NYANTAI DI KL CITY

Jam 9pg, kami check out setelah sarapan di kamar setelah masak-masak dengan travel cooker. Ternyata ada shuttle bis dari Tune Hotel ke LCCT, sopirnya minta RM1/orang. Dari pada jalan kaki, eh supirnya orang bugis yang udah lama merantau ke Malaysia. Dari LCCT kami naik Aerobus ke KL Sentral RM8/adult, RM4/child. KL Sentral merupakan pusat sarana transportasi kereta antar kota/negara bagian. Dari bandara KLIA atau LCCT naik kereta express namanya KLIA express turunnya juga di KL Sentral. Di KL Sentral, kami naik taxi menuju kawasan Bukit Bintang RM 15. Rencana mau go show nyari penginapan. Kami ke Paradiso Bed n Breakfast, hostel yang pernah kami tempati dulu, ternyata kamar untuk berempat-private untuk 2 malam tersedia, malah lebih murah ketimbang booking di http://www.hostelworld.com dengan harga RM32/orang/malam atau Rp 85rb/malam/orang.

Makan siang, beli lauk pauk+KFC, lalu makan di kamar. Di sekitar hostel banyak penjual nasi n lauk pauk, trus sebelah hostel ada Mcd. Sekalian nyari mini market, beli telur, beli sabun cuci, mie instan. Kenapa harus repot-repot masak? Sebenarnya ke KL gak perlu repot bawa travel cooker sih, karena makanan gampang ada dimana-mana, cuman sekalian menjajal kebolehan travel cooker yang baru dibeli. Ternyata bagus, bentuknya compact, praktis dan masaknya cepat. Kalo jalan di daerah yang kita gak kenal, susah nyari makanan halal, dimana Mcdnya pun gak sedia nasi perlu bawa travel cooker seperti di Singapore, Hongkong n etc. Memang sih agak ribet, tapi mengacu ke pengalaman kami ke Hongkong tahun lalu, dimana susahnya cari nasi dan belum tentu murah.

Setelah makan siang, naik bis bayar RM1 ke China Town Petaling Street, Amel pengen nyari tas. Kata saya sih, harga tas disana standar, Kalo gak pintar-pintar nawar, kena harga mahal juga. Sy paling malas buat nawar-nawar, mending nyari harga yang pasti-pasti aja atau yang sudah tertempel. Sisa nyari perbandingan harga untuk model yang sama. Lalu jalan kaki ke Pasar Seni (Central Market). Disini kalo mau membeli souvenir khas Malaysia, ruangannya adem karena ber-AC, segala pernak-pernik termasuk made in Indonesia pun dijual disini. Sy beli gelang tangan dari manik-manik yang unik. Setelah itu menyusuri jalan menuju ke Masjid Jamek dan Lapangan Merdeka. China Town, Pasar Seni, Lapangan Merdeka berdekatan. Pengen ke Masjid Jamek yang dekat situ, tapi ternyata harus jalan memutar padahal kami hanya dipisahkan oleh sebuah kanal, seandainya ada jembatan penghubungnya. Di Lapangan Merdeka, kelihatannya akan ada acara besar seperti Pasar Seni yang malam puncaknya di Malam Minggu. Dari situ naik taxi pulang ke hostel RM 12, taxi di Malaysia sangat jarang yang ber-argo, maunya harus pake tawar menawar. Jadi prinsip naik taxi di Malaysia, tawar dulu, biasanya sy pake patokan harga 2x lipat ongkos naik bis untuk berempat.

Malamnya, ke Sungai Wang Plaza, just looking-looking, susah juga mau belanja coz memikirkan gimana bawanya di samping budget yang pas-pasan. Di area Bukit Bintang, ada cafe tenda yang menyediakan live music yang menarik banget, setiap kita di Bukit Bintang pasti kesini, menikmati es teh tarik dan nasi lemak khas Malaysia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s