Luang Prabang, kota yang damai dan penuh pesona dan juga merupakan kota yang paling populer di Laos. Disini kami menginap 2 malam. Saat tiba di stasiun kereta Luang Prabang, kami di hampiri oleh seorang bapak menawarkan transportasi ke kota dengan harga 300ribu KIP. Saya tawar menjadi 250ribuKIP dan dia mau. Ngecek di aplikasi Loca, tarif ke kota dari stasiun kereta sekitar 220ribu KIP. Sayangnya taxi online gak jelas disini. Mobilnya sejenis hiace yang muat 7 orang. Sebelum naik di mobil, kita diminta untuk membayar sewa mobil ke pos yang ada di tempat parkir. Ternyata pos itu juga tempat membeli tiket travel ke kota (sharing mobil dengan yang lain), kalo gak salah hargany sekitar 40ribu Kip per orang.
Petunjuk arah di google map tidak akurat menyebabkan kami salah alamat. Si sopir minta tambahan 50ribu KIP jika ingin diantar ke alamat yang benar. Tidak ada pilihan lain, kami terpaksa bayar. Si sopir menelpon hotel yang kami pesan untuk memastikan lokasinya. Sampai di Villa Namkhan River, kami diantar ke kamar kami di hotel yang berbeda yang persis berada di belakang hotel ini. Mungkin full sehingga dialihkan ke guest house lain. Kamarnya estetik, bersih dan sangat nyaman. Dalam 1 kamar terdapat 2 queen bed, dan ada balkon tapi pemandangan tidak terlalu menarik. Kamar mandinya juga estetik penuh dengan ornamen menarik. Harganya IDR1,4juta untuk 2 malam sudah termasuk dengan sarapan.
Malam itu kami hanya keluar cari makan malam. Di dekat hotel ada Nisha Restaurant halal food. Enak-enak, kami sampai makan 2x selama 2 hari di Luang Prabang. Kita pesan fish curry, butter chicken, chicken briyani, lupa yang lain. Butter chickennya wajib dicoba, enak banget. Kita lanjut jalan-jalan ke pasar malam, ternyata di dekat situ ada food court terbuka dengan berbagai gerai makanan dan minuman. Hanya ada 1-2 yang menuliskan halal food.

Sarapan di hotel berupa set menu: Roti dengan telur dadar, roti dengan scrambled egg, roti dengan telur rebus dan pancake. Pilih 1 set menu plus 1 gelas juice mangga atau orange. Karena kami berempat, kami mengambil semua pilihan tersebut. Not bad, tapi masih enakan sarapan di hotel Vanvieng kemarin. Pancakenya besar, fluffy dan emang mengenyangkan.
Saya memesan 2 motor untuk jalan-jalan hari ini. Sebenarnya motor hotel sudah disewa semua, kami disarankan ke rental motor terdekat. Tapi saya bilang tolong diambilkan saja. Harganya 150,000KIP/motor selama 24 jam.
Tujuan kami yang pertama adalah ke Kuangsi Waterfall, tempat ini tujuan wisata alam yang paling terkenal dan indah di sekitar Luang Prabang. Terletak sekitar 29 kilometer sebelah barat Luang Prabang, berjarak sekitar 45 menit perjalanan dengan motor. Setelah membeli tiket Kuangsi Waterfall, kami lalu naik mobil yang disediakan untuk menuju pintu masuk ke Kuangsi. Terdiri dari serangkaian air terjun yang mengalir ke dalam kolam berwarna biru kehijauan yang jernih. Keindahan air terjun ini sangat memukau, dengan aliran air yang deras dan vegetasi hutan hijau di sekitarnya. Memiliki beberapa tingkat, dengan air terjun terbesar memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Ada juga penangkaran beruang hitam disini.
Kami melakukan explorasi sampai ke air terjun besar dan setelah itu saya menemani Ghazy berenang disini. Sebenarnya males banget karena airnya juga dingin banget tapi demi menemani Ghazy terpaksa saya turun. Kami makan siang di restoran yang ada di Kuangsi waterfall. Yang kita pesan adalah mango sticky rice dan ikan goreng plus nasi. Enak. Mango sticky rice seperti bubur ketan putih diatasnya di taruh mangga.
Kami masih mampir di Museum Nasional, sayang sudah mau tutup. Tapi karena mau foto di depan museum, saya aja yang turun dan masuk tetap bayar tiket. Abis itu kami balik istirahat ke hotel. Sorenya saya bertiga ke Mount Phousi/Phousi Hill untuk menikmati pemandangan kota Luang Prabang saat matahari terbenam. Area untuk masuk berada di depan pasar malam Luang Prabang dan di dekat museum nasional. Ketinggiannya kurang lebih 100m dan dapat dicapai dengan menaiki anak tangga sekitar 15 menit. Lumayan ngos-ngosan. Kita mengantri di spot foto. Semburat Sunset cantik sekali di langit Laos. Setelah gelap, kami baru turun. Sayang tidak ada lampu penerangan sepanjang kami turun sehingga harus berhati-hati. Lanjut berjalan-jalan di pasar malam membeli beberapa suvenir khas Laos. Dan mampir juga untuk membeli jus dan martabak di food court dekat pasar malam.
Untuk makan malam kami ke Wat that restaurant, paksu dan Ghazy dijemput sama kakak. Sebenarnya lebih tepat disebut warung/kedai. Terlalu sederhana dan seadanya. Berada di teras rumah pemilik. Kalau baca review di google, sebanding antara yang puas dengan tidak puas. Selain rasa, banyak keluhan soal lalat dan nyamuk. Tapi pas kita disana, gak keliatan sih lalat maupun nyamuk. Jadi tidak berharap banyak dari rasa makanan disini. Ternyata rasa makanan ternyata diluar ekspektasi saya, enak-enak semuanya. Saya pesan yang tidak terlalu berbumbu. Ayam goreng, nasi goreng ikan bilis enak, telur dadar khas laos (laotian egg), ikan asam manisnya enak-enak. Masaknya memang cukup lama tapi benar-benar fresh from the kitchen. Kedengaran aktivitas di dapur yang ada di depan kami, bumbu yang diulek pakai cobekan bukan bumbu yang di blender. Jadi rasanya lebih authentic. Saya pun pesan buat bekal makanan besok saat perjalanan menuju Bangkok. Si ibu pemilik setuju buat ngantarin ke hotel jam 11 siang. Dari pada bingung nanti mau makan di mana mending ngebekal.
Jam 5 pagi saya dan Dede keluar naik motor, pengen menyaksikan upacara sakral pemberian sedekah atau dikenal dengan ‘Sai Bat’. Di mana para biksu membawa bakul kecil keluar dari kuil mengitari sebagian kecil kota untuk menerima sedekah dari penduduk setempat yang mayoritas beragama Buddha. Masyarakat sudah menyiapkan persembahan berupa nasi ketan, buah atau camilan tradisional. Mereka duduk di pinggiran jalan dan menunggu para biksu melewatinya. Konon kabarnya makanan yang terkumpul merupakan jatah makan selama sehari bagi para biksu tersebut. Jika berlebih, akan disedekahkan ke warga yang kurang mampu. Ritual ini berlangsung setiap hari sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat. Wisatawan juga ditawarkan untuk ikut berpartisipasi dengan cara membeli persembahan dari penjual yang ada disana. Kemudian duduk berbaris untuk menyerahkan persembahan ke biksu. Bisa juga menyiapkan sendiri, beli snack biskuit dan lain sebagainya untuk diberikan. Sungguh suatu kegiatan yang sangat langka. Masyarakat berbagi secara rutin setiap hari. Dan ini bukan hanya di satu kuil atau yang menjadi spot untuk wisatawan. Pagi itu saya sempat berkeliling sambil mencari spot foto instagrammable, aktivitas itu ada dimana-mana. Hanya saja persembahan yang melimpah ruah ada di kuil-kuil besar seperti yang saya saksikan di Wat Wisunarat. Saya juga mampir ke pasar pagi yang ada di Luang Prabang, kebanyakan menjual jajanan dan kue basah untuk sarapan pagi. Hanya melihat-lihat saja.
Motor kami kembalikan. Kami sudah gak kemana-mana lagi, sampai waktu check out. Si ibu owner Wat That sudah datang mengantarkan pesanan untuk bekal di jalan. Untuk makan siang kami ke Nisha Restaurant lagi nyobain menu yang lain. Untuk transportasi ke stasiun kereta, kami minta dipesankan sama resepsionis jam 13, harganya 60,000kip/orang. Kalo mau pesan sekalian dengan tiket keretanya juga bisa. Tentu ada feenya tapi tidak seberapa besar, ketimbang saya yang dirampok oleh CS tiket kereta resmi LCR (baca postingan sebelumnya).
Saya juga masih menyisakan sekitar 300,000KIP buat biaya transportasi sampai di perbatasan Laos-Thailand. Asumsi saya dari stasiun kereta saya akan naik taxi ke Central Bus Station di Vientiane dan dari situ naik bus ke perbatasan. Seperti rute menuju stasiun kereta Vientiane saat pergi kemarin. Dan saya juga kuatir karena waktunya agak mepet dengan jam keberangkatan kereta ke Bangkok. Untuk sampai ke Nongkhai kembali, harus melewati imigrasi Laos, trus naik bus ke imigrasi Thailand dilanjut naik tuktuk sampai ke stasiun kereta. Begitu ada kendala sedikit bisa ambyar semuanya. Selama di kereta saya banyak berdoa saja semoga diberikan kelancaran dalam perjalanan. Alhamdulillah, ternyata dari stasiun kereta ada bus langsung ke perbatasan. Aman deh. Di imigrasi Laos, prosesnya cepat saja membayar 20Bath setiap orang. Sebenarnya harusnya menghabiskan uang KIP, tapi kursnya hancur. Jadi bayar pakai bath. Naik bus ke imigrasi Thailand juga bayar pakai Bath. Di imigrasi Thailand wajib mengisi kartu kedatangan, kemudian saya tawar menawar taxi untuk ke stasiun Nongkhai. Ada tuktuk tapi mahal. Alhamdulillah lancar sampai stasiun Nongkhai. Waktu yang tersisa kami gunakan untuk makan malam dengan bekal dari resto Wat That.
Kami menggunakan kereta jenis sleeper ke Bangkok. Saat beli di stasiun Hua Lampong Bangkok, dapatnya tempat tidur atas semua. Kami pikir pasang sepreinya self service, jadi saat sampai di seat kami langsung beberes. Ternyata adabnya adalah semua duduk dulu, baru nanti akan ada petugas yang jalan untuk menyiapkan tempat tidurnya. Saat pemeriksaan tiket, saya harus bayar tiket untuk si Ghazy. Entah itu denda atau Ghazy memang harus bayar tiket sendiri. Padahal saat beli tiket kemarin, katanya gpp tidak beli tiket untuk anak kecil. Untungnya uang Bath nya cukup untuk diberikan ke petugas.
Tiba pagi di stasiun Bangkok, kami mengikuti arus keluar. Ternyata ada bus gratis ke stasiun Hua Lamphong dengan menunjukkan tiket kereta. Lumayan menghemat, dari stasiun Hua Lamphong ke hotel Prince Palace dengan taksi online sekitar 100Baht.
Demikian perjalanan kami ke Laos.

Leave a comment