Day 5: In Bangkok, City of Angels

Minggu, 20 Feb 2011

City tour-nya sy pikir akan seharian, ternyata hanya setengah hari. I don’t know dimana mis-nya. Padahal jika tau cuman setengah hari, pagi ini bisa ke damnoen saduak floating market dulu meski harus nambah biaya tur sejumlah 600B. Damnoen saduak adalah pasar terapung yang terletak kurang lebih 60km dari Bangkok.

Jam 08.00 Ms. Apittanan Phimmai yang minta dipanggil Ms. Jenny, tur guide kami sudah menunggu di lobby hotel. Untuk sarapan, lagi-lagi kami meminta nasi putih dan telur rebus.

Kami mengunjungi Grand Palace dan Wat Phra Keo (Temple of the Emerald Buddha). Grand Palace adalah bekas tempat kediaman raja yang kemudian dijadikan obyek wisata. Didalamnya ada Wat Prhra Keo, candi tempat budha yang paling suci yang berumur kurang lebih 600 tahun, terbuat dari 1 bongkahan batu jade kualitas terbaik dan mengenakan pakaian yang terbuat dari emas yang menandakan musim yang sedang berlangsung. Musim di Bangkok ada 3, musim panas (Juli-Oktober), musim hujan (Nov-Februari), musim dingin (Maret-Juni). Upacara penggantian pakaian buddha dilakukan 3x setahun oleh sang Raja. Khusus, di Wat Phra Kaeo ini tidak diperbolehkan untuk mengambil foto/video. Di depan kuil, tampak banyak orang membeli bunga bertangkai yang kemudian dicelup ke dalam wadah air suci dan ditepukkan ke atas kepala.

Grand Palace ini sangat luas, dibutuhkan 1 hari untuk mengagumi keindahan setiap detil di Grand Palace. Kami menikmati sebagian kecilnya saja, karena masih ingin mengunjungi wat-wat lainnya. Wat Traimit, Wat Pho, Temple of Marble dan melihat Town Hall. Ternyata capek juga maraton ke candi-candi dan untungnya cuman setengah hari. Sebagian teman memilih menunggu di mobil pada saat sebagian dari kami mengunjungi Temple of Marble. Gimana kalo seharian full?

Setiap temple mempunyai keunikan masing-masing.

Wat Phra Cetuphon atau yang lebih dikenal Wat Pho (Temple of Reclining Buddha), merupakan patung Budha yang terbesar (panjang 46m dan tinggi 15m) dan dengan pagoda yang terbanyak di Thailand dengan jumlah 99 pagoda. Kata Ms. Jenny, pagoda dibangun untuk tempat menyimpan abu para raja-raja Thailand.

Wat Traimit adalah rumah Patung Budha yang terbuat dari emas yang terbesar di dunia, beratnya kurang lebih 5500 kg emas. Wow. Perkiraan umur patung tersebut kurang lebih 700 tahun.

Wat Benchamabophit (The Marble Temple) terkenal karena terbuat dari marmer Italia dan perpaduan arsitektur modern. Di dalam ada pohon uang, berasal dari sumbangan umat Budha. Seperti Ms. Jenny selalu mendonasi jika masuk ke dalam kuil. Katanya itu adalah salah satu Way of Buddhism.

Tujuan akhir adalah Gems Gallery. Ms. Jenny mengatakan pemerintah Thailand mewajibkan setiap tur harus singgah disini. Dia tidak menyarankan untuk berbelanja disini karena harganya yang lumayan mahal. Kami disambut dengan suguhan minuman selamat datang, minuman bersoda. Setelah itu kami diminta menunggu sejenak sampai ruangan untuk presentasinya siap. Presentasi selama 20 menit ini adalah mengenai informasi keindahan permata dan berlian dari Thailand. Bahasanya disesuaikan dengan asal negara turisnya. Kemudian kami diajak ke gallery. Sebuah gallery yang sangat luas dan menawarkan perhiasan dengan harga yang belum sesuai dengan kantong kami. Ada sih perhiasan dari perak dan berhiaskan batu permata seharga 1000Baht. Batu permata semakin mahal jika terdapat kilauan yang bersinar di batunya. Sebelum mencapai gallery-nya, ada juga café tempat istirahat yang juga menyediakan the, kopi gratis. Teman-teman akhirnya lebih tertarik berbelanja di ruangan paling ujung yang menyediakan berbagai souvenir khas Thailand.

Kami meminta Ms Jenny untuk makan siang dengan menu halal. Ms. Jenny menyarankan ke KFC di Pratunam saja karena dia ada janji untuk bertemu dengan kliennya sesudah itu. Ms Jenny sebenarnya adalah agen properti yang diwaktu luangnya menjadi tur guide freelance. Kami berpisah setelah makan, Ms Jenny sempat memberikan kartu nama untuk dihubungi kalau-kalau kami sempat tersesat di Bangkok.

Pratunam Mall ini merupakan tempat berbelanja grosiran dan beli souvenir yang terletak persis di sebelah Baiyoke Sky Hotel. Tahun lalu, sy sempat booking hotel ini untuk nginap 2 malam dengan harga 750rb/malam. Tapi sy membatalkannya, karena waktu keberangkatannya persis pada saat demonstrasi mencapai titik kulminasinya. Tempat ini merupakan area baku tembak (life firing zone) antara militer Thailand dan para demonstrans yang menewaskan pimpinan pendemo. Atas pembatalan tersebut, sy dikenakan biaya pembatalan oleh Agoda seharga 1 malam menginap di hotel tersebut.

Kami berpencar di mall ini mencari dan membeli barang-barang sesuai keinginan kami masing-masing. Saya hanya membeli semampu uang Baht-ku dan semampu ranselku.

Puas belanja, kami kembali ke Charlie House dengan taxi. Rehat sejenak, kemudian kami keluar lagi untuk makan malam. Sebenarnya beberapa diantara dari kami pengen makan durian, tapi bingung nyarinya dimana dan menurut Ms. Jenny ini belum musim durian sehingga durian masih terbatas sekali. Jadi kami memutuskan untuk makan malam saja di food court mall MBK sekaligus melihat mall yang katanya menjadi tempat favorite turis asal Indonesia.

Di Food court, hanya 1 yang menyatakan menyediakan makanan halal dengan menu nasi kuning dan ayam kari. Lebih baik ini ketimbang kami harus membeli pizza atau makan di KFC malam ini. Baru kali ini kami menyediakan waktu untuk makan sesuai jam makan. Beberapa hari kemarin, makan selalu dikesampingkan karena lebih fokus untuk tujuan tempat wisatanya.

Bagi ku, lebih nyaman dan menyenangkan belanja di Pratunam tadi. Harga di Pratunam memang cuman di diskon sedikit antara 10-15% tapi harganya masuk akal. Saya mencoba menanyakan harga sandal jepit yang berhiaskan manik-manik, penjualnya menyebutkan angka 350Baht. Sy pun gak menawar lebih lanjut, sy mau tawar di harga berapa secara di Bali sendal itu hanya seharga 40Baht. Saya berpindah ke booth sebelahnya dan bertanya harga. Ngasih harga yang gak masuk akal. Dan penjual pertama ngomong ke penjual kedua, dalam Bahasa Thailand. Sy bisa menangkap maksudnya, dia bilang gini: ”itu orang (saya yang dimaksud) sok-sok an cuman bertanya how much-how much aja, tapi gak mau beli”. Huhhh. Rasanya mau marah, tapi sy gak mau buang-buang energi untuk itu, lagian mau bertengkar pake bahasa apa? Hehehe..

Kami lalu ke Hard Rock Cafe Bangkok, ke Rock Shopnya saja untuk membeli beberapa merchandise-nya. HRC ini dekat banget dengan MBK Mall, sisa menyeberang jalan dan berjalan kurang lebih 100m.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s