Day 6: Bangkok-Makassar (End of the trip)

Senin, 21 Feb 2011 Saatnya pulang… Hari ini hanya dikhususkan untuk terbang sampai Makassar. Titik dimana kami harus berpisah dan kembali ke tempat asal masing-masing. Tiket Lion ke Palu untuk malam ini sudah ditangan. Harusnya besok masih terhitung cuti, cuman berhubung lusa mau rakorda di Makassar dan setelah itu menghadapi audit sertifikasi ISO 9001:2008, sy harus masuk kantor besok untuk mempersiapkannya. Jam 04.00 subuh kami dijemput menuju airport. Jam 11.00 kami tiba di LCCT Airport. Saya harus bergegas, karena boarding pass penerbangan KL-Makassar dan KL-Jakarta belum ada ditangan. Sy pun berlari-lari untuk mendahului penumpang lain yang menuju imigrasi, biar gak ngantri terlalu lama di imigrasi. Antrian di imigrasi gak terlalu padat, sehingga sy dengan cepat bisa menuju area keberangkatan untuk cetak boarding pass di mesin Self-Check In. Aman, sy sisa menunggu rekan-rekan lain untuk proses bagasi drop in. Kami berpisah disini dengan Hesni dan Phian, mereka pulang ke Jakarta. Pada saat akan masuk ke ruang tunggu, Sonny n Darma tertahan karena mainan Helicopter yang dibeli Darma harus dibagasikan kecuali kalo dos mainannya di buka. Sedangkan Sonny diminta untuk menimbang ranselnya. Ranselnya diminta untuk dibagasikan karena >7kg. Huh, dasar lagi apes, padahal banyak kok yang lebih besar dari ranselnya Sonny lolos aja masuk. Sedikit panik mode on, apalagi terdengar pengumuman penumpang KL-Makassar harus masuk ke ruang tunggu. Staf wanita yang ada di counter bagasi menolak menerima uang rupiah, minta ditukar dalam ringgit. Lagi-lagi sy harus ke money changer, meminta ijin untuk menyerobot antrian orang yang menukar uang. Lumayan jauh jaraknya dari counter bagasi itu. Begitu tiba kembali di counter bagasi, Sonny udah transaksi dengan kartu kredit. Huhh, mbak bilang kek dari tadi kalo bisa pake kartu kredit. Sambil menunggu boarding, kami pun sudah merencanakan akan kemana trip berikutnya di tahun depan. Tentu saja menunggu promo tiket Air Asia.

Day 5: In Bangkok, City of Angels

Minggu, 20 Feb 2011

City tour-nya sy pikir akan seharian, ternyata hanya setengah hari. I don’t know dimana mis-nya. Padahal jika tau cuman setengah hari, pagi ini bisa ke damnoen saduak floating market dulu meski harus nambah biaya tur sejumlah 600B. Damnoen saduak adalah pasar terapung yang terletak kurang lebih 60km dari Bangkok.

Jam 08.00 Ms. Apittanan Phimmai yang minta dipanggil Ms. Jenny, tur guide kami sudah menunggu di lobby hotel. Untuk sarapan, lagi-lagi kami meminta nasi putih dan telur rebus.

Kami mengunjungi Grand Palace dan Wat Phra Keo (Temple of the Emerald Buddha). Grand Palace adalah bekas tempat kediaman raja yang kemudian dijadikan obyek wisata. Didalamnya ada Wat Prhra Keo, candi tempat budha yang paling suci yang berumur kurang lebih 600 tahun, terbuat dari 1 bongkahan batu jade kualitas terbaik dan mengenakan pakaian yang terbuat dari emas yang menandakan musim yang sedang berlangsung. Musim di Bangkok ada 3, musim panas (Juli-Oktober), musim hujan (Nov-Februari), musim dingin (Maret-Juni). Upacara penggantian pakaian buddha dilakukan 3x setahun oleh sang Raja. Khusus, di Wat Phra Kaeo ini tidak diperbolehkan untuk mengambil foto/video. Di depan kuil, tampak banyak orang membeli bunga bertangkai yang kemudian dicelup ke dalam wadah air suci dan ditepukkan ke atas kepala.

Grand Palace ini sangat luas, dibutuhkan 1 hari untuk mengagumi keindahan setiap detil di Grand Palace. Kami menikmati sebagian kecilnya saja, karena masih ingin mengunjungi wat-wat lainnya. Wat Traimit, Wat Pho, Temple of Marble dan melihat Town Hall. Ternyata capek juga maraton ke candi-candi dan untungnya cuman setengah hari. Sebagian teman memilih menunggu di mobil pada saat sebagian dari kami mengunjungi Temple of Marble. Gimana kalo seharian full?

Setiap temple mempunyai keunikan masing-masing.

Wat Phra Cetuphon atau yang lebih dikenal Wat Pho (Temple of Reclining Buddha), merupakan patung Budha yang terbesar (panjang 46m dan tinggi 15m) dan dengan pagoda yang terbanyak di Thailand dengan jumlah 99 pagoda. Kata Ms. Jenny, pagoda dibangun untuk tempat menyimpan abu para raja-raja Thailand.

Wat Traimit adalah rumah Patung Budha yang terbuat dari emas yang terbesar di dunia, beratnya kurang lebih 5500 kg emas. Wow. Perkiraan umur patung tersebut kurang lebih 700 tahun.

Wat Benchamabophit (The Marble Temple) terkenal karena terbuat dari marmer Italia dan perpaduan arsitektur modern. Di dalam ada pohon uang, berasal dari sumbangan umat Budha. Seperti Ms. Jenny selalu mendonasi jika masuk ke dalam kuil. Katanya itu adalah salah satu Way of Buddhism.

Tujuan akhir adalah Gems Gallery. Ms. Jenny mengatakan pemerintah Thailand mewajibkan setiap tur harus singgah disini. Dia tidak menyarankan untuk berbelanja disini karena harganya yang lumayan mahal. Kami disambut dengan suguhan minuman selamat datang, minuman bersoda. Setelah itu kami diminta menunggu sejenak sampai ruangan untuk presentasinya siap. Presentasi selama 20 menit ini adalah mengenai informasi keindahan permata dan berlian dari Thailand. Bahasanya disesuaikan dengan asal negara turisnya. Kemudian kami diajak ke gallery. Sebuah gallery yang sangat luas dan menawarkan perhiasan dengan harga yang belum sesuai dengan kantong kami. Ada sih perhiasan dari perak dan berhiaskan batu permata seharga 1000Baht. Batu permata semakin mahal jika terdapat kilauan yang bersinar di batunya. Sebelum mencapai gallery-nya, ada juga café tempat istirahat yang juga menyediakan the, kopi gratis. Teman-teman akhirnya lebih tertarik berbelanja di ruangan paling ujung yang menyediakan berbagai souvenir khas Thailand.

Kami meminta Ms Jenny untuk makan siang dengan menu halal. Ms. Jenny menyarankan ke KFC di Pratunam saja karena dia ada janji untuk bertemu dengan kliennya sesudah itu. Ms Jenny sebenarnya adalah agen properti yang diwaktu luangnya menjadi tur guide freelance. Kami berpisah setelah makan, Ms Jenny sempat memberikan kartu nama untuk dihubungi kalau-kalau kami sempat tersesat di Bangkok.

Pratunam Mall ini merupakan tempat berbelanja grosiran dan beli souvenir yang terletak persis di sebelah Baiyoke Sky Hotel. Tahun lalu, sy sempat booking hotel ini untuk nginap 2 malam dengan harga 750rb/malam. Tapi sy membatalkannya, karena waktu keberangkatannya persis pada saat demonstrasi mencapai titik kulminasinya. Tempat ini merupakan area baku tembak (life firing zone) antara militer Thailand dan para demonstrans yang menewaskan pimpinan pendemo. Atas pembatalan tersebut, sy dikenakan biaya pembatalan oleh Agoda seharga 1 malam menginap di hotel tersebut.

Kami berpencar di mall ini mencari dan membeli barang-barang sesuai keinginan kami masing-masing. Saya hanya membeli semampu uang Baht-ku dan semampu ranselku.

Puas belanja, kami kembali ke Charlie House dengan taxi. Rehat sejenak, kemudian kami keluar lagi untuk makan malam. Sebenarnya beberapa diantara dari kami pengen makan durian, tapi bingung nyarinya dimana dan menurut Ms. Jenny ini belum musim durian sehingga durian masih terbatas sekali. Jadi kami memutuskan untuk makan malam saja di food court mall MBK sekaligus melihat mall yang katanya menjadi tempat favorite turis asal Indonesia.

Di Food court, hanya 1 yang menyatakan menyediakan makanan halal dengan menu nasi kuning dan ayam kari. Lebih baik ini ketimbang kami harus membeli pizza atau makan di KFC malam ini. Baru kali ini kami menyediakan waktu untuk makan sesuai jam makan. Beberapa hari kemarin, makan selalu dikesampingkan karena lebih fokus untuk tujuan tempat wisatanya.

Bagi ku, lebih nyaman dan menyenangkan belanja di Pratunam tadi. Harga di Pratunam memang cuman di diskon sedikit antara 10-15% tapi harganya masuk akal. Saya mencoba menanyakan harga sandal jepit yang berhiaskan manik-manik, penjualnya menyebutkan angka 350Baht. Sy pun gak menawar lebih lanjut, sy mau tawar di harga berapa secara di Bali sendal itu hanya seharga 40Baht. Saya berpindah ke booth sebelahnya dan bertanya harga. Ngasih harga yang gak masuk akal. Dan penjual pertama ngomong ke penjual kedua, dalam Bahasa Thailand. Sy bisa menangkap maksudnya, dia bilang gini: ”itu orang (saya yang dimaksud) sok-sok an cuman bertanya how much-how much aja, tapi gak mau beli”. Huhhh. Rasanya mau marah, tapi sy gak mau buang-buang energi untuk itu, lagian mau bertengkar pake bahasa apa? Hehehe..

Kami lalu ke Hard Rock Cafe Bangkok, ke Rock Shopnya saja untuk membeli beberapa merchandise-nya. HRC ini dekat banget dengan MBK Mall, sisa menyeberang jalan dan berjalan kurang lebih 100m.

Day 4: HCMC-Bangkok

Sabtu, 19 Feb 2011

Kami tiba di airport of Suvarnabhumi jam 11.10 setelah terbang selama 1 jam 30 menit. Airport ini luas banget, sampai-sampai terdapat 2 arah pintu kedatangan dan imigrasi. Lewat email, sy janjian dengan penjemput kami di Gate 3. Agak lama kami mencari penjemput kami itu, kami sempat khawatir gak dijemput. Bukan karena takut hilang, takut karena sy udah bayar lunas untuk paket di Bangkok ini. Tidak susah kok untuk ke kota karena sejak tahun lalu MRT dari airport ke kota sudah beroperasi, dan masih banyak pilihan sarana transportasi lainnya.

Rupanya dia ada disudut booth tourist information gak terlalu kelihatan.

Di mobil, sy membaca Thaiways, the most comprehensive guide to Thailand, buku saku yang sy dapatkan gratis di booth di airport tadi. Surprise membaca, penginapan Charlie House Lumpini masuk dalam daftar penginapan yang direkomendasikan, begitu juga Alex Holiday Tour Travel. Charlie House dengan pe-de mempromosikan penginapannya dengan 2 slogan “ 5 star guesthouse near silom, park, shopping centres” dan “not a hotel nor a guesthouse but a home” .

Sampai di Charlie House, apa yang dipromosikan berbeda dari kenyataannya. Charlie House hanyalah sebuah penginapan yang sudah berumur dan kusam. Saya sih gak masalah dengan tampak depan dan lobby, namun sedikit kecewa dengan penampakan kamarnya. Karpetnya usang, tempat tidurnya keras, perabotannya tua dan sederhana. Padahal penampakan di websitenya bagus dan rapi, hehehe, mungkin foto jaman dulu sewaktu penginapannya masih baru. Namun kembali ke harga yang ditawarkan, sesuailah dan berAC. Di website harga kamarnya 450THB atau 135rb/malam.

Penginapan ini udah termasuk dalam paket tour yang kami booking. Total harga 2050THB termasuk akomodasi 2 malam, transfer bandara, city tour, makan pagi dan makan siang 2x.

Kami juga membooking tiket Siam Niramit , dengan perjanjian akan bayar jika tiba di Bangkok. Harga untuk tiket saja yang ditawarkan 990THB lebih murah dibanding beli di situs resminya. Ada pula penawaran tiket+dinner+transfer seharga 1500THB, namun menurut info dinnernya gak terlalu berharga dan lebih murah naik taxi.

Sambil menunggu konfirmasi tiket siam niramit difax, kami makan siang di Charlie House. Liat daftar menu, banyak sekali pilihan, hanya saja sebagian gak halal. Daripada lapar, kami memesan nasi putih + telur rebus saja.

Setelah makan siang, kami menuju Wat Arun, the Temple of Dawn, Pagoda tertinggi yang ada di Thailand yang terletak di sisi seberang dari Sungai Chao Prhaya. Wat Arun tidak termasuk tempat yang akan kami kunjungi dalam city tour besok. Untuk menuju kesana, kami berjalan kaki sekitar 200m ke stasiun MRT terdekat, Lumpini Station, naik MRT turun di Hua Lampong Station. Resepsionis di Charlie House menyarankan naik taxi dari sini ke tempat ferry ke Wat Arun, setelah tanya sana tanya sini, bisa juga naik bis no 53.

Bis ini menurunkan kami di Terminal Air No 8 (Pier Tha Tien), dari sini ke Wat Arun sisa menyeberang sungai saja. Wat Arun paling bagus dinikmati dikala senja pada saat matahari akan terbenam, suasananya cantik sekali. Kalo ingin berpose dengan baju adat Thailand bisa didapatkan disini dengan 200Baht saja.

Setiap akan memasuki kuil/candi/pagoda, kita diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang pantas dalam artian tidak bercelana/ber-rok pendek. Di beberapa tempat, kita juga akan diminta melepaskan sepatu jika masuk ke dalam kuil.

Sungai Chao Prhaya merupakan alternatif transportasi di Bangkok yang bebas macet. Sungai dengan panjang 372km ini merupakan sungai terpanjang dan melewati 20 propinsi di Thailand. Ada beberapa jalur yang ditetapkan untuk pilihan perahunya. Express boat, public boat dan tourist boat. Untuk menggunakan tourist boat, kita harus membeli one day river pass seharga 150B yang dapat digunakan seharian penuh dan bebas naik turun perahu di dermaga mana saja. Express boat, hanya berhenti di dermaga tertentu saja, jadi yang ingin cepat ke tujuan biasanya naik perahu ini. Sedangkan public boat, akan berhenti di setiap dermaga sepanjang S. Chao Praya. Harga sekali naik antara 9-30B tergantung jarak. Jika punya banyak waktu, nikmatilah S. Chao Prhaya dengan menggunakan public boat ini sekalian berbaur dengan warga Bangkok yang menggunakan sarana transportasi ini. Untuk membedakan public boat dan express boat, perhatikan bendera perahunya. Ada jalur orange, merah, hijau, kuning. Public boat jalur orange yang berhenti di setiap titik dermaga termasuk jika ingin ke Wat Pho dan Grand Palace.

Dari Wat Arun, kami akan langsung ke Thailand Cultural. Sebenarnya pilihan yang tepat adalah menyeberang kembali ke tempat kami naik, kemudian naik taxi menuju ke sana. Namun kami sepakat untuk mencarter perahu seharga 400B sampai di pier Sathorn tempat dimana BTS Station Saphan Taksin. Kami menikmati pemandangan sepanjang sungai, banyak hotel-hotel berbintang yang berada di pinggir sungai ini seperti Marriott, Peninsula Shangri-La, Royal Orchid Sheraton, Mandarin Oriental, Millennium Hilton dan lain sebagainya. Mall pinggir sungai juga ada, namanya River City Shopping Complex (Si prhaya Tier). Next time, I will go here.

Kami naik BTS dan turun di station Sala Daeng untuk berganti ke Metro (MRT) Silom Naik MRT menuju station Thailand Cultural, didepan station Exit 1 sudah menunggu bis khusus gratis bagi para turis yang ingin menonton pagelaran Siam Niramit.

Siam Niramit, Journey to The Enchanted Kingdom of Thailand ( http://www.siamniramit.com ) Pemerintah Thailand menyatakan Siam Niramit ini “a must see show” dan sebagai salah satu pertunjukan panggung spektakular terbesar di dunia dengan 150 penampil dan menggunakan 500 kostum. Kapasitas kursi pertunjukan sebanyak 2000 kursi dan menampilkan seni dan budaya masyarakat Thailand.

Sebelum show dimulai, 2 gajah yang ikut dalam pertunjukan dikeluarkan ke taman dan diberi kesempatan bagi orang-orang yang ingin naik gajah. Harga sekali naik gajah 100B.

Bener-bener spektakuler, saking luasnya panggung dan banyaknya penampil, mata sangat sibuk mengikuti alur cerita. Beberapa diantaranya menceritakan tentang kehidupan petani, proses barter hasil bumi antara pedagang dari Cina dengan pedagang Thailand, kehidupan surga dimana para bidadari beterbangan kesana kemari lalu turun dari kayangan, kehidupan neraka dan masih banyak lagi. Setting panggung cepat sekali berubah dan perubahannya terjadi tanpa terasa. Ada bagian dimana penampil muncul di tengah-tengah kursi penonton, memberikan bunga kepada penonton dan mengajak beberapa penonton untuk menyalakan rumah lilin kemudian di taruh di stage yang berfungsi sebagai aliran sungai. Bahkan ada bule yang diajak berinteraksi dengan para pemain lainnya untuk bermain angklung di panggung.

Pulangnya naik MRT, karena kami ingin menghabiskan waktu di Suan Lum Night Bazaar sekalian makan disana. Ternyata Suan Lum Night Bazaar udah tutup selama-lama, karena pemilik tanah yang dijadikan pasar itu akan membangun properti yang megah. Omg, kami laparr. Di seberang jalan ada A&W, namun juga apes, Awnya pas akan tutup. Sepanjang jalan itu sebenarnya banyak sekali kuliner, tapi gak pas bagi yang membutuhkan makanan halal. Sonny dan Phian memilih makan di jalan, sy dan yang lainnya memilih untuk membeli buah dan singgah di toko 7-11 yang dekat dengan Charlie House untuk membeli makanan siap saji. Pilihannya banyak, ada pizza yang tinggal minta dihangatkan, tuna kaleng, mie instan dan masih banyak lainnya.

TRIP DAY 2: KL – HO CHI MINH CITY

KAMIS, 17 FEBRUARI 2011

Sebelum ke bandara, kami mau menyempatkan diri berfoto di Petronas dan KL Tower. Jadi pagi-pagi kami sudah bangun, beres-beres, sarapan lalu berangkat. Udah janjian dengan Suhuri untuk jalan bersama. Tadinya mau naik taxi, ternyata pagi-pagi taxi pada sibuk semua. Yang biasa mangkal di halte depan hostel pun tak ada. Setelah beberapa lama, akhirnya kami memutuskan untuk naik monorail saja. Sempat ada kejadian, kartu ATM Mandiri-nya Mia tertelan pada saat mau narik uang di ATM Maybank, jadi Mia memutuskan gak ikut dengan kami karena mau menunggu sampai Bank Maybank buka dan mengurus ATMnya.

Naik monorail ke Bukit Nanas, nyambung Kelana Jaya Line (MRT) di station Dangi Wangi, trus turun di KLCC. Twin Tower udah di depan mata. Kami hanya sebentar cuma berfoto-foto, karena masih mau ke KL Tower dan view Petronas yang lainnya. Kami naik taxi aja, tujuannya balik ke hostel tapi minta singgah di dua tempat tadi.

Kami masih sempat masuk Sungai Wang Plaza, niatnya mau liat-liat Vincci, tapi belum buka. Waktu memang belum jam 10. Iseng-iseng liat BB 9300/kepler harganya murah banget hanya 599RM, pas ditanya apa bisa dipake di Indonesia, penjualnya bilang hanya bisa dipakai di Malaysia. Paketan dengan kartu telepon operator sana, seperti bb bundling telkomsel, xl dan sebagainya.

Jam 11.30 kami check out, taxi yang kami order untuk ke bandara sudah menunggu dari tadi. Supir taxi yang kami order ini kenalannya Narni, sekampung ama Narni di Enrekang, tapi sekarang sudah menjadi WN Malaysia.

Phian, suaminya Hesni juga sudah ada di LCCT menunggu. Dia berangkat pagi tadi dari Jakarta.

Di ruang tunggu bandara, sambil menunggu boarding, pada menukar US Dollar ke Vietnam Dong. Kurs disana 1US=16,000VND. Saya gak tertarik menukarnya, feelingku mengatakan nanti saja kalo sudah sampai disana.

Tiba di bandara Tan Son Nhat, Ho chiminh City, kami celingak celinguk mencari penjemput kami. Gak sulit dicari karena penjemput kami itu udah menulis namaku di kertas ukuran A4.

Perjalanan dari airport ke kota kurang lebih 45 menit. Kesan pertama, kota ini semrawut, lalu lintasnya kacau, penuh dengan sepeda motor. Apalagi kalo melihat jaringan listrik yang bener-bener seperti benang kusut. Kami cuma mengurut dada, menahan nafas melihat tingkah supir kami yang ugal-ugalan. Sony aja yang duduk depan sampai stress. Ditambah kami yang agak kagok berada di mobil bersetir kiri. Sering, secara refleks, sy atau teman sy yang mau duduk didepan ke pintu sebelah kiri.

Mobil yang membawa kami berhenti di depan gang. Oalah ternyata Hotel Phan Lan yang kami booking terletak di gang sempit, kendaraan roda empat gak bisa masuk. Jarak dari jalan besar gak terlalu jauh sih sekitar 50 m. Di dalam gang itu memang semuanya hotel-hotel kecil yang berjumlah kurang lebih 25 hotel. Sebenarnya gak tepat juga kalau di bilang hotel, yang tepat adalah wisma/guesthouse. Namun mereka pe-de dengan sebutan hotel. Hotel Phan lan menjadi pilihan saya, karena hotel ini cukup banyak direkomendasikan di milis, websitenya menawan, harganya reasonable, komunikasi dengan hotel ini mudah dan menyediakan antar jemput bandara dengan harga reasonable. Sebelum memutuskan hotel mana yang dibooking, sy banyak membandingkan hotel dari sisi harga, lokasi dan review orang-orang yang pernah tinggal di hotel tersebut. Dan harga hotel di HCMC agak mahal, di http://www.agoda.com harga hotel standar *2 min 400rb/malam. Sy booking 4 kamar di hotel Phan Lan, 2 kamar triple, 1 kamar double n 1-nya lagi kamar single dan request kamarnya di lantai 1,2,3 aja. Kamarnya sih ok. Harga 31USD/orang untuk 2 malam termasuk transfer airport pp. You get what you pay alias ada harga, ada mutu.

Harga tukar USD ke VND di hotel lebih bagus dibanding di airport LCCT, disini 1 USD=21,000VND.

Setelah istirahat sejenak, dan diskusi untuk memutuskan apa yang akan kami lakukan besok, kami lalu keluar jalan kaki buat cari makan dan ke pasar benh thanh. Tapi kami salah arah, jadi mutar-mutar gak keruan. Kami taunya jalan tempat kami diturunkan tadi dari bandara, eh gak taunya ada juga jalan sebelahnya. Jadi dari hotel itu bukan ke arah sebelah kanan harusnya ke arah sebelah kiri. Makanya kaki udah pegel banget dan bertanya 1000x dengan bahasa tarzan, gak juga nyampe-nyampe.

Baru tau kalo tadi mutar-mutar, setelah naik taxi pulang dari benh thanh dan diturunkan di tempat berbeda dengan tempat awal kami keluar. Huhhh. Kami diturunkan di jalan Pham Ngu Lao, jalan besar di depan taman. Alamat Hotel Phan Lan adalah Pham Ngu Lao Street 283/6 (baca lorong 283 no 6). Seandainya dari airport turun disini, mungkin kami gak kebingungan arah.

Akhirnya sampai juga di pasar malam benh thanh. Di depan pasar ada penjual ketan warna-warni, kuning, orange, hijau. Kami yang mencoba yang warna kuning tertarik sama bau duriannya, harganya USD 1. Rasanya biasa saja. Pengen wisata kuliner, tidak memungkinkan. Gak halal soalnya. Makanannya khas sana adalah pho dan yang terkenal adalah pho 2000 tempat bill clinton makan pho, pho itu sejenis mie kuah. Dapat informasi dari yang pedagang jualan jilbab di pasar itu bahwa tidak ada halal food di sekitaran sini. Kami memutuskan setelah belanja, kami makan di restoran Vietnam Halal yang kami lewati tadi.

Rame juga restoran itu, kelihatan orang Malaysia yang punya, karena menunya menu Malaysia. Harga juga lumayan. Untuk seporsi Nasi Goreng Udang dan teh tarik, harganya 95,000VND. Narni memesan nasi putih untuk dibawa pulang ke hotel. Narni ternyata udah menyiapkan lauk yang dibawa dari Indonesia seperti tempe, sambal terasi, pop mie. Ulil bawa abon. Hehehe, solusi tepat saat kelaparan dan bingung mau makan apa.

to be continued…..

JALAN-JALAN REUNI ANGKATAN 2000 (KL-HO CHI MINH CITY-BANGKOK)

16 FEB-21 FEB 2011

Awalnya niatan jalan cuma sama Minarni n Uli, kemudian terlempar ide untuk mengajak jalan teman-teman sesama angkatan 2000 di Kanwil VIII. Di Desember tahun 2010 kemarin, tepat 10 tahun kami mengabdi di institusi ini. Jadi tidak ada salahnya kami sedikit bersenang-senang, apalagi diganjar dengan uang perhargaan dan tahun ini juga merupakan waktu kami bercuti besar. Yang menangkap ide ini ada 9 orang dari 17 rekan sesama angkatan: sy, Uli, Narni, Hesni, Marcy, Sonny, Darma, Suhuri dan Zul. Cuman Zul gak jadi-jadi diissued tiketnya karena pada waktu menyatakan ikut, harga tiket udah mahal kurang lebih 3 juta-an, yang menurutku sayang banget ngeluarin duit segitu cuma untuk beli tiket. Kalau Suhuri jadi berangkat, hanya saja mengambil rute yang sedikit berbeda dengan kami dan perginya bareng dengan keluarganya. Rutenya jadi berbeda karena kalau mengambil rute yang sama dengan kami, harga tiket udah lumayan mahal. Kami juga mendapat tambahan teman perjalanan yaitu Mia dan Phian, suaminya Hesni.

Di bulan Juli 2010, kami sudah memastikan tiket penerbangan kami untuk keberangkatan di bulan Februari 2011 dengan rute Makassar-Kuala Lumpur-Ho Chi minh City-Bangkok-Kualalumpur-Makassar. Harga tiket kami untuk 5x penerbangan berkisar antara 1,3jt-1,7jt/orang. Harga segitu sudah termasuk airport tax luar negeri lho. Mahalan tiketnya Darma Jayapura-Makassar pas promo 1,8jt pp.

Itinerary dan rencana biaya perjalanan juga sudah dibuat, teman-teman sepakat untuk travelling-nya semi backpacker. Low budget. Penginapan yang digunakan sekelas guesthouse/hotel melati, transportasi lokal menggunakan kendaraan umum yang ada seperti mrt, monorail, bis atau jalan kaki. Ada penawaran menarik di http://www.alexholiday.com yang ingin kami coba, yaitu paket city tour di Bangkok yang ditawarkan hanya seharga 615rb/orang termasuk penginapan 2 malam, sarapan 2x, makan siang 2x, city tour dan antar jemput bandara. Kemudian untuk di Ho chi Minh City, karena gak terlalu familiar dengan kotanya, kami minta diaturkan antar jemput bandara oleh hotel yang kami booking. Perkiraan biaya perjalanan diatas kertas sekitar 2,5juta rupiah.

Informasi hotel yang dibooking sy dapatkan di milis http://www.indobackpacker.com dan juga dari beberapa catper/blog. Untuk hostel di Kualalumpur dan di HCMC, pesannya via http://www.hostelworld.com .

Meeting pointnya adalah di bandara Sultan Hasanuddin Makassar karena teman-teman yang mau pergi ini tersebar di berbagai wilayah Sumalirja; sy di Palu; Uli, Mia n Narni di Makassar; Darma di Papua; Marcy di Ambon; Sonny di Papua; Hesni di Manado. Phian, suaminya Hesni berangkat dari Jakarta.

Airasia juga memberi kemudahan untuk check in sendiri, bisa check in via website, self check in di mesin yang ada dibandara, atau mobile check in. Cara memanfaatkan fasilitas ini ada step by step-nya di http://www.airasia.com . Di bandara Makassar mesin self check in sudah ada namun infonya baru bisa dioperasikan sekitar bulan April 2011.

3 penerbangan dari 5 rencana penerbangan, sudah check in via web site. Keunggulannya kalo website check in adalah sudah bisa dilakukan sejak 7 hari dari tanggal keberangkatan. Sebenarnya semua penerbangan kami udah bisa web site check in, namun karena internet dikantorku agak lo-la, maka cukup 3 aja yang web check in, sisa penerbangan check in di bandara aja. Sekalian pengen tahu juga bagus mana web check in atau self check in.