Belajar dari pengalaman solo traveling kemarin, saya jadi menyadari satu hal yang cukup mengejutkan. Ternyata saya justru lebih presisi dan lebih minim melakukan kesalahan saat traveling ramai-ramai dibanding saat bepergian sendirian.

Padahal logikanya harusnya kebalik, ya. Kalau jalan sendiri kan semua keputusan ada di tangan sendiri. Mau berangkat jam berapa, mau makan di mana, mau mengubah itinerary juga tinggal jalan. Tidak perlu kompromi dengan siapa pun.

Bisa jadi karena terlalu percaya diri, peluang melakukan kesalahan jadi lebih besar. Atau merasa sudah cukup berpengalaman, akhirnya beberapa hal saya anggap sepele, ditunda, atau kurang saya cek ulang.

Saat traveling ramai-ramai, sekitar 90% urusan persiapan sebelum berangkat saya yang mengerjakan. Mulai dari menyusun itinerary yang paling efisien dan efektif, booking pesawat, hotel, transportasi, mengurus visa, sampai mencari alternatif kalau terjadi kendala. Teman-teman biasanya tinggal menyiapkan dokumen pribadi dan membayar deposit untuk berbagai booking yang harus dilakukan dari jauh hari. Justru karena merasa bertanggung jawab atas perjalanan banyak orang, saya jadi jauh lebih hati-hati.

Kalau booking tiket pesawat untuk 10–12 orang misalnya, saya bisa mengecek nama, tanggal, rute, jam keberangkatan, sampai detail kecil berkali-kali sebelum bayar. Salah sedikit saja, yang repot bukan cuma saya, tapi juga seluruh rombongan. Belum lagi kalau harus menanggung kerugiannya sendiri.

Untungnya selama ini kesalahan fatal sangat jarang terjadi. Seingat saya, hanya satu yang benar-benar membuat panik.

Waktu itu perjalanan pertama kami dimulai dari Jakarta menuju Amsterdam. Begitu sampai di hotel dan hendak check-in, resepsionis mengatakan bahwa reservasi saya sudah dianggap no-show. Saya bengong. Ternyata saya salah booking tanggal. Reservasinya untuk sehari sebelumnya.

Hotel sebenarnya ingin membantu, tetapi semua kamar malam itu sudah penuh. Akhirnya dengan bantuan resepsionis kami dicarikan hotel lain dan bayar lagi. Sejak kejadian itu saya jadi jauh lebih disiplin melakukan pengecekan ulang setiap melakukan booking.

Proses persiapan sebelum keberangkatan juga selalu menjadi diskusi bersama.

Teman-teman biasanya mulai bertanya jauh-jauh hari.

Apa tujuan dan itinerarynya? Kapan beli tiket berikutnya? Kapan urus visa? Hotel yang mana? Bawa koper atau ransel? Bagaimana cuaca?”

Sebagai trip leader, saya harus bisa memberikan jawaban yang jelas sekaligus menenangkan mereka bahwa semua sudah dipersiapkan dengan baik. Dan itu sesuatu hal yang memaksa kita untuk segera melakukan persiapannya.

Saat perjalanan pun begitu. Biasanya sejak awal saya sudah membagi peran inti kepada setiap travel mate. Ada yang bertugas mengurus proses check-in, ada yang memegang kas bersama, ada yang menjadi navigator yang memastikan arah perjalanan dan transportasi hari itu, ada tim yang menyiapkan sarapan, ada yang bertanggung jawab membereskan peralatan makan, dan ada yang memastikan akomodasi tetap rapi sebelum kami check out.

Saya selalu punya satu aturan sederhana: tinggalkan penginapan dalam kondisi yang baik. Sampah dibuang pada tempatnya, dapur dibersihkan kalau habis dipakai, dan barang-barang yang kami gunakan dikembalikan ke posisi semula. Rasanya itu bentuk penghargaan kepada pemilik akomodasi sekaligus memudahkan tamu berikutnya.

Dengan pembagian tugas seperti itu, perjalanan terasa jauh lebih ringan. Saya memang tetap menjadi orang yang menyusun itinerary dan mengambil keputusan utama, tetapi pelaksanaannya menjadi kerja tim. Semua merasa punya tanggung jawab terhadap kelancaran perjalanan, bukan hanya sekadar ikut liburan.

Yang paling terasa adalah budaya saling mengingatkan.

“Boarding pass sudah?”

“Jam busnya/pesawatnya/keretanya benar, kan?”

“Meeting point sebelah sini bukan?”

“Besok keretanya jam berapa?”

“Paspor sudah masuk tas?”

“Power bank sudah dibawa?”

Kelihatannya sepele, tetapi justru pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang sering menyelamatkan perjalanan. Saat satu orang lengah, masih ada yang lain yang ingat. Saat ada yang terburu-buru, yang lain mengingatkan untuk mengecek sekali lagi.

Saya baru sadar, ternyata sistem saling mengecek itu menjadi semacam quality control alami. Kesalahan kecil jadi lebih cepat terdeteksi sebelum berubah menjadi masalah besar.

Saya jadi teringat saat perjalanan di Jepang. Kami berlima belas sudah santai duduk di kereta dari Kyoto menuju Osaka. Tiba-tiba baru sadar satu orang belum naik. Panik? Tentu.

Semua langsung bergerak. Ada yang menghubungi, ada yang mencari informasi kereta berikutnya, ada yang menghitung kemungkinan titik pertemuan, sementara saya mulai menyusun alternatif supaya itinerary tetap berjalan. Saya yang turun dari kereta kembali ke titik awal perpisahan, melapor polisi, menunggu sampai ada kabar. Yang lain kembali melanjutkan perjalanan karena waktu itu kami akan ke TOkyo naik bus. Untungnya akhirnya kami berhasil bertemu kembali dan perjalanan bisa dilanjutkan tanpa perubahan berarti.

Kalau kejadian seperti itu terjadi saat solo traveling, tentu ceritanya akan berbeda. Tidak ada yang membantu berpikir. Tidak ada yang membantu mencari solusi. Semua keputusan, semua pengecekan, semua pengingat harus datang dari diri sendiri. Mulai dari membaca jadwal transportasi, memastikan tiket, mencari halte bus, menentukan arah jalan, sampai mengecek apakah boarding pass masih valid.

Kalau sedang lelah, terlalu percaya diri, atau kurang fokus, tidak ada yang akan berkata, “Eh, coba dicek lagi.”

Mungkin itu sebabnya, selama solo traveling hampir sepuluh hari kemarin saya mengalami beberapa kesalahan kecil yang sebenarnya sangat bisa dihindari. Untungnya tidak ada yang benar-benar menggagalkan perjalanan. Hampir semuanya masih bisa diselamatkan karena saya selalu menyiapkan Plan B sebelum berangkat.

Setelah pengalaman visa Moldova ditolak dan kemudian mengalami refusal of entry di Siprus Utara, saya memang jadi belajar bahwa dalam traveling, itinerary utama saja tidak cukup. Selalu harus ada rencana cadangan. Meski begitu, saya tetap menikmati solo traveling.

Ada kebebasan yang sulit dijelaskan ketika bisa berjalan mengikuti ritme sendiri. Mau berhenti lama di satu tempat, tiba-tiba mengubah tujuan, makan seadanya, duduk satu jam menikmati suasana kota, atau memutuskan tidur di bandara demi mengejar penerbangan pagi, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu berdiskusi dengan siapa pun.

Tidak ada noise. Tidak ada yang harus diurus. Tidak ada yang harus diyakinkan.

Saya sebenarnya sudah beberapa kali solo traveling sebelumnya, tetapi hampir semuanya karena memanfaatkan perjalanan dinas. Misalnya selesai dinas di Labuan Bajo, saya lanjut ke Bajawa, Gunung Kelimutu, dan Ende. Atau selesai dinas di Jakarta, saya terbang dua hari ke Manila. Dinas di Batam, saya lanjut menyeberang ke Singapura.

Baru kali ini saya benar-benar merancang perjalanan solo hampir sepuluh hari murni karena keinginan sendiri. Dan ternyata seru juga.

Jadi kalau ditanya lebih suka mana?

Sampai hari ini saya tetap lebih senang traveling rame-rame.

Ada cerita yang dibagi. Ada yang diajak tertawa saat nyasar. Ada yang saling mengingatkan ketika mulai lengah. Ada yang saling membantu ketika terjadi masalah. Di sini saya belajar toleransi, belajar kompromi, belajar menghargai perbedaan, dan belajar bekerja sama.

Tetapi sesekali solo traveling juga akan tetap saya lakukan. Karena justru saat sendirian, saya belajar mengenali diri sendiri lebih baik. Saya belajar bahwa pengalaman ternyata tidak menjamin seseorang bebas dari kesalahan. Saya belajar bahwa rasa percaya diri tetap harus diimbangi dengan ketelitian.

Dan yang paling penting, saya jadi sadar bahwa seharusnya standar persiapan saat solo traveling tidak boleh berbeda dengan saat menjadi trip leader untuk rombongan. Karena pada akhirnya, meskipun hanya ada satu orang yang ikut dalam perjalanan itu, orang tersebut tetap pantas mendapatkan perjalanan yang dipersiapkan sebaik mungkin.

Dan orang itu ya saya sendiri.

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading