Menelusuri Kota Tua Luxembourg

Luxembourg City adalah kota transit terakhir dari perjalanan kami. Tadinya sempat galau di 2 malam tersisa apakah mau dihabiskan di Muenchen dan Luxembourg atau dihabiskan di Luxembourg dan Paris. Tertarik sih ke Muenchen tapi saya putuskan malam terakhir nginap di Paris saja. Lebih amannya gitu, karena kita bakal lebih awal berada di kota tempat kami akan terbang pulang ke Jakarta. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi seperti kendala di kendaraan, kendala di jalan dan sebagainya. Akomodasi tiba di Paris sampai Halstatt sudah saya booking saat di Indonesia sebelum berangkat. Yang 2 malam terakhir baru saya booking saat bermalam di Hallstatt setelah gak galau.

Kami meninggalkan Hallstat jam 11 pagi. Jarak Hallstatt-Luxembourg sekitar 748km. Kami baru nyampai di Luxembourg sekitar jam 9 malam. Udah sepi. Saya booking 1 kamar saja di Double Tree by Hilton tanpa sarapan. Harga hotel maupun hostel cukup mahal di Luxembourg. Mungkin karena Luxembourg salah satu negara terkaya dan PDB perkapitanya tertinggi di dunia. Agak tricky juga secara kami berempat dewasa plus 1 infant. Mau pesan 2 kamar, berat diongkos. Kita cuma numpang tidur dan pagi-pagi udah jalan. Dan kita datangnya saat hotel udah sepi dari aktivitas. Pasrah aja kalo diminta nambah extra bed. Yang masuk check in saya sama anak-anak. Pak suami nunggu di mobil.

Yang proses check innya kita adalah bapak bermuka khas Timur Tengah. Dia bilang ini harus nambah extra bed. Saya jawab, please kami hanya numpang tidur saja, besok pagi-pagi kami sudah jalan ke Paris. Si bapak hanya tersenyum lalu ngasih kunci dan 3 cookies khas Double Tree. Kami masuk kamar dan beberapa saat kemudian pak suami menyusul.

Luxembourg adalah salah satu negara terkecil di Eropa. Negara ini luasnya sekitar 2.586 km². Luxembourg berbatasan dengan provinsi Luxembourg negara Belgia, yang luasnya sebesar 4.443 km², hampir dua kali luas negara ini. Negara ini negara terkurung, berbatasan dengan Jerman, Belgia dan Prancis. Mungkin itu sebabnya ada 4 bahasa resmi di. Luxembourg: bahasa Jerman, Belanda, Prancis dan bahasa Luxembourg sendiri.

Kami memilih untuk explore kota tuanya saja. Seperti kebanyakan kota tua di negara lainnya yang dapat dikelilingi dengan berjalan kaki. Mobil kita parkir di pinggir jalan. dekat Notre Dame. Hari itu hari Minggu jadi bebas parkir mobil di jalan. Dan mulai berjalan kaki dengan mengandalkan gmap.

Place d’Armes dan Place Guilaume II merupakan salah dua dari alun-alun yang ada di Luxembourg. Di alun-alun Place Guillaume terdapat patung pria sedang menunggang kuda yaitu Guillaume II, King of the Netherlands dan Grand Duke of Luxembourg yang namanya didedikasikan sebagai nama alun-alun ini. 

Salah satu tempat yang juga dikunjungi adalah Palais Grand Ducal yang menjadi tempat kediaman resmi dan kantor Grand Duke of Luxembourg. Meski hanya bisa berfoto dari luar. Grand Duke adalah kepala negara yang berkuasa penuh untuk membentuk kabinet pemerintahan. Dalam melaksanakan tugas sehari-harinya, kabinet ini dikoordinasi oleh seorang perdana menteri.

Le Chemin de la Corniche  juga disebut juga sebagai “balkon terindah di Eropa” karena menjulang tinggi di atas kota tua di lembah sungai. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Luxembourg dan menyusuri jalan kurang lebih 500m hingga sampai di Casemates du Bock. Casemates du Bock adalah terowongan sepanjang 17 kilometer yang dibangun oleh Spanyol antara tahun 1737 dan 1746. Terowongan Casemates berada di bawah Kastil Montée de Clausen. Sayang terowongan ini masih tutup saat kami datang. Casemates hanya buka Maret-Oktober saja.

Kami tidak berlama-lama di Luxembourg, cukup sekedar tau kotanya saja. Kami masih mau mampir di La Valle Village, factory outlet yang ada di pinggiran kota Paris yang akan kami lewati. Sebenarnya saya gak hobi belanja, tapi penasaran saja dengan factory outlet ini yang katanya popular banget buat wisatawan Indonesia. Dan benar saja, di La Valle Village disana sini banyak kedengaran suara berbahasa Indonesia. Kami juga tidak lama disini cukup sekedar tau saja dan masuk ke toko yang salenya menarik perhatian seperti Tumi dan L’Occitane. Saya khilaf beli koper padahal space di mobil udah nyaris gak ada. Ternyata setelah diatur ulang, koper baru itu masih muat dibawah kaki penumpang di belakang driver, hehe. Toh sisa sehari ini.

Hallstatt

Hallstatt dan Berlin yang menjadi highlight dalam perjalanan kami ke Eropa kali ini. Jadinya saya mengatur trip dengan rute memutar karena masuk dan keluarnya dari Paris. Dan jauh sebelum merencanakan trip ini, banyak postingan mengenai Hallstatt membuat saya berkata dalam hati, harus kesini untuk trip berikutnya.

Perjalanan ke Halsstatt tidaklah mulus. Kami nyasar sampai dua kali. GPS gak akurat membuat kami salah belok dan nyasar sampai ke jalan tanah yang kayaknya menuju hutan dan buntu. Malam-malam lagi. Duh, saya langsung berasa horror, membayangkan ada penjagal seperti di film Texas Chainsaw massacre. Kami mutar balik dan kembali ke jalan umum. Masih salah juga belokannya. Percobaan ketiga, kami memutuskan belok di belokan yang satunya. Jalannya bener tapi sepertinya jalan alternatif yang hanya muat satu mobil. Di sisi kanan dan kiri ada tumpukan salju setinggi mobil. Ini juga berasa serem, gimana kalo mobil kami ngadat di jalan dan gak ada rumah di sepanjang jalan itu. Sambil berdoa dan harap-harap cemas semoga jalan ini memang tembus ke Hallstatt. Sekitar 15menit melewati jalan tersebut, sampai kami di perumahan penduduk. Alhamdulillah, dari sini akhirnya kami bisa nyampe ke Hallstatt.

Sama sekali tidak menyangka kalo Hallstatt masih bersalju. Alhamdulillah, bonus buat keluargaku yang bisa berkesempatan untuk melihat salju. Dalam perjalanan dari Berlin menuju Prague kita sempat nemu area yang bersalju. Kami sempat mampir berfoto foto disitu. Tapi gak nyangka akan menemukannya lagi di Hallstatt.

Kami sampai ke tempat parkir kota Hallstatt. Semua mobil pendatang wajib parkir di tempat parkir ini kemudian akan diantar ke hotel dengan menggunakan mobil van. Duh udah jam 09 malam dan dingin banget.

Bisa dibilang penginapan di Hallstatt mahal-mahal. Hotel kelas melati Gasthoff Simony Hotel tempat kami menginap harganya 2.8juta/malam termasuk sarapan 4 orang. Hotel yang lebih tepat disebut rumah tua, hehehe. Hanya hotel ini yang tersisa di deretan hotel yang berlokasi strategis dan viewnya menghadap danau Halsstatt. Hotelnya persis berada depan Market Square yang merupakan penanda pusat desa Halsstat. Dan yang paling penting masuk budget kami. Hotel yang proper seperti Hotel Heritage harganya sekitar 5.6juta/2kamar/malam. Kalo pengen dapat penginapan yang lebih murah bisa nginapnya di desa sebelah yaitu Obertraun atau Bad ischl. Ke Hallstatt bisa naik bus atau naik kereta kemudian lanjut nyebrang danau. Tapi kami ingin merasakan feel nginap di Hallstatt. Untung juga gak tergiur di penginapan desa sebelah. Gak kebayang jalan-jalan dalam kondisi dingin banget -1derajat celcius.

Kami request pada saat booking online minta kamar yang viewnya danau Hallstatt yang dikelilingi pengunungan yang berselimutkan salju. Alhamdulillah dikasih. Meski balkonnya gak gede-gede amat dan kurang bersih. Kamarnya sempit sampai naruh koper pun susah. Ada 2 tempat tidur besar yang cukup untuk 4 orang dan ada lemari antik. Kamar mandinya pun sempit banget, kita gak bisa leluasa bergerak dalam kamar mandi. Tapi ini mendingan karena, baca beberapa review hotel ini ada yang nginap tapi kamar mandinya diluar kamar.

Hallstatt desa yang gak besar, penduduknya pun kurang dari 1000orang. Desa ini dinobatkan sebagai desa terindah di dunia. Panorama alam yang membuat indah adalah danau Hallstatt (Hallstätter See) yang terletak tepat di kaki pegunungan Dachstein. Kami berjalan-jalan sampai sekitar danau yaitu di sekitar gereja tua dan dermaga penyeberangan. Sempat jalan juga ke sebelah kiri hotel tapi gak berlama-lama karena turun hujan deras. Kami bawa payung dan 2 jas hujan. Cuma gak kuat dinginnya.

Kalo ke Halsstatt bisa juga mengunjungi gua es di Dachstein dan Five Fingers untuk menikmati panorama kota Halsstatt secara keseluruhan melalui jaring-jaring logam yang membentuk lima jari di atas ketinggian. Selain itu bisa ke Salt Mine atau tambang garam tertua di dunia. Kami skip kesini karena baby gak boleh naik trus dingin pula. Kayaknya masih perlu diulang trip ke Halsstatt ini.

Pesona Ljubljana

IMG_2073

View of Ljubjana City from Ljubljana Castle

Dua jam berkendara dari Zagreb kami pun sampai di Ljubljana (baca: Liyubliana) ibukota negara Slovenia. Tujuan kami disini adalah old town Ljubljana. Sebagaimana negara yang lain, satu tujuan sudah bisa mencakup banyak place of interest yang ada di negara itu. Jarak dari tempat parkir paling cuma 50meter sudah sampai di pinggir sungai Ljubjanica. Old town Ljubljana terlihat tampak sangat menawan karena diapit Ljubljana Castle dan jalan pedestrian di tepi sungai Ljubljanica. Banyak pohon, banyak cafe outdoor di tepi sungai, dimana bisa duduk santai sambil memperhatikan orang yang lalu lalang.

Ljubljana sering disebut juga city of dragon. Naga merupakan binatang yang spesial yang menjadi simbol di negara ini sejak jaman dahulu kala.  Dari penggambaran awalnya sebagai monster, naga berubah menjadi pelindung simbolis kota, mewujudkan kekuatan, keberanian dan kebijaksanaan.

Di dalam kawasan old town terdapat banyak bangunan yang menjadi daya tarik antara lain Tromostovje atau The triple bridge, jembatan yang secara paralel yang melintas di atas sungai Ljubljanica. Kemudian ada Preseren Square, alun-alun di tengah kawasan old town yang juga sering dijadikan meeting point. Preseren Square dikelilingi beberapa bangunan bersejarah, antara lain gereja Fransiskan/Marijinega Franciskanska yang berwarna pink, juga berdekatan dengan Magistrat/Town Hall dan Ljubljana Cathedral. Continue reading

Toilet Training

Salah satu target Work From Home (WFH) saya adalah Ghazy sukses toilet training (TT). Kriteria sukses TT adalah udah lepas diaper sama sekali. Emang gak berhubungan dengan kerjaan sih, hehe. Tapi penting karena emang udah harus toilet training. Sekarang Ghazy udah 2 tahun 3 bulan. Katanya sih waktu yang tepat untuk mulai edukasi toilet training dimulai umur 18 bulan. Cuman saya menunda terus untuk mulai. Repotnya itu yang bikin malas memikirkan harus membersihkan pipis/pup yang berceceran dimana-mana. Ghazy begitu lahir langsung full diaper, gak sanggup saya pake popok kain. Soalnya gak ada yang khusus ngurusin Ghazy. Gak ada baby sitter ataupun ART.

Saya udah berfikir untuk nyari ART buat jagain Ghazy. Kebetulan ART yang pernah kerja sama saya berminat kerja kembali. Eh ditunggu malah mbak ARTnya gak datang-datang.

Kakak-kakaknya dulu sukses toilet training pas umur 2 tahun. Kebetulan waktu itu ada Kajol, Asisten saya yang telaten banget. Pas umur setahun, pake diaper hanya saat mau tidur. Pas umur 2 tahun udah lepas diaper sama sekali. Maklum waktu itu, semangatnya adalah mengurangi pengeluaran untuk beli diaper. Gaji masih pas-pasan soalnya.

Kemudian datang miss Corona yang membuat anak-anak harus belajar dari rumah. Kesempatan ini saya gunakan untuk minta anak-anak ngurusin adeknya toilet training. Awalnya pada protes, tapi dilaksanakan juga. Tiap hari laporan, kadang jam 3 udah pake popok, kadang jam 5 udah pake popok.

Seminggu kemudian, saya WFH. Sama saya, Ghazy baru benar-benar pake diaper menjelang tidur malam. Keesokan harinya, diaper baru saya lepas kalo udah pup atau kalo udah waktunya mandi.

Katanya, tiap anak beda-beda kemampuan toilet trainingnya. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Target saya sampai habis stock diapernya, atau masih sekitar 3 bulan lagi. Kalo belum juga sukses, yah di perpanjang saja lagi. Yang penting sebelum Ghazy 3 tahun. Saya juga galau kalo terlalu cepat ntar gimana minum susunya secara Ghazy malas minum susu kalo pas melek. Dia lebih suka minum susu pas bobo. Jadi biasanya jam 11, jam 3 dan jam 5 pagi saya bangun bikinin susu.

Di hari kesepuluh TT, Ghazy bilang mau pipis padahal masih pake diaper malamnya. Ini pertanda bahwa dia sudah ngerti mengenai panggilan alam tersebut dan sepertinya udah bisa dia lepas diaper. Mulai hari itu juga udah sama sekali gak pake diaper. Yeaayyyy. Alhamdulillah hanya 10 hari, sudah sukses TT. Memang tingkat keberhasilan pipisnya masih 50%. Dalam artian 50% berhasil pipisnya di kamar mandi, sisanya pipis dimana-mana. Hehehe. Tapi itu adalah edukasi TT selanjutnya, yang penting udah lepas diaper dulu.

Di hari kesepuluh TT, Ghazy bilang mau pipis padahal masih pake diaper malamnya. Ini pertanda bahwa dia sudah ngerti mengenai panggilan alam tersebut dan sepertinya udah bisa dia lepas diaper. Mulai hari itu juga udah sama sekali gak pake diaper. Yeaayyyy. Alhamdulillah hanya 10 hari, sudah sukses TT. Memang tingkat keberhasilan pipisnya masih 50%. Dalam artian 50% berhasil pipisnya di kamar mandi, sisanya pipis dimana-mana. Hehehe. Tapi itu adalah edukasi TT selanjutnya, yang penting udah lepas diaper dulu.

Di hari kesepuluh TT, Ghazy bilang mau pipis padahal masih pake diaper malamnya. Ini pertanda bahwa dia sudah ngerti mengenai panggilan alam tersebut dan sepertinya udah bisa dia lepas diaper. Mulai hari itu juga udah sama sekali gak pake diaper. Yeaayyyy. Alhamdulillah hanya 10 hari, sudah sukses TT. Memang tingkat keberhasilan pipisnya masih 50%. Dalam artian 50% berhasil pipisnya di kamar mandi, sisanya pipis dimana-mana. Hehehe. Tapi itu adalah edukasi TT selanjutnya, yang penting udah lepas diaper dulu.

Peralatan Toilet Training

Saya udah lama nyiapin peralatan buat toilet training seperti potty seat. Ada 2 jenis potty seat yang saya beli. Satu buat nyantol di closet kamar mandi, satunya lagi potty seat portable yang bisa dipakai dimana saja sisa duduk aja kalo panggilan alam itu datang. Tapi dua-duanya gak kepake. Ghazy ogah duduk di closet kamar mandi. Nangis-nangis kalo saya paksakan duduk di closet. Potty seat portablenya juga gak dilirik sama Ghazy. Jadinya kalo pup sementara masih di lantai kamar mandi atau terkadang masih di celana.

Urusan TT ini, Ghazy hanya mau diurus sama mamanya. Ini juga yang bikin repot. Kadang lagi masak, harus jeda sebentar. Kadang lagi meeting online harus jeda sebentar. Pernah saya lagi morning briefing dan lagi ngomong, Ghazy minta segera diantar ke kamar mandi karena mau pup. Ya karena pas lagi ngomong sama peserta meeting, ya gak bisa dituruti langsung. Walhasil pupnya jatuh di kursi. Hehe. Udah pernah pipis juga di lantai karpet mobil. Di sofa, untungnya tempat duduknya bisa dilepas kainnya sehingga bisa dicuci. Yang paling nyebelin baru selesai cuci dan pasang kembali, eh pipis lagi di tempat yang sama. Terpaksa langsung cuci kembali. Pernah 1x di tempat tidur tapi bukan pas lagi bobo. Dia udah menunjukkan gelagat mau pipis tapi gak mau bilang. Udah saya ajak ke kamar mandi, tapi gak pipis-pipis. Trus main di tempat tidur, eh malah pipis. Untuk ada bed mattress, jadi belum sampai ke tempat tidur. Setelah itu kalo udah ada gelagat mau pipis, dia gak boleh naik di tempat tidur atau di sofa. Ghazy juga udah tau kalo pup itu kotor. Ghazy juga udah ngerti kalo pipis selain di kamar mandi itu jorok. Kalo dia pas pipis di mana-mana, dia langsung bilang dirinya ‘Ghazy jorok’.

Di 3 hari pertamanya lepas diaper sama sekali, saya masih pakai perlak plastik yang ukuran jumbo plus dialasi dengan kain bedong bayi. Gak nyaman buat saya sih jadinya setelah itu saya gak pernah pakai lagi. Baru rencana mau beli seprei waterproof untuk dijadikan seprei dasar.

Untuk urusan minum susunya saya kasih jam 5 subuh. Dia sebenarnya masih nenen juga. Tapi biasanya cuman sebentar kalo terganggu tidurnya.

Perlahan, tingkat keberhasilan pipis di kamar mandi semakin membaik. Pun saat saya tiba giliran Work at Office 3 hari yang lalu. Dia mau diurus sama kakak-kakaknya tapi kalo mamanya udah pulang, gak mau sama yang lain. Hari ini dia berhasil 100% pipis di kamar mandi. Yeayy. Tadi siang saya ajak ke rumah kakak. Sempat 1x kali pipis di kamar mandi disana. Trus pada saat otw kembali ke rumah dia menunjukkan gelagat mau pipis. Tandanya adalah dia menyilangkan kaki atau megang-megang burungnya. Saya mampir di SPBU, saya ajak pipis di tempat wudhu karena tempat itu paling dekat dengan mobil. Gak pipis-pipis juga, nanti setelah saya ajak ke kamar mandi baru mau pipis. Rupanya dia mulai malu kalo tempatnya terbuka, hehe.

Target berikutnya adalah edukasi pup pada tempatnya yaitu di closet. Ini yang kayaknya bakal lama tapi dijalanin saja. Dan setelah itu masih peer juga untuk menyapih Ghazy.

Bagaimana cerita toilet training anak kalian?

Sesaat di Wina dan Zagreb

vienna3

Dari Bratislava kami meneruskan perjalanan ke tempat nginap berikutnya yaitu Zagreb. Tapi sebelumnya kami melipir dulu ke kota Wina atau Vienna, kota yang hanya sejam dari Bratislava. Hehehe mumpung naik mobil sendiri bisa bebas kesana kemari. Pengen liat suasana kota wina sekaligus photo stop di beberapa tempat.

Kami parkir di underground parking dekat Gedung Parlemen Vienna. Gedung Parlemennya sedang direnovasi. Disini udah dekat kalo mau kemana-mana. Ada University of Vienna, Rathaus (Balaikota), jalan sedikit ketemu Theresian Platz dan National Museum. Di sebelah kanan Theresian Platz ada Museumquartier pusat berkumpulnya sederetan museum. Di sebelah kirinya Theresian Platz ada Hofburg Palace yaitu Ex Istana Kekaisaran Austria yang kini menjadi tempat tinggal dan tempat kerja Presiden Austria. Di area ini juga banyak butik brand ternama jadi bisa window shopping. Dan ada juga St Stephan Catedral.

IMG_1963

Karena keterbatasan waktu, kita cuma jalan sekedarnya. Melewati Rathaus dimana didepannya disulap menjadi arena ice skating yang rame dengan pengunjung, kemudian kita ke Theresian Platz dan menyeberang ke arah Hofburg Palace. Sebenarnya pengen ke Hard Rock Cafe, dari Hofburg Palace sekitar 10 menit jalan kaki. Saya urungkan karena pasti memakan waktu, nanti kemalaman sampai Zagreb. Apalagi sambil cuci mata window shopping di sepanjang perjalanan menuju sana sekaligus berfoto-foto. Alhasil kami cuman sampai di Starbucks di dekat Hofburg Palace, numpang pipis, numpang nyari kehangatan sambil beli tumblernya.

vienna4Ada sedikit insiden terjadi disini. Kami gak bisa masuk ke pintu untuk turun lift menuju parkir. Rupanya di karcis parkir ada barcode untuk akses ke pintu tersebut dan karcis itu kami taruh di mobil. Kami mencari jalan masuk lewat akses masuk mobil ke parkiran. Sign pejalan kaki dilarang melintas kami abaikan. Begitu udah mau sampai bawah, rolling doornya tetiba turun tanda bahwa emang gak boleh masuk. Duh katronya kami dan malunya kami. Akhirnya balik lagi ke pintu yang pertama, dan saya tekan tombol Help dan bilang, Tolong buka pintunya, karcis parkir ketinggalan di mobil. Gak ada tanggapan. Saya tekan lagi tombol Help dan bilang, Mohon maaf, kami tourist dari Indonesia yang gak tau kalo karcis parkir harus dibawa. Tolong buka pintunya. Barulah pintu terbuka. Kami segera menuju ke mobil, mengambil karcis lalu bayar parkir di mesin yang ada di dekat pintu tersebut. Hehehe, jadi next time karcis harus di kekep baik-baik jangan ditinggal di mobil. Di hotel di Paris pun gitu sebenarnya, untuk keluar masuk pintu khusus pejalan kaki wajib scan barcode dan kebetulan karcisnya saya kantongin. Nah di Vienna, saya simpan di mobil karena lebih kuatir akan kececer.

Vienna-Zagreb 313km jauhnya. Gak familiar dengan Zagreb? Hal itu juga saya rasakan ternyata ini adalah nama ibukota Croatia. Negaranya Luca Modric dkk yang menjadi finalis Piala Dunia 2018. Keren ya. Negara ini merupakan salah satu dari 6 Republik pecahan Negara Federal Yugoslavia yang memerdekakan diri sejak tahun 1991. Yugoslavia sendiri bubar akibat gejolak dan konflik antar etnis dan pada akhirnya satu persatu menyatakan kemerdekaannya dimulai dari Slovenia, Croatia, Macedonia Utara, Serbia (termasuk Montenegro), Bosnia & Herzegovina. Belakangan di tahun 2006 Montenegro resmi menjadi negara sendiri.

Croatia bukan negara termasuk dalam perjanjian Schengen. Tapi bagi pemegang visa Schengen multiple yang masih berlaku, bisa masuk ke negara ini dan dapat tinggal 90hari.

Beberapa fakta tentang Croatia (dikutip dari sini):

  • Kroasia merupakan negara terbesar ke-127 di dunia. Negara ini dihuni oleh sekitar 4,7 juta penduduk saja, bahkan masih lebih banyak penduduk di Jakarta.
  • Kroasia adalah rumahnya anjing dalmatian. Usut punya usut, anjing dengan totol hitam tersebut berasal dari wilayah Dalmatia, suatu kawasan pesisir di Kroasia.
  • Film ‘Game of Thrones’ yang terkenal ternyata syutingnya di Kroasia. Lokasinya ada di wilayah Split dan Dubrovnik.
  • Kroasia punya kota yang disebut-sebut sebagai kota paling kecil di dunia. Namanya Hum, yang populasinya antara 17-23 orang!

Kami berhenti saat memasuki border control Kroasia. Saya yang turun sendiri menghadap dengan membawa semua paspor. Cukup lama juga petugas melakukan verifikasi, pada udara malam itu dinginnn banget. Petugasnya minta Driving License-nya suami, saya ngasih SIM A. Trus nanya lagi, “mana International Driving Licensenya?. Saya jawab, maaf ada di koper. Apakah ingin saya ambilkan? Dia bilang gak usah. Hufff, membayangkan buka koper di tengah udara dingin begini dan agak rempong karena koper-koper diatur sedemikian rupa supaya muat bagasi mobilnya. Sehingga kalo ngambil harus dikeluarkan dari bagasi satu persatu.

15 menit kemudian kami diperbolehkan jalan. Pemilik apartmen saya infokan bahwa kami mungkin tiba sekitar 9.30malam. Dia memberikan alamat yang lain, katanya itu tempat untuk parkir mobil dan selanjutnya dia yang akan mengantar kita keapartmennya dengan mobilnya. Waduh, saya kok jadi degdegan mendengarnya. Kok prosesnya seperti itu. Sambil berdoa mudah-mudahan gak masalah. Apartmentnya saya booking di bo***ng.com sih. Dan info di properti ini adalah parkir gratis tapi harus reservasi. Dan saya juga membuat pesan khusus ke properti ini bahwa kita datang ke Zagreb dengan naik mobil.

Yang dimaksud tempat parkir adalah lahan kosong yang cukup untuk parkir 1 mobil. Kami parkir mobil dan diajarin cara buka pagar. Buka pintunya pake kode pin.

Dia bilang dia tidak menyangka kalo kita berlima. Pikirnya cuma berdua. Padahal saya booking dengan menginput 4 orang. Tapi it’s ok katanya. Kita diantar ke apartment dalam 2x antaran. Sebenarnya dekat saja antara apartment dengan tempat parkir mobil tapi mungkin karena sudah malam. Si pemilik apartment juga menunjukkan arah ke tempat parkir dan menunjukkan cara naruh kunci apartment sehingga kami bisa check out secara mandiri.

Apartment R50 ini keren, sangat nyaman dan sangat bersih. Hanya ada 1 kamar tidur dan sofanya jenis sofa bed. Peralatan dapurnya lengkap dan kamar mandinya sangat bersih. Harga booking 1 malam 46,75Euro. Malam itu saya masih sempat masak untuk makan malam.

Apartment ini lokasinya sangat strategis. Di depannya ada taman Ribnjak, jarak antara apartemen ini dengan Jelacic Square sekitar 900meter. Jelacic square adalah alun-alun kota Zagreb dan merupakan pusat aktivitas masyarakat. Dari sini udah dekat dengan banyak place of interest di Zagreb. St Mark Church, Zagreb Cathedral, Dolac Market, Radiceva, Tkcilceva, dan beberapa museum. Kami berjalan santai melewati Tkcilceva yaitu area dimana banyak cafe/restoran outdoor. Sayang kami datangnya pagi, Jadinya gak dapat vibrant area ini. Lanjut ke Radiceva dimana disini juga banyak cafe dan toko souvenir. Saya sempat beli beberapa souvenir tanda mata pernah kesini. Bayar pakai kartu saja karena kami tidak punya Kuna mata uang resmi negara Croatia. Kemudian sampai di Jelacic Square. Pagi itu Jelacic square cukup ramai tapi mungkin karena ada aktivitas Dolac Market. Ada pasar bunga, ada pasar kerajinan tangan dan ada pasar buah dan sayur. Kami membeli anggur 3 kantong seharga 2euro dan 2 kantong jeruk seharga 1 Euro. Murah ya.

Setelah itu kami beranjak kembali ke apartemen. Kami melewati Zagreb Cathedral yang katanya adalah bangunan tertinggi di Croatia. Selain kota Zagreb, daya tarik Croatia ada di kota Duvronik. Next time deh.

Sejenak di Prague dan Bratislava

456f7a01-cba4-4fb3-9228-fd75ac034fce

At Charles bridge

Bratislava merupakan kota selanjutnya yang akan menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slowakia yang memisahkan diri dari Cekoslowakia sejak tahun 1993.  Ini juga merupakan negara yang belum pernah saya kunjungi. Dari Berlin jaraknya kurang lebih 676 km. Kalo di Indonesia jarak segitu bisa menghabiskan 11-13jam, tapi disini hanya menghabiskan 6-7 jam karena nyaris semuanya melewati jalan tol. Kami bahkan masih sempat mampir di Prague, karena keluar tol dikit udah langsung masuk ke kota Prague. Setidaknya keluarga saya bisa punya memori tentang Charles Bridge dan Astronomical Clock yang ada di Old Town. Mungkin gak langsung ingat, saking banyaknya negara yang kita kunjungi hehe. Tapi bisa saja pada saat nonton film yang berlokasi di negara tersebut, biasanya saya ingatkan.

Menjelang perbatasan Jerman-Ceko, kami mampir untuk beli vignette. Vignette adalah tambahan pajak jalan toll. Vignette wajib dibeli pada saat memasuki negara-negara seperti Ceko, Slovakia, slovenia, Austria, Bulgaria, Hungaria, Moldova, Rumania dan Swiss. Jadi selain bayar toll berdasarkan jarak tempuh, wajib juga membeli vignette sebagai tambahan pajak yang berdasarkan periode waktu tertentu (7-14hari,1bulan, tahunan). Biasanya vignette dalam bentuk sticker yang wajib ditempel di kaca depan penumpang tapi dibeberapa negara sudah menerapkan e-vignette seperti Slovakia, Bulgaria, Hungaria dan Rumania. Continue reading

Menapaki jejak Tembok Berlin.

This slideshow requires JavaScript.

Berlin merupakan kota yang belum pernah saya kunjungi. Entah mengapa dua kali jalan-jalan ke Eropa, gak pernah minat ke Jerman. Eh sekalinya ke Berlin jadi nyesal kenapa cuman mengalokasikan waktu cuma semalam. Kotanya cantik dan auranya menyenangkan.

Begitu masuk di perbatasan Netherland-Jerman, sudah tidak ada penanda batas kecepatan. Artinya mobil bisa melaju sekencang-kencangnya. Wajar aja sih, Jerman terkenal dengan produksi mobilnya. Sampai ada 16 merk mobil yang diproduksi oleh negara ini diantaranya Porsche, BMW, Mercedes Benz, Audi, Opel, Volkswagen dan lain sebagainya. Jarak antara Amsterdam dengan Berlin sekitar 668 km tanpa terasa kami tempuh hanya 5jam 30 menit. Itupun sempat menghabiskan waktu mampir di Mcd di salah satu rest area. Mampir di Mcd paling beli kentang, fish fillet atau es krim. Yang lain gak berani. Juga sekalian pipis gratis. Di rest area kebanyakan toilet berbayar. Continue reading