Trip 4-stans (Part 4)

Kami masih jalan-jalan di Almaty sebelum sorenya terbang ke Bishkek.

Pagi itu, udara Almaty masih terasa sangat dingin, tapi suasananya begitu menyenangkan. Dari jendela apartemen, terlihat hamparan salju putih yang masih menutupi jalan. Kami memutuskan untuk memulai hari dengan sarapan di Café Nedelka, yang letaknya tak jauh dari apartment tempat kami menginap. Kafe ini punya suasana hangat dan homey, dengan aroma kopi yang langsung mengisi ruangan begitu pintu dibuka. Sepiring roti panggang, telur, pizza, dan secangkir cappuccino jadi teman sempurna untuk pagi bersalju itu.

Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Ascension Cathedral. Langkah demi langkah di atas trotoar bersalju terasa menyenangkan, melewati taman kota. Udara dingin menusuk tapi langit cerah membuat suasana terasa hidup. Katedral yang megah itu berdiri di tengah Panfilov Park, dikelilingi pepohonan yang masih tertutup putih. Warnanya yang mencolok, kuning dan biru pastel, tampak kontras dengan langit kelabu muda dan salju di sekitarnya.

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Green Bazaar. Di dekat sana, kami mampir ke Rakhat Chocolate Store, toko cokelat legendaris asal Kazakhstan.  Kami mampir sebentar membeli beberapa cokelat lokal untuk dijadikan oleh-oleh. Setelah itu, kami masuk ke Green Bazaar, pasar tradisional terbesar di Almaty. Di dalamnya ramai dan penuh warna, dari buah-buahan kering, rempah-rempah, dan lain-lain. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, melihat-lihat dan sesekali menawar souvenir kecil seperti pashmina, topi khas kazakhstan dan lain sebagainya. Lanjut ke masjid Agung Almaty.

Menjelang sore, kami melanjutkan petualangan ke Kok Tobe Hill. Dari stasiun cable car di dekat pusat kota, gondola mulai menanjak perlahan ke atas bukit. Pemandangan kota Almaty dari ketinggian benar-benar menakjubkan, atap-­atap tertutup salju, jalanan berliku, dan latar belakang pegunungan Tian Shan yang megah. Di puncak Kok Tobe, terdapat theme park mini, taman, kebun binatang mini dan spot foto yang menghadap langsung ke kota.

Kami kembali ke apartment menitip sebagian barang ke ibu pemilik apartment yang tinggal di lantai bawah. Di hari terakhir kami akan kembali menginap di apartment ini sebelum kembali ke Jakarta.

Sore itu kami menuju bandara untuk terbang ke Bishkek, ibukota Kyrgyztan. Sebenarnya rencana awal kami memilih jalur darat saja dari Almaty ke Bishkek dengan menggunakan e-visa Kyrgyztan. Eh, belum sempat mengajukan e-visa, ada kebijakan baru per Januari 2025 terkait pengajuan e-visa yang lebih rumit. Salah satu syarat e-visa harus ada Letter of Intent (LOI) yang didapatkan dari operator tur yang ada di Kyrgyztan. Ini menjadi sama seperti syarat mengajukan untuk visa Rusia. Dan ini tidak gratis, kurang lebih ada biaya tambahan $50 untuk LOI dan biaya e-visa sendiri sekitar $41 jadi total $90. Salah saya juga menunda-nunda untuk apply visa ini. Jadi daripada ribet, kami memutuskan naik pesawat saja ke Bishkek agar bisa Visa on Arrival saja disana. Biaya VOA $50. Perbandingan harga tiket pesawat sekitar 1.6juta, lama perjalanan 1 jam, sementara naik bus cuma sekitar 150ribu untuk 5jam perjalanan.

Tiba di Manas International Airport, kami mengurus VOA di loket, mengisi formulir dan membayar pakai cc. Kami menukar uang SOM Kyrgyztan dan beberapa teman membeli SIM Card lokal kemudian menuju Golden hotel. Kami memesan 2 kamar untuk berenam selama 2 hari termasuk sarapan. Hotelnya kecil saja tapi bersih dan tertata rapi. Sarapannya pun cukup enak. Free flow untuk teh, kopi dan air minum. Lokasinya pun strategis. Kami makan malam di restaurant sebelah hotel.

Kalau sudah sampai di Bishkek, Kyrgyzstan, salah satu destinasi yang nggak boleh dilewatkan adalah Ala Archa National Park. Taman nasional ini terkenal dengan pemandangan pegunungan Ala-Too. Dari pusat kota Bishkek, jaraknya sekitar 40 km atau sekitar 1 jam perjalanan. Kami naik taxi kesana. Berbeda dengan yandex di Almaty yang gak opsi 6 penumpang, Yandex di Bishkek ada opsi tersebut, jadi selama di Bishkek kemana-mana kami cukup pesan 1 mobil jika tanpa bawa koper. Meski kebanyakan dapatnya mobil-mobil tua. Sampai di Ala-Archa kami meminta drivernya untuk menunggu. Dia tanya berapa lama dan berapa mau bayar. Saya  bilang sekitar 3 jam dan bayar 3000SOM. Saya langsung memberikan tawaran menarik 2x lipat dibanding harga pergi. Karena akan sangat sulit mendapatkan taxi untuk pulang. Dia pun langsung mengiyakan.

Ada dua jalur utama yang dikunjungi orang yaitu Waterfall Trail (ke Ak-Sai Waterfall): jalur populer tapi cukup menantang, butuh 3–4 jam sekali jalan dan Ala Archa River Trail: jalurnya lebih santai, bisa sekadar jalan-jalan di sepanjang sungai dengan panorama gunung di sekitar. Kami memilih jalur sungai saja. Pada bulan Februari, Ala Archa masih berselimut salju tebal. Berjalan di jalur hiking sambil main salju, foto-foto, atau sekadar duduk menikmati suasana sunyi dengan udara segar. Suasananya magis: pohon-pohon pinus tertutup salju. Tanpa terasa kami berada 3 jam di Ala-Archa, kembali ke kota dan minta diturunkan Ala Too Square, alun-alun yang menjadi landmark kota Bishkek. Kami mampir makan KFC di mall. Dari sini, saya sama Lani naik taxi ke terminal bus pergi membeli tiket bus untuk menuju Tashkent keberangkatan besok hari. Dan yang lain pulang ke hotel. Kami mendatangi terminal yang salah, petugas diterminal itu memberikan petunjuk untuk naik bus ke terminal yang benar yang ternyata berlawanan arah dan merupakan bus stop paling akhir. Jadi ujung pukul ujung. Bus Bishkek-Tashkent cuma ada sekali sehari, makanya disarankan untuk membeli sehari sebelumnya. Alhamdulillah dapat tiket bus malam untuk berenam.

Hari berikutnya kami memulai petualangan di kota Bishkek. Udara masih dingin, tapi suasana kota terasa lebih tenang dibandingkan Almaty. Tujuan pertama adalah Victory Square—monumen besar berbentuk lengkungan yang dibangun untuk mengenang kemenangan pada Perang Dunia II. Di tengah alun-alun, api abadi terus menyala, dan beberapa warga tampak berfoto di sekitarnya. Tak jauh dari sana, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Panfilov Park, taman kota yang terasa klasik dengan wahana permainan jadul seperti bianglala, mobil-mobilan, dan karusel yang tampak seperti berasal dari masa Soviet.

Dari taman, kami naik taksi menuju Osh Bazaar, pasar tradisional paling terkenal di Bishkek. Begitu masuk, langsung terasa kehidupan sehari-hari penduduk lokal yang sibuk berbelanja. Lorong-lorongnya dipenuhi buah-buahan kering, kacang, rempah, kain, hingga pernak-pernik khas Kyrgyzstan. Di sinilah tempat terbaik untuk mencari souvenir dan merasakan denyut asli kota Bishkek.

Siang harinya, kami makan di Navat, restoran populer yang menyajikan makanan tradisional Kyrgyzstan dengan dekorasi khas etnik. Rasa makanannya lezat—hangat dan penuh rempah, cocok untuk udara dingin hari itu. Setelah kenyang, kami kembali ke hotel untuk mengambil koper dan bersiap menuju terminal bus. Karena bawaan kami banyak, kami  memesan dua taksi terpisah. Saya naik di salah satunya bersama dua teman, sedangkan taksi lain membawa Lani dan yang lain.

Perjalanan kami lancar menuju terminal, tetapi tak lama kemudian kami terinfo taksi satunya justru melaju ke arah yang salah. JAdi mereka putar arah dan terkena macet. Padahal Lani adalah orang yang kemarin membeli tiket bersama saya. Panik mulai muncul, bus dijadwalkan berangkat pukul 19.00, dan waktu terus berjalan. Saya memohon kepada sopir bus agar mau menunggu mereka sedikit lebih lama. Beruntung, sopirnya cukup memahami situasi kami, meski tampak tidak enak dengan penumpang lain yang sudah menunggu. Akhirnya bus baru berangkat pukul 19.30, tepat setelah rombongan Lani muncul dengan wajah lega bercampur panik.

Semua kembali tenang, tapi saya tahu kami nyaris saja tertinggal. Hari itu berakhir dengan napas lega, sedikit tegang, tapi tetap menjadi bagian dari kisah perjalanan yang tak terlupakan di Bishkek.



Leave a comment