Cuti terbatas, sementara rasa penasarannya terlalu banyak.

Sejak awal merencanakan perjalanan ini, saya sudah menetapkan satu target: menambah lima negara baru di Eropa. Bukan sekadar mengejar angka, tetapi memanfaatkan kesempatan selagi visa Schengen saya masih berlaku dan saya sedang traveling solo.

Traveling sendirian memang memberikan kebebasan yang luar biasa. Mau berangkat jam berapa, tidur di mana, mengejar sunrise, bahkan kalau perlu ngemper di bandara, semuanya bisa diputuskan sendiri tanpa perlu kompromi dengan siapa pun. Konsekuensinya juga jelas. Kalau ada yang meleset, ya saya sendiri yang harus menanggung risikonya.

Itinerary kali ini bahkan bisa dibilang salah satu yang paling padat yang pernah saya susun. Sebenarnya dari Barcelona saya bisa langsung terbang ke Malta. Kalau melihat peta, tinggal “turun ke bawah”. Penerbangan direct juga cukup banyak sehingga jauh lebih sederhana.

Tetapi saya sudah telanjur menetapkan target. Rasanya sayang sekali kalau kesempatan untuk mampir ke Lithuania dan Latvia dilewatkan begitu saja. Akhirnya saya memutuskan sedikit memutar. Hasilnya?

Dalam waktu sekitar 30 jam, saya berpindah melintasi lima negara menggunakan dua pesawat dan dua bus antarnegara.

Kelihatannya nekat. Padahal di balik itinerary ini, proses persiapannya jauh lebih panjang daripada perjalanan itu sendiri.

Saya berkali-kali melakukan cek dan ricek. Contohnya?

Saya melihat histori ketepatan waktu penerbangan selama seminggu terakhir.

Saya membaca review maskapai dan operator bus.

Saya mencari tahu apakah Vilnius Airport nyaman untuk sleeping in airport.

Saya mengecek apakah Vilnius Old Town dan Riga Old Town memungkinkan dijelajahi hanya dalam waktu dua hingga tiga jam.

Saya memastikan terminal bus berada dekat kawasan wisata.

Saya mencari lokasi penitipan ransel.

Saya mempelajari rute bus menuju bandara.

Bahkan saya menyiapkan Plan B.

Misalnya, saya memang sudah mengalokasikan dua malam menginap di Malta. Jadi kalau terjadi masalah di Barcelona, saya tinggal langsung terbang ke Malta dan melewatkan Lithuania maupun Latvia. Kalau kendala terjadi di Vilnius atau Riga, saya masih punya kesempatan mengejar penerbangan ke Malta keesokan harinya.

Perjalanan dimulai pukul 14.00.

Saya naik bus dari Andorra la Vella menuju Bandara Barcelona. Perjalanan sekitar tiga jam melewati pegunungan Pyrenees yang sehari sebelumnya baru saja saya nikmati.

Pukul 19.55 pesawat lepas landas menuju Vilnius, Lithuania. Sekitar pukul 00.30, saya tiba di Bandara Vilnius.

Begitu keluar dari area kedatangan, saya melihat ruang tunggu masih cukup ramai. Ada beberapa kursi panjang yang terlihat sangat nyaman untuk tidur. Awalnya saya ragu untuk langsung merebahkan badan. Takut sewaktu-waktu petugas keamanan berkeliling dan meminta saya keluar dari area tersebut. Setelah memperhatikan beberapa saat dan melihat cukup banyak orang lain yang juga beristirahat di sana, akhirnya saya memberanikan diri ikut tidur.

Alhamdulillah… Lumayan bisa istirahat sekitar empat jam. Begitu bangun, saya langsung berganti baju, mencuci muka, dan menyegarkan diri.

Bandara Vilnius memang tidak besar, tetapi menurut saya sangat nyaman. Kursi-kursinya tidak memiliki arm rest sehingga bisa dipakai selonjoran. Area kedatangannya bahkan terasa seperti lobi hotel, dengan perpaduan desain modern dan klasik yang elegan. Ada pula fasilitas treadmill dan beberapa area duduk yang membuat penumpang betah menunggu.

Pukul 05.47, saya naik bus menuju pusat kota.

Sesampainya di terminal bus, saya langsung menitipkan ransel di locker otomatis. Biaya penitipan selama 24 jam hanya 5 Euro per tas. Begitu ransel ditinggal, badan langsung terasa ringan.

Sekitar pukul 06.20, saya mulai menjelajahi Vilnius Old Town dengan berjalan kaki. Datang pagi ternyata keputusan yang tepat. Jalanan masih lengang, udara terasa segar, dan toko-toko belum buka sehingga suasananya sangat tenang.

Saya memulai perjalanan dari Gate of Dawn, gerbang kota tua yang menjadi salah satu ikon Vilnius. Di atas gerbang terdapat kapel kecil yang menyimpan lukisan Bunda Maria yang sangat dihormati umat Katolik.

Selanjutnya saya menyusuri Pilies Street, jalan utama kota tua yang dipenuhi bangunan berwarna pastel, kafe-kafe kecil, restoran, dan toko suvenir. Karena masih pagi, hampir semua toko masih tutup. Justru itu yang membuat saya bisa menikmati suasana kota tanpa keramaian wisatawan.

Perjalanan berlanjut menuju Cathedral Square. Berdiri megah Vilnius Cathedral dengan menara loncengnya yang terpisah dari bangunan utama. Dari kejauhan terlihat Gediminas Tower berdiri di atas bukit sebagai simbol kota Vilnius.

Saya juga melewati kompleks Presidential Palace dan beberapa gereja bergaya Baroque yang menjadi ciri khas kota ini.

Tidak heran jika Vilnius Old Town ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site.

Kurang dari tiga jam memang terlalu singkat untuk mengenal sebuah kota. Tetapi cukup untuk merasakan atmosfernya.

Sebelum pukul 09.00, saya sudah kembali ke terminal bus. Tujuan berikutnya adalah Riga, Latvia. Saya memilih menggunakan Lux Express. Tiketnya sekitar 20 Euro dengan waktu tempuh kurang lebih tiga jam.

Busnya benar-benar nyaman. Kursinya lega, tersedia Wi-Fi, colokan listrik, bahkan mesin kopi dan teh sepertinya sih berbayar.

Sekitar pukul 12.00, saya tiba di Riga.

Seperti sebelumnya, saya kembali menitipkan ransel di locker otomatis terminal bus. Biaya locker sekitar 3 Euro untuk jam pertama. Untungnya terminal bus berada persis di samping kawasan Riga Old Town, jadi saya bisa langsung mulai berjalan kaki.

Begitu memasuki kawasan kota tua, suasananya langsung terasa berbeda dibanding Vilnius. Kalau Vilnius terasa hangat dan tenang, Riga justru lebih hidup dan ramai.

Tujuan pertama saya adalah House of the Black Heads, bangunan merah dengan ornamen putih yang menjadi ikon kota Riga.

Kemudian saya berjalan menuju Town Hall Square, St. Peter’s Church dengan menara tingginya, lalu mampir ke Three Brothers, kompleks rumah tinggal tertua di Riga yang memperlihatkan perkembangan arsitektur kota dari masa ke masa.

Saya juga melewati Swedish Gate, satu-satunya gerbang kota tua yang masih bertahan hingga sekarang, sebelum akhirnya berjalan santai di tepian Sungai Daugava.

Sebelum mengakhiri city tour kilat di Riga, saya menyempatkan berjalan ke Republic Square. Lapangannya cukup luas dengan bangunan-bangunan modern di sekelilingnya yang kontras dengan nuansa klasik Old Town. Dari sini juga terlihat Sungai Daugava yang membelah kota Riga. Saya berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto sambil menikmati suasana siang itu. Langit biru, udara yang sejuk, dan lalu-lalang warga lokal membuat saya berharap punya waktu lebih lama untuk mengenal kota ini. Benar-benar city tour kilat. Dalam waktu kurang dari tiga jam saya hanya sempat mencicipi “vibes” Riga, bukan mengenalnya secara utuh. Tapi justru itu yang membuat saya ingin suatu hari kembali lagi dengan waktu yang lebih longgar.

Sekitar pukul 15.00, saya kembali menuju terminal dan naik bus menuju Bandara Riga.

Syukurlah semua transportasi hari itu berjalan sangat tepat waktu. Tidak ada delay.

Pukul 17.00, pesawat kembali lepas landas.

Kali ini menuju Malta, negara kelima dalam rangkaian perjalanan saya.

Sekitar pukul 19.40, saya mendarat di Bandara Luqa dan langsung naik bus menuju St. Julian’s, tempat saya akan menginap selama dua malam.

Saat bus memasuki kawasan Spinola Bay, langit Malta sedang mempertontonkan sunset yang luar biasa indah. Langit berubah menjadi gradasi jingga, merah muda, dan keemasan yang berpadu dengan birunya Laut Mediterania.

Di tepi teluk sedang berlangsung acara nonton bareng pertandingan sepak bola Piala Dunia. Suasananya meriah sekali. Rasanya menyenangkan bisa mengakhiri perjalanan panjang hari itu dengan pemandangan seindah ini.

Rasa lelah akibat tidur hanya beberapa jam, berpindah negara, naik bus, naik pesawat, dan berjalan kaki belasan kilometer seolah langsung terbayar.

Saya masih sempat mampir ke supermarket membeli roti, telur, dan tuna kaleng untuk dimasak di dapur hostel.

Barulah saya sadar, Ternyata terakhir kali makan “benar” adalah Pop Mie yang saya seduh siang hari sebelumnya di terminal bus Andorra. Selama hampir satu setengah hari saya lebih sibuk mengejar jadwal dibanding memikirkan makan.

Dalam waktu sekitar 30 jam, saya berhasil melintasi Andorra – Spanyol – Lithuania – Latvia – Malta.

Dua kali naik pesawat.

Dua kali naik bus antarnegara.

Dua kota tua berstatus UNESCO.

Belasan kilometer berjalan kaki.

Tidur empat jam di bandara.

Dan semuanya berjalan sesuai rencana.

Capek?

Sudah pasti.

Tetapi justru itinerary seperti inilah yang membuat saya selalu ketagihan traveling. Ada kepuasan tersendiri ketika semua potongan puzzle perjalanan berhasil tersusun dengan sempurna. Kadang bukan soal berapa lama kita berada di sebuah kota, melainkan bagaimana memanfaatkan setiap jam yang kita miliki.

Amazing Race versi saya. Dan alhamdulillah sukses

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading