NO A-R-T, IT’S NOT A NIGHTMARE

Pulang dari mudik, Asisten Rumah Tangga saya (ART) ngirim pesan untuk minta ijin gak masuk mau ngantar anaknya yang baru masuk SD hari pertama. Hari berikutnya, ngirim pesan lagi bahwa dia lagi sakit dan sekarang sudah hampir seminggu gak ngabarin lagi. Sigh. Padahal kepengennya pulang mudik, rumah bersih, cucian pakaian langsung tertangani. Ya udahlah, saatnya nyonya rumah beraksi. Hehehe. Emang tidak mudah, karena saya kan kerja juga. Tiba di Palopo jam 4 subuh, anak-anak saya bujuk untuk langsung mandi. Kuatir kalau tidur ntar kebablasan. Hari itu hari pertama mereka masuk sekolah. Saya pengen mereka datang lebih pagi biar dapat tempat duduk di depan atau setidaknya mereka duduk dengan temannya yang pintar. Posisi menentukan prestasi. Hihihi. Saya tau, itu salah satu factor pendukung saja.  Dede dapat tempat duduk di barisan kedua dan sebangku ama temannya yang cukup pintar. Athaya dapat tempat duduk di belakang, katanya sebelum masuk kelas ada pembagian sesuatu dan dia dapatnya belakangan. Karena baru kelas 1 SMP, dia belum tau kualitas teman duduknya.

Saya  memang tidak membiasakan diri untuk tergantung sama orang lain. Kalo pas ada yang bantu alhamdulillah, tapi kalo gak ada juga bukanlah suatu mimpi buruk. Saya hanya harus bangun lebih pagi dan mengatur waktu sedemikian rupa. Saat ini ritme pagi belum stabil, terjaga jam 4 tapi baru bener-bener bangun hampir jam 6 pagi. Hehehe. Praktis saya hanya punya waktu sejam untuk nyiapin sarapan, beres-beres rumah, mandi dan berpakaian. Ngantar anak-anak ke sekolah lalu trus ke kantor. Berasa seperti dalam whirlwind dan tensi meningkat. Solusinya cuman satu, harus bangun lebih pagi.

Positifnya, saya lebih banyak bergerak yang artinya ada kalori yang terbuang. Buat saya yang lagi jaga badan biar gak tambah melar, ini lumayan berarti. Negatifnya, saya lebih cerewet ke anak-anak. Mereka juga wajib bekerjasama.  Kata-kata tolong dong bantu, ayo dong inisiatif, ayo dong kerjasama terus-terus saya sampaikan. Awalnya lemah lembut, tapi begitu kata ’tunggu dulu’ dari mereka sampai berulang 3 kali, udah deh ngomel dengan nada tinggi. Mudah-mudahan mereka gak stress.  Ayo ibu-ibu yang gak pernah ngomel dengan nada tinggi ke anak-anak, angkat tangan. Beri nasihat ke saya. Hehe.

Pada saat pekerjaan rumah beralih ke saya, hal pertama yang saya lakukan adalah membersihkan laci-laci, mensortir, merapikan pakaian, menempatkan segala sesuatu pada tempat semestinya. Gak sekaligus dalam satu waktu. Itu pake nyicil beberapa hari, dari ruangan tengah trus ke kamar-kamar terakhir ke dapur. Lumayan, jadi banyak nemu barang-barang yang dibutuhkan tapi terselip.
Pekerjaan yang paling saya tidak suka adalah menyetrika. Menyetrika itu membutuhkan waktu lama dan harus focus. Saya lebih suka mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu atau satu pekerjaan tapi tidak membutuhkan waktu banyak untuk menyelesaikannya. Kadang-kadang saya memasak disambi dengan mencuci piring atau kegiatan lainnya. Semua pakaian yang wajib disetrika saya alihkan ke laundry.  Yang dicuci dirumah sisa pakaian dalam, jilbab, kaos kaki maupun celana rumahan. Athaya dan Dede cukup membantu meski gak terlalu tuntas. Athaya cuci piring tapi sampah di wash basin ogah dia pungut, masih jijik katanya. It’s ok for a while.  Dede ngurus cucian mesin cuci sampai jemur pakaian. Untuk kebersihan tempat tidur, mereka gantian yang beresin. Untuk urusan makan, sarapan dan makan siang saya nyiapin sendiri. Makan malam lebih banyak diluar.

Lanjut ya… setelah semingguan postingan ini dalam draft. ART ngasih kabar, belum bisa masuk karena masih sakit. Hadeuh.

Sejauh ini anak-anak anteng-anteng saja dan alhamdulillah gak banyak bersungut-sungut kalau dimintai tolong. Gak hitung-hitungan antar mereka berdua. Biasanya kalo minta tolong sama si Kakak, dia nanya “trus Dede kerja apa”. Atau sebaliknya. Tapi itu sudah gak terjadi lagi. Mudah-mudahan seterusnya.

Kalau disuruh milih, saya pengen tetap ada asisten. Berdua lebih baik daripada satu kan. Dari sisi pengeluaran, beda tipis aja antara biaya laundry dan tetek bengek yang lain dibanding bayar gaji. Saya juga pengen rumah jadi rame, ada yang nungguin rumah. Mau ninggalin anak-anak untuk keluar kota gak terasa berat dan lebih leluasa untuk tinggal di kantor lebih lama. Saya pengen pagi-pagi, nyantai ajah. Dandannya juga gak terburu-buru. Saat ini saya nyaris dandan cuman seadanya. Cukup pake bedak dan lipstik. Gak sempat lagi untuk make-make eye shadow, mending waktunya dipakai untuk mengerjakan yang lain. Pun sampai dikantor, gak pernah sempat lanjut dandan. Mending mikirin kerjaan.

Kayaknya, problem sehabis lebaran rata-rata sama ya. Entah ARTnya meliburkan diri atau gak datang sama sekali. Gimana dengan kamu?

Advertisements

4 thoughts on “NO A-R-T, IT’S NOT A NIGHTMARE

  1. Semangat ya Mbak, tapi keren lho dirimu Mbak, bisa tetap mengatur waktu dan menyelesaikan semua kewajiban. Agak berat memang, tapi semua bisa selesai dengan baik :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s