Saya mau share itinerary perjalanan Eropa saya pertengahan tahun ini, sekalian biar jadi kenang-kenangan di sini.
Daripada cuma tersimpan di file laptop atau Google Drive dan beberapa tahun lagi entah masih ketemu atau tidak, mending ditulis di blog. Siapa tahu suatu saat saya sendiri ingin melihat kembali, “Dulu pernah jalan sejauh ini sendirian, ya?”
Itinerary ini saya buat cukup lengkap, termasuk nomor penerbangan dan jadwal perjalanan. Salah satu alasannya sederhana: supaya paksu dan anak-anak di rumah tahu saya sedang berada di mana, naik pesawat apa, dan rutenya ke mana. Jadi meskipun saya traveling sendirian, informasi perjalanan tetap mereka pegang.
Rute awal yang saya susun sebenarnya cukup sederhana dan sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari. Kebetulan visa Schengen saya masih berlaku, jadi saya ingin memanfaatkannya untuk mengunjungi beberapa negara yang belum pernah saya datangi.
Itinerary ini pun mengalami sedikit perubahan. Saya mengalami refusal of entry di Northern Cyprus. Setelah berada sekitar 22 jam di ruang imigrasi Bandara Ercan, saya akhirnya dipulangkan kembali ke Istanbul. Akibatnya, rute yang seharusnya Lefkosa – Ankara tidak bisa saya jalani. Saya harus membeli tiket baru dari Istanbul ke Ankara agar perjalanan berikutnya tetap bisa berjalan.
Saya juga memang sengaja tidak membuat itinerary terlalu detail. Yang saya susun biasanya hanya kerangka besarnya dulu: urutan kota, negara, penerbangan, bus, akomodasi, dan waktu perpindahan.
Detail seperti: “Begitu sampai kota ini mau ke mana?” biasanya baru saya pikirkan menjelang keberangkatan atau bahkan setelah sampai di kota tersebut.
Saya bukan tipe yang harus punya itinerary dari pagi sampai malam untuk setiap hari.
Buat saya, yang paling penting adalah memastikan perpindahan dari satu titik ke titik berikutnya aman dan masuk akal. Pesawatnya jam berapa? Terminalnya di mana? Berapa lama perjalanan? Kalau terlambat bagaimana? Tidur di mana? Bagasi dititipkan di mana? Bagaimana menuju pusat kota?
Setelah semua itu aman, barulah saya memikirkan mau jalan ke mana.
Sebagai catatan perjalanan. Sebagai dokumentasi. Dan mungkin sebagai pengingat bahwa pertengahan tahun ini saya pernah melakukan perjalanan Eropa hampir 10 hari seorang diri, dengan ransel sekitar 6 kg, melewati beberapa negara yang belum pernah saya datangi.


Leave a Reply