Dari Paris kami bergeser ke Bucharest, Romania.
Begitu tiba di bandara, hal pertama yang kami lakukan adalah menukar uang untuk keperluan membayar akomodasi dan kebutuhan lainnya selama semalam di Bucharest. Setelah itu kami naik bus express no 100 menuju pusat kota. Tarifnya murah banget, sekitar 3 Lei/RON atau IDR 10,000.
Bus berhenti di area kota dan dari halte kami hanya perlu berjalan sekitar 300 meter menuju apartemen Black and White yang sudah kami pesan.
Untungnya, petunjuk dari owner sangat jelas. Mulai dari lokasi apartemen, cara menemukan pintu masuk, sampai proses self check-in, semuanya dijelaskan dengan detail. Jadi meskipun baru pertama kali datang ke Bucharest dan kami nggak mengalami drama mencari-cari apartemen.
Dan begitu pintunya dibuka, wow! Apartemennya keren banget!
Desainnya estetik dan nyaman. Satu apartemen terdiri dari empat kamar yang kami gunakan untuk rombongan perempuan, sementara teman-teman laki-laki menempati apartemen lain yang terpisah.
Kami pun istirahat sebentar, sekadar melepas lelah dan menaruh barang. Tapi karena belum sempat makan siang, istirahatnya nggak boleh lama-lama. Perut sudah memanggil. Wajib cari makan.
Sore itu kami berjalan santai menuju Old Town Bucharest sambil mencari makan. Jaraknya sekitar 1 km dari apartemen, jadi sekalian saja jalan kaki menikmati suasana kota. Dalam perjalanan kami melewati 0 Kilometer Bucharest, titik yang menjadi penanda pusat kota dan salah satu spot menarik untuk berhenti sebentar dan foto-foto. Setelah itu kami lanjut menuju kawasan Old Town dan akhirnya makan di Efendi Doner, restoran Turki yang berada di kawasan Lipscani.
Perut sudah aman, baru deh jalan-jalan dengan lebih tenang.
Kami menyusuri kawasan Lipscani dan sekitarnya. Ternyata bukan cuma bangunan tua, restoran dan kafe yang menarik perhatian. Kami juga menemukan toko souvenir. Dan yang bikin beberapa teman langsung antusias, ternyata ada Hard Rock Shop Bucharest di kawasan ini. Buat kami, Hard Rock Shop sudah seperti salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi setiap kali berada di negara yang punya Hard Rock Cafe. Sebenarnya kalau buat saya pribadi, koleksi kaos Hard Rock sekarang sudah tidak semenarik dulu lagi. Desainnya juga tidak terlalu banyak dan relatif mirip dari satu negara ke negara lain. Sebagian besar desain yang saya suka pun sudah dimiliki. Tapi tetap saja, rasanya ada yang kurang kalau sudah sampai di sebuah kota dan melewatkan Hard Rock Shop. Apalagi buat beberapa teman yang lain, tempat ini masih masuk kategori wajib dikunjungi.
Keesokan paginya kami gak buru-buru keluar, sengaja bersantai sampai jam 11 siang waktu check out. Kami menyiapkan sarapan untuk semua, ada nasi, ada mie, ada buah dan lainnya. Sambil karaoke-an, nyanyi-nyanyi bareng. Kami juga masih diperbolehkan menitipkan barang di apartemen sampai sekitar jam 6 sore. Jadi kami nggak perlu membawa koper keliling kota. Ini lumayan banget karena malamnya kami memang baru akan melanjutkan perjalanan menuju Sofia, Bulgaria. Daripada buru-buru, kami memilih menikmati Bucharest dengan cara paling sederhana: jalan kaki santai.
Kami memulai perjalanan dari University Square, salah satu kawasan penting di pusat Bucharest. Dari sini kami berjalan menuju Romanian Athenaeum, gedung konser bergaya neoklasik yang menjadi salah satu bangunan paling cantik di kota ini. Dari Romanian Athenaeum, kami lanjut ke Revolution Square. Tempat ini punya nilai sejarah penting bagi Romania karena berkaitan dengan Revolusi 1989 yang mengakhiri pemerintahan komunis Nicolae Ceaușescu. Jadi sambil berjalan, kami bukan cuma melihat bangunan-bangunan cantik, tetapi juga sedikit mengenal sejarah Romania. Dari Revolution Square kami kemudian menyusuri Calea Victoriei, salah satu jalan bersejarah dan terkenal di Bucharest. Jalan kaki di sini cukup menyenangkan. Bangunan-bangunan tua bercampur dengan kafe, toko dan bangunan modern. Sesekali berhenti untuk foto, lanjut jalan lagi.
Santai saja. Kami memang tidak sedang mengejar checklist wisata.
Dari Calea Victoriei, kami kemudian masuk kembali ke kawasan Old Town dan melewati Stavropoleos Church, gereja Ortodoks kecil yang cantik dengan arsitektur khas dan halaman yang tenang di tengah hiruk-pikuk Old Town. Setelah puas berjalan-jalan, kami mulai mencari makan siang.
Tujuan akhirnya adalah Baba Halal Food. Makanannya enak-enak, hanya saja tempatnya cukup sempit sehingga kurang pas untuk rombongan kami yang berjumlah 12 orang. Sambil menunggu makanan dibuat, kami memanfaatkan kesempatan untuk shalat di sana. Lumayan, sekali mampir bisa makan sekaligus menunaikan kewajiban.
Setelah itu kami naik taksi online kembali ke apartemen untuk mengambil koper.
Sementara kami memilih walking tour santai di pusat kota, ada dua teman yang mengambil pilihan berbeda.
Mereka ikut Dracula Tour. Romania memang identik dengan kisah Dracula, terutama karena legenda tersebut dikaitkan dengan wilayah Transylvania dan sosok Vlad III, yang dikenal sebagai Vlad the Impaler. Tour mereka membawa peserta keluar dari Bucharest menuju kawasan Transylvania. Salah satu tujuan utamanya adalah Bran Castle, kastil yang sangat populer dengan sebutan Dracula’s Castle.
Menariknya, teman-teman kami sudah membawa koper karena setelah tour mereka tidak kembali ke apartemen. Koper mereka bisa dititipkan di bus yang digunakan untuk tour dengan tambahan biaya sedikit. Jadi kami membuat janji untuk bertemu kembali nanti di AFI Cotroceni.
Strategi kami memang begitu. Daripada semua orang harus ikut itinerary yang sama, masing-masing bebas memilih kegiatan yang disukai. Yang penting nanti ketemu lagi di titik yang sudah disepakati.
Nongkrong Sambil Menunggu Bus ke Sofia
Menjelang sore, kami kembali mengambil barang di apartemen dan bergerak menuju AFI Cotroceni, salah satu mall terbesar di Bucharest.
Kenapa mall? Biar menunggu nggak terasa, sekalian cuci mata.
Malam itu kami akan melanjutkan perjalanan ke Sofia, Bulgaria, dan terminal bus yang akan kami gunakan berada searah dari kawasan mall tersebut.
Bus FlixBus dijadwalkan berangkat pukul 23.30.
Artinya kami masih punya beberapa jam untuk membunuh waktu.
Masalahnya, kami membawa koper. Jadi kami mencari tempat yang memungkinkan untuk duduk cukup lama tanpa masalah dengan koper-koper yang kami bawa. Kebetulan di dekat salah satu pintu masuk AFI Cotroceni nemu sebuah kafe dengan konsep seperti bubble, sehingga area duduknya terasa lebih terpisah dari keramaian mall.
Pas banget! Akhirnya kami menetap di sana sampai jam tutup cafe.
Sambil menunggu waktu, kami bergantian jalan-jalan di mall. Sebagian nongkrong di kafe menjaga koper, sebagian lainnya cuci mata. Namanya juga mall. Awalnya cuma lihat-lihat. Tapi akhirnya ada yang pulang membawa sepatu, baju dan barang-barang lainnya.
Jam 10 malam kami sudah harus bergerak menuju terminal karena bus berangkat pukul 23.30.
Setelah semua kembali berkumpul dan barang lengkap, kami memesan Bolt menuju terminal bus. Sampai di terminal, kami tinggal menunggu.
Dan Alhamdulillah, FlixBus berangkat tepat waktu. Perjalanan malam pun dimulai.
Bucharest kami tinggalkan untuk menuju negara berikutnya: Bulgaria. 🇧🇬








Leave a Reply