostel ke airport sekitar 1 jam. Trus ada taxi teman kami yang mogok di jalan tol. Ampun deh. Sampai di check in harus ngantri panjang. Saya lalu coba ke counter sebelah yang memasang group check in. Untungnya mau men-check in kan. Alhamdulillah masih diberkati perjalanannya. Secara ini penerbangan maraton. Dari Xian-Beijing, lanjut Beijing-KL, lanjut KL-Jakarta. Penerbangan ke Beijing sempat ada masalah, saat sudah jalan ke runway siap take off, tiba-tiba kembali dan menunggu sekitar sejam di dalam pesawat China Southern Airlines itu. Entah karena cuaca agak buruk atau hal lainnya.

Love Xián.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s