Transit di bandara Muscat, Oman

IMG_5206

Transit di Bandara Muscat

Tergiur dengan promo Oman Air, jadilah saya mengissued tiket Jakarta-Moscow buat berempat minus pak suami. Tadinya kepikiran dengan lamanya transit di Muscat, perginya transit 18jam di Muscat, pulangnya transit 19 jam di Muscat pula. Namun menimbang dan memperhatikan referensi teman-teman traveler, yah coba dinikmati saja transitnya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali jalan, bisa dapat 2 negara yaitu Oman dan Rusia. Muscat itu ibukota Oman, negara kaya di teluk Arab. Oman Air memang lagi promo terus-terusan utamanya ke Eropa tapi hampir semua rute dengan transit yang panjang waktunya. Harga tiket Jakarta-Moscow pulang pergi sekitar 6,3juta yang diissued sekitar 3 bulan sebelum berangkat. Teman lain malah ada yang dapat lebih murah.

Dari Makassar kami terbang dengan pesawat yang pagi banget ke Jakarta. Masih banyak jeda waktu dengan pesawat ke Muscat, tiba di Jakarta sekitar jam 07.00 sementara pesawat ke Muscat terjadwal jam 14.50 . Tapi lebih baik cepat, ketimbang mepet-mepet tiba di Jakarta kan. Berbahagialah kalian yang tinggal di Jakarta, gak banyak effort untuk jalan ke luar negeri.

Pesawat yang ke Muscat adalah jenis Dreamliner 787 dengan formasi 2-4-2, sepertinya minjam pesawat Srilanka Air karena layar Inflight Entertainment menampilkan logo Srilanka Air meski semua property seperti selimut, alas sandaran kepala, majalah dan sebagainya berlogo Oman Air. Tampak banyak sekali jamaah umrah yang naik pesawat ini. Agak crowded saat naik pesawat karena mereka sibuk saling menukar kursi agar dapat duduk bersama orang terdekatnya. Saya yang dapat kursi paling depan di zona bagian belakang sedikit terganggu dengan cukup banyak yang lalu lalang didepan kami. Continue reading

Out of COT (MBM 2019)

Tadinya mau kasih judul ‘Finish tapi bukan Finisher’. Namun setelah ngecek Race Result MBM (Maybank Bali Marathon) ternyata Finish tapi gak dapat COT (Cut Off Time) itu statusnya adalah DNF (Do Not Finish). Hiks sedih. Cut Off Time untuk Half Marathon 3jam 30menit, sementara saya finishnya 3jam 45menit. Beda 15menit saja.

Ini kali pertama saya mengikuti event run dan sekali daftar buat ikut Half Marathon. Road to MBM 2019 baca disini. Saya dibilangin COT nya 4 jam untuk Half Marathon. Pas ngambil race pack baru tau ternyata COTnya 3jam 30 menit. Duh padahal rutenya tanjakan. Ya udahlah the show must go on. Continue reading

Eurotrip 2019

Pilih ke Paris atau Turki? Saya melempar pilihan ke Pak Suami, Aya n Dede. Mereka mbulet milih Paris. Saya sendiri pengennya ke Turki. Saya belum pernah ke Turki, tiketnya lebih murah, visanya pun cuma apply online dan murah. Tapi demi menyenangkan mereka semua, jadilah saya mengissued tiket buat 5 orang ke Paris buat bulan Februari 2019. Maskapai Royal Jordanian lagi promo tiket 6.6juta KL-Paris pp. Saya beli tiketnya sekitar 6bulan sebelum berangkat. 

Sementara tiket Jakarta-KL saya beli dengan menukarkan Garuda Miles, kebetulan lagi ada promo akhir tahun diskon 70% tukar Garuda Miles. Yang biasanya tiket Jakarta-KL bisa ditukar dengan 21000Miles+tax, karena promo itu saya hanya menukarkan 3750Miles+tax untuk 1 tiket Jakarta-KL. Miles saya cuma cukup untuk beli 8 tiket. 2 tiket lagi bayar penuh. Jadi untuk 10 tiket termasuk infant Jakarta-KL pulang pergi saya hanya bayar total 3.5juta.  

Ini Euro trip yang ketigakalinya buat saya, sementara mereka baru pertama kali. Eurotrip pertama dan kedua menggunakan transport umum (bus/train/flight) untuk antar negaranya. Saya harus mempertimbangkan kenyamanan baby Ghazy yang baru berumur 15 bulan. Eropa di bulan Februari masih dingin banget. Pernah ke UK di bulan Maret dinginnya masih tidak tertahankan padahal baju sudah dobel dobel. Mau naik bus antar negara seperti Flixbus harus bawa carseat. Naik Uber harus request car seat dan kena charge 10Euro/1xjalan. Kalo naik kereta atau pesawat antar negara di sana, harus naik transport umum ke stasiun kereta atau bandara. Belum lagi transport di dalam Kota dengan metro/trem. Baby Ghazy akan banyak terpapar udara dingin saat menuju stasiun, dari stasiun ke tempat-tempat sightseeing ataupun dari stasiun ke hotel. Jadi untuk kali ini rasanya nyewa mobil pilihan yang paling pas.

Untuk rute negara tujuan, saya pengen ke Hallstatt, Austria. Selain itu targetnya juga ke beberapa negara yang belum saya kunjungi seperti Jerman, Slovakia, Slovenia, Croatia dan Luxembourg. Rugi dong kalo harus mengulang negara yang sama. Setelah ngecek google map, rutenya memungkinkan tapi harus tiap hari pindah negara. Jadilah saya memilih rute Paris-Brussel-Amsterdam-Berlin-Prague, Bratislava-Wina-Zagreb-Lljubljana-Halsstatt-Luxembourg-Paris. Nyewa mobil dari Bandara Charles de Gaulle, baliknya juga di bandara tersebut. 

Car Seat (Roadtrip di Eropa)

Berhubung ke Eropa bawa baby dan sewa mobil selama disana, maka baby selama di mobil wajib menggunakan car seat. Di negara maju hukumnya wajib. Bayi baru lahir belum boleh pulang dari Rumah Sakit kalo tidak punya car seat. Ada negara yang mewajibkan penggunaan car seat sampai anak tingginya 135 cm. Ada juga negara mewajibkan penggunaan car seat sampai umur tertentu, seperti Florida negara bagian AS sampai batas usia 5 tahun tapi negara bagian Virginia wajib sampai anak usia 8 tahun. Tiap negara beda regulasi. Negara seperti Kanada, pembelian car seat wajib ada sticker approvalnya, pembelian carseat di luar Kanada untuk dipakai dinegara tersebut termasuk illegal, dendanya bisa lebih mahal dari ngebut.

Sebelumnya saya tidak pernah sama sekali menggunakan carseat jika bepergian  bawa balita menggunakan mobil. Tahun lalu ke India dan sewa mobil (plus driver) selama disana, gak perlu pakai car seat. Penggunaan car seat di Indonesia masih pro-kontra mungkin karena regulasi lalu lintas kita juga belum mewajibkan penggunaan car seat atau pemahaman soal pentingnya car seat sangat minim di Indonesia. Makanya menggunakan car seat itu masih tergantung pertimbangan masing-masing orang tua. Continue reading

Baby Ghazi First Trip: India (2)

1 minggu sebelum berangkat, Aya dan dede terserang demam hingga beberapa hari dan badan mereka berbintik merah. Dede gak terlalu parah masih bisa beraktivitas sekolah Aya yang loyo banget dan badannnya penuh dengan bintik merah. sampai harus cepat pulang dan beberapa hari gak masuk sekolah. Saya cemas, segera bawa mereka ke dokter. Dede cepat sembuhnya, tapi Aya sampai berangkat ke Jakarta masih demam dan bintik merah baru berangsur hilang. Duh.

Sebelum terbang ke Jaipur, kami masih nginap semalam di Jakarta. Sengaja nginap di Mercure Ancol karena anak-anak jauh-jauh hari request ke Dufan. Saya masih tanya Aya, kuat gak main di Dufan. Kalo gak sangggup, kita batalin ke Dufan. Dia bilang masih kuat dan ternyata beneran dia langsung sehat dan main sampai puas. Hehehe. Semua wahana di coba bahkan yang extreme. Sebelum ke airport, kami juga masih menyempatkan diri sewa sepeda di Ecopark.

Lama penerbangan Jakarta-Jaipur jam dengan transit di KL. Agak was-was karena dari Jakarta sudah delay, transitnya jadi mepet banget. Stroller yang tadinya diminta untuk dibagasi saat masuk di pesawat, saya minta diambilkan kembali. Biar saya masukkan ke tas ransel dan masuk ke bagasi kabin saja. Setidaknya meminimalkan risiko ketinggalan pesawat, jadi begitu landing di KL bisa segera ngacir ke boarding gate KL-Jaipur. Bisa berabe kalo ketinggalan pesawat, soalnya pesawat Airasia ke Jaipur tidak setiap hari. Alhamdulillah, saat kita tiba di boarding gate, baru antri boarding. Boardingnya agak telat dikit, karena nunggu VIP person atau petinggi Airasia yang mau ke Jaipur. Entah ada seremoni apa, para petugas Airasia pada pake pakaian khas India. Continue reading