Pesawat SriLankan Airlines kami akhirnya mendarat di Bandara Tribhuvan, Kathmandu. Bandara kecil tapi sangat ramai. Kami langsung menuju mesin registrasi Visa On Arrival (VOA) yang letaknya di area sebelum imigrasi. Prosesnya sebenarnya mudah: scan paspor, isi data yang diminta, lalu mesin akan menampilkan bukti registrasi. Bukti itu difoto, lalu dibawa ke loket pembayaran. Ada petugas yang standby di dekat mesin VOA membantu jika kita bingung. VOA bisa dibayar dengan kartu kredit, tapi kata petugasnya ada charge tambahan, jadi dengan berat hati saya akhirnya membayar tunai USD 30 per orang untuk 15 hari kunjungan, total 90 USD untuk kami bertiga. Padahal saya ke Nepal cuma bawa modal kurang dari 200 USD, niatnya memang mau tarik uang di ATM Nepal saja.
Proses imigrasi berjalan cepat, tapi bagasi datangnya lama. Begitu carrier kami muncul, bagian luar terlihat agak basah. Untungnya isi di dalam aman karena saya sudah bungkus dengan rain cover dan barang-barang di dalam carrier juga dibungkus plastik.
Setelah keluar area imigrasi, kami menuju ATM terdekat untuk menarik uang. Limit maksimal 35,000 NPR (sekitar Rp 4,1 juta), cukup untuk kebutuhan awal. Tepat di sebelah ATM, ada booth Nepal Telecom. Kami membeli SIM card lokal 20GB seharga 800 NPR yang berlaku 30 hari. Saya juga sudah punya e-SIM Nepal dari marketplace (3GB/15 hari, Rp 119 ribu), tapi sinyalnya timbul-tenggelam di jalur trekking. Sementara sinyal Nepal Telecom justru stabil sampai ke kawasan Machhapuchhre Base Camp (MBC). Selain itu, ada juga provider Ncell yang katanya jaringannya lebih bagus.
Lake Phewa, Pokhara
Belum lama keluar dari terminal, ada telepon dari nomor tidak dikenal masuk. Untung kami angkat telponnya. Rupanya dari petugas Nepal Telecom masuk dan bilang paspor Aya tertinggal di booth mereka. Untuk registrasi Simcard, memang membutuhkan paspor. Yah kami sudah terlanjur keluar area kedatangan dan ketika mencoba masuk lagi, security melarang dengan nada kasar. Dia menyuruh kami ke terminal keberangkatan. Kami jalan ke arah sana, tapi saya tahu itu tidak akan mudah, masuk bandara Nepal tidak sesederhana itu.
Aya menelpon lagi petugas Nepal Telecom, bagaimana caranya masuk. Petugas itu bilang, “Balik saja ke terminal kedatangan, nanti saya akan bicara langsung dengan security.” Tapi ketika Aya coba kasih HP-nya ke security, petugas itu menolak menerima telepon, bilang sibuk. Mulailah saya naik darah. Saya berbicara agak keras, sampai datang security lain yang lebih sopan, berbicara dalam bahasa Melayu, menenangkan kami, dan meminta kami menunggu di area tertentu. Tak lama, petugas Nepal Telecom datang sendiri membawa paspor Aya. Rasanya campur aduk, lega, malu, tapi juga bersyukur.
Sementara itu, di sekitar kami para calo taksi terus menawari jasa mereka. Saya sudah terlalu capek, jadi cuma menjawab dengan nada jutek. Setelah semua beres, kami memesan taksi via aplikasi Indrive. Supirnya meminta kami berjalan keluar ke jalan besar. Sempat kesulitan mencari karena plat nomor di Nepal pakai angka dalam bahasa Nepal, tapi akhirnya ketemu juga.
Tujuan kami berikutnya adalah kantor Nepal Tourism Board untuk mengurus Annapurna Conservation Area Permit (ACAP), izin wajib untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Kami tiba tepat jam dua siang, pas setelah jam istirahat. Kantor akan tutup jam tiga, jadi kami buru-buru mengisi formulir, menyerahkan paspor, dua pas foto ukuran visa, dan membayar 9,000 NPR untuk bertiga. Prosesnya cepat, dalam 30 menit izin sudah jadi.
Setelah urusan izin selesai, kami lanjut ke Thamel, pusatnya turis di Kathmandu, untuk makan siang di Anatolia Resto. Restoran Turki ini juga punya menu lokal dan India. Kami memesan nasi biryani daging domba, momo (dumpling khas Nepal), dan chicken tikka. Semua rasanya enak! Kami bahkan memesan biryani ayam untuk dibawa sebagai bekal perjalanan bus malam nanti.
Selesai makan, kami berjalan kaki sekitar 900 meter ke kantor Jagadamba Pokhara Travels untuk mengambil tiket bus. Sebelumnya saya sudah komunikasi lewat WhatsApp dengan Umesh sejak di Indonesia, agen bus yang bantu kami booking night bus ke Pokhara. Awalnya kami pesan bus Luxury (formasi 2-1, 1.800 NPR per orang) dan sudah minta kursi depan. Tapi sampai di sana, Umesh bilang bus Luxury dibatalkan karena masalah teknis, tersisa hanya bus biasa (formasi 2-2) seharga 1.200 NPR. Dia sempat menyarankan agar kami berangkat besok pagi saja, tapi saya sudah mantap, “Kami tetap berangkat malam ini. Lebih cepat trekking, lebih baik.”
Ternyata, tempat tunggu busnya bukan terminal, tapi pinggir jalan besar! Untung di depannya ada supermarket besar tempat kami menunggu hingga jam 19.30. Busnya datang tepat waktu, dan meski bukan “Luxury”, kursinya empuk dan cukup nyaman.
Dalam perjalanan, bus sempat berhenti di rest area untuk makan malam. Mayoritas penumpang makan dal bhat (nasi, kuah kari, sayur, dan lentil) dengan porsi besar. Menariknya, mereka bisa menambah kuah kari sepuasnya. Saya hanya pesan teh susu dan telur rebus.
Sekitar jam satu malam, bus tiba-tiba berhenti total. Hingga pagi tidak bergerak sama sekali. Ternyata ada longsor di jalur menuju Pokhara. Siang harinya, suhu mulai panas dan udara pengap. Saya akhirnya menghubungi Umesh lewat WA, minta tolong supir menyalakan AC. Untung saja dinyalakan sekitar tiga jam, cukup menolong.
Sore jam lima, jalur akhirnya dibuka dan bus mulai bergerak lagi. Masih sempat terjebak macet di beberapa titik, dan ketika bus berhenti sebentar, saya sempat turun untuk beli mie rebus dan telur dadar take away. Tapi begitu pesanan jadi, bus sudah jalan! Saya pun lari-lari kecil mengejar bus sambil bawa kantong makanan, hehehe.
Kami akhirnya tiba di Pokhara jam 12.30 malam, hampir 29 jam sejak berangkat dari Kathmandu. Harusnya tiba jam lima tadi pag kalau sesuai jadwal. Untungnya, hotel tempat kami menginap masih menunggu kedatangan kami dan membiarkan check-in malam itu tanpa repot. Rasanya campur antara capek, lega, dan tak percaya sudah menempuh perjalanan sejauh itu. Untuk kepulangan nanti, saya memilih naik pesawat saja.
Dalam setiap perjalanan bisa terjadi hal-hal yang berjalan di luar rencana. Tapi gimana kita bisa bersabar dan juga untuk belajar menerima. Kadang perjalanan tak selalu indah dan efisien, tapi justru di situlah letak cerita yang paling berharga.




Leave a comment