MURAH TAPI GAK MURAHAN

Saya salah satu yang sangat sedih ketika musibah Airasia  terjadi dan opini awal yang terbentuk salah satunya adalah karena tiketnya murah sehingga berpotensi mengabaikan keselamatan. Ampun. Lalu keluarlah aturan untuk mengatur tarif batas bawah penerbangan komersial yaitu 40% dari tarif batas atas. Sedih, karena tiket gak bisa semurah dulu lagi.

Sangat naif jika mengaitkan tiket murah dengan keselamatan penerbangan. Kecelakaan penerbangan umumnya disebabkan tiga faktor, yakni kelalaian manusia, masalah teknis, dan alam. Kementerian Perhubungan pada 2012 merilis data bahwa 52% penyebab utama kecelakaan transportasi udara ialah faktor manusia, 42% masalah teknis, dan 6% faktor alam. Dan kalau dilihat dari definisinya keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dalam pemanfaatanwilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya. Pada penerbangan baik militer maupun sipil, keselamatan penerbangan diselenggarakan oleh pemerintah. Jadi tiktoknya lebih banyak pada pemerintah. Airlines sisa mengikuti regulasi saja.

Tiket murah itu lebih pada strategi promosi perusahaan untuk memenangkan persaingan sesama airlines dan sebagai salah satu upaya untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Kalau diliat dari skema berikut, murahnya tiket ada beberapa faktor:

download

  • Kerapatan tempat duduk. Contoh untuk pesawat low cost type boeing 737-300 jumlah kursinya 148 sementara untuk pesawat regular hanya 128 kursi untuk type pesawat yang sama.
  • Biaya SDM rendah, gaji bervariasi dan utilisasi HR secara optimal. Di KL, saya sering ketemu pramugari Airasia sedang menunggu bus umum di bandara menuju tengah kota Kualalumpur. Rupanya Airasia tidak memberikan fasilitas berlebihan dan juga mengatur jadwal tugas pramugari/a sedemikian rupa sehingga mereka diupayakan kembali ke kota asal pada hari itu juga sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk penginapan, transportasi dan lainnya.
  • Mendaratnya di airport yang lebih kecil yang jauh dari kota, biaya parkir n landingnya jadi murah. Namun banyak juga low cost airlines yang mendaratnya di bandara premium.
  • Utilisasi pesawat tinggi (fast turn around 25 minutes). Artinya proses landing sampai take off kembali berlangsung efektif dan efisien sekitar 25 menit. Pernah diminta untuk antri masuk padahal penumpang belum turun? Atau pramugari lalu lalang berkali-kali untuk mengambil sampah di pesawat? Itu semua bagian dari proses 25 menit itu.
  • Pesawat langsung, point to point. Mengurangi biaya yang timbul akibat pengurusan penumpang yang transit.
  • Tiket dijual langsung online yang artinya tidak mengeluarkan komisi agen penjualan.
  • Bagasi, makanan, entertainment dijual terpisah. Fair enough, we pay only if we want to eat, if we want to check our baggages.
  • Armada pesawat yang jenisnya sama yang artinya biaya pemeliharaan sama, biaya training tidak besar
  • Survey terhadap keterisian pesawat. Airlines memanfaatkan hasil survey keterisian pesawat untuk menggelar promo tiket murah.
  • Early bird. Sebenarnya gak hanya lowcost yang buat promo ini, pesawat regular pun juga melakukan hal serupa. Cuma lowcost airline seperti Airasia mengelar promo early bird jauh-jauh hari bisa sampai 1 tahun 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan.

Pertama kali naik low cost airlines ya Airasia (KL-Surabaya) tahun 2007, waktu itu kursi belum diatur. Jadi bisa duduk dimana saja, dan konsekuensinya begitu pintu boarding dibuka, orang-orang pada berebutan naik ke pesawat buat dapat tempat duduk yang diinginkan. Tahun 2009, ke Hongkong naik Airasia, tempat duduknya sudah diatur jadi orang gak perlu berebutan naik. Malah waktu itu kalo check innya bersamaan akan dapat tempat duduk berurutan alias tidak acak. Dan seterusnya sampai saat ini tiap tahun pasti naik Airasia selain maskapai lainnya. Gimana gak langganan, promonya itu loh bikin panas dingin. Saya pernah dapat Rp 275rb Makassar-KL pulang pergi. Pernah juga beli tiket Airasia untuk 5 destinasi (Makassar-KL, KL-Phuket, Phuket-Bangkok, Bangkok-KL, KL-Makassar) hanya seharga 500rb, itupun yang dibayar airport tax luar. Pernah juga beli tiket KL-Melbourne hanya seharga 1,2juta pp. Airasia itu bikin saya rajin travelling tanpa perlu bangkrut pas pulang. Termasuk pada saat saya berumrah Maret 2014, saya hanya mengeluarkan biaya tiket pesawat 6juta Makassar-Jeddah pp plus biaya Land Arrangement sekitar 7,5juta.

Memang untuk bisa dapat tiket semurah itu tentu saja harus beli jauh-jauh hari. Biasanya 7bulan sampai setahun sebelum keberangkatan. Namun justru saya demen model kayak gini, biar duitnya gak langsung bablas karena travelling. Trus bisa ngajak orang-orang dekat untuk travelling bareng. Saya udah banyak bantu kerabat/teman yang pengen ke luar negeri namun dengan biaya minim. Saya pernah ngajak para tetangga kos sewaktu saya di Palu, om/tante/sepupu, pengasuhnya anak-anak, sepupu, teman-teman seangkatan, para staff sewaktu saya di Palu dan Manado. So, everyone can fly.

Pengalaman saya naik low cost bukan cuma Airasia saja. Saya udah pernah naik pesawat lowcost Eropa seperti Wizz Air (tujuan Budapest-Roma) dan Easyjet (Amsterdam-Prague, Rome-Venice), lowcost Australia seperti Tiger Air (Sydney-Melbourne pp), low cost South Korea seperti Eastarjet (Seoul-Jeju), low cost Asia seperti Jetstar (Singapore-Jakarta), ValuAir (Singapore-Jakarta), Malindo Air (KL-Singapore). Lumayan banyak referensi, dan jadi paham dengan kelebihan dan kekurangan maskapai. Contoh Easyjet, 2 tahun lalu naik pesawat ini, masih memberlakukan tiket tanpa nomor kursi. Dan ada beberapa low cost airlines yang bagasinya sudah include dalam tiket yang dibeli. Menurut saya, AirAsia masih yang terbaik. Airasia memenangkan penghargaan world’s Best Low Cost Airline’ untuk tahun keenamnya secara berturut-turut dari Skytrax. Lembaga yang sama yang memberikan Garuda Indonesia sebagai World Best Airline Cabin Staff di tahun 2014. Sebuah prestasi yang tidak mudah diraih. Websitenya user friendly, kanal untuk mengatasi complain atau informasi terbuka lebar. Mulai Facebook, twitter, Ask Airasia, Live chat. Saya malah jarang nelpon CS Airasia baik di Indonesia maupun di luar. Cukup menggunakan kanal-kanal diatas. Mereka juga reminder via email bahwa waktu untuk terbang sudah dekat. Kalau terdapat pemindahan jadwal maupun pembatalan jadwal, opsi yang ditawarkan cukup fair.

Satu lagi pengalaman unik dengan Airasia, saya tuh jadi berani melanjutkan S2 di Makassar secara tidak langsung salah satu alasannya adalah Airasia. Gegara Airasia buka rute Manado-Makassar, tiketnya murah dan jam terbangnya tepat. Cocok buat saya yang tiap Jumat malam terbang Makassar, lalu kuliah Sabtu-Minggu dan Minggu sorenya balik ke Manado. Sayang rute ini gak lama cuman sekitar 4-5 bulan saja.

Pasca musibah, emang rada parno buat terbang-terbang. Namun mengutip Surah Ali ‘Imran (145-148) :  “Se­seorang tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang di­tentukan batas akhir waktunya”. Salah satu kenyataan dalam kehidupan yang tidak diingkari oleh siapa pun adalah kematian dan  salah satu yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam adalah agar setiap muslim menyiapkan diri un­tuk menghadapi ajal yang pasti menim­pa­nya.. Kematian itu terjadi dengan ke­tentuan dan ketetapan Allah, baik kapan maupun di mananya. Jadi pasrah saja. Beberapa waktu lalu, Airasia promo besar-besaran untuk semua rute. Saya termasuk yang memanfaatkan peluang itu untuk bisa ke Myanmar, ke Jepang, ke Jeddah (umroh). Nyaris pengen nambah 1 rute lagi tahun ini, entah ke Kamboja atau ke Filipina, tapi saya bingung mau jalan sama siapa secara ini bener-bener jalan ransel, gak mungkin bareng dengan keluarga lagi, karena 2 rencana trip (jepang n umrah) sudah bareng ama keluarga. Adek saya yang biasanya bisa saya paksa buat nemenin, mau kawin…hihi.

#togetherwestand#

Advertisements

10 thoughts on “MURAH TAPI GAK MURAHAN

  1. Yes setuju dengan @Omnduut
    Walaupun sy sempet parno trip bersama keluarga bulan lalu, Alhamdulillah masih lebih beradab pelayanannya ketimbang maskapai yg demenanya delay itu…
    #togetherwestand duh kok iklan banget ya *gemes*

  2. Air Asia memang murah, tapi tidak murahan. Semuanya terkoordinasi dengan baik. Pengalaman naik QZ dari Bandung, karena tidak ada garbarata, sepanjang akses ke pesawat, ada petugas Air Asia yang mengarahkan. Serasa di elu2kan (padahal biar gak nyasar aja😀). Terus ada manage my booking yang usefull, bisa pesan makanan, bagasi dll. Bahkan untuk AK bisa pesan souvenir duty free. Murah pula makanannya (1/3 nya Pegasus Turki, 1/8 nya Jetstar Australia, 1/4 Scoot Singapura).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s