Jalan-jalan di Muscat, Oman

This slideshow requires JavaScript.

Sepulang dari Moscow, pesawat kami bakal transit lama di Muscat, Oman. Tiba jam 6 pagi di Muscat Airport dan bakal terbang lagi lepas tengah malam. Jadi waktu transit bakal kami manfaatin buat jalan-jalan di kota Muscat. Saya memilih untuk sewa mobil selama 1 harian. Maksudnya biar nyantai dan ada tempat buat ngadem secara Muscat saat itu panasnya luar biasa. Bisa mencapai 40 derajat Celcius.  Tadinya saya jauh-jauh hari udah booking mobil sewa di Rentalcars.com seharga 1.7juta/hari untuk jenis mobil Pajero dan sejenisnya. Eh beberapa hari sebelum hari H, ada penawaran dari Europcar untuk jenis mobil yang sama seharga 1.1juta/hari. Itu udah termasuk sewa car seat untuk baby Ghazy. Jadinya kami batalkan Rentalcars trus booking lagi. Lumayan menghemat.  Kami total bertujuh makanya sewa mobil yang sesuai dengan banyaknya penumpang. Mbak Ajeng, seorang kenalan di milis Backpackerdunia pengen gabung karena kita pulangnya pake pesawat yang sama. Jika cuma bereempat, nyewa mobil kecil kayak Yaris cukup murah.

Begitu tiba di Muscat Airport, kami menuju Imigrasi. Sempat ada kekuatiran mengingat E-visa kami tidak ada hard copynya karena apply saat transit di  bandara Muscat sewaktu menuju Moscow. Ternyata E-visa Oman cukup ditunjukkan aja melalui hp. Counter Europcar dan counter rental mobil lainnya ada setelah imigrasi. Proses ambil kunci cepat saja dan kami diarahkan untuk mengambil mobilnya di parkir mobil bandara. Kami diberi mobil Fortuner setir kanan. Sebenarnya saya sendiri belum punya pengalaman setir kanan cuma ngeliat aja selama pak suami nyetir mobil di Eropa awal tahun ini. Mbak Ajeng yang jadi navigator. Dia sebenarnya juga barusan keliling swiss dengan nyewa mobil dan nyetir sendiri. Cuma berhubung saya yang booking makanya saya yang jadi driver. Bisa nambah driver cadangan tapi nambah biaya lagi. Prinsip saya kalo gak dicoba ya gak tau rasanya. Dan setelah dicoba, diawal memang agak kagok dan setelah itu biasa. Saya juga masih punya pe-er saat melewati roundabout alias bundaran, masih suka melaju padahal kendaraan yang udah masuk duluan di bundaran harus diberi jalan lebih dahulu. Alhasil menuai klakson, hehehe.

Kami cuma berkeliling di dalam kota. Mau ke padang pasir, butuh waktu 2-3jam dan panasnya gak kuat banget. Tujuan pertama adalah ke Masjid Agung Sultan Qaboos, masjid yang dinamai sama dengan Raja yang sedang memerintah saat ini. Diresmikan di tahun 2001 merupakan masjid dengan karpet terbesar kedua di dunia dengan ukuran 60x70m tanpa sambungan dan mempunyai lampu chandelier yang juga terbesar kedua di dunia. Masjid ini terbuka untuk wisatawan baik muslim maupun non muslim hanya sampai jam 11 siang dan setelah itu ditutup hanya untuk keperluan shalat saja. Ruang shalat wanita terpisah dari dari ruang shalat pria. Anak-anak dibawah umur 10 tahun tidak diperbolehkan berada di ruang shalat. Mungkin untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan beribadah. Tadinya Ghazy saya temani di luar tapi karena diluar panas, saya ajak aja Ghazy masuk sambil digendong sekalian ngadem. Petugas keamanan hanya melihat dan tidak melarang.

Berikutnya kita ke Muttrah Souq, pasar tradisional yang terkenal di Muscat yang terletak di pinggir pantai. Nyari parkirnya susah banget. Saya harus berkeliling beberapa kali sampai akhirnya dapat parkir tetap di tempat agak jauh dari Muttrah Souq. Terpaksa berpanas-panas ria berjalan kaki menuju ke Muttrah Souq

. Disini cuman beli souvenir berupa magnet kulkas, gak banyak cukup sebagai penanda pernah kesini. Bayar pake duit Oman Riyal (OMR) hasil tukar tadi di bandara. Uang Rubel Rusia yang tersisa saya tukarin ke OMR.

Kita ke Istana Al-Alam, istana Sultan Qaboos yang digunakan pada saat menerima tamu kenegaraan. Al-Alam artinya bendera dalam bahasa Arab. Istana ini merupakan salah satu dari 6 istana yang dimiliki Sultan dan dikelilingi Benteng Mirani dan Benteng Jalali yang dibangun Portugis pada abad ke-16. Cuma saya sama Ajeng yang turun foto-foto disini, yang lain pada mager. Udah ilfil karena panas menyengat.

Kami break untuk makan. Pilihan makan adalah restaurant Bait Al Luban. Restaurant Bait Al Luban menyajikan hidangan khas Oman. Terletak di pinggir pantai dan berhadapan langsung dengan pasar ikan dan pelabuhan. Saya kira resto biasa ternyata merupakan resto premium. Dilayani sama waiter, ada serbet kain yang ditata di atas piring. Baiklah udah terlanjur disini sekali-sekali makan agak proper mumpung halal. Di Rusia, kami lebih banyak makan makanan yang kami bawa dari Indonesia. Menu yang direkomendasi adalah Shuwa, Qabouli Laham.  Shuwa adalah daging panggang yang disajikan dengan nasi putih dan saus lemon bawang putih. Qabouli Laham adalah nasi yang dicampur dengan potongan daging domba. Kita pesan keduanya plus kentang goreng, nasi putih, ayam goreng dan masih ada satu menu yang lupa namanya. Seenak-enaknya makanan tradisional disana, rasanya gak terlalu cocok di lidah kami. Dagingnya beraroma sangat kuat, seperti makan daging kambing yang masih bau prengus. Nasinya seperti nasi kebuli yang banyak rempah. Alhasil nasi putih dan ayam goreng yang habis duluan, yang lain masih bersisa. Kita juga disuguhi Kahwa, kopi khas Oman sebagai compliment. Total kita bayar sekitar hampir 1juta.

Lanjut ke Baj Oman yang berada di dekat hotel Shangrila, sekitar 30menit dari kota. Tujuannya hanya pengen foto di tulisan gede ‘Baj Oman’. Disekitar sini bisa melihat teluk Oman, pelabuhan yang dikeliling oleh yacht-yacht.

Masih banyak waktu yang tersisa dan kita udah bingung mau kemana. Jadi kami menghabiskan waktu di Mall of Muscat. Nyari tempat ngadem sekalian cuci mata dan cari oleh-oleh makanan khas sini di supermarket yang ada di mall ini. Saya perhatikan ‘Omani’ sebutan untuk warga lokal Oman, satu model semua cara berpakaiannya. Rupanya peraturan berpakaian di Oman cukup ketat. Wanita Oman wajib menggunakan abaya hitam meski didalamnya masih pake jeans atau pakaian warna warni dan  pria Oman wajib menggunakan ‘didasha’ gamis terusan  berwarna putih dengan kopiah khas Oman.

Sekitar maghrib kami kembali menuju airport. Batas waktu mengembalikan mobil  jam 9 malam, sebenarnya masih bisa mampir ke satu tempat, tapi udah gak ada ide lagi. BBM kami isi agar sesuai isinya dengan waktu ambil tadi yaitu setengah full tank. Alhamdulillah aman.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Muscat adalah sekitar bulan November-Februari dimana udara cukup sejuk dan bisa santai berjalan-jalan di pinggir pantai. Kami mengunjungi kota ini di bulan yang sepertinya matahari berada di dekat kita, hehehe.

Advertisements