Makan dan jajan di Taipei

IMG_0721Karena cuma 3 hari di Taipei, saya gak merasa perlu bawa travel cooker seperti biasanya. Pun juga gak bawa makanan apapun. Padahal di rumah ada stok gudeg kaleng dan rendang kaleng. Minimalis banget. Bawaan pun cuma ransel kecil. Untungnya gak bawa rendang karena di pesawat udah diwanti-wanti sama pramugarinya agar tidak membawa masuk daging ke Taiwan. Denda maksimal 1juta NTD atau sekitar 423juta rupiah. Baca berita, ada turis Malaysia yang gak sengaja bawa 2 onigiri ayam sampai  didenda 14juta rupiah. Kata si turis itu, itu sebenarnya bekal yang belum habis dimakan tapi tetap didenda.

Rencananya mau jajan aja di pasar malam sama cari warung halal. Taiwan terkenal dengan pasar malamnya. Ada 4 night market dari sekian banyak night market yang sempat kita kunjungi diantaranya:

  1. Shilin Night Market. Tempatnya agak menyebar dan cukup luas. Disini bisa jajan, makan kuliner khas Taiwan, belanja souvenir dan banyak game booth. Sepertinya Shilin night market yang terbesar dan paling ramai. Dari referensi yang saya baca, karena ramainya harga-harga juga sedikit lebih mahal dibanding pasar malam lainnya. Itu sebabnya saya gak terlalu minat buat nyari souvenir disini. Masih hari pertama, paling cuma survey harga. Disini kita cuman berani jajan telur puyuh goreng dan cumi goreng tepung. Yang lain gak berani, kuatir gak halal. Padahal banyak sih jajanan yang direkomendasikan disini dan rame antriannya seperti Fried Chicken Steak, Oyster Omelette, Tempura dan Stinky tofu. Kalo buat yang non muslim sih, bisa dipastikan ini adalah surga makanan buat mereka hehehe.
  2. Ningxia Night Market. Dari Shilin saya lanjut ke Ningxia Night Market sekalian mengarah pulang. Di perjalanan nemu Xin Fu Tang yang katanya Pearl Tea No 1 di Taiwan. Saya mampir beli dan ternyata salah alamat. Ada 2 kios pearl tea yang berdekatan. Saya masuk ke yang pertama yang kiosnya lebih mewah dibanding sebelahnya. Eh ternyata Xin Fu Tang berada disebelahnya. Untungnya sambil nunggu saya beli di sebelah, Amel beli Xin Fu Tang. Hehehe.  Sedikit menghibur hati, soalnya Pearl tea yang saya  beli rasanya aneh ada rasa kacang seperti kacang merah yang saya gak suka. Di Ningxia, lebih dominan ke street food. Jenis jajanan dan makanan kurang lebih sama dengan Shilin. Yang membuat kami kesini katanya ada makanan halal yang direkomendasikan. Kita ngecek nomor gerobaknya, ternyata itu makanan selain daging babi seperti jamur, fried chicken, stinky tofu dan seafood goreng/bakar. Tapi yah belum tentu halal juga. Disini kami hanya melihat-lihat dan night marketnya juga gak besar-besar amat. Stinky tofu adalah tahu goreng yang saat digoreng mengeluarkan bau tidak enak dan menyengat tapi katanya kalo dimakan baunya sudah hilang dan jadi enak. Saya sendiri gak berani untuk nyoba. Ntar kaget sama rasanya. Kami berjalan dari ujung ke ujung lainnya dan sekalian jalan kaki pulang ke Star hostel kurang lebih 8menit.
  3. Raohe Night Market. Di MRT menuju Raohe, di depan saya ada wanita yang lagi video call-an dalam bahasa Jawa campur Indonesia. Karena turunnya bareng, saya sapa dia dan minta ditunjukin jalan ke Raohe. Namanya mbak Luna dan dia juga memang akan ke pasar Raohe. Katanya dia kerja di pabrik, udah jadi warga negara Taiwan, pintar menari, bisa jadi guide, dan penerjemah juga. Dia mampir di toko ‘serba murah’, sambil nungguin saya juga melihat-lihat dan beli beberapa barang. Dapat sarung buat laptop 14inch seharga 28ribu rupiah, beli dudukan hp sama beli souvenir murah meriah. Cuman karena sepertinya dia masih lama milih-milih, jadi kami pamit mau pulang saja. Masih mau nyari warung Indonesia yang katanya ada di Taipei City Mall.
  4. Ximen. Kita datangnya siang hari, udah gak sempat ke sini di malam hari. Tapi siang hari pun cukup ramai. Cuman pengen melihat suasana Ximen yang sering disebut Harajuku-nya Taiwan atau pusat anak muda di Taiwan. Atau bisa juga disebut Myengdong-nya Taiwan, karena disini ada Faceshop, Etude House dan lain sebagainya. Sekalian mencari pesanan Aya anak saya yang pengen dibelikan tumbler Captain America di Miniso. Baru tau saya Miniso itu bukan produk Jepang melainkan produk Cina. Sayang di toko Miniso khusus Marvel, tumbler Captain America sold out. Xin Fu Tang disini rame sampai antriannya panjang banget. Kami memilih minum bubble tea yang  lain ketimbang harus ngantri.

Warung halal yang sempat kita datangi ada 2 tempat:

  1. Indo Arema. Warung ini ada di Taipei City Mall. Taipei City Mall itu seperti Karebosi Link kalo di Makassar, atau pusat pertokoan yang berada di bawah jalan. Terkoneksi dengan Taipei Main Station, dengan Taipei Bus Station, dengan Airport MRT membuat mall ini sangat ramai. Apalagi disini ada bagian khusus yaitu Y27 dimana banyak gerai makanan Indonesia. Sepertinya lebih dekat dengan MRT Beimen. Kami yang turun di Taipei Main Station harus berjalan cukup jauh dari Y1 ke Y27. Tapi hikmahnya kita malah nemu jalan paling dekat dengan hostel yaitu Exit Y13. Saat kita datang, warungnya udah mau tutup dan lagi beberes. Beruntung kita masih dilayani makan. Pengen makan nasi goreng tapi sudah gak menggoreng lagi. Jadi saya pesan ayam lalapan dan Amel pesan gado-gado. Total yang kita bayar 360NTD buat berdua atau sekitar 151ribu rupiah. Ayam lalapannya enak dan empuk. Disini ketemu sama mbak TKI yang lagi makan soto ayam sambil menjaga nenek majikan. Katanya sebentar lagi dia pulang ke Indonesia dan sudah gak boleh balik Taiwan karena udah mencapai batas waktu kerja. Kalo gak salah dia udah 14 tahun kerja di Taiwan. Kata dia juga, diantara gerai makanan Indonesia yang lain, Indo Arema ini termasuk yang paling ramai. Katanya disini pusat kumpulnya para Pekerja Migrant Indonesia. Saya malah sempat dengar pengumuman dalam bahasa Indonesia di stasiun MRT Taipei Main Station untuk mengingatkan tidak makan dan minum serta membuang sampah. Kalo dari data, Taiwan negara ketiga terbanyak setelah Malaysia dan Arab Saudi yang menjadi tujuan bekerja para Pekerja Migrant Indonesia(PMI). Ada sekitar 200ribuan PMI ada di sana. Sabtu-Minggu warung Indo Arema juga buka lebih pagi. Selain makanan yang sudah disebutkan diatas, warung ini juga menjual ikan lele, ikan nila dan lain sebagainya.
  2. Royal Restaurant Indonesia. Niatnya sih cuma mau ke Grand Mosque Taipei yang berlokasi dekat Daan Park (turun di stasiun MRT Daan Park lanjut jalan kaki sekitar 600meter), trus makannya kembali di Taipei City Mall tapi rupanya disebelah mesjid ada Restoran Indonesia. Jadilah kita makan disana, menu dan harga yang ditawarkan kurang lebih mirip dengan Indo Arema. Saya makan nasi goreng dan Amel memilih ayam lalapan. Nasi goreng porsinya banyak sehingga saya bungkus buat bekal malam di pesawat. Ternyata itupun gak habis.

Taipei Grand Mosque

Raohe Night Market

IMG_1377

Ximen

 

 

Advertisements

One thought on “Makan dan jajan di Taipei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s