JALAN-JALAN KE MYANMAR THE GOLDEN LAND (MYANMAR #2)

11109000_10205513982146344_2309056268951231200_n    Ngapain sih ke Myanmar? Bukannya lagi gak aman ya? Apa sih yang diliat di sana? Kenapa gak ke Vietnam saja? Itu beberapa pertanyaan yang diajukan ke saya oleh beberapa teman. Memutuskan ke Myanmar itu lebih karena saya dapat tiket paling murah ya kesitu, sambil nyicil-nyicil menyelesaikan trip Asia Tenggara. Dan sepanjang belum ada travel warning dari pemerintah, gak masalah bagi saya untuk berkunjung. Myanmar itu negeri seribu pagoda, yang diliat pasti candi melulu. Makanya saya bilang sama teman-teman siap-siap mabok candi. Milih ke Myanmar karena udah pernah ke Hochiminh, Vietnam . Isu rohingya menghangat lagi, apalagi ratusan pengungsi Rohingya ada di Banda Aceh saat ini. Padahal aktivitas kehidupan di Yangon n Bagan anteng-anteng saja.

Meeting point di bandara KLIA2, 3orang termasuk saya terbang dari Makassar, 2orang lagi terbang dari Jakarta. Meeting point paling mudah ditemukan adalah Old Town White Coffee Cafe, karena begitu keluar dari area ketibaan ketemunya cafe ini.

20150514_080602

just arrived at Yangon International Airport

20150514_083207

change USD into Kyats at the airport

20150516_181857

departure gate Yangon airport, waiting to boarding

Itinerary sedikit berubah, saya mutusin untuk nginap di Tune Hotel KLIA2, 1 malam sebelum terbang ke Yangon dan 1 malam setelah pulang dari Yangon. Gak tega juga ngasih mereka nongkrong di bandara secara selama di Myanmar kita bakal tidur di bus. Selama di Yangon n Bagan, hari pertama dan kedua saya juga memilih untuk rental mobil. Biar sedikit nyaman, ada tempat ngadem secara Yangon n Bagan lagi hot-hotnya, ada tempat buat naruh ransel dan share costnya gak terlalu tinggi karena dibagi berlima.

Driver kami di Bagan namanya Mr Chit Ko. Dapat rekomendasi dari teman dari grup Backpacker Dunia dan juga dari Trip Advisor. Setelah email-emailan, kami deal di harga 55USD untuk berlima. Dijemput di stasiun bus, keliling Bagan, liat sunrise di Bulethi Pagoda, liat sunset di Shwesandaw Pagoda dan diantar balik ke stasiun bus. Driver untuk di Yangon juga dicarikan sama Mr Chit Ko. Katanya nanti ada yang menunggu sambil megang kertas bertulis namaku. Harga sewa mobilnya nanti nego di tempat. Driver kami di Yangon namanya Mr Ko Ye. Mr Ko Ye ngasih harga 75USD yang gak saya tawar lagi, pertimbangannya masih lebih murah dibanding penawaran lainnya. Mr Ko Ye jemput kami di bandara Yangon, kemudian mengantar kami berkeliling kota Yangon lalu mengantar kami ke stasiun bus Aung Mingalar. Sejak tahun 2005, Yangon bukan lagi menjadi ibukota Myanmar. Sudah berpindah ke Nay Pyi Taw sekitar 4 jam dari Yangon. Namun Yangon tetap menjadi kota terbesar yang ada di Myanmar.

Ada sedikit masalah dengan AC mobilnya Mr Ko Ye, freonnya kayaknya habis. Mr Ko Ye ngantar kita ke Shwedagon Pagoda, lalu minta waktu untuk memperbaiki Ac-nya.

11245503_10205513969386025_2418984972215745198_n

shwedagon pagoda

Shwedagon (nama resmi: Shwedagon Zedi Daw), juga dikenal dengan julukan Pagoda Emas, adalah sebuah stupa atau pagoda setinggi 98 meter (321,5 kaki) yang berlapis emas dan terletak di YangonMyanmar. Stupa buddhis ini adalah yang paling suci bagi penduduk Myanmar karena menyimpan relik Buddha terdahulu, yaitu tongkat Kakusandha, saringan air Konagamana, sepotong jubah Kassapa, dan delapan helai rambut Siddharta Gautama. Replika Shwedagon ada di tiga  tempat yaitu di Nay Pyi Taw dengan tinggi 30m, di Mumbai India dan di Berastagi Sumatra Utara dengan tinggi pagoda 46.8m yang konstruksi selesai pada tahun 2010 dan material konstruksi diimpor langsung dari Myanmar.

Fee entrance 8USD. Area Shwedagon sangat luas, gerbangnya saja ada 4. Akses yang paling umum ada di Gerbang Selatan disini akses untuk turis naik lift. Di dekat sini ada juga akses ke Shwedagon dengan menaiki ratusan tangga. Tadinya niat mau naik tangga saja sambil ngeliat kiri kanannya banyak penjual souvenir, tapi Amel minta untuk naik lift saja. Padahal kalo naik tangga katanya gak perlu bayar fee entrance.

sign board before enter the pagoda

sign board before enter the pagoda

Kita diminta untuk menanggalkan sepatu sebelum naik lift. Juga gak boleh pake kaos kaki. Harus benar-benar nyeker padahal cuaca lagi panas-panasnya. Jadinya agak ilfil buat explore Shwedagon, panasnya kaki kagak nahan. Padahal katanya di area Shwedagon ada taman yang cantik (sempat liat dalam perjalanan pulang ke bandara Yangon, memang ada taman cantik nan luas di depan Shwedagon. Foto-foto disitu pasti bagus. Trus bisa melihat Danau Kandawgyi dari ketinggian.

Sambil menunggu Mr Ko Ye datang, kami jalan ke pagoda yang ada di seberang. Gak terlalu menarik jadi hanya sebentar. Kami sempat membeli manisan mangga dan air mineral dingin di sekitar situ. Air mineral dingin kemasan 1 liter dijual seharga 500kyat (kyat dibaca ceks) atau seharga 6500rupiah. Katanya sih kalo beli di supermarket harga segitu bisa dapat 3 botol kemasan 1 liter.

20150514_122902

Mobil Mr Ko Ye, AC-nya sudah berfungsi. Alhamdulillah. Kami lanjut ke pagoda Chauk htat Gyi, disini terdapat Reclining Budha sepanjang 65 m, mirip Wat Po di Bangkok. Selesai dibangun tahun 1907 kemudian direnovasi pada tahun 1966. Gak perlu bayar tiket masuk.

balaikota yangon

at mahabandoola park in front of town hall

jump sule

Sule pagoda jumper

Setelah makan siang, kami ke pusat kota area dimana Sule Pagoda, Balaikota, Independent Monumen berdekatan. Independent Monumen berada di tengah Taman Mahabandoola. Akses pintu taman cuman di satu sisi, akses dari sisi yang lain ditutup karena lagi perbaikan selokan. Cukup jauh kami harus memutar untuk masuk ke dalam taman. Sambil jalan kami mengamati tingkah laku pengunjung taman tersebut. Homeless, pasangan lagi pacaran atau masyarakat yang sekedar duduk santai di taman. Yang lebih utama dan membuat kami tersenyum-senyum adalah banyaknya pasangan yang lagi pacaran, berpangku-pangkuan, tidur-tiduran ataupun pacaran di balik payung. Apalagi cowoknya rata-rata pakai longyi (sarung). Hihihi.

Kami mampir sholat di mesjid yang berada di dekat Sule Pagoda. Mesjid Jamek Bengali Sunni namanya. Akses pintu depan tertutup rapat, jadinya kami lewat pintu samping. Mesjidnya sederhana saja.

20150514_150655?

Botatoung Pagoda yang terletak dekat dengan Yangon River. Botataung memiliki arti ‘seribu perwira’ atau ‘seribu pemimpin’. Penamaan ini merujuk pada seribu perwira militer yang membawa patung budha dari India ke Myanmar lebih dari 2, 500 tahun yang lalu. Pagodanya sendiri di bangun bersamaan pada masa pembangunan Shwedagon dan Sule Pagoda.

Di pagoda inilah temapt di semayamkannya delapan helai rambut Budha, sebelum tujuh helainya di sebar ke seluruh penjuru negeri. Satu helai tetap di semayamkan di Botataung Pagoda. Tiket masuk 3USD.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Mr Ko Ye menyarankan untuk segera ke terminal bus mengingat lama perjalanan kurang lebih sejam dan biasanya banyak titik macet di jalan. Kami masih mampir di Kandawgyi Lake, salah satu dari 2 danau yang ada di Yangon selain Inya Lake. Ada restoran keren di dalam area danau ini, namun karena keterbatasan waktu cuman sempat foto-foto di danaunya saja.

Kami berpisah dengan Mr Ko Ye di terminal bus. Kontak Mr Ko Ye:   +959428311690 . Mr Ko Ye orangnya cukup sopan. Tiap berhenti, dia akan turun membukakan pintu dan dia akan menunggu sampai semuanya masuk di dalam mobil kemudian menutupkan pintu. Bahasa Inggrisnya cukup bagus. Masih bisa nyambung dengan saya yang masih belepotan ngomong Inggrisnya. Hehehe. Kekurangannya, nyaris dia tidak menjelaskan tempat-tempat yang dikunjungi. Masih kurang jika dibandingkan dengan pelayanan Mr Chit Ko driver di Bagan. Tapi lumayanlah, ketimbang baru mau nego taxi di bandara atau ngeteng-ngeteng taxi pake ribeut dan drivernya belum tentu bisa berbahasa Inggris.

20150514_180133

with mr Ko Ye

Sebenarnya kalo dihitung-hitung, ngeteng taxi lebih murah. Taxi bandara ke pusat kota 7USD. Keliling dari satu tempat ke tempat lain rata-rata 2-3USD, kalo 5 tempat berarti sekitar 15USD. Naik taxi dari kota ke terminal bus 12 USD. Total cuman habis 32USD.

Advertisements

6 thoughts on “JALAN-JALAN KE MYANMAR THE GOLDEN LAND (MYANMAR #2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s