Kami masih jalan-jalan di Almaty sebelum sorenya terbang ke Bishkek.
Pagi itu, udara Almaty masih terasa sangat dingin, tapi suasananya begitu menyenangkan. Dari jendela apartemen, terlihat hamparan salju putih yang masih menutupi jalan. Kami memutuskan untuk memulai hari dengan sarapan di Café Nedelka, yang letaknya tak jauh dari apartment tempat kami menginap. Kafe ini punya suasana hangat dan homey, dengan aroma kopi yang langsung mengisi ruangan begitu pintu dibuka. Sepiring roti panggang, telur, pizza, dan secangkir cappuccino jadi teman sempurna untuk pagi bersalju itu.
Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Ascension Cathedral. Langkah demi langkah di atas trotoar bersalju terasa menyenangkan, melewati taman kota. Udara dingin menusuk tapi langit cerah membuat suasana terasa hidup. Katedral yang megah itu berdiri di tengah Panfilov Park, dikelilingi pepohonan yang masih tertutup putih. Warnanya yang mencolok, kuning dan biru pastel, tampak kontras dengan langit kelabu muda dan salju di sekitarnya.
Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Green Bazaar. Di dekat sana, kami mampir ke Rakhat Chocolate Store, toko cokelat legendaris asal Kazakhstan. Kami mampir sebentar membeli beberapa cokelat lokal untuk dijadikan oleh-oleh. Setelah itu, kami masuk ke Green Bazaar, pasar tradisional terbesar di Almaty. Di dalamnya ramai dan penuh warna, dari buah-buahan kering, rempah-rempah, dan lain-lain. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, melihat-lihat dan sesekali menawar souvenir kecil seperti pashmina, topi khas kazakhstan dan lain sebagainya. Lanjut ke masjid Agung Almaty.
Menjelang sore, kami melanjutkan petualangan ke Kok Tobe Hill. Dari stasiun cable car di dekat pusat kota, gondola mulai menanjak perlahan ke atas bukit. Pemandangan kota Almaty dari ketinggian benar-benar menakjubkan, atap-atap tertutup salju, jalanan berliku, dan latar belakang pegunungan Tian Shan yang megah. Di puncak Kok Tobe, terdapat theme park mini, taman, kebun binatang mini dan spot foto yang menghadap langsung ke kota.
Kami kembali ke apartment menitip sebagian barang ke ibu pemilik apartment yang tinggal di lantai bawah. Di hari terakhir kami akan kembali menginap di apartment ini sebelum kembali ke Jakarta.
Sore itu kami menuju bandara untuk terbang ke Bishkek, ibukota Kyrgyztan. Sebenarnya rencana awal kami memilih jalur darat saja dari Almaty ke Bishkek dengan menggunakan e-visa Kyrgyztan. Eh, belum sempat mengajukan e-visa, ada kebijakan baru per Januari 2025 terkait pengajuan e-visa yang lebih rumit. Salah satu syarat e-visa harus ada Letter of Intent (LOI) yang didapatkan dari operator tur yang ada di Kyrgyztan. Ini menjadi sama seperti syarat mengajukan untuk visa Rusia. Dan ini tidak gratis, kurang lebih ada biaya tambahan $50 untuk LOI dan biaya e-visa sendiri sekitar $41 jadi total $90. Salah saya juga menunda-nunda untuk apply visa ini. Jadi daripada ribet, kami memutuskan naik pesawat saja ke Bishkek agar bisa Visa on Arrival saja disana. Biaya VOA $50. Perbandingan harga tiket pesawat sekitar 1.6juta, lama perjalanan 1 jam, sementara naik bus cuma sekitar 150ribu untuk 5jam perjalanan.










Leave a comment