Keliling Eropa dengan Sewa Mobil

53736312_10214778551679873_6058249824266878976_o

Baru saja selesai berkeliling dengan sewa mobil. Saya memilih sewa mobil dengan pertimbangan:

  • Mencoba tantangan baru. Bagi saya sendiri, ini Eurotrip yang ketiga kalinya tapi bagi keluarga saya (2adults, 3children 13y,12y,1y) ini yang pertama kalinya.
  • Bawa bayi1 tahun. Demi kenyamanan bayi, gak terlalu terpapar udara dingin sepanjang perjalanan. 
  • Lebih banyak negara yang dijangkau.
  • Lebih dekat dengan tempat wisata, karena parkirnya disekitar tempat wisata.
  • Gak perlu cari penginapan dekat stasiun dan gak perlu geret-geret koper ke stasiun/bandara.
  • Ada tempat untuk menghangatkan badan. Ada tempat simpan barang. Gak semua barang bawaan diturunkan saat mau check in hotel. Begitupun saat jalan-jalan ke tempat wisata, gak banyak barang yang perlu dibawa.

53762081_10214778542519644_5105876603456454656_n

Dari sisi harga, sewa mobil bisa ekonomis bisa juga tidak. Tergantung rutenya. Kalau trip saya ini gak ekonomis karena rute panjang dimana tiap hari pindah negara. Paris-Amsterdam-Berlin-Prague (hanya mampir)-Bratislava-Vienna (hanya mampir)-Zagreb-Ljubljana (hanya mampir)-Halstatt-Luxembourg-Paris. Selama 8 hari dengan perjalanan sepanjang 3750km, kami menghabiskan bbm sekitar 378.9euro, parkir 100.50Euro dan biaya tol 149Euro. Sewa mobilnya sendiri 106Euro selama 8hari, sewa car seat (wajib untuk bayi) 30Euro. Bookingnya di Autoholidaysdotcom. Tadinya udah booking langsung di Europcar dapat mobil Citroen C5 atau sejenisnya dengan harga sedikit lebih mahal. Sempat baca blog yang mereferensikan autoholiday itu, dan ngecek emang lebih murah maka jadilah saya booking Europcar via Autoholiday. Referensi lain juga bisa ngecek web Arguscarhire.

Begitu tiba di Bandara Charles de Gaulle Paris, langsung ke counter ambil kunci mobil. Saya ngasih sim A dan paspor semuanya atas nama pak suami yang akan menjadi driver. Sim Internasional hanya akan saya kasih kalo diminta. Ternyata gak diminta. Petugasnya mencoba menawarkan mobil yang lebih besar begitu melihat kami berlima dengan barang bawaan 1 koper 24inch, 2 koper 20inch, 2 ransel dan 1 stroller. Petugasnya ngasih liat mobil yang kita pesan dan mobil lain yang lebih lega. Mobil yang kami booking memang type economy car Peugeot 308 muat untuk kapasitas 5orang tapi informasi bagasi cuma bisa muat 2 koper. Saya tetap keukeh dengan mobil yang saya booking, soalnya kalo ganti mobil nambah 30euro/hari. Trus sama dia diturunkan jadi 15 euro/hari dan saya tetap menolak dengan alasan maaf budget kami ketat. Setelah mengatur bagasi mobil, 3 koper dan 1 stroller muat di belakang. 1ransel di kursi depan dan 1 ransel di kursi belakang. Balikin mobil juga di bandara Charles de Gaule. 

Kita gak add on GPS (bayar lagi soalnya) saat booking sewa mobil. Untuk pemandu jalan awalnya kita pake google map. Selama di sana, saya sewa paket internet Telk***l 7 hari 600ribu plus tambahan internet 1 hari 90 ribu. Eh ternyata mobil kita ada GPSnya, jadilah kita pake itu. 

Saat merencanakan trip ini dengan sewa mobil, tadinya saya sedikit cemas. Di google map saat kita coba searching jarak antara satu kota ke kota lain ada informasi bahwa perjalanan akan melewati jalan pribadi/jalan desa. Tapi ternyata semua negara terhubung dengan jalan tol. Kalo mau mampir di suatu kota barulah kita keluar dari jalan tol. Maksimum kecepatan di jalan tol rata-rata 130km, hanya di negara Jerman hampir gak ada penunjuk kecepatan maksimum. Sistem pembayaran tolnya juga macam-macam:

  • Ambil tiket tol trus bayar pada akhir perjalanan tol di negara itu.
  • Langsung bayar di mesin tiket. Masukkan kartu kredit, tanpa minta pin, pintu tol langsung terbuka
  • Sistem vignette atau stiker tol. Negara Ceko, Slovenia dan Austria memberlakukan ini. Begitu kita masuk di negara ini, kita harus beli stiker tol. Belinya di kantor vignette yang ada didekat perbatasan negara tersebut atau di rest area di dalam negara tersebut. Stiker harus ditempel di kaca mobil. Jangan mengabaikan hal ini, karena ada pemeriksaan stiker. Bisa kena denda sampai 400Euro kalo gak ada stiker. Vignette Austria saya tempel. Tapi vignette Slovenia sengaja gak saya tempel, sempat dicegat. Pas diperlihatkan, si petugas langsung yang memasang stiker. Ada 2kali kena pemeriksaan vignette. Harga vignette beda-beda tergantung negaranya berkisar 7-14Euro.
  • Di Austria, selain harus beli vignette, harus bayar lagi ketika mau masuk terowongan yang panjang banget. Seingat saya ada 2x bayar.

Untuk BBM, SPBU banyak tersedia di rest area sepanjang jalan tol. Perusahaan penyedia BBM sangat beragam dan dengan berbagai istilah untuk jenis BBM. Saya gak milih-milih tempat, begitu waktunya mengisi BBM ya mampir. Saya hanya ambil 1 patokan, selang yang ada tulisan 95 itulah yang saya pake mengisi (kalo di kita ini jenis Pertamax plus). Cara bayar pun sangat beragam:

  • Isi, trus bayar di kasir didalam toko di rest area dengan menyebutkan nomor pompa. (Cara bayar ini yang paling sering)
  • Isi sesuai dengan kebutuhan, trus bayar sendiri dengan pakai kartu kredit (wajib pakai pin).
  • Melapor dulu ke kasir, sebut nomor pompa, bayar deposit sesuai kebutuhan, isi trus kembali ke kasir untuk mengambil kembalian.

Mengenai perparkiran, bersyukurlah kita di Indonesia kalo nginap di hotel gratis parkir. Kalo disana kebanyakan bayar. Parkir di Novotel Paris bayar 29Euro/malam. parkir inap di hotel  /hostel berkisar 10-29Euro. 

Jika dibandingkan dengan beli eurailpass 3 negara (Prancis, Austria, Germany), pass 5 hari untuk 2 dewasa dan 2anak-anak (infant gratis), harga tiket kereta kelas 2 adalah 994Euro. Ini cuma kereta antar negara saja belum termasuk transport dalam kota. Jadi biaya yang saya keluarkan untuk sewa mobil tetap lebih murah.

Tulisan ini sempat saya share di grup Backpacker di Facebook. Berbagai tanggapan dan pertanyaan disampaikan dengan jempol sekitar 520-an dan dishare oleh 150-an orang.

Pertanyaannya saya rangkum disini.

  1. Mobil dengan setir kiri apa gak kagok ya?

Ini pertanyaan yang sama dari saya sambil nyari informasi ini di internet. Banyak yang bilang awalnya pasti kikuk, tapi lama-lama terbiasa. Berbekal informasi itu makanya kita coba.  Saat suami mulai bawa mobil keluar dari area rental mobil di bandara, kita sempat mutar dan masuk lagi ke area rental mobil. Masih ragu-ragu untuk langsung jalan ke kota. Namun segera kita mulai jalan pelan mencari mobil yang bisa diikuti. Dan selanjutnya pak suami jadi lincah banget cenderung agak kajili-jili padahal biasanya kalo di Indonesia jalan dalam kota dia pelan banget sampai kadang saya tegur dia karena pelannya itu.

2. Nggak salah mba 3750 KM untuk 8 hari? Wow. Rata2 seharinya 467kilo sama kayak jarak Bandung bolak balik dalam sehari alias 10 jam nyetir dlm sehari.

Disana mah sepi. Rata-rata di tiap negara Kecepatan maksimal di jalan tol  130km, di Jerman malah gak kelihatan rambu untuk maksimal kecepatan. Mungkin biar mobil keluaran Jerman seperti Audi, BMW, Volkswagen dan Mercedez Benz bisa lebih maksimal eksis di jalan raya. Dengan kecepatan 130km, jarak 400km paling ditempuh dalam waktu 3 jam.

3. Untuk parkiran setiap negara mudah nggak? Jadi maksudnya begitu kita sampai ketujuan mau turun cari parkirnya bisakah langsung dipinggir jalan ataukah ada tanda khusus?

Biasanya kalo udah dekat tujuan baru nyari tanda khusus parkir. Saya lebih banyak parkir di underground. Di pinggir jalan bisa parkir gratis kalo weekend atau diatas jam 8 malam cmiiw. Di Prague sempat bingung karena parkir harus reserved, dan saya malas nyari tau gimana sistem reserved parking ini. Setelah keliling nyari, ada tempat kosong di depan kfc dan tdk ada tanda parkir reserved langsung parkir. Aman sih sampai berangkat. Tiket parkir wajib dikantongin, karena ada barcode yang berfungsi sebagai akses masuk lift parkiran/pintu parkiran. Mesin bayar tiket parkir juga biasanya di sekitar akses masuk tersebut.

4. Asuransinya sudah termasuk biaya sewa?

Pake asuransi basic paketan harga sewa mobil (sambil banyak-banyak berdoa diberikan keselamatan dan kelancaran perjalanan hehehe). Untuk menghindari risiko minimal saja seperti pencurian dan kerusakan. Benefitnya bisa beda-beda tiap provider. Untuk mobil dari Europcar yang saya pakai, benefit asuransi baru jalan setelah damage costnya diatas 1000Euro. Jadi jika ada damage cost dibawah 1000Euro menjadi tanggungan kita. Kalo mau lebih luas benefitnya sampai gak perlu bayar apa-apa jika ada damage cost, bisa nambah ke asuransi medium ataupun premium.

5. Bayar deposit berapa mbak? Aku check depositnya cukup mahal.

Beda type mobil beda deposit.  Kartu Kredit saya sempat diblock sebanyak 400euro untuk jaminan. Mobil yg saya pesan economy car yang paling murah, manual. Yang penting bisa buat berlima.

6. Dapat SIM International susah gak?

Gampang. Suami saya aja urusnya pagi sebelum terbang. Ambil pesawat pagi dr Makassar, trus ke korlantas, 20menit sdh jadi. dan balik ke bandara lagi untuk terbang ke Paris

7.  Sewanya 106 Euro selama 8 hari? Murah buanget.

Yang mahal bbm, tol dan parkir tapi menurutku tetap lebih murah dr train. Opsi naik bus saya skip karena ada baby, opsi nge-uber juga diskip karena baby kena charge 10usd/ride atas penggunaan car seat.

8. Mau nanya kalau kita mau sewa mobil di Paris, pulangin di Amsterdam. Bisa kah? Perlu kan ninggalin passpor ya di rental.

Bisa, tapi harga sewa jadi lebih mahal. Paspor gak perlu ditinggal, jaminannya cc dengan limit cukup.

9. Mbak, serius nanya itu babynya rewel gak selama di pesawat? Secara long flight gitu

Gak sih, bayi rewel kan ada sebabnya. lapar, haus, ngantuk atau karena dicuekin. saat mau take off atau landing diupayain gimana caranya supaya minum susu. rewel tetap ada tapi terkendali. Saya sudah bawa babyku terbang ke india sejak dia umur 1.5bulan mbak. Kalau rewel banget / nangis berkepanjangan yg sampai mengganggu penumpang lain sih belum pernah. Kalo cara saya, biasanya ajak main, susu kalo gak lapar banget gak saya kasih, nanti pas take off baru dikasih dan biasanya tidur. secara berkala saya kasih minyak telon/minyak tawon ke badannya. pokoknya fokus ama si baby sebelum ada gelagat rewel sudah diantisipasi.

10. 1 negara 1 hari? Luar biasa, kebayang capeknya.

Saya anggap ini tantangan. Idealnya sih min 2-3 malam di satu tempat. biar ada waktu buat belanja-belanja. Yang saya skip adalah waktu buat shopping/kuliner. Ke Paris udah ketiga kali ini, makanya nyusun itinerary biar saya juga bisa ke negara baru yg belum saya kunjungi seperti Jerman, Austria, Slovakia, Croatia. Kalo capek sih gak. Kami sih keluarga yang emang sering banget bepergian jauh kalau di Indonesia. Justru ini lebih banyak istirahatnya di mobil. Gak perlu wara-wiri di stasiun kereta yang justru bikin pegal kaki.

 

 

Advertisements

Eurotrip 2019

Pilih ke Paris atau Turki? Saya melempar pilihan ke Pak Suami, Aya n Dede. Mereka mbulet milih Paris. Saya sendiri pengennya ke Turki. Saya belum pernah ke Turki, tiketnya lebih murah, visanya pun cuma apply online dan murah. Tapi demi menyenangkan mereka semua, jadilah saya mengissued tiket buat 5 orang ke Paris buat bulan Februari 2019. Maskapai Royal Jordanian lagi promo tiket 6.6juta KL-Paris pp. Saya beli tiketnya sekitar 6bulan sebelum berangkat. 

Sementara tiket Jakarta-KL saya beli dengan menukarkan Garuda Miles, kebetulan lagi ada promo akhir tahun diskon 70% tukar Garuda Miles. Yang biasanya tiket Jakarta-KL bisa ditukar dengan 21000Miles+tax, karena promo itu saya hanya menukarkan 3750Miles+tax untuk 1 tiket Jakarta-KL. Miles saya cuma cukup untuk beli 8 tiket. 2 tiket lagi bayar penuh. Jadi untuk 10 tiket termasuk infant Jakarta-KL pulang pergi saya hanya bayar total 3.5juta.  

Ini Euro trip yang ketigakalinya buat saya, sementara mereka baru pertama kali. Eurotrip pertama dan kedua menggunakan transport umum (bus/train/flight) untuk antar negaranya. Saya harus mempertimbangkan kenyamanan baby Ghazy yang baru berumur 15 bulan. Eropa di bulan Februari masih dingin banget. Pernah ke UK di bulan Maret dinginnya masih tidak tertahankan padahal baju sudah dobel dobel. Mau naik bus antar negara seperti Flixbus harus bawa carseat. Naik Uber harus request car seat dan kena charge 10Euro/1xjalan. Kalo naik kereta atau pesawat antar negara di sana, harus naik transport umum ke stasiun kereta atau bandara. Belum lagi transport di dalam Kota dengan metro/trem. Baby Ghazy akan banyak terpapar udara dingin saat menuju stasiun, dari stasiun ke tempat-tempat sightseeing ataupun dari stasiun ke hotel. Jadi untuk kali ini rasanya nyewa mobil pilihan yang paling pas.

Untuk rute negara tujuan, saya pengen ke Hallstatt, Austria. Selain itu targetnya juga ke beberapa negara yang belum saya kunjungi seperti Jerman, Slovakia, Slovenia, Croatia dan Luxembourg. Rugi dong kalo harus mengulang negara yang sama. Setelah ngecek google map, rutenya memungkinkan tapi harus tiap hari pindah negara. Jadilah saya memilih rute Paris-Brussel-Amsterdam-Berlin-Prague, Bratislava-Wina-Zagreb-Lljubljana-Halsstatt-Luxembourg-Paris. Nyewa mobil dari Bandara Charles de Gaulle, baliknya juga di bandara tersebut. 

Car Seat (Roadtrip di Eropa)

Berhubung ke Eropa bawa baby dan sewa mobil selama disana, maka baby selama di mobil wajib menggunakan car seat. Di negara maju hukumnya wajib. Bayi baru lahir belum boleh pulang dari Rumah Sakit kalo tidak punya car seat. Ada negara yang mewajibkan penggunaan car seat sampai anak tingginya 135 cm. Ada juga negara mewajibkan penggunaan car seat sampai umur tertentu, seperti Florida negara bagian AS sampai batas usia 5 tahun tapi negara bagian Virginia wajib sampai anak usia 8 tahun. Tiap negara beda regulasi. Negara seperti Kanada, pembelian car seat wajib ada sticker approvalnya, pembelian carseat di luar Kanada untuk dipakai dinegara tersebut termasuk illegal, dendanya bisa lebih mahal dari ngebut.

Sebelumnya saya tidak pernah sama sekali menggunakan carseat jika bepergian  bawa balita menggunakan mobil. Tahun lalu ke India dan sewa mobil (plus driver) selama disana, gak perlu pakai car seat. Penggunaan car seat di Indonesia masih pro-kontra mungkin karena regulasi lalu lintas kita juga belum mewajibkan penggunaan car seat atau pemahaman soal pentingnya car seat sangat minim di Indonesia. Makanya menggunakan car seat itu masih tergantung pertimbangan masing-masing orang tua. Continue reading

Baby Ghazi First Trip: India (2)

1 minggu sebelum berangkat, Aya dan dede terserang demam hingga beberapa hari dan badan mereka berbintik merah. Dede gak terlalu parah masih bisa beraktivitas sekolah Aya yang loyo banget dan badannnya penuh dengan bintik merah. sampai harus cepat pulang dan beberapa hari gak masuk sekolah. Saya cemas, segera bawa mereka ke dokter. Dede cepat sembuhnya, tapi Aya sampai berangkat ke Jakarta masih demam dan bintik merah baru berangsur hilang. Duh.

Sebelum terbang ke Jaipur, kami masih nginap semalam di Jakarta. Sengaja nginap di Mercure Ancol karena anak-anak jauh-jauh hari request ke Dufan. Saya masih tanya Aya, kuat gak main di Dufan. Kalo gak sangggup, kita batalin ke Dufan. Dia bilang masih kuat dan ternyata beneran dia langsung sehat dan main sampai puas. Hehehe. Semua wahana di coba bahkan yang extreme. Sebelum ke airport, kami juga masih menyempatkan diri sewa sepeda di Ecopark.

Lama penerbangan Jakarta-Jaipur jam dengan transit di KL. Agak was-was karena dari Jakarta sudah delay, transitnya jadi mepet banget. Stroller yang tadinya diminta untuk dibagasi saat masuk di pesawat, saya minta diambilkan kembali. Biar saya masukkan ke tas ransel dan masuk ke bagasi kabin saja. Setidaknya meminimalkan risiko ketinggalan pesawat, jadi begitu landing di KL bisa segera ngacir ke boarding gate KL-Jaipur. Bisa berabe kalo ketinggalan pesawat, soalnya pesawat Airasia ke Jaipur tidak setiap hari. Alhamdulillah, saat kita tiba di boarding gate, baru antri boarding. Boardingnya agak telat dikit, karena nunggu VIP person atau petinggi Airasia yang mau ke Jaipur. Entah ada seremoni apa, para petugas Airasia pada pake pakaian khas India.

28424039_10212177120205712_8283835904819171623_oMengenai barang bawaan, saya gak pengen terlalu rempong. Saya cuma bawa 2 koper ukuran kabin, 1 tas ransel dan 1 tas bayi selama seminggu perjalanan. Jadi gak perlu beli bagasi. 1 koper untuk pakaian saya dan papanya, 1 koper untuk pakaian 2 anak gadis, 1 tas bayi untuk keperluan baby Ghazy termasuk popok/carrier/baby wrap/selimut tidur, tas ransel isinya 4 jaket yang dipakai saat perlu saja dan beberapa cemilan. Di hotel tempat kita menginap, ada laundrynya dan murah. Jadi rencananya mau laundry aja pakaian yang terpakai selama 2 hari pertama. Saya juga bawa travel cooker. Fungsinya bertambah 1 lagi yaitu sebagai tempat untuk mensterilkan botol susu, selain untuk masak nasi dan masak air.

Selain stroller, saya juga bawa carrier, baby wrap dan selimut tidur. Saya juga sempat lama banget browsing cari referensi apa saja yang dibawa, apa perlu saya beli carrier baru yang lebih bagus kualitasnya. Akhirnya Baby wrap saya beli online merk Bobita. Sedang untuk carrier, saya bawa yang ada saja yaitu carrier hadiah aqiqahannya baby ghazi. Ini berfungsi ketika mengunjungi tempat yang tidak memungkinkan bawa stroller seperti tempat yang banyak tangganya atau cuman turun sebentar di satu tempat. Pada kenyataannya saya pakai baby wrap hanya sehari selama di sana, itupun Baby Ghazi merasa kurang nyaman. Padahal sebelum berangkat, saya rajin latihan pakai biar terbiasa.

Baby Ghazi masih Asi Ekslusif, sedapat mungkin disusui langsung. Saya juga bawa pompa ASI Elektrik. Pada saat dia tidur, saya juga pumping biar ada stok ASI. Jadi pada saat jalan-jalan dia juga bisa minum ASI di botol.

Alhamdulillah baby Ghazi anteng-anteng saja di semua penerbangan. Makassar-Jakarta, Jakarta-Jaipur via Kualalumpur memakan waktu 9jam diluar waktu tunggu di bandara. Tingkat kerewelan pun paling 10% di sepanjang trip, agak gelisah di malam pertama di Jaipur dan menjelang maghrib di hari kedua di New Delhi mungkin pengaruh penyesuaian cuaca juga, angin kencang dan dingin. Selebihnya aman dan terkendali.

Waktu sudah menunjukkan jam 22.30 saat tiba di Jaipur. Driver menjemput kami di bandara dan mengantarkan ke hotel Kalyan.

Baby Ghazi First Trip: India (1)

28337380_10212177166206862_6842220025394082860_o

Me and Taj Mahal

 

Cuti melahirkan baru separuh jalan, perasaan galau pengen traveling terus aja berkecamuk. Efek sudah lama gak traveling. Pengen traveling sendiri tapi gak tega ninggalin baby yang lagi Asi ekslusif. Baby Ghazi baru sebulan umurnya.

Kegalauan pertama, aman gak sih traveling dengan baby umur segitu. Umur segitu masih sangat rentan dengan virus. Kalo mengacu ke peraturan penerbangan berbagai airlines, rata-rata membolehkan bayi umur 9 hari untuk terbang.

Kegalauan kedua, rempong gak sih bawa baby jalan-jalan. Kakak-kakaknya baru mulai traveling di usia 2,5tahun. Saat mereka udah mulai pintar ngomong, udah lepas diapers, dan susu bisa jenis apa saja. Alhamdulillah Terkendali dan gak rempong bahkan jaman dulu saya keukeh gak pake stroller. Kalo nyari referensi di blog/milis dalam negeri, traveling umur segitu sangat tidak disarankan. Banyak paham lokal alias pamali. Nyari referensi dari artikel kesehatan, traveling boleh saja asal hati-hati. Nyari referensi blog/milis luar, fine-fine aja traveling. Justru umur segitu, baby lebih banyak tidur, gak perlu nyiapin makan, rewelnya paling pada saat pengen nyusu atau saat diaper harus diganti.

28337841_10212177080124710_5357067218400201572_o

Baby Ghazi di pesawat

Kegalauan ketiga, soal destinasi. Saya pengen ke maldives, tapi momentnya gak pas untuk mantai. Curah hujan cukup tinggi. Jadinya saya fokus nyari tiket ke negara yang tidak perlu urus visa manual dalam artian gak perlu ribet nyiapin berkas dan datang ke kedutaan. Pilihan mengerucut ke Turki dan India. Pilihan saya condong ke India, selain masuk budget buat pergi berlima, saya ingin ke Taj Mahal. Saya tuh  punya target pergi ke 7 keajaiban dunia versi jaman old. Sisa Taj Mahal dan Piramida Mesir yang belum.

Namun ini menimbulkan kegalauan berikutnya. Ke India? Negara yang katanya indah tapi jorok dan tidak aman. Kalo cuma sendiri, ya saya gak masalah pergi sana. Ini bawa baby. Public transport india sudah bagus, tapi stasiun katanya crowded banget dan jangan coba-coba menggunakan public toilet utamanya di dalam kereta. Pilihan lainnya, bisa menggunakan mobil rental untuk trip golden triangle. Jaipur-delhi-agra. Setelah dicek, biaya rentalnya masih masuk akal. Ok, fix rental mobil.

Saya gak langsung issued tiket, masih harus menghadap kepala sekolahnya Aya untuk minta ijin. Aya sudah kelas 3 smp, jangan sampai kena masalah kalo ninggalin sekolah 6hari. Alhamdulillah dikasih ijin.

Saya beli tiketnya 2 minggu sebelum berangkat, Jakarta-Jaipur pp. Paspornya baby Ghazi juga udah ready. Biar belum punya rencana fix buat traveling, sudah saya urus paspornya. Sekalian urus akte kelahiran dan penambahan di kartu keluarga. Mumpung saya masih cuti. Segala proses pengurusan lancar. Waktu urus paspor, saya dan baby ghazi jadi prioritas untuk verifikasi berkas. Berkasnya belum lengkap karena di kartu keluarga belum tercantum nama baby ghazi. Si petugas imigrasi mengarahkan ke dukcapil buat urus penambahan di kartu keluarga. Ke dukcapil, jadi prioritas lagi. Bahkan saya yang sekalian mau ganti ktp juga dibantu percepatan. Gak sampai semenit ktp saya sudah jadi, padahal antrinya minta ampun. Alhamdulillah, layanan instansi pemerintah udah semakin bagus dan ramah. Balik lagi ke kantor imigrasi, baby Ghazi digendong ama petugas imigrasi cewek. Langsung dibantu untuk proses foto. Gak sampe 5 menit, udah selesai prosesnya. Sisa diambil 3 hari kemudian. Paspornya jadi pas tepat baby Ghazi umur sebulan.

Visa india bisa apply online. Cuman harus pastikan apply visa di website yang benar https://indianvisaonline.gov.in/visa/index.html . Jangan sampai kena tipu. Banyak website abal-abal yang ternyata pihak ketiga alias calo dan mengenakan biaya pembuatan visa lumayan. Saya banyak terbantu dari blognya si omnduut. Prosesnya mudah saja. Cukup mengisi form online, upload foto dan paspor, dan bayar 51.25usd/orang. Baby Ghazi juga harus bayar. Hiks. Update: Sejak Juni 2018, visa India sudah gratis tapi tetap apply online.

Untuk penyedia jasa mobil rental, saya dapat referensi dari trip advisor. Saya pilih 3 kontak travel berdasarkan review dan peringkat. Semuanya merespons dengan cepat. Setelah nego harga, saya memilih Mr Tara. Paket rental termasuk pick up/drop off airport, jaipur tour, agra tour, delhi tour, biaya menginap dan makan supir, toll, parkir, air mineral dan snack.

Untuk pilihan tempat menginap, saya milih hotel melati saja untuk di Jaipur dan New Delhi, sedang di Agra milih hotel Radisson Blu Agra Taj East Gate, Agra. Kan cuma semalam dan lagi ada promo booking hotel di tra****ka harganya jadi 1,1jt/malam. Pilih kamar yang ada sofanya, jadi pas buat berlima tanpa perlu extra bed. Tapi saya sudah pasrah aja kalo misalnya pada saat check in, diminta untuk tambah extrabed.

Untuk review hotel n rental mobilnya di tulisan berikutnya ya.

Pilihan Akomodasi di LA, SF, dan Las Vegas

Untuk pilihan akomodasi di trip ini, yang booking adalah travelmate saya. Biasanya sih saya yang milih-milih, cuman berhubung saya waktu itu sibuk banget dan waktu keberangkatan makin dekat, jadinya saya sudah gak sempat mengobservasi pilihan tempat menginap. Pertimbangan untuk memilih penginapan kali ini adalah budget dan lokasi.

Berikut reviewnya:

  1. American Hotel, Los Angeles

Hotel ini dipilih karena dekat tempat kita naik bus Flixbus untuk ke San Francisco. Berada di Art District/LA Downtown. Kata driver Uber yang ngantar kita dari bandara ke hotel ini, jika mau nyari barang-barang nyeni tempatnya di sekitar hotel ini.  Dapat kamar dengan 1 tempat tidur queen dan 1 bunk bed, bisa untuk berempat. Kamar mandi berada di luar kamar. Kebersihan kamar dan kamar mandi bisa diacungi jempol. Di kamar, tersedia 4 air mineral sebagai compliment. Kami cuma semalam disini. Keesokan harinya pagi-pagi check out tapi masih nitip koper (gratis), jam 10 malam kami balik ambil koper dan jalan kaki menuju halte Flixbus yang letaknya di seberang Union Station. Lumayan juga jalan kaki sekitar 20menit. Harga per malam/orang 60.42USD Continue reading

Bantuka’ kodong

“Maaf bu, sudah closing,” kata si petugas saat mau check in di bandara. Waktu menunjukkan jam 05.00 sementara jadwal terbangnya jam 05.20.

“Aduh jangan begitu dong pak, tolonglah.” kata saya.

“Bicara sama manager saja bu di customer service”, kata si dia lagi.

Seketika saya agak reaktif (baca: panik). Di Customer Service belum ada orang yang tampak.

Saya balik lagi ke petugas yang tadi. “Pak, gak ada orang disana”.

Tak lama managernya keluar dan saya langsung minta tolong.

“Pak, bantuka kodong. Saya ini berlima.” Kata bantuka kodong trus saya ulang-ulang.

Si manager dengan baik hati langsung meminta petugas untuk melayani. Alhamdulillah. Ternyata masih rejeki. Saya hitung ada sekitar 5 orang lain yang juga ditolak check in. Yang pada akhirnya semuanya bisa berangkat.

Kodong itu bahasa makassar yang artinya kesian atau penekanan untuk gestur untuk memelas. Bantuka’ kodong berarti kasihan tolong saya atau bahasa lainnya i’m begging you plisss.

You know what, saya tuh sebenarnya paling anti kata kodong, mendengar orang lain menyebutkannya pun saya juga agak sebel. Karena kata saya sih, gak usah pake kata kodong juga kalo masih bisa dibantu ya akan dibantu.

Barusan kali ini saya seperti itu, demi menyelamatkan tiket pesawat 1 keluarga. Kami udah punya temu janji pengurusan visa Schengen sekaligus jalan jalan seputaran jakarta bandung.

Kalau ingat kejadian ini suka senyum senyum sendiri.