100 km Mengejar Matahari

WhatsApp Image 2020-12-17 at 20.22.48

Berkeinginan untuk mulai lari kembali saya awali dengan mengikuti Mengejar Matahari yang diselenggarakan via virtual race oleh ITB Angkatan 87. Udah 5 bulan gak gerak sejak Covid 19 membatasi langkah kita untuk berada di ruang terbuka. Di rumah pun rasanya malas buat olahraga gerak-gerak tubuh, paling sebatas melakukan aktivitas rutin memasak, bersih-bersih rumah atau berkebun. Pikir saya diawal mengikuti ini, race ini sangat mudah karena range waktu pelaksanaan cukup lama sekitar 3 bulan dari 07 Agustus sampai 01 November 2020 dan bisa dicicil pun boleh lari maupun jalan. Masak sih dalam 87 hari gak bisa terkumpul data lari 100km, kata saya. Ikut race ini bisa memaksa saya untuk bangun pagi dan lari, kata saya lagi. Data lari yang digunakan adalah melalui aplikasi strava. Kemudian hasil dari strava kita submit di aplikasi 99 Virtual Race lengkap dengan foto saat melakukan aktivitas lari.

Tapi ternyata gak mudah ngumpulin 100km dan gak mudah juga untuk lari secara rutin. Hehehe. Selalu ada sejuta alasan. Pertama, kalo bangun sudah lewat jam 6 pagi saya ogah jalan. Kedua, saya susah membagi waktu antara kegiatan rutin yaitu memasak dengan keluar olahraga. Saya gak enak keluar rumah ke kantor tanpa ninggalin sarapan dan makan siang buat orang rumah. Ketiga, mager beranjak dari tempat tidur. Dan berbagai alasan lainnya.

Alhamdulillah berhasil dengan tapi dengan susah payah. 102 km dalam 13 hari lari saja. Itupun kebanyakan karena saya lagi di luar kota, jadi enak bangun dan jalan pagi sambil explore kota. Lari di Tanjung Bira, di Kendari, di Cipanas, di Semarang dan di Padang. Selebihnya lari pas udah pindah di Bandung. Pernah dari rumah ke Gasibu bolak balik dapat 14km. Sebenarnya bisa lebih dari itu, tapi anak saya kalo jam 9 belum tiba di rumah pasti nelpon dan nawarin untuk dijemput dengan motor. Tak tahan dengan godaan, saya pun minta dijemput sekitar 3km dari rumah di jalan yang masih familiar buat dia. Di bulan Agustus saya tercatat cuma 3 hari lari saja dengan total 24,48km. Dibulan September cuma 2 hari lari dengan total 11,22km. Di bulan Oktober baru ngebut sisanya karena baru dapat catatan 35,7km. Saya juga kebanyakan jalan, paling banter 5km lari sisanya jalan. Kebayang kan pace-nya berantakan. Nyaris tidak cukup 100km, karena di minggu terakhir Oktober saya semingguan roadtrip ke Sumatra, balik ke Bandung tanggal 31 Oktober. Mau maksain lari di hari itu, hujan turun sore-sore. Untung deadlinenya tanggal 01 November, jadi masih bisa genapin menjadi 100km. 

WhatsApp Image 2020-12-17 at 20.20.58

Selesai 100km saya sudah hilang lagi semangat buat lari. Sepertinya saya mau coba beralih ke olahraga bersepeda saja. Barangkali saya lebih minat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s