Hallstatt

Hallstatt dan Berlin yang menjadi highlight dalam perjalanan kami ke Eropa kali ini. Jadinya saya mengatur trip dengan rute memutar karena masuk dan keluarnya dari Paris. Dan jauh sebelum merencanakan trip ini, banyak postingan mengenai Hallstatt membuat saya berkata dalam hati, harus kesini untuk trip berikutnya.

Perjalanan ke Halsstatt tidaklah mulus. Kami nyasar sampai dua kali. GPS gak akurat membuat kami salah belok dan nyasar sampai ke jalan tanah yang kayaknya menuju hutan dan buntu. Malam-malam lagi. Duh, saya langsung berasa horror, membayangkan ada penjagal seperti di film Texas Chainsaw massacre. Kami mutar balik dan kembali ke jalan umum. Masih salah juga belokannya. Percobaan ketiga, kami memutuskan belok di belokan yang satunya. Jalannya bener tapi sepertinya jalan alternatif yang hanya muat satu mobil. Di sisi kanan dan kiri ada tumpukan salju setinggi mobil. Ini juga berasa serem, gimana kalo mobil kami ngadat di jalan dan gak ada rumah di sepanjang jalan itu. Sambil berdoa dan harap-harap cemas semoga jalan ini memang tembus ke Hallstatt. Sekitar 15menit melewati jalan tersebut, sampai kami di perumahan penduduk. Alhamdulillah, dari sini akhirnya kami bisa nyampe ke Hallstatt.

Sama sekali tidak menyangka kalo Hallstatt masih bersalju. Alhamdulillah, bonus buat keluargaku yang bisa berkesempatan untuk melihat salju. Dalam perjalanan dari Berlin menuju Prague kita sempat nemu area yang bersalju. Kami sempat mampir berfoto foto disitu. Tapi gak nyangka akan menemukannya lagi di Hallstatt.

Kami sampai ke tempat parkir kota Hallstatt. Semua mobil pendatang wajib parkir di tempat parkir ini kemudian akan diantar ke hotel dengan menggunakan mobil van. Duh udah jam 09 malam dan dingin banget.

Bisa dibilang penginapan di Hallstatt mahal-mahal. Hotel kelas melati Gasthoff Simony Hotel tempat kami menginap harganya 2.8juta/malam termasuk sarapan 4 orang. Hotel yang lebih tepat disebut rumah tua, hehehe. Hanya hotel ini yang tersisa di deretan hotel yang berlokasi strategis dan viewnya menghadap danau Halsstatt. Hotelnya persis berada depan Market Square yang merupakan penanda pusat desa Halsstat. Dan yang paling penting masuk budget kami. Hotel yang proper seperti Hotel Heritage harganya sekitar 5.6juta/2kamar/malam. Kalo pengen dapat penginapan yang lebih murah bisa nginapnya di desa sebelah yaitu Obertraun atau Bad ischl. Ke Hallstatt bisa naik bus atau naik kereta kemudian lanjut nyebrang danau. Tapi kami ingin merasakan feel nginap di Hallstatt. Untung juga gak tergiur di penginapan desa sebelah. Gak kebayang jalan-jalan dalam kondisi dingin banget -1derajat celcius.

Kami request pada saat booking online minta kamar yang viewnya danau Hallstatt yang dikelilingi pengunungan yang berselimutkan salju. Alhamdulillah dikasih. Meski balkonnya gak gede-gede amat dan kurang bersih. Kamarnya sempit sampai naruh koper pun susah. Ada 2 tempat tidur besar yang cukup untuk 4 orang dan ada lemari antik. Kamar mandinya pun sempit banget, kita gak bisa leluasa bergerak dalam kamar mandi. Tapi ini mendingan karena, baca beberapa review hotel ini ada yang nginap tapi kamar mandinya diluar kamar.

Hallstatt desa yang gak besar, penduduknya pun kurang dari 1000orang. Desa ini dinobatkan sebagai desa terindah di dunia. Panorama alam yang membuat indah adalah danau Hallstatt (Hallstätter See) yang terletak tepat di kaki pegunungan Dachstein. Kami berjalan-jalan sampai sekitar danau yaitu di sekitar gereja tua dan dermaga penyeberangan. Sempat jalan juga ke sebelah kiri hotel tapi gak berlama-lama karena turun hujan deras. Kami bawa payung dan 2 jas hujan. Cuma gak kuat dinginnya.

Kalo ke Halsstatt bisa juga mengunjungi gua es di Dachstein dan Five Fingers untuk menikmati panorama kota Halsstatt secara keseluruhan melalui jaring-jaring logam yang membentuk lima jari di atas ketinggian. Selain itu bisa ke Salt Mine atau tambang garam tertua di dunia. Kami skip kesini karena baby gak boleh naik trus dingin pula. Kayaknya masih perlu diulang trip ke Halsstatt ini.