Are you looking for halal food?,” tegur bule cewek di bus kucing, dia melihat saya sedang melihat-lihat catatan restoran halal yang saya bawa.
Bule: There are some restaurants near here, zabihah restaurant and D Nyonya Penang
Saya: Which one is best?
Bule: D Nyonya Penang is best. The restaurant is one bus stop from here. You can walk a little.
Saya: Are you moslem as well?
Bule: Alhamdulilah.
Saya: thank you for your information. See you
Penduduk kota Perth ramah-ramah. Kita dengan mudahnya bisa bertanya arah, atau disapa duluan meski cuman halo atau good morning/afternoon. Mereka gak segan menawarkan bantuan untuk fotokan kita meski kita gak sedang mencari orang yang bisa bantu foto. Di Melbourne dulu juga gitu, kalo kita pas selfi-selfian selalu ada yang nawarin foto.
Kembali ke soal makan-makan, kita niatnya wisata kuliner 1x sehari. Selebihnya diproses di apartemen, sarapan atau makan malam. Di supermarket, kami beli beras, telur, roti, butter, selai coklat dan buah-buahan seperti anggur dan apel. Dari Indonesia, Yuli bawa bajabu (abon ikan bandeng), Marcy bawa abon ikan tuna, Amel bawa sekotak kecil tempe orek, saya bawa ikan kaleng, kecap/saus tomat/sambal sachet, bawa bumbu instan untuk bikin nasi goreng/nasi kuning. Risma bawa rica roa khas manado, sayangnya gak sempat dinikmati karena ketinggalan di bus 37. Hikss.. Padahal saya sudah membayangkan makan nasi panas plus sambal itu. Indomie/popmie masing-masing bawa, gak banyak paling-paling 3 buah. Mie instan merk indomie goreng banyak dijual di supermarket sana, kalo gak salah harganya 10ribu/pcs. Dengan begini kami gak kekurangan makanan, hemat dan rasa Indonesia banget. Sekali makan di restoran berkisar 10-15Aud per orang.



Berbekal informasi dari bule tadi, kami makan di D’Nyonya Penang alias restoran D’Angkasa di Murray Street. Restoran ini bercitarasa khas makanan Malaysia. Menunya banyak, yang kami pesan antara lain Kari ayam, nasi lemak, nasi goreng vegetarian, nasi goreng belacan, nasi goreng seafood, mie goreng dan omelet seafood. Enak-enak memang dan porsinya ternyata banyak. Bisa sepiring berdua, tapi kami sudah terlanjur pesan masing-masing. Harga berkisar 13,9 sampai 18.9Aud. Biasanya saya gak doyan masakan Malaysia yang bumbunya kalo gak berlebihan sering juga hambar, tapi disini lumayan enak rasanya. Kami dilayani sama Amel waitress orang Indonesia yang lagi kuliah disana. Dari si Amel, banyak dapat rekomendasi Restoran Indonesia seperti Indonesia Tasik, Indonesia Indah dan Manise Cafe. Katanya yang paling enak Manise Cafe. Sayang kami gak sempat ke Manise Cafe. Ada juga pilihan restoran Turki ataupun Satay House. Kalau pengen makan ayam goreng tepung khas fast food, ada Chicken Treat (halal), tapi lokasinya agak keluar kota. Kami nyari resto yang mudah ditemukan saja.

Di Freemantle, kami mencoba Cicerello restoran fish n chip yang mengklaim dirinya sebagai no 1 Western Australia Fish n Chip. Gak boleh sembarangan juga makan fish n chip, karena di beberapa tempat, ikannya di rendam dalam bir sebelum di taburi tepung dan kemudian digoreng. Cicerello ini direkomendasikan oleh www.halalsquare.au.com atau www.zabihah.com . Kami cuman pesan 2 porsi seafood campur+plus kentang dan 2 porsi fish n chip seharga 71Aud yang ternyata porsinya banyak sekali untuk kami bertujuh. Karena gak habis, kami bungkus buat sarapan besoknya, dipanasin di microwave. Itupun masih gak habis juga.

Di hari terakhir, kami makan di Indonesia Indah restaurant di Barrack street. Rasanya biasa saja. Kami memilih menu nasi dengan 1 lauk plus tumis campur. Pilihan lauknya banyak. Ada rendang, ayam bakar, telur balado, terong balado, sayur ubi campur pete dan masih banyak lainnya. Juga menyediakan menu khas Indonesia seperti pempek, batagor dan gado-gado. Mengenai harga, nasi dengan 1 lauk dibandrol 8,9Aud.





Leave a reply to penyukajalanjalan Cancel reply