Sunrise di Gunung Batur

WhatsApp Image 2024-07-24 at 09.15.23_2115ec80

Saya suka roadtrip ke Bali kali ini, karena saya jadinya bisa ke tempat-tempat yang sedari dulu pengen dikunjungi tapi selalu saja ada hal yang bikin males ke sana kalo berangkat dari kota. Waktu, jarak dan biaya. Harus bangun tengah malam dan berangkat kesana agar bisa menikmati sunrise tepat waktu. Kalo pake mobil sendiri, kebayang gak nyetir tengah malam di daerah yang sepi dan medannya tidak familiar. Kalo nyewa mobil, sisa duduk manis tapi biayanya juga lumayan. Di roadtrip ini, malam pertama kita tidur di Lovina biar pagi-pagi sisa jalan kaki ke pinggir pantai, naik perahu nyari lumba-lumba. Di malam kedua kita tidur di Kintamani biar dekat dengan meeting point ke Gunung Batur.

Jadi dari Lovina, kami lanjut ke Kintamani. Udah booking villa tanpa nama, di Agoda namanya villa 900m2 dengan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi pribadi. Agak aneh tanpa nama, tapi kelihatannya menarik dengan view danau batur dan reviewnya juga menarik. Harga untuk 2 villa 958ribu/malam. Not bad kan. Yang dikeluhkan oleh pengunjung adalah jalannya yang kecil dan agak curam. That’s ok sepanjang aman dan bisa dilalui. Dalam perjalanan menuju kesana, sempat degdegan karena kami nyaris kehabisan BBM. Niatnya baru mau isi BBM kalo sisa 2 strip, tapi ternyata saya lupa mampir di SPBU terakhir sebelum masuk jalan pegunungan. Dan baru nyadar saat 2 strip itu tiba-tiba cepat sekali berganti ke strip terakhir dan berkedip-kedip. OMG. Untungnya saya baru sekitar 4km melewati kota kecamatan/desa, saya mending putar balik saja karena kemungkinan besar ada pertamini atau bbm botolan disana. Alhamdulillah dapat dan mengisi 100ribu, perkiraan saya cukuplah buat sampai dapat SPBU berikutnya. Sampai di villa, masih belum nemu SPBU tapi saya perkirakan BBMnya masih cukup sampai besok pagi setelah mendaki Gunung Batur dan perjalanan menuju Sanur.

Perjalanan ke Kintamani dari Buleleng sekitar 60km memakan waktu sekitar 1 jam 40menit dengan medan yang cukup berliku, tanjakan dan turunan yang cukup menantang. Sempat hilang sinyal sehingga nyaris nyasar ke jalanan yang makin menyempit dan warga lokal melihat kita dengan keheranan. Begitu ditanya ternyata itu bukan jalan raya menuju Kintamani. Hadeuh.

Sampai di villa, rasa degdegan dan lelah terbayarkan dengan viewnya. Villa kita di bagian yang paling atas, lumayan juga naik tangganya. Ghazy awalnya juga senang banget dengan villanya. Tapi tetiba dia shock dengan patung yang ada depan kamar dan nangis merengek-rengek untuk tidak menginap disitu. Entah kenapa. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya dia pasrah juga. Makan malam kita hanya dengan sisa bahan masakan tadi pagi di Lovina, masih ada mie instan dan sosis. Udah males keluar dan sekalian menghemat BBM mobil. Paket tur ke Gunung Batur baru saya booking setelah sampai di villa.  Paketnya bervariasi, dibedakan antara wisatawan domestik dan asing. Semakin banyak jumlah orang semakin murah harga per paxnya. Trus ada yang plus antar jemput, ada yang plus sarapan ringan (indomie kuah telur, teh/kopi), plus sarapan lengkap (sandwich, snack, telur, buah-buahan, teh/kopi). Saya ngambil yang paket standar (tanpa sarapan tanpa antar jemput), untuk berlima kena 150ribu/orang. Harga ini termasuk private guide, trekking pole, head lamp, dan air mineral 600ml. Saya bayar dp 25% via transfer, sisanya nanti setelah selesai trekking. Meeting point di Warung Makan Dewi Asih jam 3.30. Ini sekitar 10menit dari villa.

Lokasi meeting point sudah sangat ramai saat kita datang. Kita tiba disana sekitar jam 4. Tempat parkir mobil juga luas. Peralatan dan airmineral langsung dibagikan oleh guide. Setelah berdoa, kita mulai jalan. Saya perhatikan tanpa guide juga bisa jalan kesana karena lumayan rame, bisa ngekor rombongan yang pakai guide. Yang penting tau dimana meeting pointnya.

Ghazy mulai kelelahan saat di pos 2, mulai deh keluar semua jurus emaknya untuk membuat dia semangat jalan sedikit demi sedikit. Janji beli eskrim, down lagi dijanji belanja di alfamart, down lagi janji makan indomie di puncak. Sebelumnya ini, Ghazy udah punya pengalaman naik gunung Papandayan 2665mdpl. Guide juga membantu dengan memainkan cahaya dari head lamp. Trus akhirnya bergantian sama aya dan Dede, untuk dengek (menggendong dari belakang) Ghazy. Karena kita berjalan pelan, sunrise muncul saat kita berada di pos 3. Cakep banget. Sampai puncak sudah terang. Alhamdulillah. Pesan indomie plus teh khusus buat ghazy. Jadi sebaiknya sih ambil paket plus sarapan ringan, harganya 175ribu/orang (jika berlima), nambah 25ribu dari paket standar sudah dapat indomie telur plus teh. Jika pesan langsung di puncak, harganya indomie telur plus teh 45ribu.

Guide mencarikan kita plang Gunung Batur yang masih dipakai sama orang-orang yang menggunakan jasa yang sama. Setelah puas berfoto-foto di puncak, kami pun turun. Alhamdulillah.

Sampai di villa, kami disediakan sarapan nasi goreng beserta teh. Saya masih menemani Ghazy berenang di kolam renang. Kolamnya kurang asik karena sepertinya bukan air mengalir dan agak hijau. Ghazy aja yang berenang, saya cuman berendam kaki.

WhatsApp Image 2024-07-24 at 09.15.23_bb7faa13Setelah itu kami langsung check out dan menuju Sanur. Malam terakhir kami menginap di Bali Prama Sanur Beach. Hotel bintang 5 yang ratenya 775ribu/malam termasuk sarapan untuk 2 orang. Hotel tua tapi masih cakep dan terawat. Saya cuman mampir check in ambil kunci lalu kita makan siang di Kedonganan Beach. Setiap kali ke Bali wajib makan disini, belanja seafood di pasar lalu ke resto sekitar untuk dimasakkan. Harga terjangkau, puas makannya dan enakkk.

Balik hotel menemani Ghazy berenang. Kolam renangnya ada 2, satu buat anak-anak lengkap dengan luncuran dan ember tumpah, satunya lagi kolam air hangat buat dewasa.

Pengen punya moment sunrises 3 times in a row, sayangnya gagal. Hujan deras di pagi itu, saat reda saya masih kasih kesempatan Ghazy untuk berenang. Dia sih senang banget main air. Jadi di setiap kesempatan nginap hotel salah satu pertimbangan pemilihan hotelnya adalah kolam renang.

WhatsApp Image 2024-07-24 at 09.15.54_fd165bd2Setelah check out jam 12 siang, kami ke  cafe del Mar untuk makan siang sebelum memulai perjalanan kembali ke Jakarta.  Google map mengarahkan kita melewati jalan alternatif menuju pelabuhan Gilimanuk dimana jalannya kecil banget, sepi dan kiri kanan sawah. Udah gitu gelap lagi. Untungnya, ketemu dengan 2-3 mobil yang sepertinya juga tersesat di jalan itu. Namun sempat terpisah lagi karena saya memilih untuk mencari jalan keluar tercepat ke jalan raya. Untung instingnya benar, berhasil kembali ke jalan raya, meski macet. Di pelabuhan Gilimanuk, antrian panjang terjadi. Ada kali 2 jam ngantri, trus masuk kapal dan menyeberang. Sekitar jam 7pagi kami sudah sampai di Surabaya, sarapan, drop Amel di kosan sekaligus kita mandi. Dan setelah itu berangkat ke Jakarta. Perjalanan pulang lancar sampai Semarang, tapi setelahnya kemacetan mulai terjadi. Rest area tutup saking penuhnya dan dijaga sama polisi dan petugas keamanan. Saya memilih keluar tol di Pekalongan untuk  isi BBM yang sekarat dan sekaligus makan siang. Ghazy minta makan di Solaria, jadinya kita ke trans mart Pekalongan. Kita juga sekalian take away supaya gak mampir lagi di rest area. Perjalanan pulang masih padat merayap, rest area pada full-full dan gak boleh masuk. Banyak mobil istirahat di pinggir jalan tol. Saya sendiri minta diganti sama Aya supaya bisa istirahat tidur sekitar 2 jam. Lumayan seger lagi. Alhasil kita sampai Jakarta lewat tengah malam atau sekitar 32jam sejak berangkat dari Bali. Dan paginya harus ngantor. Semangat untuk cari cuan lagi dan liburan lagi.



Leave a comment