PERSIAPAN MENGURUS VISA SCHENGEN DI NETHERLAND EMBASSY

Rencana untuk mengurus visa di Jakarta saya percepat, tadinya mau ngurus di awal April menjadi di tanggal 26 Maret, menyesuaikan dengan jadwal Amel adikku yang kebetulan akan ke Jakarta dengan gratis pada waktu itu. Tanggal 14 Maret, saya membuat temu janji online untuk tanggal 26 Maret. Alhamdulillah sekali nyoba langsung dapat untuk temu janji jam 08.00. Praktis hanya punya waktu 2 minggu untuk menyelesaikan itinerary dan kelengkapan dokumen pengajuan. Persyaratannya untuk visa turis adalah:

· Paspor

· Formulir Pengajuan visa, yang dapat didownload dari email yang dikirimkan Kedutaan setelah membuat temu janji online.

· Foto ukuran 3.5×4.5 latar belakang putih

· Asuransi Perjalanan min pertanggungan 30,000Euro

· Bukti Bookingan Tiket Pesawat

· Surat Referensi Kerja

· Bukti Kemampuan Keuangan

· Bukti Bookingan Akomodasi.

Kelihatannya simple, tapi banyak hal yang harus dipersiapkan secara detil dan teliti. Sedikit kesalahan akan mempengaruhi keputusan persetujuan visa. Secara saya sudah pernah ditolak pada saat mengajukan visa di Kedubes Australia 2 tahun yang lalu. Memang waktu itu saya mengajukan via pos, tidak datang langsung ke Kedubes dan di surat penolakannya menyatakan bahwa bukti kemampuan keuanganku kurang meyakinkan. Pada saat itu saya hanya melampirkan rekening tabungan yang khusus tabungan untuk perjalanan kesana bukan rekening tampungan gaji.

Kalau mau cepat menyelesaikan kelengkapan berkas, kebanyakan orang membuat itinerary palsu dan bookingan hotel palsu hanya untuk keperluan pengajuan visa. Setelah dapat visa baru membuat itinerary sebenarnya negara yang dikunjungi, membatalkan bookingan hotel yang lama dan membuat bookingan akomodasi sesuai yang sebenarnya. Kalau saya gak mau kerja 2x, mendingan sekalian buat itinerary yang 90% benar. Gak bisa bener 100% juga karena untuk mengajukan visa Schengen di Kedubes Belanda, negara ini harus merupakan negara terlama yang dikunjungi. Sementara saya berencana Italia lah negara terlama yang saya kunjungi. Ini akan merupakan kunjungan pertama kali ke Eropa, mumpung disana, banyak negara/kota yang akan saya kunjungi. Kemaruk.com ceritanya..hehe. Dan entah mengapa, sedari awal saya membulatkan tekad untuk mengajukan di Kedubes Belanda saja. Dan saya semakin semangat saja setelah mengetahui bahwa sejak awal tahun ini, birokrasi pengurusan visa dipangkas, dari yang tadinya 2 minggu menjadi sisa 1-3 hari saja.

Ke Eropa sudah merupakan impian sejak lama, namun baru berani menyatakan akan kesana sejak tahun lalu. Sejak saat itu sy sibuk hunting tiket dengan cara berlangganan newsletter dengan penyedia jasa pembelian tiket pesawat seperti http://www.zuji.com, http://www.kayak.com dan juga langsung ke website airlines.

Semua tips n trick mengurus visa hasil googling dan hasil bergabung di milis saya simak baik-baik dan info perjalanan ke eropa hasil googling sy save dan akan buat rangkuman untuk bekal perjalanan.

Begitu sudah ada ketetapan kapan ngurus visa, langkah pertama menentukan rute. Ada sekitar 25 negara yang masuk dalam perjanjian Schengen. Googling peta Eropa, mengecek kemudahan sarana transportasi dari point to point, dapat saran tentang rute eropa di milis akhirnya menghasilkan rute Amsterdam-Prague-Budapest-Poland-Rome-Venice-Florence-Pisa-Milan-Lucerne-Paris. 11 kota dalam waktu 16 hari. Di pengajuan visa saya tetap rute diatas tapi minus Poland.

Foto paspor rencananya bikin di Jonas Photo Studio Bandung. Gak sempat bikin di Manado.

Tiket pesawat saya beli persis di pembuka tahun ini. Emirates membuka promo ke Eropa dengan harga 830usd. Sayangnya Amel gak dapat promo ini, karena kartu kreditnya terus bermasalah. Berharap ada promo Emirates berikutnya, malah harganya makin naik. Alhasil Amel saya belikan tiket KLM rute Jakarta Amsterdam- Paris Jakarta dengan harga 930USD. Amel maunya berangkat barengan, so saya mengalah. Kalau visanya disetujui, saya akan membatalkan tiket Emirates dan beralih ke KLM.

Asuransi untuk visa Schengen ada yang bisa dibeli online yaitu Axa Schengen. Saya memilih Travel Safe dari ACA dengan pertanggungan USD 50,0000 seharga 38.5USD yang saya beli di kantor cabang ACA yang ada di Manado dengan pertimbangan jika terjadi risiko gagal dapat visa, saya bisa dapat klaim refund 75% dari premi yang saya bayarkan. Axa schengen juga bisa refund, 100% malah. Cuman beli online lama pengembaliannya. Yahh, ini cuman menjaga kemungkinan terburuknya. Prosesnya cepat, bisa ditunggu hanya menyiapkan copy paspor dan ktp saja.

Surat referensi kerja sangat penting untuk memberikan informasi mengenai pekerjaan, menyatakan keterikatan kita dengan perusahaan, menyatakan bahwa kita sanggup membiayai perjalanan ke Eropa dan menyatakan kita akan kembali bekerja setelah melakukan perjalanan.

Meski gak diminta, saya juga menyiapkan surat referensi Bank yang ditujukan kepada Kedubes Belanda, kemudian juga menyiapkan rekening koran tabungan tampungan gaji yang nilainya stabil udah 3 bulan. Biasanya gak gitu stabil…hehe…tapi demi dapat visa, saya berusaha untuk menjaga nominal yang ada di tabungan.

Bukti bookingan akomodasi yang urusannya agak lama. Untuk menentukan hostel di 1 negara yang diinapi, saya harus menyeleksi dari minimal 5 hostel, menimbang-nimbang mana yang terbaik. Terbaik dari lokasi, harga, fasilitas, penampakan hostel, rating hostel dan mudah ditemukan serta review hostel itu dari berbagai sumber. Lamaaa. Apalagi saya hanya bisa melakukan browsing di sore hari setelah usai jam kantor. Saya juga menggunakan google map untuk melihat suatu hostel berapa jauh jaraknya dari stasiun kereta utama, secara kebanyakan akan menggunakan kereta sebagai sarana transportasi. Saya juga berupaya mencari hostel yang free cancellation melalui website http://www.booking.com. Artinya sewaktu-waktu dapat dibatalkan tanpa kena fee cancellation. Namun gak semua bisa dibooking lewat website itu. Ada yang lewat website hostelbooker dan ada pula lewat website hostelworld. Kalo booking lewat keduanya, kita harus bayar dp 10% pada saat booking. Mengenai fasilitas, harus menyimak baik-baik apa saja fasilitas yang disediakan. Hostel di Eropa berbeda cara menyediakan fasilitas seperti handuk, seprei tempat tidur, sarapan dan dapur. Ada hostel yang gak menyediakan semua fasilitas itu. Hostel itu pasti saya lewatkan. Booking hostel harus jauh-jauh hari, karena cepat full book. Apalagi di Amsterdam, hostel yang saya incar full, alhasil hanya berhasil membook hostel yang agak diluar area strategis, tapi dekat dengan taman. Saya mengutamakan hostel yang ada female dormnya, tapi kebanyakan hostel di Eropa menyediakan mixed dorm. Mixed dorm adalah kamar dimana terdapat banyak tempat tidur mulai 4,6,8,10,12,16,32 tempat tidur, cowok dan cewek tergabung. Kalau saya sendirian, ogah mengambil kamar jenis ini. Berhubung berdua, saya beranikan diri saja. Nanti disana saya akan request kalau bisa digabung dengan cewek-cewek lainnya. Saya juga membatasi dengan tidak mengambil mixed dorm kurang dari 6 tempat tidur, tapi juga gak boleh kebanyakan tempat tidur. Saya bisa membayangkan aroma kurang enak di segala penjuru, karena pasti ada yang tidak mandi, kakinya bau dan ngorok yang bersahut-sahutan. Saya dan Amel sempat khawatir dengan kengorokan kita, secara sy kalau capek tidurnya pasti ngorok juga. Hihihi liat gimana nanti saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s