Mencari makanan halal di Seoul sebenarnya tidak sulit, banyak referensi hasil browsing di internet. Namun menyisihkan waktu untuk menemukan tempat makan tersebut yang agak sulit. Kebanyakan fokusnya di sight seeing sehingga seringkali sudah kehabisan energi untuk jalan cari tempat makan. Apalagi masalah cita rasa yang belum tentu cocok dengan selera kita. Seakan jadi aturan tidak tertulis, kami nyari makan siang di luar saat jalan dan makan malamnya di kamar memanfaatkan makanan instan ataupun lauk pauk yang dibawa dari Indonesia. Selain hemat, juga halalan thayyiban dan bercita rasa Indonesia. Dengan cara begini, kami jadinya tidak terlalu banyak terkontaminasi dengan makanan yang belum jelas halalnya. Selama di Korea, kami menggunakan prinsip hanya makan seafood dan sayuran selama disana, makanan berbahan daging sapi dan ayam sementara dilewatkan dulu deh, mengingat cara potongnya yang belum tentu halal. Walaupun juga sedikit was-was meski makan seafood, siapa yang tahu bumbu yang dipakai? Bisa jadi dicampur arak atau bahan-bahan non halal lainnya. Wallaahu alam. Masing-masing dari kami membawa makanan. Yang pasti, setiap orang bawa indomie, abon dan biskuit, lainnya ada yang bawa sambal teri olahan sendiri, snack cumi kering. Yang saya bawa banyak sekali ragamnya termasuk snack, maklum jalannya sama anak-anak. Beberapa yang saya bawa:
- Rendang kaleng: rasanya enak tapi lebih banyakan kentangnya
- Sambal goreng ati kalengan: enak
- Ikan tuna kaleng: di manado banyak sekali ikan tuna kalengan baik polos maupun sudah berbumbu, rasanya enak. Tapi sebenarnya tuna mayonnaise merek ayam brand enak banget lho, sayang gak sempat dibawa.
- Ikan sarden kaleng
- Kornet sachet
- Buryam
- Indomie, pop mie, mie gelas
- Sambal terasi: enak, tapi lupa namanya dikasih teman oleh2 dari Surabaya. Sambel terasi dan sambal masak merek ABC juga bisa juga dijadikan alternatif dibawa, bisa jadi bumbu nasi goreng atau bumbu telur balado.
- Sambel udang goreng: enak buat penambah selera makan, beli di phuket sebulan sebelumnya.
- Abon ikan dan abon sapi
- Dendeng sapi
- Bumbu nasi goreng: bosan dengan nasi putih, bisa bikin nasi goreng.
- Saus tomat, kecap dan sambal ABC
- Minuman sachet seperti nutrisari, milo, kopi.
- Margarine buat tumis2.
- Nutrijel: anak-anakku suka sekali makan jelly.
- Beras sekitar sekilo. Di seoul, kami masih membeli tambahan beras sebanyak 3kg.

Propertinya adalah 1 botol minum 500ml, gelas minum kopi (kadang-kadang berfungsi sebagai wadah untuk nyebok) , kotak makan buat taruh bekal dan travel cooker.

Ribet ya? Hehehe. Saya emang suka yang ribet-ribet, hiihii demi manfaat yang sangat besar. Kalo dilist jadinya kelihatan banyak, padahal bawanya cuma 1 buah ukuran kecil per 1 macam. Dan kami pun jadinya punya banyak pilihan makanan. Jalan dengan anak-anak harus siap dengan bekal makanan, kapanpun dan dimanapun siap makan, jadi gak ada kerewelan soal makanan saat jalan. Kami juga mengantisipasi mahalnya harga makanan di Korea dengan cara seperti ini. Harga sebotol air mineral 600ml di mini market seperti 7-11, GS25 (local mini mart) berkisar 7000-9000 rupiah. Pernah dapat air mineral termurah merek lotte ukuran 1500ml 11000 rupiah. Telur 4 biji 15,000rupiah, pisang 3-4 biji 50,000rupiah, beras seliter di 7-11 55,000rupiah tapi memang berasnya enak banget. Kami dapat beras yang lebih murah di daerah itaewon seharga IDR20,000 seliter, ada mini mart yang jual berbagai bahan makanan dari berbagai bangsa utamanya halal food. Indomie goreng sempat kami temukan disini, diimpor dari Indonesia. Mengenai snack dan biskuit, kami hanya berani membeli yang ingredientsnya dijelaskan dalam bahasa Inggris. Sepanjang ada tulisan soy lecithin seperti toblerone ataupun halal seperti pringles. Sejauh pengalaman saya, alhamdulillah saya aman-aman saja membawa bahan-bahan makanan ini di negara-negara yang sudah saya kunjungi. Namun barusan ada yang sharing di milis bahwa karena kena pemeriksaan acak di bandara Incheon, abon dan ikan asinnya ditahan. Resto Moghul di Itaewon
Ini merupakan makan siang termahal kami selama di Seoul. Kami membayar KRW113,000 atau sekitar Rp 1,100,000 untuk berenam orang dewasa. Untuk anak-anak, saya sudah siapkan bekal telur dadar dan abon. Si sulung alergi telur, msg dan seafood. Si bungsu pemilih makanan tidak suka makan seafood, senangnya cuman telur dan mie. Untuk harga segitu, kami hanya memesan 1 set menu paket chicken curry, 1 sup sayuran, 1 mushroom soup. Itupun waiternya bengong agak gimana gitu ngeliat kami pesannya cuman segitu. Rasanya pun kurang sip.
Info Resto Moghul ini kami dapat berdasarkan buku ‘Best in Seoul’. Di buku ini, gak ada reviewnya dan fotonya, hanya cara untuk menuju resto ini, tapi resto ini berada di urutan 1 di daftar restoran di Itaewon. Begitu tiba, kami segera tau bahwa ini bukan resto murah meriah tapi karena sudah kadung lapar, dan disekitarnya gak pilihan resto halal, kami terpaksa memilih makan disini.

Harusnya kami memilih ke Mesjid Itaewon untuk shalat Dhuhur terlebih dahulu. Jika hal ini kami dahulukan ketimbang cari makan, maka kami akan dengan mudahnya menemukan tempat makan murah dan halal di sepanjang perjalanan dari Itaewon Station ke Itaewon mosque. Ada kebab resto, turki resto, bahkan ada resto yang menyediakan menu indonesia yang harganya lebih murah dibanding resto moghul tersebut.
All about seafood in Jeju
Mr Han pengemudi mobil yang kami sewa yang merekomendasikan kedua tempat ini, menunya serba seafood. Rasanya lumayan sih. Harganya sesuailah dengan makanannya rata-rata IDR800,000 per sekali makan. Kami sempat diberitahu nama makanannya, tapi lupa di catat. Yang jelas sup seafoodnya segar banget, pancake cuminya, ikan gorengnya enak. Tak lupa kami mencoba kimchi dan beberapa side dishes seperti lobak, tahu dan rumput laut yang selalu disajikan setiap memesan menu seafood. Saya gak terlalu cocok dengan kimchi. Rasa asem, kecut, pedas.




Makan Tteobboki di Hongik University area
Resto Crazydduk Tteobboki ini direferensikan oleh wanita muslim Malaysia yang punya blog Budget Traveler in Korea. Resto ini terletak di Hongik University area dekat dengan Ann Guesthouse. Sepulang dari Jeju, kami mampir di Ann Guesthouse menaruh barang-barang, lalu mencari resto itu. Tidak sulit menemukan berdasarkan petunjuk yang diberi oleh blog tersebut. Tteobboki itu sejenis , adabeberapa macam tteobboki dan kami memilih seafood tteobboki dan aneka gorengan seafood. Harganya cukup bersahabat, boleh dibilang ini yang termurah dari yang pernah kami coba. Mungkin karena lokasi yang dekat kampus. Yang sangat disayangkan, ada satu menu pork nyempil di menu sebagai menu baru. Padahal seandainya gak ada, kami akan mengulang kedua kalinya disini. Enak dan gurih. 

Resto seafood di Myeong Dong
Tiba waktu makan siangnya di Myeongdong setelah dari Nangdaemun Market dan Buchon Hanok Village. Bertanya dengan petugas informasi di daerah MyeongDong, diberian petunjuk menuju resto Arab. Sampai di resto tersebut, kami ogah masuk takut kena bayar mahal karena keliatannya resto ekslusif sementara kami sudah mulai berhemat. Kami memutuskan lanjut ke MCDonalds, mau nyari fish fillet aja. Ternyata McD dan KFC disana tidak punya menu tersebut. Urung makan disitu, kami melihat resto di depan KFC. Setelah menyimak buku menu yang ada di luar kelihatannya hanya seafood, kami memutuskan makan disini. Sup seafood, pancake cumi dan udang bakar, plus 1 telur mata sapi untuk si bungsu.
Note:
Di semua restoran yang kami kunjungi, semuanya menyediakan air putih gratis, malah di beberapa tempat menyediakan dispenser dingin dan panas, sehingga kami bisa mengisi botol minum.

Leave a reply to iim Cancel reply