Athens menjadi kota terakhir dalam rangkaian perjalanan saya kali ini. Salah satu alasan memilih pulang dari sini cukup sederhana: tiket maskapai full service menuju Indonesia ternyata paling murah dibandingkan jika berangkat dari Milan, Barcelona, atau kota-kota besar Eropa lainnya. Saya mendapatkan tiket Etihad Airways one way tanpa bagasi seharga sekitar Rp7,8 juta, harga yang menurut saya cukup menarik untuk penerbangan sejauh itu.
Sebenarnya ini bukan kunjungan pertama saya ke Athena. Sekitar sepuluh tahun lalu saya pernah datang untuk one day trip, mengunjungi Acropolis sebelum melanjutkan penerbangan ke Santorini. Karena sudah pernah melihat ikon utama Athena, kali ini saya ingin mencoba destinasi yang berbeda: Temple of Poseidon di Cape Sounion, tempat yang terkenal sebagai salah satu lokasi terbaik menikmati matahari terbenam di Yunani.
Saya pun memesan half day tour seharga 45 Euro, sudah termasuk tiket masuk ke Temple of Poseidon. Semua sudah terlihat berjalan sesuai rencana, sampai akhirnya saya melakukan satu kesalahan kecil. Saya tidak mengecek jadwal Metro Bandara Athena. Saya mengira kereta berangkat setiap 20–30 menit seperti di banyak kota Eropa lainnya. Ternyata jalur dari bandara hanya beroperasi setiap satu jam sekali.
Begitu tiba di stasiun, kereta berikutnya masih sekitar 50menit. Mau keluar dari stasiun kereta bandara, jaraknya lumayan dari airportnya sendiri. Belum mencari taxi atau moda transportasi lainnya. Dalam hati mulai menghitung waktu. Rasanya sudah tidak mungkin lagi sempat check-in ke hotel terlebih dahulu. Akhirnya saya memutuskan langsung menuju meeting point sambil membawa semua barang.
Kalau saja dari awal tahu jeda keretanya selama itu, mungkin saya akan memilih naik taksi atau bus ekspres. Kadang hal-hal kecil seperti ini memang baru terasa penting ketika sedang dikejar waktu. Belum selesai sampai di situ. Saat masih berada di dalam kereta, paket data yang selama ini saya gunakan mendadak tidak bisa dipakai. Padahal saya masih harus mencari lokasi meeting point yang belum pernah saya datangi. Sesampainya di Syntagma Station, saya beberapa kali berhenti untuk bertanya kepada warga lokal. Untungnya mereka cukup ramah dan berusaha membantu menunjukkan arah.
Saya akhirnya tiba di lokasi meeting point, terlambat dua menit. Dan busnya sudah pergi.

Temple of poseidon. Foto dari sini
Rasanya benar-benar campur aduk. Sudah berlari, sudah bertanya sana-sini, ternyata tetap tidak berhasil mengejar.
Di lokasi ternyata ada tiga wisatawan lain yang mengalami nasib serupa. Kami sempat menunggu sekitar tiga puluh menit dengan harapan bus hanya terlambat berangkat. Sayangnya tidak.
Ya sudahlah.
Saya mencoba menerima kenyataan. Kadang dalam perjalanan memang ada momen ketika kita harus merelakan sesuatu yang sudah direncanakan. Daripada terus kesal, saya memilih kembali ke hotel, check-in, mandi, lalu beristirahat sebentar. Masih ada sisa sore yang bisa dimanfaatkan.
Saya lalu memutuskan menuju Lycabettus Hill, bukit tertinggi di Athena yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik menikmati panorama kota dari ketinggian. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari hotel. Sebenarnya badan sudah cukup lelah setelah beberapa hari berpindah-pindah negara. Saya sempat mempertimbangkan naik metro karena stasiunnya dekat hotel. Tetapi setelah melihat peta, ternyata dari stasiun tetap harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menanjak menuju puncak bukit. Jadi sekalian saja saya jalan pelan-pelan dari hotel sambil menikmati suasana kota.
Sesampainya di atas, rasa capek langsung terbayar. Dari puncak bukit terlihat hampir seluruh Kota Athena dengan latar Laut Aegea di kejauhan. Yang paling mencuri perhatian tentu saja Acropolis yang berdiri megah di tengah kota.
Saat matahari mulai tenggelam, langit berubah menjadi gradasi jingga keemasan. Suasananya tenang, romantis, dan jauh lebih santai dibanding keramaian di pusat kota. Di puncak bukit juga terdapat sebuah kafe yang dipenuhi pengunjung. Banyak orang memilih duduk santai sambil menikmati minuman dan menunggu langit berubah warna.
Meski gagal melihat sunset di Temple of Poseidon, saya merasa sunset dari Lycabettus Hill pun tidak kalah indah. Bahkan mungkin memang begini cara perjalanan memberi kejutan. Bukan selalu sesuai rencana, tetapi sering kali menghadirkan pengalaman yang sama sekali tidak kita bayangkan.
Setelah matahari terbenam, saya turun kembali menggunakan metro menuju kawasan Monastiraki, salah satu area favorit wisatawan untuk berburu suvenir. Lorong-lorongnya dipenuhi toko kecil yang menjual magnet kulkas, gantungan kunci, minyak zaitun, hingga berbagai produk khas Yunani. Saya juga menyempatkan mampir ke Hard Rock Cafe Athens untuk melanjutkan kebiasaan yang hampir selalu saya lakukan setiap traveling: mencari kaus Hard Rock Cafe sebagai koleksi.
Perjalanan panjang yang sempat diwarnai penolakan visa, ditolak masuk Siprus Utara, perubahan itinerary berkali-kali, hingga tour yang terlewat di Athena, akhirnya tetap berakhir dengan indah. Bukan tentang semua rencana berjalan sempurna, tetapi tentang kemampuan menikmati setiap perubahan yang terjadi di sepanjang perjalanan. Karena sering kali, cerita yang paling lama dikenang justru berasal dari rencana yang tidak berjalan sesuai harapan.


Leave a Reply