PARIS, OUR LAST STOP

Jun 3, ’12 9:56 AM untuk semuanya

Day 15 TOUR DE EIFFEL

TGV Lyria membawa kami tiba di Stasiun Gare Du Lyon setelah menempuh sekitar 4 jam dari Lucerne. Ada 3 stasiun kereta di Paris, Gare du Nord, Gare Du Lyon dan Gare Montparnasse, dari ketiga stasiun kereta sudah terkoneksi dengan sarana transportasi kota Paris. Paris memiliki jalur metro terbanyak dari seluruh negara yang kami kunjungi. Ada 13 jalur Metro, ditambah 3 jalur kereta RER yang menghubungkan paris dengan suburb dan airport. Bingung?? Pasti. Kami menuju tourist information dan bertanya bagaimana menuju Stasiun Metro Republique. Penjelasannya ringkas dan jelas, Naik Metro Line 1 turun di Bastille, nyambung Metro Line 5 turun di Republique. Kemudian memberi peta kota Paris. Dan selanjutnya kami sudah punya bayangan bagaimana memanfaatkan moda transportasi di Paris dengan jalur sebanyak itu. Stasiun Metro Republique adalah daerah dimana hostel kami berada. Ada banyak mesin tiket, namun kami memilih untuk membeli di loket sekaligus mencari informasi, bagusnya tiket apa yang harus kami ambil. One day pass named mobilis ticket for zone 1 n 2, cukup untuk kami mengelilingi kota Paris hari ini dengan menggunakan Metro, RER, Tram dan bus. Tiba di stasiun Republique, kami sempat jalan salah arah menuju hostel. Kami balik menuju Stasiun Republique dan mengambil arah yang satunya. Patokan kami adalah mencari Mcd di sekitar situ, hostel kami ada di seberang jalan depan McD. Senangnya melihat sepanjang jalan menuju hostel kami, banyak sekali restoran halal seperti warung kebab dan restoran pakistan.

Kami istirahat sebentar di hostel, menandai tempat wisata yang akan kami kunjungi di peta, cari informasi via wifi. Kami mulai dengan mengunjungi cathedrale de notre dam Paris yang terletak di jantung kota, Gereja gothic Katolik yang dibangun tahun 1163 dan selesai pada pertengahan abad ke 14. Titik 0-nya Paris berada di depan gereja ini. Apa yang kami rencanakan untuk dikunjungi hari berubah total, kami memutuskan mengunjungi tempat berdasarkan jalur transportasi yang ada saja. Kami naik RER B dari statiun di dekat Gereja Katedral. RER B juga berhenti di Eiffel Tower Champ de Mars, jadi disitulah kami turun.

 

Rupanya hari ini ada masalah dengan lift eiffel, hanya ada satu lift yang beroperasi yang menyebabkan antrian panjang untuk naik lift ke atas. Untuk menghindari antrian panjang itu, kami memilih naik tangga. Tiket naik tangga sampai level kedua 5Euro, harga tiket naik lift sampai level kedua 8Euro. Sehat dan murah, meski nafas ngos-ngosan. 324 anak tangga untuk menuju level pertama dan 340 anak tangga lagi dari level pertama ke level kedua. Dari kedua level, kita bebas menikmati view kota Paris, cantik dibelah oleh Sungai Seine. Kami merasa sudah cukup menikmati kota Paris tanpa perlu naik ke puncaknya. Untuk naik ke puncak masih harus membayar 5Euro. Kami turun dengan lift. Informasi secara detail Menara Eiffel lihat di link ini http://id.wikipedia.org/wiki/Menara_eiffel

Kami disambut hujan rintik-rintik, sayangnya saya menyimpan jas hujan di hostel jadinya kami harus berteduh sementara dan saya hanya memakai pakaian selapis tanpa jaket. Anginnya dingin banget, tapi kami bertahan. Kami harus ke Jardin du Trocadero, taman tempat dimana Menara Eiffel sangat cantik untuk di foto. Gak jauh sih hanya melintasi jembatan yang melintasi Sungai Seine didepan Menara Eiffel. Kami ingin mendapatkan moment Menara Eiffel di malam hari dari Trocadero. Sampai jam 20.30 malam, belum ada tanda-tanda gelap dan tanda lampu akan menyala. Amel gak sabar ingin ke Champ De Elysess, jadi kami kesana. Tadinya akan jalan kaki, melewati halte bus dan melihat rutenya membuat kami menunggu bus disitu. Kami berjalan kaki sedikit di jalan yang terkenal menuju Champ de Elyses. Butik-butik sudah pada tutup tapi kafe-kafe semakin ramai. Gelap baru datang jam 21.30, saat itulah kami balik ke hostel.

 

 

 

 

Day 16 CHATEAU DE VERSAILLES

Sarapan pagi di hostel dengan semangkuk sereal dan 2 gelas jus jeruk cukup membuat kenyang, Rotinya saya bungkus, kopinya pun saya taruh di gelas tupperware buat bekal di jalan. Pagi-pagi kami siap jalan ke Chateau De Versailles atau Istana Versailles yang terletak di suburb zone 4. Room mate dari Costarica menyarankan kami untuk ikut tour saja, karena istana berikut tamannya luas banget dan bisa-bisa kesasar, dia sempat memperlihatkan ke Amel foto-fotonya selama disana. Harga tournya sekitar 65 Euro/orang. Mahal ahh. Kami memilih jalan sendiri saja.

Kami membeli tiket kereta pulang pergi seharga 6,4 Euro/orang. Perjalanan naik kereta RER C Vick, gak usah bingung untuk sampai ke Istana Versailles tinggal mengikuti banyak orang yang juga menuju kesana. Tiket masuk Versailles ada 2 macam 15Euro untuk kunjungan istana saja dan 18Euro untuk kunjungan istana termasuk 2 tempat peristirahatan Raja Louis Grand Trianon dan Petit Trianon. Juga sudah termasuk audio guide dalam berbagai bahasa. Jadi tanpa ikut tour pun, kita juga dapat penjelasan mengenai ruangan yang kita kunjungi di dalam istana itu dari headseat yang diberikan. Cukup menekan angka yang ada di headset berdasarkan penomoran ruangan. Beruntung kami datang pagi-pagi dan antrian untuk masuk tidak terlalu lama. Di dalam istana kami masih bisa berjalan dengan lega, meski untuk berpose di dalam istana susah-susah gampang.

Istana Versailles memang sungguh megah. Setiap detil dekorasinya melambangkan kemewahan. Lukisannya dan patung-patung seni tersebar diberbagai ruangan. Semua langit-langit juga dilukis sangat indah. Luas istana berikut tamannya kurang lebih 18 ha. Total ruangan di dalam Bangunan Istana Versailles 1.300-an ruang. Dibangun selama 40 tahun lebih dan menyedot puluhan ribu pekerja yang sebagian besar adalah pekerja paksa dari wilayah jajahan.

20120531_113436Di dalam katalog yang diberikan, untuk mencapai ujung grand canal yang paling belakang sejauh 3,5km dibutuhkan waktu 60 menit. Untuk mencapai Grand Trianon dan Petit Trianon dari istana Versailles dibutuhkan waktu 40 menit. Kami berjalan santai menikmati suasana, melewati labirin sebelah kiri tapi tetap waspada jangan sampai tersesat. Labirinnya gak terlalu sempit, lebarnya kurang lebih 1,5 meter. Setiap pertemuan labirin satu dengan yang lainnya pasti ada air mancur ataupun patung seni. Tamannya memang sungguh indah, bikin kami betah berlama-lama. Bekal roti yang tadi kami siapkan sedikit demi sedikit dimakan. Kami lanjut mengunjungi tempat peristirahatan, Grand Trianon dan Petit Trianon yang juga merupakan kediaman Marie Antoinette. Kedua tempat ini lebih sederhana dari istana Versaillles tapi juga tetap indah dan penuh dekorasi.

MUSEE DU LOUVRE Dari tempat ini kami bertolak kembali ke kota Paris turun di Musee D Orsay, Museum yang terletak di tepi kiri sungai Seine. Gedung ini sebenarnya adalah sebuah stasiun kereta api, yang dibangun pada tahun 1900 oleh Victor Laloux, dan berguna sebagai stasiun terminal rute Paris-Orléans. Kala itu gedung ini disebut Gare d’Orsay. Stasiun ini ditutup pada 1939, dan disenaraikan sebagai sebuah monumen bersejarah dan cagar budaya pada 1978, lalu dibuka kembali sebagai museum pada bulan Desember 1986. Di ruang utama ada sebuah jam besar yang masih jalan. Museum ini berisi koleksi dari seniman antara lain Vincent Van Gogh, Auguste Rodin dan sebagainya. Kami hanya melewatinya, karena tujuan kami adalah akan ke Musee de Louvre. Melewati jembatan solferino, yang dikhususkan untuk pejalan kaki, ternyata jembatan ini merupakan jembatan cinta, tempat dimana banyak sekali gembok yang bertuliskan nama pasangan bertebaran di sepanjang jembatan ini. Romantis banget.

Kami juga melewati taman menuju Musee de Louvre, tampak banyak orang lokal menikmati udara bebas sambil tidur-tiduran. Ahh wish we had parks like that.

Karena gak terlalu rame antrian masuk ke museum de Louvre, kami memutuskan untuk masuk saja, meski waktu tutup museum tinggal 1 1/2 jam lagi dan energi sudah mulai habis. Mumpung udah disini. Tiket masuk seharga 14Euro sudah termasuk ekshibisi . Hal yang pertama yang kami kunjungi tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci. Kami banyak melewati karya seni demi lukisan ini. Lukisan ini terletak di Galeri Denon Salle 6 Ruangan Seni Italia. Ruangan itu meski penuh sesak, kami masih bisa mendekati lukisan itu. Ada 33 Salle atau hall yang berada di dalam Denon. Musee de Louvre terbagi ke dalam beberapa Galeri.  Harusnya kami nonton lagi Davinci Code sebelum berangkat, biar bisa menyusuri jejak Robert Langdon di museum hehehe. Sayang keterbatasan waktu dan energi yang sudah habis terkuras bikin kami menikmatinya udah setengah hati. Tapi meski begitu, kami mengelilingi seluruh ruangan di galeri Denon termasuk patung seni yang berasal dari Indonesia. Ada beberapa patung seni dari Nias,…

Day 17

GO BACK

Saatnya kami pulang. Kami masih punya waktu sampai jam 5 sore sebelum berangkat ke airport. Check out hostel jam 09 pagi, kami masih menitipkan barang-barang kami di hostel. Pengen jalan-jalan lagi meski gak terlalu semangat. Udah malas, tapi tetap harus keluar karena udah check out. Kami membeli tiket one way ticket seharga 1.7E, saya pikir masa berlakunya 90 menit sejak divalidasi. Rencananya kami hanya sebentar saja di suatu tempat.

Place de la Concorde, alun-alun di Paris merupakan tempat pertama yang kami kunjungi. Alun-alun ini didesain oleh Ange-Jacques Gabriel pada tahun 1755 sebagai alun-alun berbentuk oktagon yang dikelilingi oleh parit antara Champs-Élysées di barat dan Tuileries Gardens i timur. Dipenuhi dengan patung dan air mancur, tempat ini akhirnya dinamai “Place Louis XV” untuk menghormati raja baru. Alun-alun ini kemudian ditambahkan sebuah patung penunggang kuda raja, yang telah direncanakan sejak 1748.

Rupanya one way ticket itu tidak berlaku 90menit, hanya boleh 1x naik kereta. Terpaksa beli tiket lagi, kami membeli mobilis tiket saja sama seperti hari pertama, biar bebas kemana-mana. Kami lanjut ke stasiun Metro Opera, tujuannya ke Moulin Rouge, Hard Rock Cafe dan Galeri Lafayettes. Kami ke Hard Rock Cafe terlebih dahulu, membeli beberapa kaos setelah itu ke Galeri Lafayettes. Galeri Lafayettes merupakan pusat perbelanjaan barang branded di Paris. Saya gak terlalu bersemangat melihat-lihat, mungkin karena gak ada yang mampu terbeli saat ini. Parfumnya lebih murah di Indonesia untuk merek yang sama. Bener gak sih kualitas parfum berbeda-beda berdasarkan tempat beli/produksinya. Ada yang bilang seperti itu. Saya masih ingat tuh ada temen yang bilang jangan beli parfumnya di Singapore atau di Indonesia belinya di Dubai, karena kualitasnya lebih tinggi yang di Dubai. Tampak antrian yang panjang untuk masuk ke galeri Louis Vuitton dan beberapa barang branded lainnya. Tujuannya agar galeri itu gak penuh sesak. Pengunjung dibatasi waktu. Saya hanya tertarik mencoba beberapa kacamata non plastik. Yang termurah Ray-ban. Ngiler, tapi gak dulu deh.

Keluar dari sana, kami mencari Moulin Rouge. Kami pikir opera itu Moulin Rouge. Rupanya Moulin Rougenya tersembunyi, gak ketemu. Jadinya kami memutuskan untuk menuju Pantheon naik bis. Sempat nyasar juga kami, karena bis itu gak pas berhenti di depan Pantheon. Seorang ibu tua yang melihat kami bingung, mencoba membantu mengarahkan meski bicaranya dalam bahasa Prancis. Tentu saja kami tidak mengerti, tapi tetap menunjukkan expresi senang sudah dibantu. Kami menebak-nebak arah yang ditunjukkan oleh ibu itu dan berhasil sampai. Jardin du Luxemburg atau taman Luxemburg menjadi tempat kami untuk beristirahat dan makan siang. Tidak jauh dari Pantheon. Kebab sandwich dan french fries yang akan kami nikmati di taman ini hasil beli di restoran kebab di jalan menuju Pantheon. Restoran itu ramai sekali. Mungkin karena daerah itu juga banyak Universitas/Institut salah satunya Sorbonne University. Di taman juga banyak sekali kursi yang disediakan selain bangku taman. Baca buku, makan siang, BBS (bobok bobok siang) adalah beberapa kegiatan yang dilakukan banyak orang disana.

Selesai dengan urusan perut, kami ke The Basilica of the Sacred Heart of Paris biasa disebut Sacré-Cœur Basilica merupakan gereja Katolik Roman dan landmark terkenal yang terletak di titik tertinggi di kota. Kami sedikit kaget begitu keluar dari stasiun metro Funiculair de Monmartre. Banyak sekali orang negro disini, membuat kami sedikit serem berada di kawasan ini. Jalanan menuju Sacre Coeur agak sepi, sebelah kiri dan kanan banyak salon dimana pelayan dan pelanggannya orang Negro semua. Akhirnya kami bisa sampai ke Sacre Coeur tersebut. Ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi, sebenarnya masih ada waktu mengunjungi 1 tempat lagi tapi kami tidak mau terburu-buru ke bandara. Bandara ini kami tau sangat besar, sehingga kami sudah mencari informasi harus berada di terminal 2E untuk Air France. Ada 3 terminal, Terminal 2 cabangnya saja ada 8, 2A-2H. Tadi pagi kami sudah membeli tiket kereta ke bandara 9,25Euro.

Pulang ngambil barang di hostel lalu ke stasiun kereta RER B. Kereta direct ke bandara, 30 menit sudah nyampe. Jam 16.00 kami mencetak boarding pass sendiri di mesin, namun masih ditolak untuk check in baggage, mereka memprioritaskan yang lebih dulu berangkat. Pesawat kami memang masih lama banget, jam 23.40. Jadi kami menunggu sampai antrian untuk check in baggage berkurang. Khusus ransel diberikan kantong plastik transparan yang besar, bagus juga untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti terbongkar atau selipan barang berbahaya. Proses masuk ruang tunggunya juga cukup lama karena antrian panjang untuk security check in dan imigrasi. Masih harus naik kereta untuk ke ruang tunggu kami. Bandara ini memang luas. Kami menghabiskan waktu dengan melihat free duty shop. Kacamata Armani itu membuatku ngiler kembali, harganya lebih murah dibanding Galeri Lafayettes membuat batin dan pikiranku seperti ada sinyal meraung-raung pertanda saya harus beli. Gak banyak duty free shop di terminal ini. Terminal ini sepi banget, kelihatannya hanya pesawat kami yang berangkat dari terminal ini, padahal terminal lumayan luas sih. Disediakan ruang untuk sholat, namanya Meditation Room.

Pesawat Air France ini hanya sampai Singapore, kami akan melanjutkan penerbangan dengan ValuAir ke Jakarta. Tiba di Singapore, kami bingung bagaimana proses ke ValuAirnya. Petugas KLM yang berada di depan pintu keluar, menyarankan kami untuk proses imigrasi, ambil bagasi lalu check in ValuAir. Dalam hatiku, KLM yang penerbangan premium masak seperti itu prosesnya. Sambil jalan, begitu melihat transfer desk D saya mencoba bertanya lagi. Mereka menginformasikan bahwa ValuAir di transfer desk C. Alhamdulillah, kami gak perlu check out check in lagi. Di Transfer Desk C, bagasi kami ditransferkan ke ValuAir dan mendapatkan boarding pas kami yang baru. Kami lega begitu sudah di depan boarding gate kami. Boarding gate belum dibuka, di sebelah kami, seorang ibu menawarkan timtam kepada kami. Saya pikir timtam itu asli Indonesia, ternyata beliau bawa dari Australia. Cerita punya cerita, dia adalah professor di Australian National University yang habis meeting di Singapore. Dia cerita lebih enak belanja di Jakarta dibanding Eropa yang mahal itu untuk barang brandednya. Kemudian cerita kami terputus, karena ada seorang perempuan Indonesia mendekati kami. Langsung ngajak ngobrol akrab. Oalahh, keliatannya dia menyangka kami TKW asal Indonesia. Hahahaha. Tampang kami beneran kayak TKW kali ya, kesian. Dia TKW yang dipulangkan sama majikannya secara tiba-tiba. Baru tadi sore dia diberitahu kalau sudah harus pulang. Mbak itu tugasnya menjaga nenek dari majikannya di rumah terpisah dari majikannya. Mbak itu cerita bahwa selama hampir 2 tahun disana gak boleh sama sekali pegang hp, berjilbab dan melaksanakan ibadah shalat maupun puasa. Makanya gak ingin lagi kembali kerja jadi TKW katanya mau tinggal saja di kampung halamannya di Lampung.

Di Valu Air kami cuman dapat sepotong roti dan segelas air. Hehehe. KLM kok kerjasama juga sama budget flight, gak sebanding. Dari Air France ke budget flight. Alhamdulillah tiba di Jakarta jam 22.00 dengan selamat, tapi bagasi kami tidak kelihatan. Bikin laporan Property Irregularity Report untuk bagasi yang belum tiba. Tanggal 2 kami tiba di Jakarta sampai hari ini tanggal 10 Juni, bagasi itu belum juga ada kabarnya. Tadi Amel mengabarkan bahwa bagasinya udah dia ambil di bandara. Besok mau coba cek di bandara.

Kami harus melanjutkan perjalanan kami ke tempat asal kami masing-masing, masih harus menunggu sekitar 4 jam lagi untuk terbang ke Manado. Ini penerbangan yang sangat panjang dan melelahkan buat kami. Melewati 2 malam selama 36 jam jika dihitung dari sejak berada di bandara Charles de Gaulle sampai tiba di Manado. Next big trip will be held in 2016 when I will have leaves for 45days. Great Britain trip & Euro trip part II. May Allah bless me for this. Amin

Advertisements

2 thoughts on “PARIS, OUR LAST STOP

    • salam kenal mbak yanti, silakan kalo mau gabung sepanjang kuat jalan kaki, bukan shopping minded, ready to be light traveler. jalan-jalan saya paling banyak 2x setahun karena cuman punya cuti 12 hari dan minimal ke 1 negara yang sama sekali belum pernah dikunjungi. kalo mau lebih kena racun travelling, join grup backpackerdunia di facebook. mbak di reply ya dengan ngasih alamat emailnya mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s